Beranda > What I See > Menikmati Pestanya Warga Jakarta

Menikmati Pestanya Warga Jakarta

“Papa, saya ingin ke Monas!” teriakan seorang anak kecil yang mengendarai sepeda roda tiga di kerumunan banyak orang yang sedang melintasinya di kawasan di dekat Air Mancur Indosat. Sontak senyum orang-orang sumringah ketika memandang ke anak kecil yang berteriak itu. Monas, pada hari Sabtu (22/6) memang sedang beracara. Dan siapa lagi yang pemilik acara kalau bukan warga Jakarta. Ya, warga Jakarta merayakan Hari Ulang Tahun ke 486 dengan beracara sepanjang malam minggu, malam yang disebut para kawula muda malam yang panjang. Mulai dari Monas hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI) dipenuhi warga Jakarta, dan mungkin juga pendatang seperti saya. Warga yang tumpak blek di jalanan lalu lalang penuh rasa penasaran dan kegembiraan.

Di Air Mancur Indosat

Pingkan di Jalan Thamrin

Entah apa yang sedang diinginkan warga Jakarta, seolah dijawab oleh pemimpin mereka, gubernur Jakarta, Pak Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Jokowi. Acara yang berkonsepkan Jakarta Night Festival telah dilakukan pada malam tahun baru 2013, ketika itu acara berjalan begitu baik tanpa ada masalah, hanya saja saya tidak ada di sana saat itu. Kali ini, gelaran yang sama dilakukan dengan mengambil momen HUT Jakarta yang 468. Gelaran yang dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari warga Jakarta. Sepanjang jalan, mulai dari jalan di kawasan Monas hingga area Bundaran HI penuh dengan keramaian warga Jakarta yang seolah haus akan hiburan gratis.

Dan, perjalanan saya dimulai ketika matahari perlahan mulai condong ke barat. Ditemani Pingkan, yang cukup susah dibujuk untuk ikut serta, dan Joe yang tidak kami temukan keberadaannya ketika jalanan sudah penuh dengan warga yang siap untuk berpesta. Kawasan Wisata Kuliner di Sabang telah penuh dengan lalu lalang kendaraan, baik roda 4 maupun 2, yang jalurnya telah dialihkan. Sekelompok orang-orang pun mulai mengarahkan tujuannya ke bilangan Thamrin maupun jalan Merdeka Selatan. Pusat kegiatan yang bertempat di Monas telah dipenuhi warga Jakarta saat itu. Teman saya, Edoh telah berada di sana hingga terjebak di kawasan Monas dan tidak bisa keluar dari sana. Artinya, Monas telah penuh sesak sehingga ogah untuk cepat-cepat ke sana. Saya mengajak 2 teman saya lagi, Andri dan Wuri untuk ikut serta sehingga rombongan menjadi rame.

Jalan Thamrin telah ramai oleh warga, meskipun belum terlalu padat. Jam menunjukkan pukul 7 malam, tapi tanda-tanda arak-arakan Tumpeng seperti yang tertera pada jadwal seperti tidak kelihatan. Jadi kita memutuskan untuk berjalan ke arah Monas untuk mengetahui apa yang terjadi di sana. Ketika memasuki jalan yang di depan gedung Bank Indonesia, telah tersedia panggung hiburan yang nanti akan diisi oleh musik keroncong. Saat itu juga, teriakan anak kecil tersebut terdengar lantang sehingga senyum-senyum kecil dari warga yang mendengar teriakan anak itu muncul.

P1010574

Dengan tema Jakarta Night Festival, membuat kendaraan dilarang memasuki kawasan yang akan digelar acara. Mulai dari jalan Merdeka Barat dan Selatan, jalan Thamrin hingga sebagian jalan Sudirman ditutup. Beberapa trotoar menjadi tempat kendaraan roda 2 untuk parkir. Untuk menjaga ketertiban, dilakukan hal demikian agar tidak mengganggu rangkaian acara yang sudah ditetapkan oleh panitia. Depan pintu masuk Monas pun dilakukan hal yang sama, ada ribuan motor warga Jakarta parkir teratur di sana dan dijaga oleh petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP. Sayang, masih saja ada kendaraan roda 2 dan roda 4 yang lalu lalang di sekitar lokasi acara. Tidak tegasnya aparat untuk menindak mereka, membuat para pengendara kendaraan tersebut bisa seenaknya lalu lalang di jalanan yang penuh dengan orang-orang.

Di kawasan Air Mancur Indosat, padatnya manusia menyulitkan untuk berjalan dengan lincah. Selalu terhambat dengan gerak para warga yang sementara lalu lalang untuk masuk ke kawasan Monas. Karena tidak ingin terjebak seperti Edoh, saya mengalihkan perhatian saya ke patung M. H. Thamrin yang tidak jauh dari kawasan Monas untuk istirahat sejenak. Jalan Merdeka Selatan adalah tempat di mana Balaikota Jakarta, kantor gubernur, berada. Rangkaian acara arak-arakan dimulai dari tempat itu. Banyak juga delman yang berkeliaran di jalan tersebut, menunggu dan mencari penumpang. Delman-delman yang sibuk tersebut lalu lalang dengan cepat. Cukup berbahaya menurut saya jika harus lalu lalang di daerah padat warga, terutama ketika memasuki bilangan Thamrin. Pertama, delman itu ditarik oleh kuda, yang kuda dari hampir seluruh delman tidak terstandarisasi untuk menarik delman alias terlalu kurus. Kedua, kuda tidak memiliki klakson untuk memberi peringatan bagi mereka yang sementara leha-leha di jalan ketika delman akan segera lewat. Dan ketiga, kuda tidak memiliki rem yang cukup mumpuni untuk berhenti seketika. Wuri sendiri cukup takut dengan kuda, jadi kebanyakan menghindari tempat-tempat yang dipenuhi delman.

P1010592

P1010607

nongkrong di trotoar

Tidak ada tanda-tanda dari Balaikota akan ada arak-arakan Tumpeng. Desas-desus yang beredar bahwa arak-arakan Tumpeng belum dilakukan, walaupun saya ragu dengan desas-desus itu. Mencicipi bakso dan duduk di trotoar cukup menyenangkan. Yang didatangi oleh pengamen yang menyanyi lagu Judika, katanya sih itu lagu yang lagi ngetop. Selepas dari jalan Merdeka Selatan, kita kembali ke bilangan Thamrin untuk menikmati panggung hiburan. Menurut apa yang ada di internet, ada 8 panggung di mana pusat keramaiannya ada di Monas. Dari Merdeka Selatan, kita menuju ke Thamrin tapi tidak melalui panggung yang ada di depan gedung Bank Indonesia. Kabarnya, panggung hiburan di depan Bank Indonesia akan menyuguhkan musik keroncong, saya ingin ke sana tapi sudah keburu salah jalan.

Kami tiba di perempatan Wisma Mandiri dan kantor Kementerian Agama. Panggung besar dan orang di sana cukup ramai. Panggung yang disponsori oleh salah satu BUMD di ruang lingkup DKI Jakarta menarik perhatian, ketika orang-orang akan melewatinya. Diisi oleh personel band dari Wong Pitoe yang gokil dan cukup ngakak ketika berinteraksi di panggung. Sayang, mereka tidak membawa lagu mereka sendiri tapi membawakan lagu orang lain. Mungkin ada sih lagu dari mereka, tapi saya tidak begitu tahu. Pingkan, Wuri, dan Andri menikmati hiburan tersebut. Suara berisik dari kedua vokalis band tersebut saling membawakan pesan untuk Jakarta. Entah itu sekedar omong atau memang tulus untuk menyampaikannya. Satu lagu cukup untuk mereka, kita langsung beranjak.

Hanya dengan jarak tidak sampai 200 meter, kita sampai dipanggung ke 2 yang kita temui. Panggung tersebut berada di sisi jalan yang lain dan kita dibatasi pagar pembatas dan taman jalan yang selebar kira-kira 1,5 meter. Sama seperti panggung hiburan yang kita lewati, orang-orang cukup ramai tapi bertambah ramai ketika band yang mengisi panggung tersebut dengan hiburan tiba. J-ROCKS is on stage! Pantas makin rame. Sayang seribu sayang, sound system yang dipakai sangatlah jelek. Suara krusak-krusuk keluar dari pengeras suara yang beradu dengan suara gitar, suara vokalis, suara bass, suara drum, dan suara keyboard. Ramai dan makin ramai orang yang kumpul di belakang saya, padahal kita berada pada sisi yang berbeda dengan panggung dan dibatasi taman jalan. Lagu-lagu J-Rocks cukup dikenal oleh warga, jadi suara nyanyian para penggemar yang menonton ikut membahana. Penampilan J-Rocks sendiri seperti biasa, menarik. Aksi-aksi panggung mereka membuat band ini digemari oleh para remaja dan pemuda. Tapi, penonton yang berada di depan panggung perlahan mulai meninggalkan panggung tersebut karena kebanyakan dari mereka tidak tahan berdiri dalam kerumunan. Serasa mau pingsan, dan mereka beralih ke jalan di mana kita berdiri. Sama seperti panggung yang pertama, pesan-pesan bagi Jakarta dan warganya didengungkan. Entah itu hanya sebagai basa-basi agar tidak kaku, atau memang tulus, saya tidak tahu.

Tidak lama, kita berlalu dari panggung di mana J-Rocks mentas. Alasannya, banyak orang yang mencoba keluar dari sisi jalan yang lain melewati taman pembatas jalan membuat kita tidak bisa menikmati musik dengan nyaman. Memang sih berdesak-desakan, tapi jikalau ada orang yang datang dari berlawanan arah dengan jumlah masif, ya kita pun tidak nyaman karena harus memberi jalan mereka lewat. Padahal posisi kita berada cukup strategis. Keluar dari kerumunan orang yang berkumpul di depan panggung J-Rocks mentas, tiba-tiba gerombolan orang lewat sambil membuka jalan. Ternyata Jokowi dan Ahok, sambil berjalan kaki dengan cepat melewati kita tiba-tiba. Bagi Wuri dan Andri yang sudah terbiasa meliput beliau-beliau, tidak terlalu kaget. Tapi bagi saya dan Pingkan, kita pun penasaran, mengapa ketika mereka lewat orang banyak ikut juga dari belakang sambil berteriak Jokowi! Jokowi! Jokowi!

Lupakan Jokowi dan Ahok yang lewat bagai angin itu. Lebih baik kita berjalan menikmati malamnya rakyat. Bisa disebut demikian karena semua elemen masyarakat datang meramaikan HUT Jakarta. Mereka tidak merasa bahwa adanya gap ekonomi, seperti yang ada di mall-mall. Bahkan para tukang sapu pun ikut menikmati acara di malam menjelang hari Minggu itu. Belum disebut berhasil memang acara malam itu, tapi mampu membuka ruang interaksi sosial antar warga Jakarta yang selama ini dianggap “cold” dalam berinteraksi sosial secara langsung. Warga ikut berfoto-foto di jalanan yang ramai dan padat warga tersebut. Jadi tidak heran, ketika kita mengambil foto sebagai kenang-kenangan untuk kita simpan, ada warga yang tidak kita kenal di belakang, samping yang bisa dijangkau oleh kamera. Acara yang beginian, bisa membuat iri para pemimpin di daerah lain, yang menciptakan HUT Kota atau HUT Daerah sebagai acara kaum elitis. Dan kalaupun ada acara rakyat, mereka hanya diam di panggung kehormatan dan tertawa-tertawa dengan kaum mereka. Para pemimpin demikian seakan menganggap mereka bukanlah bagian dari rakyat, dan berpikir beri saja mereka hiburan sejenak. Di Jakarta, pada era Jokowi-Ahok, kehadiran pemimpin yang ikut turun ke jalan walaupun di kawal untuk menghindari tidak teraturnya orang untuk berjabat tangan atau malah berfoto bersama gubernur dan wakil gubernur yang fenomenal itu. Jika bicara dengan teman-teman, mereka mungkin lebih menginginkan Jokowi menjadi presiden di 2014. Sebagian lain, berpendapat lain lagi. Jokowi dan Ahok lebih baik menjadi gubernur Jakarta seterusnya jika performa yang mereka tampilkan saat ini konsisten selama masa jabatan periode ini. Jika kita membaca berita pada keesokan harinya, Minggu (23/6), berita tentang Jokowi-Ahok yang lewat tersebut, anda bisa menganalisanya. Jika mereka berdua maju bersama menjadi RI 1 dan RI 2, 1 putaran saja untuk kemenangan mereka.

Panggung ke 3, masih terdengar ocehan-ocehan MC di panggung. Rupanya band yang mengisi panggung tersebut masih mempersiapkan diri. Kita pun yang mendekati panggung tersebut penasaran dengan siapa yang bakal mentas di situ. Tidak lama kemudian, muncul seorang berambut gimbal dan sontak musik reggae didengungkan. Semua penonton bertepuk tangan dan berjoget ketika musik reggae dimainkan. Ya, dari lagu pertama hingga akhir, penonton diajak ikut larut dalam suasana “fly” ala reggae sambil berjoget. Kita pun tidak mau kalah, sang vokalis pun mengajak penonton ikut berinteraksi dengan meminta tangan untuk diangkat. Hampir seluruh penonton, yang jumlahnya terus bertambah karena penasaran kenapa manusia-manusia di sana pada joget, ikut mengangkat tangannya, menggoyangkan tangan ke kanan dan kiri. Pinggul-pinggul, tangan-tangan, dan kaki-kaki ikut gerak. Yang hadir di sana bukan hanya anak muda saja, tapi orang tua pun ikut. Walaupun band reggaenya bukan Steven and Coconut Trees, tapi tetap mereka berhasil menghentakkan penonton. Pesan-pesan, seperti di panggung sebelumnya, didengungkan. Mereka berpesan agar rakyat anti terhadap setiap tindakan yang tidak baik. Sayang, kata Wuri, tidak ada kata mengenai anti narkoba. Musik reggae memang cukup lekat dengan barang berbahaya tersebut.

P1010629

P1010630

P1010631

P1010632

Ketika sang vokalis reggae mengumumkan lagu yang akan mereka bawakan adalah lagu terakhir, kita segera beranjak dari tempat itu agar tidak terjebak macet saat bubaran dari panggung tersebut. Tempat kita duduk menikmati dan melihat sebuah fenomena masif yang diadakan oleh pemerintah provinsi di trotoar. Duduk bersama orang-orang yang kecapean, seakan kita berada pada satu kondisi yang sama yaitu capek dan menyenangkan. Seorang ibu di samping yang duduk, bertanya jumlah panggung di sepanjang jalan Thamrin hingga Bundaran HI. Saya pun menjawabnya 8 termasuk yang ada di Monas, ibu tersebut kaget akan jumlah panggung sebanyak itu. Dari Bundaran HI pun sayup-sayup musik blues masih membahana. Kita duduk melihat orang-orang lalu lalang dan para petugas mulai memunguti sampah-sampah yang bertebaran di jalanan akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Padahal, panitia telah mempersiapkan bak-bak sampah berukuran besar di sepanjang jalan tersebut. Belum lagi taman pembatas jalan yang telah dirusak warga hanya karena ingin berpindah ke sisi jalan yang lain. Wah wah, kalau masih berperilaku demikian kapan kita bisa menjadi orang-orang terdidik yang mengerti peraturan dan tidak berusaha untuk melanggarnya.

P1010633

P1010637

Gebrakan Jokowi-Ahok ini memang luar biasa. Masih ada acara lagi untuk minggu depannya yaitu JAKARNAVAL 2013 (30/6) dengan tema Keajaiban Ondel-Ondel. Saya sendiri kagum dengan program pemerintah ini dalam menyelenggarakan Jakarta Night Festival. Walaupun tidak begitu tertib karena masih ada saja motor yang lalu lalang di jalanan terutama di daerah sekitar Monas, tapi tidak mengurangi kekaguman saya. Mungkin bagi sebagian orang acara ini hanya buang-buang waktu saja dan buang-buang uang. Mungkin bagi sebagian orang acara ini hanya bikin capek saja, belum lagi macet yang terjadi sebelum dan sesudah acara. Tapi orang-orang demikian sulit untuk berbaur dengan masyarakat. Jokowi dan Ahok adalah orang-orang yang pintar dan berani berbaur. Khususnya untuk Ahok, salut saya untuknya. Bukan hanya karena dia tegas, tapi dia tidak sungkan untuk berbaur dengan masyarakat padahal dia adalah seorang turunan Tionghoa. Memang banyak orang-orang turunan Tionghoa yang berani berbaur di masyarakat yang majemuk dan tidak segan ikut berinteraksi padahal turunan Tionghoa adalah golongan minoritas. Soe Hok Gie sudah pasti adalah contoh lain selain Ahok. Jokowi sendiri, walaupun beliau bukan warga asli Jakarta tapi menunjukkan hal yang patut dicontoh. Beliau yang asli Jawa Tengah mau ikut melestarikan, terlibat, dan tidak canggung untuk berbaur dengan kebudayaan Betawi. Bayangkan saja, kesenian-kesenian dan budaya Betawi yang notabene adalah penduduk asli di Jakarta perlahan kembali bangkit. Belum lagi rencana Jokowi-Ahok yang akan menjadikan Jakarta sebagai kota pusat kebudayaan di Indonesia. Itu hal yang patut diapresiasi dan didukung. Jakarta adalah ibukota negara, dan ibukota negara bukanlah milik suatu kelompok atau suku. Penduduk Betawi pun saya rasa mau menerima masuknya kebudayaan lain dari luar Jakarta tapi masih dalam ruang lingkup NKRI. Dengan demikian terpupuklah kedewasaan berbangsa dan bernegara. Kedewasaan berbangsa dan bernegara menurut saya adalah suatu tindakan kita, sebagai warga penduduk Indonesia dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Saya selalu berharap, Jakarta juga menjadi contoh bagi seluruh daerah di Indonesia dalam mengamalkan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam Pancasila. Dan saya bersyukur, walaupun mungkin belum segenap setahun kepemimpinan Jokowi-Ahok, mereka telah berusaha melestarikan nilai-nilai perbedaan di dalam satu kesatuan berbangsa dan bernegara. Ingatlah Pancasila, terutama sila ketiga. Selamat Ulang Tahun Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 486. JAYALAH NEGERIKU, INDONESIA.


P1010648

yang tersisa dari pesta Jakarte

 

 

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: