Beranda > Umum > Berdirinya Boedi Oetomo: Lahirnya Kebangkitan Nasional

Berdirinya Boedi Oetomo: Lahirnya Kebangkitan Nasional

Logo Harkitnas 2013 Hi-ResHari Kebangkitan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei memiliki arti yang besar dalam kemerdekaan Indonesia pada 1945. Ketika perang-perang melawan penjajah hanya terjadi di daerah-daerah, para tokoh-tokoh pencetus kemerdekaan justru merindukan perlawanan diplomatis dalam melawan penjajah. Perang hanya membawa derita dan kerugian bagi satu daerah. Pangeran Diponegoro yang kita banggakan pun tidak berperang atas nama Indonesia, melainkan atas nama pribadinya sendiri. Hari Kebangkitan Nasional merupakan awal dari sebuah gerakan diplomasi dan propaganda tokoh-tokoh perjuangan Indonesia.

Dan pergerakan nasional tidak bisa dilepaskan dari adanya kesadaran nasional. Kesadaran bahwa kita ini adalah saudara yang berada di bawah penjajahan. Kesadaran bahwa kita memiliki nasib yang sama, kita dijajah dan bersama kita ditakdirkan untuk bebas dari kolonialisme. Keadaan yang jauh berbeda dengan masa sekarang, tidak adanya kesadaran nasional bahwa koruptor perlu dihukum mati atau diberi efek jera dengan hukuman seberat-beratnya. Tidak ada demonstrasi besar-besaran dalam menuntut hal itu di DPR. Kalau giliran subsidi BBM diturunkan, seluruh rakyat demonstrasi menolaknya. Perbedaan itu terlihat dari cara tokoh-tokoh pergerakan nasional pada zaman Hindia Belanda. Dalam satu garis lurus dengan adanya Hari Kebangkitan Nasional maka lahir Sumpah Pemuda, di mana Sumpah Pemuda adalah tahapan maju dari terjadinya Kebangkitan Nasional, yang merupakan gerakan bersama seluruh bangsa yang kita sebut Indonesia.

Gerakan nasional juga tidak lepas dari apa yang kita sebut PENDIDIKAN. Tanpa pendidikan, saya meragukan akan terjadinya suatu gerakan nasional menentang penjajahan. Justru mungkin, hanya akan muncul peperangan demi peperangan dalam menyelamatkan daerah masing-masing. Entah peristiwa sejarah itu merupakan suatu kebetulan, tapi saya meyakini adanya anugerah Tuhan Yang Maha Esa dalam peristiwa  Hari Kebangkitan Nasional, di mana organisasi perintis pergerakan bangsa lahir.

Suatu organisasi gerakan nasional, bisa kita menyebutnya demikian walaupun kebanyakan yang duduk dan vokal dalam organisasi tersebut adalah pemuda-pemuda Jawa, bernama Boedi Oetomo lahir pada 20 Mei 1908. Jadi pada tahun ini, Boedi Oetomo telah berusia 105 tahun. Organisasi ini mungkin sudah tidak eksis di kalangan perpolitikan di Indonesia, tapi semangat menentang kolonialisme dan penindasan semena-mena haruslah tetap tertanam dalam karakter kebangsaan kita.

Dan organisasi Boedi Oetomo tersebut, tidak lahir begitu saja tanpa adanya proses. Proses panjang dari kelahiran Boedi Oetomo dan perjuangannya tidaklah mudah. Maka, saya berpikir bahwa kejadian sejarah pada masa lampau, baik tentang berdirinya Boedi Oetomo terletak pada kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Menariknya, tanpa kejadian yang menyakitkan di pulau Jawa, saya masih belum bisa membayangkan apakah kita benar-benar akan merdeka, atau lebih realistis lagi apakah saat ini kita akan merayakan Hari Kebangkitan Nasional.

Sebuah sejarah tentang bagaimana Kebangkitan Nasional itu lahir bisa teman-teman lihat pada Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta. Cerita tentang Kebangkitan Nasional pun ada di dalam buku panduan museum tersebut.

Dan, cerita tersebut dimulai.

Awalnya, di Pulau Jawa hanya memiliki dokter-dokter dari kalangan Hindia Belanda saja. Tapi sejak adanya wabah penyakit menular pada 1847 di daerah Banyumas dan Purwokerto membuat pemerintah Hindia Belanda saat itu kelabakan bukan main. Bagaimana tidak, kematian manusia-manusia akibat wabah tersebut ternyata mempengaruhi kinerja produksi pertanian. Dan wabah penyakit menular tidak dapat diberantas oleh tenaga medis Hindia Belanda karena kekurangan jumlah. Ada kemungkinan lain, bahwa wabah tersebut juga mengancam kehidupan para kompeni di tempat itu, sehingga terjadi dualisme dalam pertolongan apakah harus menolong kaum pribumi atau para kalangan bangsawan. Kesempatan kepada para Inlander untuk mengenyam pendidikan medis modern pun datang. Sebuah usul dari Kepala Jawatan Kesehatan yaitu Dr. W. Bosch untuk mendidik beberapa anak Bumiputera untuk menjadi pembantu dokter Belanda. Untuk menjadi pembantu dokter, walaupun cuma pembantu, tentu harus dibekali dengan pengetahuan kedokteran modern untuk membantu dokter.

Tahun 1849, keputusan dari Gubernemen yang menetapkan bahwa di rumah sakit militer akan dididik 30 Pemuda Jawa dari keluarga baik-baik, pandai menulis dan membaca bahasa Melayu dan Jawa untuk menjadi dokter pribumi dan “vaccinateur” atau mantri cacar (sumber: Museum Kebangkitan Nasional). Dari keterangan tersebut, bisa kita simpulkan bahwa kemungkinan para pemuda itu adalah pemuda-pemuda dari kalangan ningrat yang tentunya diberi pelajaran privat di dalam keluarga. Dan seperti training yang diadakan oleh perusahaan-perusahaan zaman ini, pendidikan kedokteran gratis tersebut tentu bersyarat yaitu bersedia masuk dinas pemerintah sebagai mantri cacar.

Bulan Januari 1851, berdiri Sekolah Dokter Jawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden dengan masa pendidikan selama 2 tahun. Dalam pendidikan kali ini, ada 12 pemuda yang berasal dari Jawa. Rupanya kebutuhan dokter untuk Jawa cukup banyak sehingga pendidikan kedokteran pada masa 1849-1851 masih diikuti pemuda dari Jawa. Bahasa pengantar pendidikan saat itu adalah bahasa Belanda. Tahun 1856, Sekolah Dokter Jawa menerima murid dari luar Pulau Jawa, dari Minangkabau (Sumatera) dan Minahasa (Sulawesi) sebanyak 2 orang. Tahun 1864, lama masa pendidikan meningkat dari 2 tahun menjadi 3 tahun, jumlah siswa dibatasi sebanyak 50 orang saja. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dokter sehingga mampu bekerja sendiri di bawah pengawasan dokter Belanda dan Kepala Pemerintahan Daerah. Kejadian tersebut merupakan kesempatan dan langkah maju bagi kita, karena sebelumnya lulusan dari sekolah ini hanya menjadi mantri dan asisten dokter, kini dipercayakan menjadi dokter alias bekerja sendiri. Sayang, rintangan awal muncul yaitu penolakan dari beberapa dokter Belanda.

Perubahan besar terjadi pada 1875, dengan lama masa pendidikan menjadi 7 tahun dan jumlah murid dibatasi menjadi 100 orang. Perubahan yang patut disyukuri, bahwa perlahan bangsa Indonesia mulai diberi pendidikan kedokteran modern yang tentunya akan sangat berguna dalam menghadapi kasus-kasus penyakit yang berbahaya nantinya. Jumlah penduduk Indonesia saat itu yang meningkat, sehingga membuat permintaan dokter meningkat. Karena, pemerintah Hindia Belanda tentunya akan terbantu dengan tenaga kerja yang sehat sehingga meningkatkan produktifitas. Saya menyebut masa ini adalah masa damai, peperangan melawan penjajahan menggunakan fisik telah menghilang diganti dengan pergerakan diplomasi dan organisasi walaupun masih berupa janin-janin kecil.

Era Sekolah Dokter Jawa berakhir ketika berdirinya sebuah sekolah dengan gedung baru. Gedung tersebut digunakan untuk STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Kedokteran untuk Bumiputera. Cerita berdirinya STOVIA pun tidak lepas dari munculnya wabah menular, yang kali ini terjadi di Batavia. Pada tahun 1899, usul Dr. H. F. Roll untuk bangunan baru Sekolah Kedokteran Jawa mendapat bantuan dari 3 orang pengusaha Belanda dari Deli, yaitu P. W Janssen, J. Nienhuys, dan H. C van den Honert. September 1901 di Batavia muncul wabah penyakit beri-beri dan kolera yang membuat para pelajar Dokter Jawa (yang kemungkinan sedang dinas) terkena wabah. 1 Maret 1902, sebuah gedung baru resmi digunakan oleh STOVIA. Di STOVIA, para pelajar diwajibkan untuk tinggal di asrama yang menerapkan tingkat disiplin dan tanggung jawab yang ketat. Para pelajar seperti robot, yang kehidupannya diatur oleh sebuah program yang bernama jadwal kegiatan.

Pelajar di STOVIA diharuskan menandatangani sebuah surat perjanjian (acte van verband) yang mengikat mereka untuk bekerja pada dinas pemerintah selama 10 tahun berturut-turut, dan bersedia ditempatkan di mana saja jika tenaganya diperlukan. Kalau tidak maka ada sangsi yaitu pengembalian uang pendidikan selama 9 tahun ke pemerintah. 1909, STOVIA meluluskan muridnya dengan gelar Inlandsche Arts (dokter Bumiputera). Mereka berwenang mempraktekkan ilmu kedokteran seluruhnya. Saya pikir dengan adanya STOVIA, langkah maju memulai pergerakan makin terbuka lebar. Pertama, STOVIA tidak menentukan murid yang bisa masuk STOVIA hanya berasal dari Jawa, pihak sekolah hanya mensyaratkan bahwa orangtua/wali pelajar mampu membayar SPP. STOVIA membuka pintu untuk para pelajar dari luar Jawa sehingga gelar kelulusan dari STOVIA berbeda dengan gelar jika lulus dari Sekolah Dokter Jawa. Gelar dokter Bumiputera memiliki makna yang lebih luas ketimbang hanya sekedar gelar dokter Jawa. Kedua, melalui STOVIA kesempatan bertemu saudara senasib dan sebangsa makin besar, dan perjuangan utuh sebagai satu saudara dan satu bangsa dimulai ketika mereka saling menyadari kesamaan dan nasib mereka adalah untuk dipersatukan sebagai sebuah nation (bangsa). Para pelajar tidak hanya melihat wajah-wajah Jawa saja tapi juga wajah-wajah Sumatera, Sulawesi, Madura, Maluku, Kalimantan, dan lain-lain

Organisasi Boedi Oetomo berdiri di STOVIA oleh pelajar-pelajar yang belajar di tempat itu pada 20 Mei 1908. Seperti yang telah dinyatakan di atas, organisasi ini adalah titik awal pergerakan Bangsa Indonesia. Setelah adanya organisasi Boedi Oetomo, yang notabene untuk kepentingan politik melalui pendidikan, lahir juga organisasi pergerakan bangsa lainnya yang mencoba menyatukan saudara-saudara sebangsa juga melalui PENDIDIKAN. Pendidikan adalah alat yang paling pas untuk memproklamirkan sebuah pergerakan. Pendidikan adalah salah satu hak dasar manusia di mana seorang manusia berhak mendapatkan pendidikan formal, tapi apakah hak itu akan dipakai oleh setiap orang, kembali lagi harus melihat pribadi orang tersebut.

Boedi Oetomo tidak terlepas dari peranan seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa yang bernama dr. Wahidin Soedirohoesodo yang dikenal sebagai perintis organisasi ini. Alasan dr. Wahidin adalah keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang tidak mampu, karena kesulitan biaya sehingga tidak mendapatkan pendidikan formal, begitu juga untuk dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi lagi sehingga membutuhkan suatu wadah. Gagasan dr. Wahidin direalisasikan ke dalam program Studiefonds atau dana pendidikan (bea siswa) di mana dana-dana tersebut dihimpun dari para bangsawan Jawa dan Belanda. Beliau berkeliling Jawa untuk memberikan propaganda melalui Studiefonds ini sampai singgah ke STOVIA. Di hadapan para pelajar STOVIA, beliau memberikan wejangan tentang pentingnya pendidikan sebagai sarana membebaskan diri dari keterbelakangan. Selanjutnya, Raden Soetomo dan Mas Soeradji, yang merupakan pelajar di STOVIA bertemu dr. Wahidin untuk mendiskusikan strategi tersebut.

Rupanya, ide dr. Wahidin menggugah kesadaran pelajar STOVIA tentang kesamaan budaya, bahasa, wilayah, dan nasib bangsanya. Ruang rekreasi yang berada di STOVIA menjadi tempat untuk diskusi persoalan-persoalan kebangsaan yang tanpa disadari telah menumbuhkan benih-benih nasionalisme di antara para pelajar STOVIA.

Peristiwa bersejarah 20 Mei 1908 di Ruang Kelas Anatomi STOVIA diadakan pertemuan antar pelajar STOVIA. Pertemuan mereka menghasilkan sebuah organisasi yang bernama BOEDI OETOMO dengan ketua Raden Soetomo. Organisasi ini adalah organisasi modern pertama yang menggunakan struktur organisasi modern dan kepengurusan yang jelas. Hal tersebut makin memperjelas tanpa adanya pendidikan formal, akan sulit membentuk sebuah organisasi dengan struktur kepengurusan yang jelas. Untuk saat ini saja, bangsa kita seakan kembali ke masa yang lebih lampau dari masa Boedi Oetomo karena struktur kepengurusan yang jelas tapi tidak memiliki koordinasi yang tidak jelas.

Lahirnya Boedi Oetomo bukan berarti tanpa masalah. Masalah mulai muncul ketika para dosen mulai gelisah dan marah dengan alasan organisasi tersebut akan mengancam pemerintahan kolonialisme. Masuk akal dari sudut pandang mereka, tapi bukan berarti tidak ada yang membela organisasi ini, terutama membela para pelajar yang menjadi pengurus organisasi Boedi Oetomo. Ancaman untuk dikeluarkan oleh pihak STOVIA adalah sesuatu yang nyata dan mengancam eksistensi Boedi Oetomo saat itu. Tapi, direktur STOVIA, dr. H. F Roll, memiliki sebuah pemikiran lain dan membela para pelajar yang menjadi pengurus organisasi dan dianggap sebagai pengacau saat itu. Beliau melihat tindakan para pelajar adalah sesuatu yang wajar dari gejolak jiwa muda mereka yang penuh semangat dan ide-ide baru tanpa memperhatikan resiko. Ungkapan terkenal dari dr. H. F Roll ketika membela para pelajar tersebut adalah “apakah di antara tuan-tuan saat muda tidak ada yang semerah Soetomo”. P1000822

Jika saya mengucapkan terima kasih atas Hari Kebangkitan Nasional ini, saya akan mengucapkannya kepada direktur STOVIA, dr. H. F Roll. Saya tidak tahu dan mengerti apakah pandangan beliau yang melihat kejadian berdirinya organisasi Boedi Oetomo sebagai hal yang biasa-biasa saja, tapi pastinya dukungan beliau membawa langkah Pergerakan Nasional Indonesia makin berkembang. Dengan adanya Boedi Oetomo, maka organisasi Pergerakan Nasional lainnya bermunculan. Pada 1915, organisasi Jong Java berdiri, kemudian 1918 organisasi Jong Ambon dan Jong Minahasa berdiri. Dan organisasi-organisasi inilah yang kemudian saling mengikrarkan sumpah pada 28 Oktober 1928 yang kita kenal sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Jika melihat ke belakang, sejarah Kebangkitan Nasional, maka kita mendapati betapa Kebangkitan Nasional itu lahir dari adanya sebuah kesadaran dari mereka yang memandang kepentingan bersama. Kesadaran mereka lahir bukan dari apa yang mereka lihat semata, tapi juga kesadaran tersebut terpikirkan melalui pendidikan yang mereka lalui. Saya melihat begitu besar peran pendidikan di dalam lahirnya Kebangkitan Nasional. Politik dalam pelajar belum lahir saat itu, dan politik tidak menjadi hal utama dalam memperluas gerakan nasional. Apakah dr. H. F Roll berdiskusi dengan Raden Soetomo saat salah satu pencetus organisasi Boedi Oetomo? Tidak ada yang tahu, tapi unsur politik tidak ada di dalam lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Para pencetus organisasi tersebut hanya melihat fakta yang di lapangan dan mulai berkata satu sama lain, apa yang bisa kita lakukan dengan saudara sebangsa untuk memberikan mereka pendidikan? Bahwa mereka adalah orang-orang yang berpendidikan dan terdidik satu sama lain. Saat ini, momen Kebangkitan Nasional hanya merupakan slogan-slogan politik tanpa adanya tindakan nyata dari pemerintah. 5 tahun lalu, momen 100 tahun Kebangkitan Nasional tidak berarti apa-apa hingga saat ini, mungkin hanya momen tersebut dipakai untuk kepentingan politik seperti utak-atik harga BBM.

Dan Kebangkitan Nasional hanya akan menjadi kenangan-kenangan di masa lampau, di mana kita hanya mengenang betapa gagahnya mereka yang mati untuk bangsa ini. Pendidikan yang carut marut tidak akan melahirkan Kebangkitan Nasional, bayangkan jikalau bukan di bawah pengawasan bangsa Belanda (tapi bangsa yang masih carut marut) yang memperhatikan pendidikan di STOVIA, saya tidak yakin kalau akan terjadi sebuah gerakan saat itu. Saat ini negara kita berada pada 2 sisi yang saling bertentangan, bangkit atau terkubur. Bangkit melawan koruptor-koruptor, budaya-budaya asing yang merusak, ancaman disintegrasi bangsa yang nyata, tata kelola negara yang buruk, dan lemahnya regenerasi pemimpin atau terkubur di dalam tanah dengan batu nisan di atasnya yang bertuliskan “Beristirahat dengan tenang, Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

*Sumber utama: Buku Panduan Museum Kebangkitan Nasional

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: