Beranda > What I See > Pertempuran Mohi 1241

Pertempuran Mohi 1241

Battle_of_Mohi_1241Akhir-akhir ini, saya tertarik dengan Sejarah Mongolia, terutama mengenai Genghis Khan dan keturunannya yang mengejutkan dunia saat itu. Menurut Wikipedia, Kekaisaran Mongolia adalah kekaisaran dengan luas wilayah terbesar kedua sepanjang sejarah setelah Kekaisaran Inggris Raya. Genghis Khan sendiri adalah topik yang dilupakan oleh kita di Indonesia. Orang-orang Muslim dan Kristen tidak begitu menyukainya, tapi di Mongolia Genghis adalah dewa.

Sebelum saya mulai tertarik dengan Sejarah Mongolia mengenai Genghis Khan dan keturunannya, saya hanya tahu bahwa dia menyerang peradaban-peradaban dunia yang terkenal saat itu. Mulai dari kekaisaran Cina (saya juga tidak begitu tahu saat itu dinasti apa yang berkuasa), yang oleh orangtua saya pernah diceritakan mengenai pengkhianatan salah seorang pejabat kerajaan sehingga Pasukan Mongol memasuki Cina. Kerajaan-kerajaan Islam yang berada di sisi barat juga mengalami nasib serupa, yang kembali saya tidak tahu kerajaan apa atau dinasti apa yang berkuasa saat itu. Genghis Khan seperti yang saya ketahui sebelum membaca sejarahnya, adalah orang yang garang dan tidak berbelas kasihan. Apalagi mereka hanyalah sekumpulan orang-orang Barbar yang datang merampok. Mengenai hubungannya dengan Kubhilai Khan pun saya tidak tahu saat itu.

Saat saya membaca mengenai Genghis Khan dan keturunannya, walaupun baru secuil untuk bisa mendapatkan gambaran besarnya, adalah orang-orang yang mau menerima perkembangan masa dan mengintegrasikannya ke dalam kebudayaan dan falsafah mereka sebagai suku nomaden. Di sekeliling Genghis Khan juga terdapat orang-orang yang berintelektual tinggi, jago strategi berperang, dan mampu menggunakan teknologi untuk mengusahakan kemenangan. Satu hal lagi yang saya ketahui adalah mengenai kegarangannya, memang satu hal yang tidak bisa dihilangkan adalah Genghis Khan ini kejam terhadap mereka yang menentangnya dan dianggap sebagai pengkhianatan. Di satu sisi, Genghis Khan begitu mengapresiasi kesetiaan seseorang. 4 Jenderal terbaiknya yaitu Subetei, Jelme, Jebe, dan Khubilai (bukan Khubilai Khan) adalah orang-orang setia yang diapresiasi oleh Genghis. Kembali lagi saya menemukan fakta, bahwa bukan Genghis yang berekspansi dan invasi ke kerajaan-kerajaan tertentu untuk memperluas kerajaannya. Para Jenderal terbaiknya lah yang melakukannya. Salah satunya adalah penaklukkan salah satu kerajaan di Eropa bernama Hongaria dalam Pertempuran Mohi (Battle of Mohi) pada tahun 1241.

Pertempuran Mohi (hari ini disebut Muhi), juga dikenal dengan nama Peperangan Sungai Sajo karena letaknya berada dekat dengan aliran Sungai Sajo atau Peperangan Sungai Tisza. Pertempuran ini adalah pertempuran utama antara Pasukan Kekaisaran Mongol (Pasukan Mongol) dan Pasukan Kerajaan Hongaria (Pasukan Hongaria) dalam rangka invasi Kekaisaran Mongol. Pertempuran berlangsung di Mohi, di sebelah barat daya Sungai Sajo.

LATAR BELAKANG

Pasukan Mongol menyerang Hongaria dengan 3 pasukan. Pasukan yang pertama menyerang melalui Polandia dalam rangka menahan kemungkinan bantuan Pasukan Polandia yang telah kalah ke Hongaria. Pasukan kedua menyerang dari selatan. Pasukan ini menyerang Transylvania, mengalahkan komando pasukan dan menghancurkan Pasukan Transylvania Hongaria. Pasukan utama berada di bawah komando Batu Khan (cucu dari Genghis Khan) dan Subetei menyerang Hongaria melalui Benteng Verecke Pass dan membinasakan pasukan yang dipimpin oleh Denis Tomaj, seorang Count Palatine dari Kerajaan Hongaria pada 12 Maret 1241.

Peperangan dengan Pasukan Mongol tidak bisa dielakkan oleh Kerajaan Hongaria. Kejadian bermula pada 1223 ketika Pasukan Mongol mengalahkan Pasukan Aliansi bangsa Cuman di sungai Kalka. Pasukan bangsa Cuman yang kalah kemudian melarikan diri ke Hongaria. Kerajaan Hongaria telah mencoba mengkonversi bangsa Cuman menjadi Kristen dan memperluas pengaruhnya terhadap mereka selama beberapa dekade. Bahkan, Raja Hongaria saat itu Raja Bela IV mulai menggunakan gelar Raja Cuman. Ketika bangsa Cuman yang mengungsi mencari suaka ke dalam Kerajaan Hongaria, kelihatannya paling kurang sekelompok bangsa Cuman telah menerima peraturan Kerajaan Hongaria. Mongol memandang Hongaria sebagai rival, dan migrasi bangsa Cuman ke Hongaria sebagai sebuah “casus belli”. Dalam ultimatum bangsa Mongol, mereka juga menyalahkan Hongaria untuk “missing envoys”.

Raja Bela IV mulai memobilisasi dan memerintah seluruh pasukannya, termasuk bangsa Cuman, menuju kota Pest. Frederick II Babenberg, seorang Duke Austria dan Styria, juga tiba di kota Pest untuk membantu Raja Bela IV. Masalah terjadi dalam mobilisasi ini. Konflik antara bangsa Cuman dan Hongaria menyebabkan perpecahan dan pemberontakan. Khan bangsa Cuman (pemimpin) terbunuh. Bangsa Cuman meninggalkan Hongaria ke arah selatan karena merasa mereka dikhianati. Mobilisasi penuh tidak sukses. Banyak kontingen tidak bisa mencapai Pest, beberapa dihancurkan Pasukan Mongol sebelum mereka tiba dan beberapa dihancurkan oleh bangsa Cuman. Beberapa bangsawan pun enggan membantu dan membatalkan keikutsertaan mereka dalam kampanye ini karena tidak menyukai raja bahkan cenderung membencinya dan menginginkan kejatuhannya.

PERTEMPURAN

Pasukan terdepan Mongol tiba di Pest pada 15 Maret 1241 dan merampok wilayah-wilayah tetangga. Raja Bela melarang pasukannya menyerang mereka, karena Pasukan Hongaria masih belum siap. Walau begitu, Duke Frederick menyerang dan mengalahkan sebuah kelompok penyerbu minor sehingga Raja Bela dianggap sebagai seorang pengecut. Setelah aksi heroik tersebut, Duke Frederick memilih kembali ke asalnya. Ugrin Csak, seorang archbishop Kalocsa, juga mencoba menyerang sebuah kontingen Mongol, tapi dia dipancing ke sebuah rawa dan pasukan kavalerinya tidak bisa bergerak dengan lihai karena terjebak di dalam rawa. Dia hampir saja mati di sana.

Akhirnya, raja memutuskan untuk memberikan pertempuran bagi Pasukan Mongol, tapi mereka mulai melarikan diri. Hal ini menegaskan opini dari para bangsawan bahwa Mongol bukanlah sebuah ancaman dan perilaku raja tidaklah hati-hati tapi pengecut. Setelah seminggu pasukan bergerak maju dan serangan Mongol yang berkali-kali, Pasukan Hongaria mencapai luapan sungai Sajo, di mana mereka berhenti untuk beristirahat dan menunggu pasokan tambahan. Raja dan pasukannya masih tidak mengetahui bahwa Pasukan utama Mongol, yang berjumlah di antara 20 ribu dan 30 ribu (Pasukan Hongaria berjumlah 15 ribu orang yang terdiri atas orang-orang kuat dari berbagai kesatuan pasukan) hadir di sana, karena hutan yang menutupi tepi jauh sungai Sajo. Raja yang penuh kehati-hatian menyuruh membangun benteng dari gerbong-gerbong kereta.

Sangat tidak mungkin bahwa Pasukan Mongol mula-mula ingin menyeberangi sebuah sungai yang lebar dan berbahaya untuk menyerang benteng kamp Pasukan Hongaria. Hal yang lebih mungkin bahwa rencana mereka pada awalnya menyerang Pasukan Hongaria sambil menyeberangi sungai walaupun hal ini masih tidak pasti (dalam identifikasi sejarah). Seorang budak, orang Ruthenian, berhasil melarikan diri ke Pasukan Hongaria memberikan peringatan bahwa Mongol bermaksud mengadakan sebuah serangan malam pada Jembatan Sajo.

Pasukan Mongol merencanakan untuk membawa 3 kontingen pasukan mereka bersama-sama jika mungkin sebelum terlibat di dalam pertempuran dan melihat tanda-tanda bahwa Hongaria berencana untuk menyerang. Jalan menuju kamp dibentengi adalah kesalahan taktik sejak hal tersebut akan merintangi pergerakan melarikan diri dalam sebuah penyerangan.

Pasukan Hongaria masih tidak percaya bahwa akan ada penyerangan skala penuh, tapi pasukan dari Pangeran Kalman (Duke Slavonia dan adik dari Raja Bela), archbishop Ugrin Csak dan Rembald de Voczon, seorang master templar, meninggalkan kamp untuk memberikan serangan kejutan kepada Mongol dan mempertahankan jembatan yang tidak berpenjaga. Pasukan tersebut mencapai jembatan pada tengah malam, berbaris untuk menuju jembatan dalam kegelapan malam pada 7 kilometer terakhir. Pasukan Mongol tidak menginginkan penyerangan malam hari (pasukan panah berkuda menghindari pertempuran malam), tapi mereka ingin menyeberangi sungai agar bisa menyerang kamp Hongaria pada subuhnya. Ketika Kalman dan Ugrin tiba, mereka mendapati Pasukan Mongol tidak siap dan berada di tengah jembatan untuk menyeberang. Pasukan Kalman dan Ugrin dengan sukses memaksa Mongol ke dalam pertempuran dan mendapatkan kemenangan di sana. Mongol tidak bersiap untuk pasukan crossbow milik Hongaria, yang mengakibatkan kehilangan yang luar biasa pada Pasukan Mongol, dan tertolong dengan ukuran jembatan yang mana panjang minimumnya adalah 200 meter. Pasukan Hongaria meninggalkan beberapa tentara untuk menjaga jembatan dan kembali ke kamp, tidak menyadari Pasukan utama Mongol berada pada area yang dekat. Pasukan Hongaria tiba di kamp dan merayakan kemenangan. Kemenangan yang dirayakan ternyata diraih dari pasukan kecil milik Mongol.

Kemenangan tidak terduga Pasukan Hongaria memaksa Mongol memodifikasi rencana mereka. Sejban, salah satu Jenderal Mongol, dikirim ke utara ke sebuah arungan dengan pasukan yang lebih kecil untuk menyeberangi sungai dan menyerang garis belakang dari penjaga jembatan. Ketika matahari mulai muncul, kira-kira pukul 4 pagi saat itu, mereka mulai menyeberang. Sementara itu, Subetei pergi ke selatan untuk membuat jembatan darurat sementara sementara pasukan Hongaria yang menjaga jembatan terlibat pertempuran, tapi meninggalkan Batu sebuah rencana dengan menggunakan pelempar batu raksasa (ukuran batu yang sangat besar) untuk menyingkirkan pasukan crossbow yang berada pada arah yang berlawanan. Saat subuh, Batu, dengan 7 alat pelempar batunya, menyerang Pasukan Hongaria yang menjaga jembatan. Ketika Sejban dan pasukannya tiba, Pasukan Hongaria melarikan diri ke kamp mereka. Pasukan utama Mongol selesai menyeberangi sungai pada pukul 8 pagi.

Ketika Pasukan Hongaria yang melarikan diri tiba di kamp, mereka membangunkan yang lain. Kalman, Ugrin dan para master templar kemudian meninggalkan kamp untuk berurusan dengan para penyerang. Mereka yang bertahan di kamp, mempercayai bahwa serangan tersebut adalah serangan kecil dan Pangeran Kalman akan kembali dengan kemenangan. Tapi, setibanya di sana, Kalman dan Ugrin menyaksikan gelombang besar Pasukan Mongol, mereka kemudian menyadari bahwa ini bukan lagi serangan kecil-kecilan oleh sekelompok pasukan kecil melainkan sebuah penyerangan oleh Pasukan utama Mongol. Setelah terlibat dalam pertempuran sengit dengan Pasukan utama Mongol, Pangeran Kalman dan Ugrin kembali ke kamp dengan harapan untuk memobilisasi seluruh pasukan untuk menandingi Mongol. Hanya saja, mereka sangat kecewa karena Raja Bela tidak mengeluarkan perintah untuk persiapan perang. Ugrin menyalahkan sang raja akan kesalahannya di depan publik. Pada akhirnya, Pasukan Hongaria maju ke depan menuju pertempuran. Ketidaksiapan Pasukan Hongaria saat itu memberikan waktu bagi Batu menyeberangi sungai.

Perjuangan berat terjadi. Pasukan Hongaria unggul jumlah terhadap pasukan Batu. Hal ini membuat Pasukan Mongol tidak bisa bergerak dengan cepat karena Sajo tepat berada di belakang mereka. Menurut Sejarah Dinasti Yuan, Batu kehilangan 30 baatur (bodyguard dengan baju tempur yang berat) nya dan satu letnannya, Bakatu, ketika dia menyerang sendiri titik terkuat lawan dengan barisan depan. Pada momen ini, Subetei yang tertunda waktunya karena membangun jembatan darurat sementara, menyerang sisi sayap belakang, menyebabkan Pasukan Hongaria lari dengan panik ke kamp mereka.

Pertempuran berlanjut ke kamp Hongaria. Pasukan Hongaria bisa saja mempertahankan benteng kamp mereka, hanya saja serangan-serangan kejutan mereka tidaklah efektif, dan mereka terkena serangan panah api, menyebabkan kematian banyak prajurit karena terinjak-injak oleh prajurit lain yang melarikan diri. Mereka mencoba melarikan diri melalui jarak yang sengaja ditinggalkan oleh Mongol. Strategi yang digunakan dalam peperangan oleh Pasukan Mongol umumnya jika tidak memancing pasukan utama musuh untuk keluar masuk perangkap, ya menciptakan gap agar musuh mengira mereka bisa melarikan diri sehingga ketika mereka melarikan diri, telah ditunggu oleh satu Pasukan Mongol yang lain. Selain itu, adalah lebih mudah membunuh mereka yang lari ketimbang harus bertarung dengan pasukan yang sudah siap mati. Pertempuran ini juga menyebabkan banyak Pasukan Mongol yang mati, terutama di kesatuan Batu Khan sehingga tidak mau mengejar musuh. Tapi, Subetei mendesaknya dengan sukses dan Pasukan Mongol menyerang.

Di pihak Hongaria, archbishop Ugrin meninggal. Pangeran Kalman dan Raja Bela berhasil melarikan diri. Luka yang dialami Kalman sangat serius sehingga meninggal beberapa saat kemudian.

Pasukan Hongaria mengalami kekalahan telak dalam Pertempuran Mohi. Raja Bela melarikan diri ke pulau-pulau di lepas pantai melalui Austria dan Kroasia, bersembunyi di sana hingga kondisi kembali aman.

AKIBAT

Setelah kemenangan Mongol, mereka berkumpul kembali dan mulai mempersiapkan penyerangan yang sistematik ke Hongaria. Kekalahan-kekalahan Pasukan Hongaria yang sedemikian rupa karena mereka tidak bisa menyusun pertahanan yang efektif. Sebuah usaha dibuat untuk bertahan dari serangan Mongol di sungai Danube, yang mana kebanyakan berhasil, dari April 1241 hingga Januari 1242. Dalam suasana musim dingin yang tidak biasanya, sungai membeku, dan setelah sejumlah pertempuran dekat, Pasukan Mongol berhasil menyeberang. Keluarga kerajaan melarikan diri ke Austria dan meminta pertolongan Duke Frederick, tapi malah Frederick menangkap mereka dan memeras mereka sejumlah tebusan yang sangat besar dalam emas dan memaksa Raja menyerahkan tiga wilayah barat untuk Austria. Pada titik ini, Raja Bela dan rombongannya melarikan diri ke barat daya melalui wilayah yang berada dalam kekuasaan Hongaria.

Sementara Raja Bela menjaga dirinya dengan pemberitahuan situasi yang terjadi di wilayah yang tersisa dalam negaranya, Raja membuat sejumlah usaha untuk mengontak pemimpin-pemimpin lain di Eropa, diantaranya Paus, Kaisar Kekaisaran Roma yang Suci, dan Kerajaan Perancis, tapi kelihatannya mereka tidak tertarik dengan permintaan Raja Bela. Kelihatannya mereka memiliki kesalahpahaman yang amat besar terhadap ancaman Pasukan Mongol, yang mana saat itu hanya berjarak 1 minggu dari perbatasan Perancis. Kekaisaran Mongol menunjuk seorang darughachi (seorang administrator yang bertanggung jawab untuk pengumpulan pajak di daerah jajahan Mongol) di Hongaria dan mencetak uang koin atas nama Kaisar Mongol. Menurut Michael Prawdin, daerah dari Bela diberikan kepada Orda oleh Batu sebagai seorang appanage (seseorang yang diberikan hadiah).

Pasukan Mongol, setelah pertempuran ini, oleh para sejarawan memprediksi akan terus menginvasi Eropa ke arah barat jika Khan Ogedei tidak meninggal. Pada Desember 1241, Khan Ogedei meninggal dan memaksa Batu Khan dan Jenderal Subetei kembali ke negaranya untuk pemilihan Khan yang baru. Seandainya Ogedei tidak meninggal, Batu Khan dan Jenderal Subetei telah memerintahkan mata-mata mereka untuk menyelidiki kerajaan-kerajaan yang berada di bagian barat, akan menginvasi kerajaan-kerajaan yang berada di Eropa Barat. Banyak yang menyangsikan apakah Eropa masih akan menjadi kekuatan (saat itu) jika dihancurkan oleh Mongol. Kepergian Batu Khan dan Jenderal Subetei dari Hongaria adalah pertama dan terakhir kali karena mereka tidak kembali lagi untuk menginvasi Eropa. Pengganti Ogedei Khan adalah Guyuk yang memindahkan daerah operasi militer Jenderal Subetei ke Cina Selatan untuk menginvasi Dinasti Song. Jenderal Subetei mati pada 1248 karena tua.

Kesimpulannya, Pasukan Mongol juga adalah pasukan yang terpelajar, dan bukan hanya sekelompok pasukan barbar. Penggunaan strategi dalam peperangan yang terintegrasi dengan artileri yang biasa dipakai dalam pengepungan kota adalah salah satu kemajuan dalam dunia peperangan. Salah seorang Profesor di Eropa memberi kredit kepada Pasukan Mongol yang memperkenalkan bubuk mesiu dan senjata-senjata yang berhubungan dengan itu ke dalam Eropa. Sangat yang tidak bisa dipercaya adalah, Mongol adalah bangsa yang nomaden menaklukkan seluruh dinasti dan kerajaan-kerajaan yang mereka lewati. Sayang, sedikit saja yang bisa diceritakan dari Invasi Bangsa Mongol. Di Indonesia sendiri, buku-buku yang menceritakan kegemilangan Kekaisaran Mongol tidak banyak. Mungkin masih ada satu atau dua pertempuran yang melibatkan bangsa Mongol dan sangat berharga untuk diangkat lagi ke permukaan.

battle of mohi

Monumen untuk mengenang Pertempuran Mohi 1241

sumber: Wikipedia

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: