Beranda > What I See > Masa Lalu Dengan Teknologi dan Budaya Masa Kini: Imajinasi Sesaat

Masa Lalu Dengan Teknologi dan Budaya Masa Kini: Imajinasi Sesaat

Smart PhoneKalau melihat fenomena teknologi yang ada saat ini, saya bisa membayangkan bagaimana kuliah saya jikalau pada masa tersebut teknologi sudah semaju saat ini. Fenomena “autis” kata teman saya, merebak di mana-mana. Hampir-hampir wabah menular tersebut mulai menjangkiti saya perlahan. Tanpa ada teman-teman yang hidup di dekat saya saat ini, bukan tidak mungkin penyakit menular tersebut akan menjangkiti saya.

Suatu kali saya melihat 3 orang pria berpakaian rapi, badan mereka tegap-tegap sehingga membuat jalan di ruangan lantai di mana saya bekerja menjadi sesak. Ketiganya tidak saling menyapa atau berbincang tapi sibuk melihat handphone mereka yang ada di tangan kiri sambil tangan kanan mulai sibuk memainkannya. Jika dimundur ke belakang dari kejadian itu, pernah saya melihat sepasang kekasih yang baru saja diteguhkan pernikahan. Pasangan itu bukan teman saya atau rekan saya, kita tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi saat itu pasangan tersebut saling menjauh dan mulai mengutak-atik handphone mereka. Padahal orangtua mereka ada di situ, menunggu. Mungkin itu hal yang lumrah, saat ini. Untuk masa lalu, pacaran pun jika hanya saling utak-atik handphone sambil curi-curi pandang dan berkata “mau minum apa sayang?” kelihatan seperti dua orang asing yang saling menawarkan minuman atau makanan.

Kembali ke topik semula, yaitu membayangkan Unklab pada masa saya. Pertama yang harus kita bayangkan terlebih dahulu adalah Unklab pada masa itu. Saya tidak tahu menahu tentang Unklab pada masa kini, apalagi mereka yang hidup di asrama apakah masih sama seperti masa saya pada tahun 2005-2008 atau sudah berubah. Ketika saya berasrama, lampu kamar sudah dimatikan pada pukul 10 malam. Ketika lonceng yang menunjukkan waktu jam 10 berdentang dan suara renungan malam bergema di dalam asrama. Itu lampu, bagaimana dengan listrik? Listrik adalah hal yang paling penting dalam kehidupan berasrama dan kuliah. Di dalam era teknologi saat ini, listrik sangat berguna dalam mengisi daya pada baterei handphone supaya tetap hidup. Saking pentingnya daya listrik bagi baterei, maka diciptakanlah power bank. Kembali ke masa saya, listrik di asrama mulanya tidak terbatas alias 24 jam selama 6 hari (1 hari adalah hari Sabat, padam semua aliran listrik kecuali untuk lampu). Hal itu terjadi ketika saya berada pada semester 1. Kemudian, pihak kampus rupanya merasa terjadi kebocoran dalam hal listrik alias meningkatnya beban untuk listrik. Listrik bukan hanya untuk asrama semata, tapi untuk seluruh kampus termasuk gedung-gedung kuliah maupun rumah-rumah dosen. Dan, peraturan baru muncul yaitu semua peralatan elektronik harus didaftar dan kamar yang memerlukan listrik harus membayar sejumlah uang pula. Listrik masih 24 jam juga untuk saat itu, tapi tetap tidak mampu membendung bocornya beban listrik yang tetap berlebih. Akhirnya yang paling menyengsarakan terjadi, listrik dibayar dan dibatasi hingga jam 10 untuk kamar-kamar, listrik 24 jam hanya ada di ruang setrikaan dan ruang belajar. That’s it!

Kedua, kita melihat bagaimana smartphone itu sangat boros dalam hal daya. Saya padahal cuma pake blackberry biasa, tapi sehari mungkin bisa 3 kali ngecharge. Ini aja sambil ngetik sambil ngecharge. Adanya smartphone mengubah perilaku orang, makin sering tampil di dunia maya ketimbang dunia nyata. Dan itu tentunya memberi efek baterei lebih cepat habis. Belum tuntutan internet dan chatting. Kadang-kadang di kantor, yang punya listrik tak terbatas saja (kecuali adanya intervensi PLN) ada yang teriak-teriak lowbatt, tapi setelah cek ternyata gak bawa chargeran. Budaya pinjam-meminjam dan tilep-menilep di asrama juga harus diperhitungkan dalam membayangkan masa lampau dengan perilaku masa kini. Sandal saja bisa hilang di asrama, apalagi ini chargeran yang penting untuk soal isi daya.

Mari kita coba bayangkan, pertama adalah saat bangun pagi untuk masuk ibadah pagi alias Morning Worship. Walaupun mata masih setengah ngantuk, tapi untuk handphone yang jelek aja tidak mungkin dilupakan untuk dibawa ke ibadah pagi. Takut hilang dan untuk telpon-telponan ama “yayang” minta dianterin atau nganterin setelah ibadah pagi. Saat itu fasilitas internet untuk handphone belum begitu membumi, jadi mungkin kalau pagi hanya sms-smsan sama tetangga atau sama kekasih atau sekedar jaga-jaga jangan sampai hilang di kamar (padahal dikunci tu kamar). Nah jika teknologi sudah seperti sekarang pada masa ini dan budayanya juga ikutan maka. Habis dibangunkan paksa oleh monitor hall, kita akan kucek-kucek mata, mengambil smartphone yang berada di bawah bantal kita, dan melihat status teman-teman lain sambil meng-update status juga. Atau kalau ada notifikasi, dengan secepat kilat kita akan melihat notifikasi tersebut, siapa tau ada gadis yang menggoda tadi malam cuman sudah ketiduran.

Perjalanan ke ruang ibadah pun sambil menundukkan kepala, tampak serius memperhatikan kata demi kata yang terpampang pada layar smartphone, yang mungkin hanya liat-liat status teman cewe (antara mau godain atau ngajak sarapan bareng atau pulang bareng habis worship) atau memonitor sang pacar (mungkin mahasiswa posesif). Di dalam ruangan ibadah pun, fokus kita akan ke twitter atau ubersocial atau facebook. Dulu saja, waktu handphone masih gak pinter-pinter amat toh fokusnya masih ke bawah (bukan merenung ya) saat khotbah. Dan itu terjadi di pagi hari pada saat worship.

Saya belum kepikiran kalo soal sarapan, apa mungkin diupdate di media sosial atau dibiarkan saja. Siapa tahu ada yang niat update di media sosial “Nasi, bakwan, sop, ubi manis” atau “@ dining room, breakfast”. Kalau pake foursquare, mungkin banyak yang sudah jadi mayor di dining room. Tiap datang langsung update “breakfast (Dining Room Unklab w/ 10 others) bla bla bla”. Suasananya masih ramai, yang makan sendiri pasti liat-liat telepon pinter.

Jelang jam pertama kuliah, jam 7 pagi. Kala bel tanda masuk telah berbunyi, berbondong-bondong mahasiswa-mahasiswa ke sana. Masih pagi, semangat kuliah masih campur aduk sama semangat ingin lanjut tidur. Kalau teman saya (maaf, soal nama itu privacy), dia lebih memilih tidur walaupun kelas jam 7. Dia bilang masih ada jatah absen. Yang nggak ada kelas, pasti ngecharge smartphone sambil nunggu jam mandi. Ngecharge sambil setrikaan mungkin, langsung bawa colokan listrik yang banyak biar bisa ‘sekali dayung 2 pulau terlampaui’. Kalo yang masih penuh baterenya, masih ketawa-ketiwi dengan smartphone sambil nunggu jam mandi. Kalau teman saya? Masih tetap tidur pastinya.

Di ruangan kuliah, update status di mana posisi adalah yang dilakukan terlebih dahulu. Kemudian menyimpan telepon genggam ke dalam saku (untuk para cowo) atau ke dalam tempat pensil (untuk para cewe). Kalau dosen belum datang, sesekali chat atau lihat-lihat status friends dan following. Kalau ada ujian, paling cuma update status (Ujian Inter, belum belajar) doang habis itu buka buku bolak-balik. Untuk pengguna foursquare, pasti sudah banyak mahasiswa yang sudah menjadi mayor di ruang-ruang kelas. Tapi smartphone juga berguna saat jam tanggung alias adanya jam kosong tapi malas balik asrama atau kos. Maka smartphone berguna untuk membunuh kebosanan. Bayangkan pada masa saya, tidak ada smartphone selain handphone, maka main snake adalah sarana untuk membunuh kebosanan atau balik ke asrama atau kos.

Kalau dosennya bikin boring, sudah didemo di dunia maya. Dan dosennya tidak mengetahui kecuali dosennya terlibat dalam dunia maya juga. Dosennya pelit, pasti juga disebar protes-protes kecil seperti “dosen A pilih kasih, masa yang dilulusin hanya yang pinter-pinter”. Kalau dosennya seru, pasti seusai kelas statusnya keluar. Yang presentasi, setelah selesai presentasi foto-foto sama dosen dan dipajang sebagai foto profil. Tapi enaknya, teknologi smartphone bisa dengan mudah membawa pesan-pesan penting ke teman-teman tanpa memikirkan jumlah pulsa yang terbuang (maklum unlimited). Bayangkan kalo sms, kemudian dikirim ke sejumlah teman, kalau cuma 1-2 orang sih nggak masalah tapi kalau ada 10 kapan bisa irit? Pesan-pesan penting seperti “no class today” atau “makan siang nanti sama-sama ya” atau tukar-tukar “informasi” saat kuis (kalau nggak ketahuan). Seru juga kalau saat saya kuliah seperti itu.

Yang paling parah, efek dari smartphone adalah menyita waktu belajar! Jam 7 selesai ibadah malam untuk anak asrama adalah waktu yang namanya study period, di mana para mahasiswa yang tinggal di asrama dikumpulkan menjadi satu. Kalau untuk yang cewe, saya belum memiliki bayangan. Mungkin perlu wawancara satu orang cewe yang pernah tinggal di asrama. Pertama, saat study period, wilayah-wilayah yang memiliki colokan listrik sudah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang pengen ngecharge smartphone yang sudah on the way ke lowbatt. Kemudian selain pemilik smartphone, para pemilik laptop yang sedang dikejar tugas kasus atau presentasi merapat ke colokan-colokan yang berada di dinding-dinding dining room. Bagi mahasiswa baru, berat rasanya bisa ikut rebutan di sana. Kedua, waktu belajar kemungkinan habis di smartphone. Bagi mereka kaum idealis yang memiliki smartphone, si pembuat onar itu pasti dimatikan sementara. Bagi kaum oportunis, mereka lebih cerdik melihat suasana, sambil belajar mereka pun coba belajar melalui smartphone lewat internet dan sebagainya. Ada juga oportunis yang lain, pura-pura nanya materi (cuma di awal aja) ke cewe-cewe tapi dengan niat “cuma pengen ngobrol ama kamu” (kemungkinan kalimat yang dikirimkan untuk mengatasi cewe yang sudah bosan ditanya melulu bukan tentang pelajaran). Yang pragmatis, bukan siapin contekan, tapi malah ngegame di smartphone (karena bawa laptop pasti keberatan) sambil ngecharge. Sesekali liat media sosial. Yang autis, bukannya ketemu pacar di luar malah chattingan di ruangan (ama selingkuhan kemungkinannya sih). Yang terlalu idealis tidak memiliki smartphone atau tidak membawanya sama sekali (alias disimpan di dalam lemari yang terkunci 2 kali).

So, this is only my imagination. Effected by people that I have seen when I met. I’m not sure enough those things above won’t happen if the technology today were on my college year.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: