Beranda > What I See > Makna Film The Lorax

Makna Film The Lorax

Film Kartun The LoraxThe Lorax, sebuah film yang bercerita tentang kepedulian lingkungan. Diadaptasi dari sebuah buku anak yang ditulis oleh Dr. Seuss yang dipublikasi pada tahun 1971. Lorax adalah seorang penjaga hutan yang berbicara atas nama pepohonan yang ada di hutan. Lorax ada ketika seorang pemuda bernama Once-ler membutuhkan tanaman truffula sebagai bahan untuk membuat thneeds, sebuah temuan berupa semacam kain yang bisa dipakai untuk menjadi berbagai macam kegunaan seperti baju, topi, karpet, bantal guling, dan sebagainya. Awalnya, tidak ada yang menyangka adanya Lorax sebelum Once-ler menebang sebuah pohon truffula. Lorax awalnya telah menyuruh dia pergi atas kesalahannya. Once-ler dengan keras kepala tidak pergi dan tetap berada di hutan tersebut. Lorax memperingatkannya untuk pergi dan melakukan segala cara untuk tetap membuat Once-ler pergi dari hutan tersebut. Usaha Lorax gagal.

Akhirnya, Once-ler berhasil menciptakan produk thneed yang akan menjadi sampel penjualannya di kota. Saat-saat awal, tidak ada yang mau membeli produknya tersebut. Sampai beberapa kali percobaan dia ditolak dan membuang thneeds itu yang kebetulan jatuh ke kepala seorang gadis. Tidak disangka thneed itu disukai gadis tersebut dan teman-temannya. Sayang, Once-ler telah terlanjur kecewa dengan penjualan thneed pada saat itu. Dan dia kembali ke hutan truffula dan Lorax mencoba menghiburnya serta memberinya nasihat. Tidak disangka warga yang semulanya mengejek produk thneeds berbalik menyenanginya dan menyerbu kediaman Once-ler dan Lorax berada.

Once-ler meminta keluarganya membantu dia dalam pekerjaan ini, sehingga mereka datang dan membangun hunian di hutan truffula. Lorax awalnya menolak kedatangan keluarga Once-ler yang tidak bersahabat dengan hutan. Once-ler berjanji untuk tidak menebang pohon truffula lagi, tapi atas desakan ibunya untuk meningkatkan produksi truffula, Once-ler ingkar. Pohon demi pohon ditumbangkan untuk meningkatkan produksi. Lorax telah meminta dia untuk mengingat janji Once-ler dan berupaya meyakinkan Once-ler bahwa dia lebih baik daripada apa yang dilakukannya. Once-ler pun tidak menanggapinya.

Dalam film yang bertipe semi-musikal ini, Once-ler bernyanyi How Bad Can I Be?. Dalam lagu tersebut diceritakan bahwa waktu demi waktu perusahaan thneeds makin lama makin besar dan telah menjadi sebuah industri yang tidak memperhatikan lingkungan. Asap karbon dan limbah buangan menjadi polusi luar biasa untuk ekosistem hutan truffula tersebut. Ketika lagu telah selesai, dan Once-ler sedang berada di ruangannya, Lorax masih berusaha mengingatkan dan memberi nasihat atas ketamakan Once-ler serta tidak pedulinya dia terhadap lingkungan. Membuat Once-ler marah dan menuduh Lorax seorang pelaku kejahatan. Sebelum usaha thneeds ini menjadi hancur, Lorax masih mengingatkan Once-ler. Dan ketika pohon truffula terakhir tumbang, maka Once-ler pun sadar. Dia ditinggalkan keluarganya dan teman-temannya. Lorax pun kembali ke tempat di mana dia berasal. Dengan kecewa tentunya.

Beberapa tahun kemudian, setelah Once-ler menjadi tua, seorang anak bernama Teddy Wiggins datang menjumpai Once-ler di rumahnya yang seperti rumah hantu. Ted datang atas keinginannya memberikan pohon sungguhan kepada teman wanita yang disukainya bernama Audrey. Jika tidak ada keinginan yang demikian, maka Ted tidak mungkin akan datang ke tempat Once-ler. Awalnya, Ted berusaha membujuk Once-ler memberikan bibit terakhir pohon truffula kepadanya yang nantinya akan dijadikan Ted sebagai hadiah ulangtahun kepada Audrey. Once-ler tidak tertarik.

Tiga kali Ted harus pergi ke tempat Once-ler untuk meyakinkannya. Once-ler memberikan Ted bibit terakhir pohon truffula pada saat kunjungan ketiga Ted. Ada pesan dari Lorax sebelum dia meninggalkan Once-ler pada sebuah batu nisan bertuliskan “Unless”. Once-ler sadar akan kesalahan yang dia lakukan sebelumnya dan memberikan kepada Ted bibit itu yang telah sadar bahwa bibit tersebut bukan untuk sebagai tunjuk jago atau untuk membuat Audrey menjadi suka kepadanya. Ted pun membawa bibit itu kembali ke kota Thneedsville.

Bukan film namanya kalau Ted dengan mudahnya menanam bibit pohon truffula di taman kota. Aksi Ted ini mendapat tentangan dari Mr. O’Hare, seorang bisnismen jual beli udara bersih. Ya! Udara menjadi bisnis karena kota tersebut tidak mampu menghasilkan udara bersih dan masih terpengaruh oleh polusi dari sisa-sisa pabrik milik Once-ler sebelumnya. Mr. O’Hare menentang usaha Ted yang didukung oleh keluarganya (nenek dan ibunya) dan Audrey. Provokasi dilakukan oleh Mr. O’Hare kepada masyarakat untuk menentang keberadaan pohon truffula. Ted melakukan tindakan nekad dengan merobohkan tembok kota yang menutupi area bekas hutan truffula dari pandangan warga kota. Saat itu warga kota mulai sadar, dan memberikan pendapat bahwa pohon itu diberi kesempatan untuk bertumbuh lagi.

Warga memberikan pendapatnya melalui lagu, ada 5 suara di sana yang memberikan pendapat. Jika dilihat dari motif mereka mengapa mereka menginginkan pohon sulit untuk diketahui. Tapi bisa saya asumsikan demikian. Orang pertama, bernama Cy, seorang pengantar semacam galon udara dari perusahaan O’Hare. Dia berpendapat bahwa bibit pohon truffula harus ditanam. Sebelumnya Mr. O’Hare, sang pemilik, membentaknya dan mengancamnya di depan orang banyak jika dia gagal membujuk masyarakat berada di pihak O’Hare. Cy berpendapat bahwa pohon itu harus ditanam. Warga yang kedua adalah pasangan yang memiliki anak yang terkena semacam gangguan atau pengaruh dari bahan kimia yang membuat tubuh anak itu bercahaya hijau. Mereka setuju bahwa bibit itu untuk ditanam. Misalnya anak mereka tidak mengalami hal yang agak mengkhawatirkan, saya meragukan bahwa mereka setuju bibit itu untuk ditanam. Yang ketiga adalah seorang gadis kecil bernama Marie, alasannya hanya sederhana mengapa perlu bibit itu ditanam yaitu karena dia ingin melihat pohon. Yang keempat adalah nenek dari Ted, dia berbicara masa lalu di mana pohon-pohon masih ada. Mungkin nenek Ted adalah saksi hidup ketika masa jaya dari perusahaan Once-ler. Pendapatnya seakan menyatakan bahwa masa lalu lebih baik dari saat ini dengan adanya pohon-pohon. Bahwa kita tidak perlu membayar udara yang segar dan bersih dengan kehadiran pohon. Mr. O’Hare adalah warga yang terakhir yang bernyanyi dan memberikan pendapat. Sama dengan semula, dia masih menentang keberadaan pohon karena akan mengganggu bisnis utamanya sebagai penghasil udara bersih dan segar. Warga menolaknya.

Akhir cerita, bahwa pohon truffula akhirnya bertumbuh dan hutan truffula perlahan mulai kembali ke sedia kala. Lorax kembali bertemu Once-ler dan cerita pun berakhir indah.

Apa nilai yang bisa kita ambil dari cerita Lorax? Lorax adalah seorang yang berbicara atas nama pohon, tentunya dia menentang semua tindakan yang merusak pohon. Kehadiran Lorax hanya sebatas memperingatkan dan memberikan nasihat, dan berusaha memperingatkan orang-orang bahwa pohon itu harus dilindungi. Dia memang gagal mencegah Once-ler melakukan kejahatannya. Tapi dia tetap berusaha mengingatkan Once-ler agar sadar bahwa apa yang dia lakukan salah dan tidak terlambat untuk melakukan perbaikan. Tapi Lorax akhirnya pergi meninggalkan Once-ler karena merasa usahanya sia-sia. Once-ler pun tinggal sendirian dalam penyesalan sebelum akhirnya Ted datang.

Kehadiran Ted sendiri memang aneh, karena dia terdorong bukan karena dia menginginkan pohon, tapi dia ingin memberikan hadiah sebuah pohon asli untuk wanita yang disukainya Audrey. Memang perlu dorongan untuk melakukan perubahan, tetapi membutuhkan usaha berkali-kali untuk meyakinkan kesadaran Ted bahwa pohon itu bukan sekadar “hadiah” tapi lebih dari itu. Ted membutuhkan usaha sampai ketiga kali dan sadar bahwa untuk mengembalikan hutan tersebut kembali ke seperti semula, dia harus melindungi bibit pohon truffula terakhir tersebut.

Audrey sendiri sangat menginginkan pohon truffula, karena dia sendiri telah bosan dengan pohon-pohon palsu di tempat tinggalnya. Sayang Audrey tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Dia tidak memiliki informasi sama sekali tentang keberadaan Once-ler yang empunya bibit pohon truffula terakhir. Informasi tersebut dimiliki oleh nenek Ted yang menyuruh cucunya itu bertemu Once-ler. Tipikal kita, manusia yang menginginkan perubahan tapi tidak mengetahui dan memiliki informasi apa yang harus kita rubah dan apa yang kita miliki untuk memperlihatkan perubahan itu. Audrey ingin membuat perubahan di Thneedville, sayang dia tidak memiliki alat untuk membuat perubahan.

Mr. O’Hare adalah tipikal bisnismen saat ini. Dipenuhi dengan ketamakan dan keinginan untuk memonopoli suatu komoditas yang sangat penting bagi manusia. Udara segar pun dikomersilkan hanya untuk keuntungan diri sendiri. Masyarakat dididik dengan salah sehingga hidup dengan lingkungan palsu dan berbayar. Tindakan yang dilakukan Mr. O’Hare sendiri sebenarnya adalah hal yang benar dari sudut pandang para pebisnis tapi salah dari sudut pandang yang lain. Kehadiran bisnis yang tidak mendidik justru menjadi benalu bagi komunitas. Kehadiran perusahaan-perusahaan pertambangan pun seperti demikian, gagal mendidik komunitas secara benar. Komunitas tidak harus dididik dengan uang tanggungjawab sosial semata, tapi juga dididik bagaimana melindungi alam. Mr. O’Hare mungkin menjadi musuh di sini, tapi berkaca dari pengalaman, itulah yang menjadi tren saat ini.

Saya merasa peran penting Lorax di sini. Bukan karena dia adalah tokoh utama di sini, tapi dia mengajarkan bahwa tidak perlu kekerasan untuk mengubah orang atau menghilangkan kejahatan. Selama ini saya menonton film-film kartun yang kadang memakai kekerasan untuk mengubah seseorang atau menghilangkan orang itu dari keeksistensiannya. Lorax seumpama nabi-nabi kecil yang ada di Alkitab, yang tugasnya hanya memperingatkan. Nabi-nabi yang tidak melakukan mujizat-mujizat besar tetapi menjadi poros sebuah perubahan. Nabi Nehemia dan Nabi Ezra adalah nabi-nabi yang berusaha membuat perubahan tanpa harus melakukan kekerasan. Begitu juga Nabi Habakuk yang memperingatkan orang-orang pada masanya. Saya pikir, tidak perlu melulu menggunakan mujizat yang kelihatan untuk mengubah seseorang. Ketika kita melakukan penginjilan, tugas kita adalah menyampaikan injil. Tapi Tuhan yang mengubah hati.

Film The Lorax, adalah film yang pantas untuk ditonton sekeluarga.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: