Beranda > Olah Raga > Opini Sepakbola Indonesia Semata….

Opini Sepakbola Indonesia Semata….

Tidak sulit untuk memimpikan Tim Nasional (Timnas) Indonesia bermain di ajang sekelas Piala Dunia. Bertemu dengan tim-tim tangguh dari dataran Eropa dan Amerika Selatan. Bersua dengan kekuatan dari negeri Afrika yang menjadi kekuatan lain di sepakbola. Melihat Timnas, dengan seragam merah-putih kebanggaan bersama, memainkan sepakbola yang atraktif menghadapi segala musuh. Dan di atas segalanya, berhasil menggondol piala yang menjadi lambang supremasi tertinggi di dunia manusia ke Indonesia. Itu adalah mimpi, yang tentu saja mudah untuk diangankan.

Melihat sepak terjang Timnas akhir-akhir ini, mimpi itu hanyalah bualan kosong orang-orang yang tidak memiliki kerjaan. Jika kita mengacu kepada prestasi, maka janganlah membandingkannya dengan prestasi tim sekelas Italia atau Inggris. Jika mengacu dari permainan, tentunya jangan kita membandingkan permainan Timnas dengan tiki-taka ala Spanyol atau total football ala Belanda. Jika mengacu dari segi teknik, janganlah kita membandingkannya dengan teknik goyangan samba ala Brazil atau goyangan tango ala Argentina. Tapi kita malah terdistorsi dengan apa yang kita tonton mengenai itu semua terhadap keadaan Timnas.

Indonesia memang bukan pemain lama dalam dunia sepakbola. Gairah masa lalu yang penuh keemasan menjadi motivasi yang tidak pernah surut. Berkali-kali diangkat ke permukaan oleh media-media sebagai bahan perbandingan. Bagaimana situasi sulit bisa diubah menjadi prestasi oleh para ‘veteran’ sepakbola. Dan mempertanyakan situasi saat ini yang sangat berbeda dengan keadaan masa lalu tidak bisa mengubah ‘kenyamanan’ menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Jangan bicara di kelas internasional sekelas Piala Dunia, untuk level regional saja Timnas masih tertinggal jauh dari para tetangganya.

Berbagai program telah dilakukan oleh federasi sepakbola dalam negeri untuk mendapatkan prestasi. Dengan segala program instan dilakukan untuk mendandani sebuah era dalam federasi. Mulai dari program pelatihan ke luar negeri hingga naturalisasi yang membosankan. Program-program tersebut disusun untuk menciptakan suatu tim impian. Tim impian yang dihancurkan impiannya oleh tim besar yang benar-benar nyata, Arsenal. Bujuk rayu para pelatih-pelatih asing hanya memberikan bumerang bagi Timnas. Kekalahan tetaplah kekalahan, walaupun memberikan pelajaran yang sangat menekan tapi tidak pernah ditanggapi dengan serius. Tekanan masyarakat yang bukan saja sekedar menginginkan gelar juara sebagai simbol kekuatan, tapi juga menginginkan performa Timnas yang ciamik, minimal mendekati tim-tim liga elit Eropa yang berlaga di layar kaca setiap akhir pekan.

Bukan meremehkan kualitas pemain-pemain Timnas, termasuk yang naturalisasi. Tapi seharusnya kita legowo dalam membandingkan program-program yang dimiliki oleh federasi liga-liga elit dengan program-program jangka panjangnya yang teratur. Kapabilitas yang dimiliki organisasi dalam mengorganisir program mereka adalah kunci. Sistem yang terstruktur dan adil adalah kunci mereka dalam membangun persepakbolaan. Cetak biru diupayakan berjalan dengan mulus, fleksibel, dan memperhatikan perubahan-perubahan lingkungan eksternal yang mempengaruhi sepakbola secara keseluruhan. Kita tentu hanya bisa melihat bagaimana Liga Primer Inggris begitu mempesona, dengan stadion-stadion kelas wahid di Eropa, permainan dan pemain bintang berkumpul di sana. Suatu proyek percontohan bagi liga-liga di seluruh dunia untuk menjadi suatu liga top. Tanpa kita sadari bersama, bahwa hal tersebut lahir dari suatu tragedi pahit yang melanda dunia persepakbolaan mereka (Tragedi Heysel dan Hillsborough).

Di Indonesia? Entah berapa banyak tragedi yang terjadi di dunia persepakbolaan di sini. Tidak ada sanksi yang tegas serta bermain-main dengan peraturan, membuat liga yang diselenggarakan federasi sepakbola Indonesia hanyalah suatu fatamorgana. Fatamorgana berupa keprofesionalan yang ternyata adalah keamatiran tingkat tinggi. Saya lebih senang menyebut setiap ketua federasi sepakbola di sini sebagai penguasa atau dinasti ketimbang sebuah organisasi. Penguasa mengganti dan mengubah apa yang dinilainya tidak memberikan dampak ekonomi, apa yang buruk digantinya dengan program yang tidak memiliki kejelasan. Lihat saja apa yang terjadi dengan kompetisi IPL (Indonesia Premiere League), suatu program yang buang-buang waktu saja dan menipu dunia persepakbolaan itu sendiri.

Saya adalah penggemar sepakbola Indonesia. Tontonan Liga Indonesia dan Timnas adalah bagian yang tidak terpisahkan, sama halnya dengan tontonan liga-liga elit di belahan Eropa. Dari penguasa satu ke penguasa lain, kompetisi tidak memiliki dasar yang sama seperti liga-liga elit Eropa. Tidak ada kesinambungan antar satu kompetisi dan kompetisi lain. Coppa Indonesia tidak diteruskan karena pihak federasi mengabaikan faktor ekonomi setiap klub, dan hanya mementingkan kepentingan sponsor semata. Liga Indonesia tidak lebih dari sebuah pertunjukan amatiran yang bermain tanpa lelah (2 pertandingan dalam 1 minggu). Bentuk kompetisi tidak jelas, apakah 1 wilayah atau 2 wilayah tidak ada yang menganalisa mana yang terbaik, secara ekonomi maupun kompetisi. Federasi hanya melihat apa yang ‘dipandang’ mereka profesional dan tepat, tapi tidak memikirkan hal-hal yang bersifat dasar sama sekali yaitu ekonomi dan geografi. Entah bagaimana sebuah tim yang bermarkas di ujung Sabang bertandang ke tim yang bermarkas di ujung Merauke, dan harus kembali lagi dalam waktu 1 minggu setelah menyelesaikan ‘tour’ di ujung Merauke.

Bagi saya, Liga Indonesia adalah dasar dalam membangun suatu Timnas. Saya memberi contoh Liga Inggris, terlepas dari terpuruknya regenerasi Timnas mereka. Liga tersebut layak diberi pujian atas proyeknya. Apakah Timnas Inggris memetik hasil buruk akibat kebijakan Liga yang terpisah dari federasi adalah hal yang menyangkut internal mereka, tapi di satu sisi bukan tanpa buah yang baik yang tidak bisa dipetik. Lihat pemain-pemain Timnas yang bermain di Liga Inggris, Timnas Spanyol, Belgia, Perancis, negara-negara Afrika, berhasil membantu negaranya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Siapa yang mengetahui Timnas Belgia sebelum pemain-pemain Belgia menginvasi Inggris saat ini? Perkataan Vicente Del Bosque, pelatih Timnas Spanyol yang memberikan gelar dunia dan Eropa, juga mengamini bahwa berkah bagi Timnas Spanyol jika pemain-pemainnya bermain di Liga Inggris yang lebih kompetitif dengan tekanan yang lebih besar daripada berada di Liga lokal.

Memang, Timnas masih sangat jauh dari apa yang kita harapkan, apalagi yang kita impikan. Tapi bukannya pelajaran-pelajaran yang sebelum-sebelumnya sudah bisa menjadi patokan untuk meluncurkan kebijakan-kebijakan yang memiliki visi ke depan ketimbang kebijakan-kebijakan untuk pencitraan diri seorang penguasa. Dan prestasi Timnas tidak lahir oleh suatu era, melainkan persiapan dan perencanaan suatu organisasi dalam suatu bingkai besar untuk mencapai kejayaan. Cetak biru adalah landasan setiap era/ketua untuk melanjutkan atau memodifikasi kebijakan. Menciptakan suatu kebijakan haruslah terintegrasi dengan cetak biru, serta sebagai alat untuk menjaga cetak biru tersebut tetap fleksibel dengan situasi dan kondisi yang terus berubah.

Saya masih memimpikan, sebelas pemain Timnas dengan seragam kebanggaan merah-putih, berada di hamparan hijau rumput stadion Maracanna atau Wembley, memainkan sepakbola atraktif dan menggondol lambang supremasi tertinggi sepakbola yang ada di dunia. Entah kapan akan terwujud.

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: