Beranda > Museum > Jalan-Jalan ke Museum Taman Prasasti

Jalan-Jalan ke Museum Taman Prasasti

duduk di taman prasastiSetelah mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional pada 2 minggu (17/2) kemarin, kali ini museum yang dituju adalah Museum Taman Prasasti yang terletak di jalan Tanah Abang I. Museum ini tepat berada di belakang kantor Walikota Jakarta Pusat. Museum Taman Prasasti dulunya merupakan pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober yang seluas 5,5 hektar. Dibangun tahun 1795 untuk menggantikan taman pemakaman yang berada di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk yang sudah penuh. Tahun 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. Perkembangan kota yang pesat menyebabkan luas pemakaman yang dijadikan museum tinggal 1,3 hektar saja hingga kini.

Museum Taman Prasasti tidak terlalu sulit untuk dijangkau dan tidak jauh-jauh amat dari Museum Nasional atau Museum Gajah. Menurut brosur yang didapatkan dari tempat pembelian karcis, Museum Taman Prasasti berada di bawah pengawasan pemerintah propinsi DKI Jakarta. Berbeda dengan Museum Nasional atau Museum Kebangkitan Nasional yang berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Museum Taman Prasasti berada di bawah 1 manajemen dengan Museum Sejarah Jakarta yang berada di kawasan Kota Tua. Dan sesuai dengan isi brosur, museum ini memang kaya akan bermacam gaya arsitektur-arsitektur klasik ala Eropa. Sayang, beberapa nisan malah tidak terawat dengan baik karena ulah para pengunjung.

Jam 9 pagi adalah waktu yang tepat untuk bepergian ke museum. Saya meminta Pingkan lagi untuk menemani karena hanya dia yang bersedia dan tersedia untuk perjalanan semacam ini. Museum dibuka mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore, dari hari Selasa sampai hari Minggu. Jam pertemuan hari Sabtu (2/3) dirubah menjadi jam 10 yang kemudian akhirnya mundur ke jam 11. Tempat pertemuan adalah di depan halte busway Bank Indonesia.

Kira-kira jam 11, dan matahari mulai meninggi ditutup awan-awan keabu-abuan, kita beranjak dari tempat pertemuan untuk mengambil moda transportasi kuno tapi masih eksis, bajaj. Dari dekat Menara Indosat, bajaj yang kita temui berjalan menuju ke arah Jalan Abdul Muis untuk terus menuju ke jalan Tanah Abang I, lokasi museum. Sempat terpikirkan untuk jalan kaki dari Museum Gajah ke Museum Taman Prasasti, tapi niat dibatalkan mengingat peta bisa menipu. Dan benar saja, setelah melewati belakang Museum Nasional, jalan yang harus dilalui jika kita berjalan kaki ternyata cukup menjanjikan jauhnya. Suara bajaj yang berisik membawa kita terus menuju ke lokasi Museum Taman Prasasti berada.

Setibanya di depan Museum Taman Prasasti, terdapat puluhan motor yang sedang parkir di dalam museum. Itu berarti, orang yang datang berkunjung cukup banyak. Berbeda dengan suasana Museum Kebangkitan Nasional yang sangat sepi, museum ini malah lebih ramai padahal isinya kuburan dan mayat atau nisan dari berbagai orang yang telah tiada. Katanya museum ini sering digunakan untuk acara foto-foto termasuk pre-wedding, tapi yang bener aja sih di kuburan. Di museum ini juga terdapat nisan dari Soe Hok Gie yang konon cukup terkenal dikunjungi, tapi cuma konon aja sih. Sekedar informasi, dulunya Soe Hok Gie dikuburkan di sini, tapi oleh pemerintah DKI Jakarta dipindahkan karena akan dipakai untuk pengembangan kota. Nah, oleh keluarga Gie, jenazahnya dibakar dan abunya ditabur di Mandalawangi, Pangrango yaitu tempat favorit Soe Hok Gie.

Yah namanya juga pandangan pertama, museum dengan bangunan depannya bergaya Eropa klasik sangat menarik. Sama seperti dengan bagian depan gedung Museum Gajah yang ada pilar-pilar raksasanya. Sayang pas melewati tempat motor-motor diparkir bau pesing dengan intensitas rendah cukup mengganggu hidung saya. Nggak tahu kalo Pingkan gimana. Kemudian masalah harga karcis masuk yang cukup membingungkan. Dalam informasi yang saya dapatkan dari internet, harga karcis masuk museum adalah 2ribu rupiah saja. Tapi ketika saya membayar dengan uang sepuluhribuan (untuk 2 orang), si penjaga loket tidak mengembalikan uang kembaliannya dan langsung memberikan brosur yang berisi 2 museum yang berada di bawah 1 manajemen tersebut. Padahal, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) bukan cuma brosur saja yang diberikan tapi juga buku panduan dan sejarah museum. Dan harga karcisnya cuma 2ribu saja lho.

Museum Taman PrasastiMuseum Tam(an) Prasa(sti).  Huruf terakhirnya hilang

Setelah sebel sendiri dengan penjaga loketnya, saya dan Pingkan masuk ke lokasi nisan-nisan dan makam-makam, serta prasasti-prasasti yang menjadi koleksi museum. Karena saya kelaparan jadi istirahat sebentar dulu di bawah pohon yang ada tempat duduknya. Pingkan sudah saya pesan untuk bawa kue karena saya pastinya tidak bisa sarapan saat pagi. Sambil makan kue tradisional, risoles, ada ibu dan 2 anaknya sedang berjalan melihat-lihat prasasti yang mirip dengan prasasti Foke (tiang-tiang monorel yang tidak terpakai) sambil berfoto bersama. Mereka berhenti tepat di depan tempat kita duduk, di mana ada sebuah patung malaikat berukuran kecil yang belum cacat, dijadikan objek untuk berfoto kedua anak tadi. Kalau di Museum Gajah sering orang-orang berfoto di dekat arca-arca. Ada juga orang yang mengambil sesi pemotretan di sekitar makam-makam yang masih terawat dan unik. Tapi pemotretan dalam rangka apa, masa bodoh.

Tidak jauh dari tempat kita duduk, ada makam/nisan salah satu orang yang berjasa di STOVIA dan Pergerakan Nasional yaitu Dr. H. F. Roll dan kemungkinan anaknya yang berusia cukup pendek. H. F. Roll ini berjasa membela R. Soetomo ketika diancam untuk dikeluarkan. Saat itu Roll bertindak sebagai direktur STOVIA dan disebut bapak STOVIA. Saya tidak sempat mengambil gambar makam/nisan beliau dan anaknya karena lagi kaget dengan sebuah makam keluarga berbentuk rumah.

Makam berbentuk rumahMakam keluarga dari A. J. W van Delden. Berbentuk rumah lengkap sama pagar lagi.

Melihat makam yang berbentuk rumah, saya jadi teringat makam yang seperti ini di kuburan Paal 2 Manado. Makam yang berbentuk rumah kemudian bergaya Cina berwarna mencolok menjadi suatu tempat yang cukup bagus untuk sekedar foto-foto. Makam berbentuk rumah bukan hanya di satu atau dua tempat saja. Di berbagai tempat yang menjadi daerah pemakaman, ada juga yang berbentuk rumah yang nisannya terlindung dari panas mentari dan air hujan yang jatuh dari langit. Walaupun tidak seartistik yang ada di kuburan Paal 2 ataupun di museum, paling tidak konsep pemakaman keluarga yang diberikan melalui desain arsitektur demikian adalah adanya kerinduan untuk tetap bersama, satu keluarga utuh, walaupun telah tiada dan berada di dunia orang mati.

Ya namanya juga taman, pasti ditata sebaik mungkin dan rapi. Walaupun kata terakhir belum terlihat di taman ini, tapi pihak museum mulai berusaha merapikan tata taman. Dengan adanya tempat untuk berjalan kaki sehingga rerumputan yang berada di taman tidak diinjak-injak. Tapi tetap saja saya menginjaknya karena ada kebanyakan makam terletak di tengah-tengah.

Di dalam museum taman PrasastiGuide saya selama di Museum Taman Prasasti bernama Pingkan hahahahaha.

Dari gambar di atas, terlihat cukup nyaman berjalan di taman ini. Tapi pada saat saya berada di museum, panasnya sinar mentari pun ikut serta merta menyambut. Walaupun kadang-kadang tertutup awan yang lalu-lalang, toh tetap saja pohon-pohon rindang yang ada di sini tidak cukup mampu menghadirkan kesejukan. Sidewalk pun ditata rapi dengan saluran-saluran air sehingga misalnya hujan, air bisa langsung mengalir ke saluran air dan dialirkan ke luar museum agar museum tidak banjir.

Dengan tempat jalan yang cukup indah, beberapa nisan dan prasasti dengan teratur berdiri tegap. Ada juga nisan-nisan yang terlentang di atas tanah yang dipenuhi rerumputan, yang sebagian tinggi dan yang sebagiannya rendah. Nisan-nisan itu bertuliskan huruf latin berbahasa Belanda. Ada nisan yang dipahat dengan berbagai macam bentuk yang membuatnya terlihat indah. Seperti nisan di bawah ini, yang dipahat dengan model seorang wanita sedang berlutut dan berdoa, dan Pingkan berada di sampingnya.

Salah satu nisan di Museum Taman PrasastiSalah satu nisan yang dipahat indah oleh perancangnya.

Nisan-nisan di tempat ini beberapa masih terlihat menarik, seperti nisan yang menjadi tempat Pingkan berfoto. Ada juga nisan yang berupa besi utuh, yang sudah dipenuhi karat karena sudah dimakan zaman. Entah itu nisan atau monumen hiasan sebagai bagian dari pekuburan tersebut. Beberapa nisan merupakan nisan keluarga, artinya anggota keluarga yang meninggal dikuburkan pada suatu tempat, di kuburan yang menjadi museum ini, kemudian dikremasi dan mendapat perhentian dengan tenang bersama abu-abu anggota keluarga lain. Seperti makam yang menjadi kuburan beberapa anggota keluarga tersebut, jika dilihat dari jumlah nisan yang tertulis, maka kemungkinan tubuh mereka dikremasi dan yang dikuburkan adalah abunya. Tapi juga mungkin ada pengecualian untuk beberapa makam yang bertuliskan lebih dari 1 nama. Seperti makam dari ex direktur STOVIA, Roll, yang dimakamkan dengan nisan lebih dari 1 nama. Dari apa yang tertulis di makam Roll, kemungkinan dia dikuburkan bersama anaknya yang masih balita ketika meninggal.

Nisan-nisan yang ada di Taman PrasastiNisan-nisan yang ada di Taman Prasasti

Nisan-nisan dan makam yang masih tersusun rapi. Entah masih adakah peti atau mayatnya dibalik nisan tersebut.

Kebanyakan yang dikuburkan di sini adalah para warga negara asing, pendatang dari negeri Eropa, ataupun para ningrat (tapi saya tidak menemukan ningrat sih di sini). Dulu, mungkin pekuburan ini dikhususkan untuk warga penjajah seperti Belanda. Tapi ada juga orang-orang selain penduduk penjajah seperti di beberapa nisan menyebutkan ada pedagang yang berasal dari Inggris yang meninggal di Batavia. Selain itu, beberapa nisan menaruh pekerjaan orang yang meninggal tersebut sebelum dia meninggal. Seperti pedagang asal Inggris bernama Philip Skelton yang meninggal di Batavia pada 1821. Kemudian seorang yang lahir di Edinburgh, seorang dokter yang meninggal di Batavia pada 1872. Ada nisan atau monument peringatan atas kematian sejumlah tentara Jepang yang meninggal dalam pertempuran melawan sekutu di Jawa Barat pada 1942. Banyak lagi nama-nama yang tidak kita kenal, dan yang hidupnya tidak kita ketahui seperti apa menjadi pusat perhatian di museum ini. Ada juga makam dari istri Sir Thomas Raffless menurut Wikipedia Indonesia, tapi saya tidak menemukan atau mungkin melewatkannya. Aktivis Mahasiswa yang terkenal juga Soe Hok Gie dimakamkan di sini sebelum dipindahkan, nisannya tidak besar sehingga sempat kesulitan mencarinya.

Nisan Soe Hok GieNisan Soe Hok Gie. Di nisannya tertulis Nobody knows the troubles I see, nobody knows my sorrow.

Sebenarnya Museum Taman Prasasti ini cukup indah, dan dibandingkan dengan taman yang ada di Museum Kebangkitan Nasional yang hanya ada monumen sebagai landmark, tempat ini hampir seluruh nisan bisa menjadi landmark. Sayang, kejahilan pengunjung dan belum adanya penanganan yang signifikan dari pengelola museum menyebabkan beberapa makam penuh corat-coret pengunjung jahil yang tidak tahu sopan-santun. Ada sebuah makam yang cukup indah, ada 2 Alkitab di dalamnya tapi sudah dipenuhi coretan di hampir seluruh bagian makamnya. Saya dan Pingkan juga merasa tidak suka melihat hal yang demikian. Bukan di makam itu saja, beberapa nisan dan makam yang cukup indah sebenarnya sebagai objek fotografi dikotori oleh manusia-manusia tidak terdidik. Berikut adalah beberapa nisan yang menjadi corat-coret orang-orang tidak bertanggungjawab.

Makam yang dicorat-coret

 

Patung di Taman Prasasti yang kena coretan

 

Beberapa nisan yg terkena coret-coret pengunjung

 

Dinding museum juga terkena dampak coretan

Sungguh disayangkan sikap para penjahil. Memang negeri ini memerlukan tempat sebagai penyalur kreativitas untuk menulis eksistensi sebuah organisme bernama manusia. Tapi jangan di museum dong! Museum yang bisa menjadi sumber pendapatan daerah malah bisa menjadi sumber beban daerah karena dituntut agar memelihara tempat bersejarah. Museum-museum yang berada di bawah pengelolaan langsung pemerintah pusat masih lebih beruntung daripada museum yang berada di bawah pemerintah daerah, karena dana yang diberikan pemerintah pusat cukup besar untuk merawat sisa-sisa bukti sejarah bangsa dan waktu.

Secara keseluruhan, Museum Taman Prasasti layak dikunjungi. Mengapa? Karena museum ini memperlihatkan suatu seni arsitektur makam yang cukup bernilai dan tidak lekang oleh zaman. Nilai lain yang bisa kita ambil dari mengunjungi museum ini adalah bahwa kebanyakan orang yang dimakamkan di sini tidak kita kenal, mereka cukup asing di telinga kita. Tapi mengambil dan menjadi bagian dalam sejarah Batavia. Orang-orang tersebut mungkin adalah salah satu dokter, atau pedagang, atau arsitek, guru, orang kaya, janda, istri gubernur jendral, dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi bagian dari sejarah Batavia. Kadang kita berpikir, setelah kita mati apakah kita akan diingat orang. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan?

Kategori:Museum
  1. Desember 18, 2013 pukul 9:46 am

    I believe what you typed was very reasonable. But, what about this?
    what if you composed a catchier post title? I am not suggesting your
    content isn’t solid., however suppose you added something
    that makes people want more? I mean Jalan-Jalan ke Museum Taman Prasasti | auvijanfamily is a little plain.
    You might glance at Yahoo’s front page and note how they create news headlines to grab people to open the links.
    You might add a related video or a related pic or two to get people interested about everything’ve got to say.
    Just my opinion, it could make your website a little livelier.

    • Desember 18, 2013 pukul 9:52 am

      thank you..he he he..

  2. Agustus 8, 2014 pukul 6:24 pm

    Malam gan salam kenal ^_^
    Museum taman prasasti keren gan, thanks ya infonya.

    Salam Indonesia.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: