Beranda > What I See > Genghis Khan Dari John Man

Genghis Khan Dari John Man

Man, JohnSejarah Kekaisaran Mongol, adalah suatu kisah yang mengejutkan dunia. Dari sebuah kumpulan suku-suku nomaden di padang rumput, menjadi suatu kekuatan yang menaklukkan ‘dunia’. Dari ujung timur Cina hingga ujung barat Eropa wilayah di bawah bendera Kekaisaran Mongol. Di Wikipedia, Kekaisaran Mongol adalah kekaisaran dengan luas terbesar di dunia kedua setelah Inggris Raya. Sejarah dari kekaisaran Mongol begitu menarik, dan telah diungkap oleh sejarawan-sejarawan melalui penelitian terhadap sumber sejarahnya, The Secret History of The Mongols adalah sumber sejarah yang menceritakan bagaimana sepak terjang kekaisaran ini. Tentunya para sejarawan tidak hanya menggunakan sumber tersebut sebagai dasar sepak terjangnya, tapi paling tidak dengan temuan tersebut, kisah yang mengejutkan yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia bisa diangkat.

Ada banyak buku yang menceritakan mengenai Sejarah Mongol, terutama mengenai tokoh yang paling terkenal dalam Sejarah Mongol yaitu Genghis Khan. Di dunia, ada banyak buku yang menceritakan mengenai sepak terjang salah satu panglima perang terbaik yang pernah hidup. Di Indonesia, hanya ada beberapa saja buku yang bisa dibaca mengenai Sejarah Mongol melalui kisah Genghis Khan dan keturunannya. Salah satu buku yang menarik dibaca oleh para penggemar buku yang bertemakan sejarah adalah karya John Man. Buku dengan judul resmi Genghis Khan: Life, Death, and Resurrection diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Penerbit Alvabet menjadi penerbit yang menerbitkan buku dengan judul Jenghis Khan: Legenda Sang Penakluk Dari Mongolia. Dengan emblem National Bestseller memang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja, terlebih buku yang diproduksi Alvabet ini telah mencetak sebanyak 5 kali dalam 2 tahun. Apakah bukti tersebut tidak cukup untuk membuktikan betapa larisnya buku ini yang menceritakan tokoh barbar yang menguasai dunia?

John Man sendiri adalah sejarawan dan travel writer. Beliau mengambil kursus Pascasarjana Studi Bangsa Mongol di salah satu sekolah tinggi di London. Dari foto beliau yang terpampang di bagian belakang buku, tampaknya usia tidak akan mempengaruhi semangat beliau dalam menulis mengenai sejarah yang dibumbui dengan semangat berpetualang ala travel. Alvabet juga menerbitkan karya John Man yang lain selain Jenghis Khan yaitu Kubilai Khan: Legenda Sang Penguasa Terbesar Dalam Sejarah (belum saya baca). Buku lainnya yang saya tahu mengenai John Man yaitu The Secret Leadership of Genghis Khan. Beberapa karyanya yang bersinggungan dengan Mongol dan Dataran Asia Tengah sangat menyimpulkan bahwa beliau begitu tertarik dengan sejarah yang ada di dalamnya, kebudayaan, hingga antropologinya.

51Q7VAohF+LBuku John Man mengenai Genghis Khan, jika bisa saya beri angka saya akan memberinya angka 4 dari 5. Di dalam bukunya mengenai Genghis Khan ini, penulis membagi ke dalam 4 bagian besar yang terdiri atas beberapa bab. Bagian-bagian tersebut disusun berdasarkan urutan historis yang terjadi. Seperti buku-buku yang menceritakan sejarah suatu bangsa. Kisah ini juga turut dicampur dengan perjalanan penulis ke Mongolia. Hal itu dilakukan oleh penulis untuk bisa memberi gambaran daerah yang pernah ditinggali, digunakan, dijajah, dihancurkan, dan dikeramati oleh Genghis Khan dan bangsanya melalui perspektif penulis. Dengan gambaran yang bersifat sekarang (current perspective) dari apa yang dilakukan oleh penulis, diharapkan bisa memberikan gambaran masa lalu (past perspective) dari penulis kepada pembaca. Pembaca akan dibawa kepada gambaran Mongol dan wilayahnya pada masa kini untuk bisa memberi gambaran pada masa lalu.

Cerita dimulai dari keadaan di mana Genghis Khan sebentar lagi akan meninggalkan dunia. Para anak-anaknya (Jochi, Chagatay, Ogedei, dan Tolui) dipanggil untuk menerima wasiat dari Khan terhebat ini. Ogedei dipilih oleh Genghis untuk menjadi penerusnya dan membagikan wilayah yang telah ditaklukkannya kepada ke 4 anaknya tersebut, dengan Ogedei sebagai pemimpinnya. John Man menggambarkan wilayah yang dipakai dalam adegan tersebut untuk memberikan alasan mengapa tempat itu yang dipilih.

Pada bagian yang pertama (Akar; terdiri atas 5 bab) menceritakan kebangkitan awal dan kejatuhan Genghis Khan. Bagaimana Genghis harus menghadapi musuh-musuhnya di padang rumput. Bagaimana dia bertemu isterinya Borte, yang kemudian diculik dan dia menyelamatkannya. Hubungannya dengan jenderal setianya (Jelme dan Jebe). Serta persahabatan, persekutuan, dan pengkhianatan Jamukha, sahabatnya. Bagian pertama ini adalah bagian yang paling penting dalam membentuk karakter Genghis Khan, yang begitu hormat terhadap kesetiaan.

Dalam bagian ini pula diceritakan bagaimana keadaan suku-suku barbar/pengembara di padang rumput, bermusuhan satu sama lain. Saling menyerang untuk mendapatkan sumber-sumber kehidupan (makanan, rumput untuk kuda). Hal ini juga yang menyebabkan ayah Genghis dibunuh, isterinya diculik, dan dia harus melarikan diri dari semuanya itu. Setelah berhasil mengumpulkan kekuatan, melalui persekutuannya dengan Jamukha dan suku Borte, Genghis membalas semuanya itu dengan kejam, mendapatkan isterinya lagi dan kembali memperoleh kekuatannya.

Jamukha, adalah sahabat sekaligus sekutunya harus menjadi musuhnya. Genghis harus menghadapi Jamukha dalam pertempuran pertama yang dimenangkan Jamukha. Genghis kembali kehilangan kekuatannya dan kembali berusaha mengumpulkannya lagi. Pertempuran keduanya dengan Jamukha dimenangkan oleh Genghis dan kemudian menghukum mati sahabatnya tersebut. Bagian ini juga menceritakan bagaimana Genghis meminta restu kepada langit yang abadi.

Bagian kedua (Kerajaan) menceritakan Genghis Khan melakukan invasi-invasi keluar Mongol. Dinasti Xi Xia adalah invasi pertama Mongol. John Man berusaha menceritakan dengan seksama wilayah yang menjadi invasi pertama Genghis ini. Bagaimana kejayaan dinasti ini tergambar oleh arsitektur-arsitekturnya yang mentereng berbanding terbalik dengan masa kini. Tipikal John Man dalam menulis buku ini adalah menceritakan hal-hal yang terjadi di daerah tersebut sebelum masuk ke bagian utamanya. Panjang lebar diceritakannya apa yang terjadi dengan Xi Xia sebelum Genghis masuk ke sana.

Setelah invasi ke Xi Xia, operasi militer berlanjut ke dataran Cina yang dikuasai oleh dinasti Jin yang bersinggungan langsung dengan wilayah barbar Mongol. Genghis menginvasi Jin dan mengambil ibukotanya, Beijing. Invasi ini hingga ke Korea. Pasukan Genghis menghancurkan, merampok, mengambil barang-barang berharga termasuk para wanitanya. Setelah mengamankan wilayah Cina ke dalam wilayah kekaisarannya, Genghis mengarahkan pandangannya ke barat di mana kerajaan Islam berada. John Man berupaya menceritakan sedetail mungkin apa yang terjadi dengan invasi Genghis ke barat. Mengenai keadaan kerajaan Islam tersebut, dan alasan mengapa Genghis memilih harus berperang dengan mereka hingga berlanjut menjadi holokaus besar-besaran.

Invasi berlanjut ke Eropa bagian timur, saat perang salib masih berlangsung di Timur Tengah. Kerajaan Georgia, orang-orang padang rumput di wilayah Rusia saat ini adalah lawan-lawan yang dihancurkan Genghis dan pasukannya. Dengan hukuman yang berat dan terlampau sadis ditujukan bagi para tawanannya untuk menciptakan teror yang ampuh.

Genghis juga manusia, yang berharap hidup lebih lama lagi. Kekaisarannya yang menguasai Asia Tengah, Rusia Selatan, Cina, dan lain-lain membuat waktu terasa singkat bagi Genghis. Ingin hidup lebih lama, Genghis memanggil seorang pandai untuk menanyakan resep hidup abadi. Akhir dari bagian ini adalah mengenai operasi militer terakhir Genghis ke Xi Xia sebagai hukuman terhadap pengkhianatan mereka. Setelah beroperasi di wilayah-wilayah di Asia Tengah hingga mencapai sebagian kecil Eropa, Genghis memindahkan operasi militernya.

Penulis juga menceritakan bagaimana pencarian pemakaman dari Genghis Khan, yang masih merupakan misteri hingga saat ini. Bagaimana ada keterlibatan pemerintah Mongol dalam merahasiakan pemakaman Genghis Khan, yang menurut saya mereka juga belum bisa memastikan dengan tepat lokasinya, adalah topik yang diangkat oleh John Man sebagai bahan perdebatan dan bahan pencarian para arkeolog sejarawan berikutnya. Setelah kematian Genghis, penulis menceritakan dengan singkat bagaimana invasi Kekaisaran Mongol oleh keturunannya, bagaimana keturunannya menginvasi dunia Eropa dan Muslim. Walaupun hanya singkat, tapi tentunya akan menambah rasa penasaran kita mengenai sepak terjang Kekaisaran Mongol.

Bagian terakhir dari buku ini, menceritakan eksistensi Genghis Khan di negaranya, Mongolia. Bahkan hingga ke Cina, eksistensi Genghis Khan masih tetap ada. Bentuk penghormatan founding father dari bangsa Mongol ini dirayakan setiap tahunnya dengan tradisi-tradisi lelaki ala bangsa Mongol. John Man menceritakan juga bagaimana kedatangannya dalam perayaan 840 tahun Genghis Khan yang dirayakan semeriah mungkin di negaranya. Penulis mengangkat juga masalah Mongolia pada masa kini, dan membawa sosok Genghis Khan sebagai motivasi negara tersebut untuk kembali membawa Mongolia ke masa jayanya, bukan sebagai penakluk tapi sebagai pemberi kesejahteraan dan kehidupan bagi bangsanya.

Buku ini, bagi saya, memang agak terlambat untuk dibaca. Alasan saya yang pertama, saat itu sosok Genghis Khan belum begitu menarik rasa penasaran saya sehingga saya tidak terlalu tertarik membaca buku tersebut padahal sudah ada. Yang kedua adalah, sosok Genghis Khan menurut saya saat itu tidak lebih dari seorang barbar yang datang merampok dan merampas kehidupan orang banyak jadi tidak ada kelebihan dari sosok yang didewakan di negaranya ini. Alasan yang ketiga adalah, penasaran saya terhadap sejarah belumlah seintensif saat ini jadi buku yang sudah dibeli oleh orangtua saya hanya tergeletak begitu saja. Mungkin, tinjauan saya untuk buku ini tidak begitu menarik orang untuk membaca kisah sosok yang tersohor ini. Namun, cobalah untuk mempelajari sosok Genghis Khan dan kita akan mendapati bahwa dia bisa dibandingkan (bahkan melebihi) dengan sosok-sosok yang begitu dikagumi oleh sejarah seperti Alexander Yang Agung, Julius Caesar, Sultan Mehmet II, Harun Al-Rasyid, Koresh Yang Agung, Qin Shi-Huang, dan sebagainya.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: