Beranda > What I See > Soe Hok Gie, 11 Mei 1969

Soe Hok Gie, 11 Mei 1969

Tulisan ini saya ambil dari buku harian Soe Hok Gie yang diterbitkan oleh LP3S dengan judul Catatan Harian Seorang Demonstran. Soe Hok Gie mengaku tidak memiliki agama, tapi dia tidak mengaku tidak percaya akan Tuhan. Karena bagi Soe Hok Gie, Tuhan adalah kebenaran, sehingga sulit menyanggah bahwa dia adalah seorang atheis. Catatan harian yang bertanggal 11 Mei 1969 sebenarnya bukan hanya menceritakan tentang diskusi Soe Hok Gie dan 2 rekannya dengan pendeta-pendeta di GKI Cawang, tapi saya hanya mengambil bagian itu dengan maksud untuk memberi pandangan bagi rekan-rekan yang ada di gereja, bahwa pandangan-pandangan orang di luar gereja itu ADA! Dan kadang-kadang gereja hanya memikirkan dirinya sendiri, bagaimana membangun kemegahan gereja tanpa memikirkan jemaatnya. Ini mungkin tidak seberapa penting bagi kita, tapi menarik untuk disimak pandangan-pandangan Soe Hok Gie.

Minggu, 11 Mei 1969

SoeHokGie-Rasanya lucu ceramah di hadapan ±10-15 pendeta GKI di Cawang. Saya datang bersama Benny Mamoto dan Tanto. Saya berbicara jujur sekali. Saya katakan bahwa saya terharu sekali melihat “sikap agung dari doktrin Kristen” yang menyatakan bahwa tugas seorang Kristen adalah menjadi saksi kebenaran. Bahwa hidup adalah pergumulan yang terus menerus dengan dosa. Menjadi saksi kebenaran bagi saya adalah bangkit untuk menyatakan dengan jujur pada kebenaran-kebenaran yang ditindas. Dan setiap kali, kita harus bergumul untuk mengalahkan dosa-dosa kita, keragu-raguan kita dan nafsu-nafsu kita. Tetapi di pihak lain Gereja adalah sebuah organisasi biasa, sebagai organisasi ia tidak berbeda dengan organisasi pengumpul perangko dan catur: perlu uang, koneksi, dan pengaruh pada kekuasaan dan lain-lain. Dan untuk mencapai hal ini ia harus mengadakan kompromi-kompromi. Dan kadang-kadang karena faktor-faktor tadi ia harus bungkam pada kebenaran yang diinjak-injak. (Saya gugat sikap gereja pada tahanan politik sambil membandingkan the drive of silence Paus Pius ZII) pada kebutuhan-kebutuhan praktis (saya berikan contoh-contoh perbedaan kaya dan miskin dalam Gereja) di keuangan. Akhirnya Gereja diam dan hanya menjadi kegiatan ritual. Orang-orang yang muda dan gelisah akhirnya meninggalkan Gereja “Saya yakin bahwa sebagian dari orang-orang yang gelisah dan yang paling idealis akhirnya membelakangi Gereja”.

Benny Mamoto cerita tentang pengalaman pribadinya. Korupsi di Gereja dan tokoh-tokoh yang paling tercela menjadi anggota-anggota Gereja karena sumbangan uang. Ia masih percaya akan dogma-dogma Kristen tapi bagi saya Gereja tidak punya fungsi apa-apa. Diskusi-diskusi berjalan cukup lama (1,5 jam) dan enak. Mereka tidak membantah apa yang saya katakana tapi menjelaskan faset-faset sulit yang mereka hadapi. “Lalu apa yang harus kami lakukan?”, tanya pendeta Lukito. Saya usulkan pemecahan nonorganisatoris. Akuilah bahwa sebagai manusia, pendeta-pendeta punya perbedaan. Dan mereka berjalan dalam pandangan-pandangan ini. Ini akan menunjukkan bahwa ada unsur radikal dalam Gereja yang tetap dapat berkomunikasi dengan orang-orang muda yang gelisah. Bersatu hanya untuk bersatu adalah hipokrit. Kami makan siang bersama dan saya dapat uang Rp. 400. Uangnya saya bagi tiga. Aneh rasanya, setelah mengecam malah dapat uang.

– Soe Hok Gie –

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: