Beranda > Umum > Kisah Hideyoshi bagian 1

Kisah Hideyoshi bagian 1

Toyotomi_hideyoshi_Osaka-houkokuBaru beberapa minggu lalu, saya diberitahukan oleh teman atau bisa disebut juga rekan dalam pelayanan tentang buku Taiko. Buku yang ditulis oleh seorang sastrawan Jepang yang terkenal, Eiji Yoshikawa. Beliau menulis banyak buku novel sejarah, yang salah satunya adalah Taiko. Dari ringkasan cerita yang berada di bagian belakang buku tersebut, Taiko mencoba mengangkat peristiwa pada masa Sengoku atau masa negara-negara berperang di Jepang pada abad ke 16. Terdapat 3 tokoh utama di dalamnya yaitu Nobunaga Oda, Hideyoshi Toyotomi, dan Ieyasu Tokugawa yang menjadi 3 tokoh penting dalam masa ini. Tapi yang menjadi titik perhatian sang novelis adalah Hideyoshi Toyotomi, yang dijuluki oleh beberapa orang sebagai The Swordless Samurai.

Julukan The Swordless Samurai tidak datang begitu saja. Tentunya ada alasan dibalik pemberian julukan tersebut. Berbeda dengan Nobunaga Oda atau Ieyasu Tokugawa yang memang lahir dari keturunan penguasa provinsi atau juga disebut daimyo, Hideyoshi justru lahir dari keluarga miskin seorang samurai rendahan yang mengabdi pada keluarga Oda. Dan jika kita membaca buku Taiko pada bagian awalnya, bagaimana diceritakan Hideyoshi ini belumlah memiliki nama Hideyoshi. Tapi menurut Eiji Yoshikawa dalam buku tersebut, nama Hideyoshi pertamanya adalah Hiyoshi. Hiyoshi adalah seorang anak yang cukup riang dan tidak kenal takut serta ejekan. Dia sedari kecil dijuluki Monyet oleh teman-teman seumurannya dan juga oleh Nobunaga Oda ketika dia mengabdi kepadanya. Lahir dari keluarga samurai rendahan, yang telah cacat dan perekonomian keluarga hanya bertopang pada ibunya membentuk karakter dan semangat awal Hideyoshi kecil. Cita-citanya sebagai seorang samurai dipendamnya dalam karena ibunya tidak ingin melihat anaknya mati sebelum ibunya. Di satu sisi, dengan menjadi samurai, Hideyoshi kecil ingin membahagiakan ibunya. Kelebihan anak ini adalah sifat keingintahuannya yang sangat besar, bahkan sampai dia menjadi dewasa sekalipun. Hideyoshi kecil juga telah digodok mentalnya agar tidak terlihat lemah dihadapan orang yang mengejeknya dan tidak segan-segan berkata apa yang terlintas dalam hatinya secara jujur.

Cerita buku Taiko selanjutnya, menceritakan kisah-kisah yang mengubah hidup Hideyoshi kecil. Kematian ayah kandungnya dan betapa tidak bermoralnya ayah tirinya menjadikan dia lebih teguh. Kemampuan bergaulnya juga sungguh mencengangkan padahal tidak sedikit orang yang mencela dia karena bualannya terlampau besar. Dalam masa anak-anaknya, dia bekerja kepada salah satu saudagar besar yang ada di daerahnya bernama Sutejiro. Dia disenangi oleh majikannya dan sebenarnya termasuk pandai dalam mencari muka. Semangat untuk membahagiakan ibunya membuat dia sungguh-sungguh dalam pekerjaannya, walaupun itu kecil (pernah dia menyapu halaman sebuah kuil sampai bersih). Suatu ketika, ada seorang perampok yang ingin merampok rumah dari majikan Hideyoshi. Dengan segala keteguhannya dan kecerdikannya, Hideyoshi yang saat itu telah berusia remaja, menghadapi perampok tersebut. Perampok yang pada tahun-tahun mendatang akan menjadi salah satu prajurit andalan Hideyoshi bernama Watanabe Tenzo.

Cerita berlanjut ketika Hideyoshi remaja diusir oleh Sutejiro dan anaknya yang juga sahabat Hideyoshi pada masa kecil, Ofuku. Hideyoshi yang masih menyimpan keinginannya untuk menjadi seorang samurai mengembara untuk mencari junjungan yang tepat. Pada suatu ketika dia berjumpa dengan secara tidak sengaja dengan seorang pemimpin Ronin, Hachisuka Koroku. Koroku mengangkat Hideyoshi untuk bekerja di rumahnya menjadi seorang pengawas pekarangan dan kebun. Koroku kemudian disadarkan oleh seorang samurai pengembara yang menyamar menjadi seorang biarawan akan kemampuan Hideyoshi. Tapi orang-orang yang ada di kalangan Koroku tidak begitu senang dengan Hideyoshi dan terlanjur merasa iri dengan Hideyoshi yang seakan-akan menjadi kesayangan pimpinan mereka. Keterusterangan Hideyoshi dianggap sebagai cari muka. Daya analisis Hideyoshi makin hari makin luar biasa sehingga diutus oleh Koroku sebagai bagian dari tim mata-mata untuk menyebar desas-desus di wilayah Mino. Singkat cerita, Hideyoshi tertangkap tapi kemudian dilepaskan dan tidak kembali lagi ke Koroku.

Setelah lepas dari Koroku, Hideyoshi mengabdi kepada samurai bernama Matsushita Kahei. Hal yang sama terjadi seperti sebelum-sebelumnya. Kemampuan Hideyoshi untuk beranalisa dan memahami sebuah peristiwa, ditambah ketekunannya, membuat dia disukai pimpinannya tapi malah sering difitnah oleh orang-orang lain. Hideyoshi yang disayangi oleh majikannya tersebut dilepaskan oleh majikannya untuk kembali ke kampung halamannya untuk sebuah misi yaitu mencari baju tempur model baru. Tapi kejadiannya berubah ketika Hideyoshi, seakan memenuhi panggilannya, mengabdi kepada keluarga Oda yang notabene adalah penguasa dari provinsi Owari, tempat dia tinggal. Dengan tindakan nekad yang ditunjukkannya kepada sang pemimpin keluarga Oda, Nobunaga, Hideyoshi diterima sebagai pelayannya serta pembawa sandal. Cerita akan petualangan dari Hideyoshi dimulai dari tempat ini, di mana dia seakan menjawab panggilannya sebagai seorang samurai.

Dari nama Hiyoshi, dia mengubah namanya menjadi Kinoshita Tokichiro. Sebelumnya namanya hanya Hiyoshi anak Yaemon, sekarang berubah menjadi Kinoshita Tokichiro, pembawa sandal Nobunaga Oda dan diizinkan tinggal di benteng. Saat belum memenuhi panggilannya, Hideyoshi selalu bekerja dengan sungguh hati hingga memberi kesan mendalam kepada para majikannya. Baik ketika bekerja pada Sutejiro, kemudian Koroku dan Kahei yang adalah seorang samurai, Hideyoshi selalu disayangi dan menjadikan dia dicemburui oleh rekan-rekan yang lebih tinggi pangkatnya. Saat menjadi pembawa sandal Nobunaga, Hideyoshi pun bersungguh-sungguh dalam mengerjakan pekerjaannya. Entah gajinya hanya kecil dia tetap mengerjakannya dengan sungguh hati. Dia memang belum menjadi seorang samurai, tapi Hideyoshi telah mendapatkan majikan yang tepat. Waktu berjalan dan Hideyoshi dengan cepat menanjak karirnya.

Setelah menjadi pembawa sandal, Hideyoshi diangkat oleh Nobunaga untuk menjadi petugas dapur. Di dapur, Hideyoshi membuat reformasi. Baik dari segi kualitas barang yang diterimanya, kemudian pembayaran, jumlah barang agar tidak menumpuk dalam gudang. Hideyoshi membuat perencanaan-perencanaan yang membuat bagian dapur dapat menghemat anggaran belanja benteng. Belum lagi para penyalur barang yang seringkali diceramahi oleh Hideyoshi agar memikirkan jangka panjang dengan tidak menipu sehingga mereka pun sadar. Dengan prestasi-prestasi ini, Hideyoshi sering difitnah dan dicemooh tapi dia tetap tidak pernah ambil pusing. Sama seperti Nobunaga, yang kelak mengangkat Hideyoshi sebagai salah satu jendral favoritnya, yang tidak pernah ambil pusing terhadap masalah sepele. Nobunaga juga merestui rencana renovasi dapur yang sesuai keinginan Hideyoshi. Prestasi demi prestasi muncul sehingga Hideyoshi dipindahkan menjadi petugas yang mengurus kayu bakar serta arang, yang begitu boros pemakaiannya. Dan makin tinggi jabatan, makin tinggi pula rintangan yang dihadapi. Ketidaksukaan para samurai yang lebih tinggi posisinya dari Hideyoshi tidak menyukai kebijakannya. Sehingga memaksa Hideyoshi untuk meminta Nobunaga pun menjadi teladan bagi para anak buahnya juga warga kota dengan memperlihatkan penghematan. Dengan segala alasan yang masuk akal, Hideyoshi pun berhasil membujuk Nobunaga.  Hideyoshi pun berhasil menemukan perilaku cari laba demi keuntungan sendiri dari kalangan penyalur kayu bakar.

Prestasi demi prestasi yang diperlihatkan Hideyoshi membawanya kepada posisi baru yaitu sebagai pengawas kandang dan mendapatkan sebuah rumah serta upah 30 kan (nggak tau tuh berapa banyak duitnya kalo dirupiahkan). Hideyoshi pun mulai bertemu dengan samurai-samurai yang terkenal seperti Maeda Inuchiyo atau lebih dikenal dengan nama Maeda Toshii, yang juga saingan dalam memperebutkan seorang perempuan bernama Nene. Prestasi paling cemerlang Hideyoshi adalah ketika dia membangun tembok benteng yang runtuh sepanjang 200 meter selama 3 hari. Kemudian beberapa hari kemudian terbongkarlah rencana pengkhianatan sang pengawas pembangunan sebelumnya yang sengaja memperlambat pembangunan sehingga musuh bisa menyerang markas Nobunaga. Setelah kejadian tersebut, Nobunaga mengangkat Hideyoshi menjadi kepala atas 30 orang.

Kisah ini masihlah awal dari kisah-kisah kejayaan dan kemasyhuran seorang yang dipanggil Monyet oleh teman-temannya maupun majikannya. Jika kita melihat kisah Hideyoshi pada awalnya, tentulah bukan perjuangan yang mudah. Dia mengerahkan segala keunggulannya dalam berbagai hal termasuk beranalisa, keingintahuannya, dan kecermatan dalam berkata-kata menjadi senjata andalannya. Hideyoshi bukannya tanpa kelemahan, dia begitu banyak bicara kadang-kadang sehingga tidak disukai oleh beberapa rekannya yang dianggap hanya mencari muka semata. Hideyoshi juga masih belum bisa mengendalikan diri ketika dipuji, sehingga Nobunaga pun sering mengacuhkan bualannya walaupun benar tapi tidak tepat waktu. Dalam perjalanannya mencari majikan yang tepat, Hideyoshi pun tetap bekerja dengan sungguh hati ketika dia merasa tempat dia bekerja bukanlah sesuai dengan keinginan hatinya. Pada kisah-kisah selanjutnya, akan diceritakan bagaimana kemampuan Hideyoshi dalam beradu bicara dengan lawan untuk memihak kepadanya.

Iklan
Kategori:Umum
  1. November 14, 2013 pukul 2:39 pm

    bagian dua nya mana om?
    bagus bgt nh 🙂

    • November 14, 2013 pukul 2:41 pm

      belum sempet ngerangkum bro, bukunya lagi dipinjem temen hehe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: