Beranda > Museum > Jalan-Jalan ke Museum Kebangkitan Nasional

Jalan-Jalan ke Museum Kebangkitan Nasional

Hari Minggu (17/2), ketika matahari sudah cukup tinggi bersinar namun terhalang kumpulan awan keabu-abuan sehingga sedikit terasa sejuk. Saya sudah lama tidak ke museum memutuskan untuk ke museum pada hari itu. Karena hari Sabtu depan saya tidak bisa, maka saya memutuskan untuk tidak masuk gereja hari Minggu. Saya tidak sendiri karena ditemani Pingkan, teman dan rekan sekerja saya. Kita memutuskan untuk berjumpa di halte busway Bendungan Hilir (Benhil). Saya tidak menuju ke Museum Nasional kali ini, tetapi ke salah satu museum yang terletak di kawasan Kwitang.

Museum Kebangkitan Nasional adalah salah satu museum milik pemerintah pusat dan dikelola oleh pemerintah pusat. Subsidi diberikan kepada masyarakat jika ingin berkunjung ke museum ini. Untuk belajar, menikmati salah satu bagian sejarah bangsa Indonesia, atau sekedar melepas penat di museum yang bertempat di bekas salah satu sekolah di masa Belanda ini. Lokasinya cukup strategis menurut saya jika ditinjau dari lokasi di mana saya berada. Setelah menunggu busway yang cukup lama di halte Petamburan, saya bertemu Pingkan di halte Benhil untuk melanjutkan perjalanan ke halte Monumen Nasional atau Monas.

Suasana perjalanan dari halte Benhil ke halte Monas cukup lancar karena jalanan sepi. Saat itu digelar Hari Bebas Kendaraan Bermotor oleh pihak pemerintah daerah. Jadi sepanjang jalan Sudirman ke jalan Thamrin penuh dengan masyarakat yang beraktivitas tanpa suara bising kendaraan bermotor dan polusi udara. Suara bising diganti dengan suasana riang masyarakat. Di Bundaran Hotel Indonesia, merupakan titik yang paling banyak masyarakat berkumpul. Baik untuk foto-foto, nongkrong, menikmati air di bundaran tersebut hingga sibuk berolahraga. Walaupun jalanan agak lancar, bukan berarti suasana di dalam busway nyaman. Penuh sesak oleh masyarakat yang bepergian. Tapi tak apa, namanya juga angkutan massal. Kalau bukan yang naik dalam jumlah massal, maka itu disebut bajaj.

Setibanya di Monas, kita harus berpindah jurusan. Busway jurusan Pulo Gadung adalah busway yang melewati halte Kwitang, halte yang kita akan turun. Untuk meyakinkan lagi, saya bertanya kepada petugas hanya sebagai konfirmasi saja. Busway jurusan Pulo Gadung sendiri saat itu tidak terlalu penuh, sehingga bisa duduk walaupun cuma sesaat. Jalanan masih lenggang sehingga busway bisa melaju lancar di jalurnya tanpa dihalangi kemacetan. Monas pasti penuh dengan masyarakat yang menghabiskan harinya untuk beraktivitas atau pun berkunjung ke sana. Di halte Gambir, busway yang kita naiki mengangkut cukup banyak penumpang sehingga nyaris penuh. Kita memutuskan untuk bangkit dari tempat duduk dan berdiri dekat pintu keluar karena halte yang kita tuju sudah begitu dekat.

Halte Kwitang hanya menyediakan satu jalur saja, sehingga untuk kembali ke halte Monas maka kita harus melanjutkan perjalanan ke halte Senen dan mengambil busway kembali ke Harmoni. Halte Kwitang ini cukup strategis karena berada di dekat toko buku Gunung Agung yang cukup besar. Tidak ada jembatan penyebrangan di sini, jadi kita harus menunggu mobil berhenti karena ada lampu lalu lintas yang memudahkan orang untuk menyebrang. Museum Kebangkitan Nasional terletak di jalan Abdul Rahman Saleh, kira-kira harus berjalan kurang lebih 100 meter untuk mencapai pintu masuknya. Karena masih buta dengan daerah ini, kita mencari-cari pintu masuknya. Karena hanya 2 opsi saja yang ada, kiri atau kanan maka kita dengan cepat menemukan pintu masuknya.

Suasana sekolah tua ini sepi dan sunyi. Tidak terlihat parkiran kendaraan yang parkir di depan pintu masuk tempat ini. Saya sempat ragu apakah tempatnya masih buka atau tidak. Jadi kita nekat saja untuk masuk, karena menurut info yang didapatkan dari situs resmi museum, bahwa museum ini buka dari Selasa sampai dengan Minggu. Untuk hari Sabtu dan Minggu hanya sampai jam 2 saja, hari lainnya sampai jam 3. Tidak tahu alasannya kenapa. Sesampainya di tempat melapor tamu, kita ditunjukkan tempat untuk membeli tiket masuk yang saya rasa sangat sangat murah sekali untuk ukuran museum dengan suasana persekolahan ini. Dua ribu perak saja sodara-sodara! Dengan dua ribu perak ini, kita sudah mendapatkan buku panduan dan brosur untuk mengelilingi museum ini.

Buku panduan MuskitnasBuku Panduan Museum Kebangkitan Nasional ini didapatkan secara gratis.

Kita sempat berbincang dengan seorang ibu, rupanya dia adalah yang mengurus tiket masuk ke museum. Tapi ibu ini berbeda dengan penjaga museum di Museum Gajah yang hanya orang biasa saja (menurut pandangan saya). Ibu ini mampu menjelaskan sejarah gedung persekolahan ini, kemudian tokoh-tokoh yang terlibat dalam pergerakan nasional saat itu. Saya juga bertanya mengapa tiket masuknya bisa semurah ini, dan ibu itu menjawab bahwa museum ini dikelola oleh pemerintah pusat sama seperti Museum Gajah, Museum Sumpah Pemuda, dan museum milik pemerintah pusat lainnya melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Panjang lebar ibu ini menceritakan sejarah, sehingga membuat kaki kita tidak sabar untuk menjelajahi gedung sekolah tua ini. Tapi sebelumnya buang air kecil dulu.

Karena berupa kompleks persekolahan, maka museum ini menyajikan koleksinya di tempat-tempat bekas kelas sekolah ini, sehingga kita akan menemukan banyak ruangan dan banyak pintu. Dulunya, ruangan-ruangan tersebut adalah ruangan-ruangan terpisah sebelum dirombak menjadi museum dan menjadi satu ruangan saja. Di sisi kanan dekat pintu masuk museum, banyak patung dada para tokoh yang terlibat dalam organisasi pergerakan nasional, Budi Utomo.

Patung dada di MuskitnasFoto diambil dari salah satu ruangan Museum Kebangkitan Nasional. Patung dada tersebut adalah patung para tokoh pengurus pergerakan nasional Budi Utomo.

Kita mencoba menelusuri gedung searah jarum jam. Sekaligus ingin merasakan gedung sekolah pada masa lampau ini. Sebelumnya juga telah diberitahukan oleh ibu yang kami temui untuk membeli tiket masuk bahwa ruangan yang berada di seberang sementara direnovasi. Saya jadi tidak sabar melihat hasil renovasi gedung tersebut.

Pertama yang kita lihat adalah sebuah ruangan yang berisi replika-replika masa lampau yang teratur rapi. Sayang replikanya tidak terlalu banyak sehingga ruangan pertama ini tampak kosong dan cukup sepi. Ada replika meriam zaman Belanda, kemudian senjata api, keris yang terpajang rapi. Replika meriam Belanda ada dua yang diarahkan ke arah depan sehingga memberi kesan seperti benteng pada masa lampau yang terdiri atas 2 meriam di depan pintu gerbang utamanya. Yang terkesan lagi adalah lampu-lampu penerang yang tergantung di atas langit-langit ruangan ini, masih terkesan kuno dengan tiang memanjang dari atas ke bawah serta ujungnya bengkok dan ada tempat untuk lampunya. Seperti tongkat gembala yang terbalik dan diberi topi, mungkin kupluk.

Koleksi-koleksi MuskitnasRuangan pertama yang dikunjungi. Cukup besar ruangan ini sayang tidak memiliki banyak koleksi untuk dipamerkan.

Melihat sepintas ruangan ini dan membaca informasi yang tertera pada setiap koleksi. Kita berpindah ke ruangan sebelahnya, yang masih sama berisi dengan koleksi-koleksi berupa replika-replika masa lampau di mana Indonesia belum merdeka. Di ruangan kedua yang memiliki luas ruangan yang hampir sama dengan ruangan sebelumnya memiliki pajangan yang lebih sedikit. Ada replika perahu Phinisi, perahu milik warga Sulawesi Selatan (Bugis) yang melegenda di Nusantara. Mirip seperti kapal bajak laut pada masa-masa lalu tapi lebih bersahaja. Suku-suku di Indonesia pada masa lalu bisa menciptakan teknologi transportasi masa lalu yang cukup mumpuni. Sebelum Phinisi juga, transportasi laut kerajaan-kerajaan yang menguasai Nusantara dulu diakui oleh dunia internasional. Seperti angkatan laut milik kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang dulu, entah kapan, menguasai laut Nusantara dan jalur penting perdagangan Selat Malaka. Tidak seperti sekarang, di laut aja bisa ada kecelakaan.

Masih di ruangan yang kedua, ada replika lambang Hindia Belanda yang terpampang di sudut kiri ruangan, terletak di atas meja dan disandarkan ke dinding. Lambang Hindia Belanda (nama Indonesia saat dijajah Belanda) sangat mewah. Berbeda dengan lambang negara saat ini yang berupa 1 ekor burung garuda saja dengan perisai di dadanya, lambang Hindia Belanda memiliki 3 singa bermahkota serta ada semacam perisai (crest) berbentuk persegi yang bermahkota. Dua ekor singa bermahkota mengapit perisai tersebut yang ada singa juga yang memegang pedang, dan bermahkota. Lambang replika Hindia Belanda berwarna emas, kemudian ada semacam gulungan kertas yang bertuliskan JE MAINTIENDRAI yang berarti semangat untuk mempertahankan (sesuatu tentunya) adalah motto dari Kerajaan Belanda sampai sekarang. Jadi saat Indonesia menjadi bagian wilayah Hindia Belanda, semangat inilah yang digunakan oleh para kompeni Belanda dalam mempertahankan daerah jajahan Belanda demi pengabdiannya kepada raja atau ratu mereka.

Kemudian di sisi kanan ruangan, ada surat tua berbahasa Belanda. Surat itu rupanya merupakan surat dari Soetomo yang saya lupa ditujukan kepada siapa. Semacam surat penyemangat dalam melanjutkan gelora pergerakan nasional yang sementara muncul di masa itu. Surat tua tersebut terkungkung dalam kaca yang tidak memiliki aliran udara dari luar untuk menjaga surat itu tidak termakan waktu.

Replika Kapal PhinisiPingkan, rekan seperjalanan, berpose di dekat perahu Phinisi, perahu kebanggaan Bugis dan Indonesia.

Berjalan ke ruangan selanjutnya, kita terkejut mendapati diorama kelas saat pelajaran di sekolah STOVIA ini berlangsung. Patung-patung dengan pakaian khas orang Jawa yang duduk penuh dengan keingintahuan tentang pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru Belanda. Kemungkinan mereka adalah kaum-kaum ningrat di Jawa atau orang-orang pintar dalam menganalisa kemudian mendapatkan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda. Dan orang-orang yang duduk di bangku-bangku sekolah tersebutlah yang memulai pergerakan nasional yang dimulai dari gedung ini. Jadi teringat gerakan nasional yang ditimbulkan oleh Gandhi di India. Bagaimana Gandhi, yang mendapatkan fasilitas untuk mengenyam pendidikan hingga Inggris menjadi salah satu pelopor gerakan pembebasan India dari tangan Inggris. Di STOVIA, tokoh-tokoh seperti Wahidin Sudirohusodo, Soetomo, Soeraji, atau R. Angka adalah tokoh-tokoh pergerakan nasional. Saat berjalan ke sana ke mari sambil berfoto-foto dengan diorama di dalam, kesimpulan sementara yang saya miliki adalah sebuah pergerakan lahir dari sebuah kesadaran yang timbul atas bertambahnya pendidikan yang dimiliki. Untuk melaksanakan sebuah pergerakan tidak dibutuhkan otot untuk bekerja, tetapi pemikiran. Bukan saja organisasi Budi Utomo, yang lahir di STOVIA memikirkan hal tersebut tetapi juga para founding fathers lainnya seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, atau Tan Malaka. Seandainya pemerintah Hindia Belanda tidak ingin mendidik bangsa ini, maka jangan harap lahir sebuah pergerakan atas sebuah kesadaran bersama yang lahir dari pendidikan.

Diorama suasana kelas di STOVIASuasana diorama kelas di STOVIA. Itu yang di dekat papan bukan patung, tapi Pingkan yang iseng berdiri di situ.

Setelah suasana kelas di STOVIA, kita berlanjut ke ruangan berikutnya. Jreng! Ada bu guru cantik yang bernama Raden Ajeng (RA) Kartini yang sedang mengajar para perempuan di sebuah pondokan. Kartini, jika bisa disebut demikian, merupakan tokoh wanita Indonesia yang sadar akan pentingnya pendidikan. Melihat tidak adanya kesamaan dalam pemberian pendidikan kepada para perempuan, serta menganggapnya kelompok rendahan, Kartini bertindak. Mungkin juga para perempuan Indonesia bisa berterima kasih kepada Rosa Abendanon yang memberikan segala sumber yang mendidik berbahasa Belanda. Mulai dari buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini mulai menyadari pentingnya perempuan mendapatkan pendidikan yang sama dengan para pria. Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan di Eropa sana. Sehingga kesadaran akan pendidikan terhadap perempuan pribumi begitu bergelora. Suami Kartini, Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (saya sebut saja Ario) sangat mendukung usaha Kartini. Perempuan Indonesia juga harus berterima kasih kepada sosok Ario ini yang mendukung emansipasi perempuan dalam hal pendidikan. Atas dukungan suaminya, Ario, Kartini mendirikan sekolah wanita di Rembang. Kemudian dari kejadian tersebut, maka diorama Kartini itu dibentuk. Semula tentunya tidak langsung ke sekolah, tapi mungkin dari teras rumah. Si Ario tentunya memiliki simpati yang mendalam atas usaha isterinya dalam mewujudkan keinginan memajukan wanita pribumi melalui pendidikan.

Diorama suasana sekolah KartiniDiorama yang menggambarkan suasana belajar para wanita pribumi di bawah asuhan Kartini. Saya juga dong mau diajar oleh Kartini.

Setelah selesai melihat-lihat dan berfoto-foto di diorama Kartini, saya dan Pingkan masuk ke ruangan berikutnya. Ruangan berikutnya terdapat di dalam ruangan yang dibatasi dinding dan cukup remang-remang menurut saya. Di sana terdapat beberapa patung/peraga dari para pahlawan yang berjasa di bidang pendidikan seperti tokoh-tokoh Budi Utomo (Wahidin Sudirohusodo, Soeraji, dan Soetomo). Tapi patung pertama yang kita dapati adalah patung RA Kartini yang berdiri anggun dibalik kaca yang menghalanginya. Kemudian berjejer Tiga Serangkai para pendiri Budi Utomo. Ada juga tokoh wanita Dewi Sartika dan tentunya Maria Walanda Maramis. RA Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis adalah tokoh wanita yang memperjuangkan kesetaraan wanita dan laki-laki dalam bidang pendidikan, mendorong para wanita untuk terampil dan memiliki wawasan yang luas. Saya cukup terkesan dengan ketiga tokoh wanita ini yang berani menerobos kebudayaan saat itu dengan menuntut kesetaraan antar gender dalam hal pendidikan.

Patung dada Ki Hajar DewantaraPatung dada Ki Hajar Dewantara, kemudian di belakangnya ada patung Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis. Pingkan yang berdiri di situ sedang mengamati tulisan.

Terdapat juga patung dada dari 3 tokoh nasional pada masa pergerakan yaitu Ki Hajar Dewantara, RA Kartini, dan Wahidin Sudirohusodo. Di ruangan yang sama juga banyak terdapat foto-foto lama yang menunjukkan orang-orang Indonesia yang belajar ilmu kedokteran di STOVIA. Berdasarkan buku penuntun yang diberikan pihak museum, organisasi pemuda daerah atau juga yang disebut Jong dimulai dari sini. Foto-foto hitam putih penuh kenangan banyak dipajang di sini. Termasuk juga para direktur sekolah STOVIA ini dipajang sebagai bentuk kehormatan bagi mereka.

Foto-foto hitam putih cukup menarik perhatian karena pihak museum telah memberikan informasi singkat di bawah foto tersebut. Ini dia sebagian foto yang ada di ruangan bekas kelas (mungkin) yang cukup panjang.

Tokoh-tokoh dari Indische Sosial Demokratische Partij (ISDP) Ini adalah tokoh-tokoh dari Indische Sosial Demokratische Partij (ISDP) pada tahun 1927.

Comensalenhuis (Mahasiswa Sumatera di STOVIA)Comensalenhuis (Mahasiswa Sumatera di STOVIA)

Dr. H. F. Roll atau dikenal sebagai Bapak Stovia Dr. H. F. Roll atau dikenal sebagai Bapak Stovia adalah direktur Sekolah Jawa pada 1896-1899 dan direktur STOVIA 1901-1908 (sumber: Museum Kebangkitan Nasional)

Mahasiswa dan dosen sekolah dokter JawaSekolah Dokter Jawa tahun 1898 dalam rangka ulang tahun Sekolah Dokter Jawa ke-42 tahun.

Suasana kelas Ruang Bedah di STOVIARuang Ilmu Bedah pada tahun 1926. Pelajar STOVIA tahun ke 5, 6, dan 7 mulai mempraktekkan materi ilmu bedah secara langsung di bawah bimbingan dosennya.

Salah satu ruangan di MuskitnasSalah satu ruangan yang berada dalam Museum Kebangkitan Nasional.

Sekolah Putri Tingkat Dasar di KalimantanSekolah Putri Tingkat Dasar di Kalimantan pada tahun 1918. Ini adalah para guru dan murid sekolah ini yang berfoto bersama saat ulang tahun pertama sekolahnya pada 1918.

Gedung sekolah PBK (Putri Budi Kusumah) di PrianganGedung sekolah PBK (Putri Budi Kusumah) di Priangan, Jawa Barat hanya terdiri dari tiang bambu dan beratap daun kelapa. Tapi semangat para muridnya tidak padam.

Foto lukisan 3 serangkai Budi UtomoFoto lukisan Tiga Tokoh pendiri Budi Utomo

Salah satu sudut MuskitnasSalah satu sudut di STOVIA. Masih asri dengan pohon-pohon dan rerumputan.

Keluar dari ruangan tempat foto-foto masa lalu dipajang, kita mencoba berkeliling STOVIA. STOVIA sendiri cukup asri dengan adanya pohon-pohon di sekitar lapangan. Ada pohon beringin yang rindang sehingga bisa memberi  kesejukan saat cuaca panas. Selagi berjalan menyusuri STOVIA, kita duduk sebentar untuk beristirahat. Maklum, capek dari tadi berjalan melihat-lihat keadaan gedung yang sebagiannya masih direnovasi. Mirip keadaan saat saya sekolah, di mana saat beristirahat digunakan untuk duduk sambil menyantap panganan kecil yang dibawa Pingkan. Padahal saya nggak minta. Menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup, kita bercakap-cakap tentang keadaan kantor yang agak membingungkan. Sekalian mencoba merayu Pingkan agar tanggal pengunduran dirinya dari kantor ditunda hingga akhir Maret.

Setelah beristirahat sejenak dan menikmati sapuan angin sepoi-sepoi. Kita melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan yang belum kita kunjungi yaitu ruangan yang menyimpan benda-benda praktek saat STOVIA menjadi sekolah. Kemudian ruangan yang berisi diorama model asrama dari STOVIA, diorama ruangan/model kelas pada masa itu. Di sekitaran ruangan tersebut terdapat patung dada yang terbuat dari kuningan/besi. Patung dada tersebut adalah tokoh-tokoh yang menjadi perintis pergerakan nasional melalui organisasi Budi Utomo seperti R. Angka, Soetomo, Soewarno, dll. Patung-patung itu sebagai tanda kehormatan dan mengenang para pahlawan pergerakan nasional.

Sekedar membuka sedikit analisa kita, pergerakan nasional adalah suatu tindakan secara bersama-sama oleh kesatuan suatu bangsa, mengatasnamakan diri mereka sebagai satu bangsa yaitu Indonesia. Pergerakan nasional ini menjadikan berbagai-bagai suku bangsa menjadi suatu kesatuan di bawah nama Indonesia. Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Java, Jong Minahasa, dan lainnya adalah contoh kelompok yang mengatasnamakan suku bangsa kemudian disatukan dalam suatu kesatuan bernama Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Hal inilah yang membedakan perjuangan para pahlawan pergerakan nasional dengan pahlawan-pahlawan nasional yang telah ada sebelum mereka. Tan Malaka, dalam salah satu bukunya berkata bahwa pahlawan-pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro berjuang bukan atas nama Indonesia, tetapi masyarakat atau suku bangsa Jawa Tengah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Pangeran Diponegoro. Dan Pangeran Diponegoro merasa terusik dengan kehadiran VOC yang mengancam keberadaan dan kekuasaan Pangeran Diponegoro sehingga melakukan perlawanan. Hal yang sama juga terjadi dengan perlawanan-perlawanan di daerah yang masih mengatasnamakan kesukuan daerah masing-masing. Tidak ada disebutkan bahwa Pangeran Antasari memimpin bangsa Indonesia dalam pertempuran di Banjar, tetapi memimpin rakyat Banjar untuk melawan VOC. Begitu pula yang terjadi dengan perlawanan di Aceh, Minang, Maluku, Bali, Makassar, dan lain-lain. Sehingga tanpa periode pergerakan nasional yang lahir dari gedung ini, bukan tidak mungkin Indonesia tidak pernah ada.

Patung dada di MuskitnasDeretan patung dada dari para tokoh pergerakan nasional yang bersekolah di STOVIA.

Ruangan pertama yang dimasuki adalah diorama asrama STOVIA. Berbeda dengan asrama yang ada di Universitas Klabat, asrama di STOVIA merupakan satu ruangan yang besar kemudian terdapat ranjang-ranjang dan lemari-lemari milik mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak memiliki kamar tetapi ruangan yang besar itu adalah kamar mereka. Mirip dengan barak tentara. Dengan tidur yang berdekatan, bukan tidak mungkin ada yang terganggu dengan dengkuran mahasiswa lain. Belum lagi kalau ada yang ngobrol satu sama lain hingga larut. Itu adalah bayangan-bayangan yang timbul jika melihat ruangan diorama asrama STOVIA.

Diorama Kamar Asrama di STOVIAGambar keadaan kamar asrama STOVIADiorama ruangan kelas di STOVIAModel ruangan kelas di STOVIA. Di mana sejak dulu telah dibuat model miring alias terasering agar mempermudah para mahasiswa memperhatikan pelajaran.

Peralatan laboratorium sekolah kedokteran STOVIAPeralatan laboratorium pada masa STOVIA eksis.

Alat Rontgen..kayak lemariIni bukan lemari tapi alat rontgen.

Banyak benda asing pada masa lalu yang dipakai dalam ilmu kedokteran. Masa sekarang sih terlihat kuno, tapi jika kita hidup pada masa tersebut, maka peralatan tersebut termasuk canggih. Kemajuan teknologi kedokteran sendiri membantu kita mencegah menyebarnya sebuah penyakit. Wabah yang melanda Indonesia pada saat sebelum STOVIA didirikan, menyebabkan pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah dokter untuk orang pribumi sebagai cara pemerintah menutup keterbatasan tenaga medis. Nah, dengan masuknya pendidikan yang terstruktur memunculkan kesadaran bersama. Di sekolah STOVIA ini tidak terbatas pada masyarakat Jawa. Munculnya organisasi kemahasiswaan dari berbagai daerah menyimpulkan bahwa pemerintah Hindia Belanda juga ingin adanya tenaga medis di daerah-daerah di luar pulau Jawa. Sayang, adanya kesamaan nasib antar mahasiswa menjadikan munculnya pergerakan. Dari pergerakan kecil, menjadi pergerakan besar melalui hadirnya Sumpah Pemuda. Ada sedikit kesimpulan, bahwa pergerakan nasional yang terjadi di Indonesia tidaklah berbeda dengan pergerakan-pergerakan yang terjadi di negara-negara bekas jajahan imperium seperti India maupun Filipina yaitu berawal dari pendidikan. Tapi saat ini, seakan ingin meredam kesadaran masyarakat Indonesia bahwa bangsa ini sebenarnya di ambang keterpurukan, maka pendidikan menjadi bisnis semata bukan sebagai bagian moral pembangun karakter bangsa.

Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) menawarkan suasana masa di mana Indonesia masih berada dalam jajahan pemerintah Hindia Belanda. Namun di beberapa daerah mulai muncul kesadaran akan kesamaan nasib yang dialami dan berpusat di STOVIA ini. Munculnya sekolah-sekolah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Maluku menandakan bahwa mereka sadar pentingnya pendidikan dasar. Dan museum ini memaparkan demikian. Muskitnas masih direnovasi untuk beberapa ruangan sehingga nanti akan bisa tampil lebih menarik dari saat ini yang mana sangat sepi suasananya ketika saya dan ditemani Pingkan mengunjungi bekas tempat pergerakan nasional ini. Semoga ke depannya nanti, banyak lagi pengunjung berupa anak-anak sekolah berkunjung ke museum ini. Museum bukan tempat yang membosankan, banyak hal positif yang bisa ditemukan di sana.

Monumen Museum Kebangkitan Nasional

Kategori:Museum
  1. Indri
    Oktober 22, 2013 pukul 8:27 pm

    Maaf, numpang nanya. Ada gak ya penginapan murah disekitar muskitnas? Trmksh.

    • Oktober 23, 2013 pukul 9:52 am

      sorry bru bisa balas..ehm penginapan kosan atw hotel ya? kalo hotel ada sih, kalau jalan kira2 500 meter dri museum..thx

  2. Indri
    Oktober 23, 2013 pukul 2:21 pm

    Kalo kost’an harian ada gak ya? Mksh.

  3. Indri
    Oktober 23, 2013 pukul 2:23 pm

    Kalo kost’an harian ada gak ya? Trmksh.

    • Oktober 23, 2013 pukul 3:12 pm

      setau saya sih di dkt2 situ ada kos2an..cm krg tau klo bisa harian..klo daerah2 yg dkt kampus mgkn bisa, cm hrs naek angkot ke sana..thx

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: