Beranda > What I See > Jaga Air Kita

Jaga Air Kita

Jaga Air KitaPanas dan hujan, keduanya merupakan suasana yang dirindukan tapi juga dibutuhkan. Panas dirindukan kala hujan terlalu lama membasahi bumi, dan hujan dirindukan kala panas terlalu lama menghangati bumi. Kebanyakan orang yang menyenangi panas, karena mereka bisa liburan, perjalanan mereka lancar, tidak ada gangguan selama berkendara (karena memakai AC), dan bisa menikmati minuman dingin ala softdrink. Tidak sedikit pula orang yang menyenangi hujan, karena mereka bisa nyaman menikmati dinginya tempat tidur, tidak perlu menggunakan AC yang boros, tidak perlu keluar uang untuk jalan di mana di sini bisa berhemat, kemudian tidak perlu menyiram kebun dan sebagainya.

Ironinya, kalau keduanya terjadi saling bergantian, maka orang pun akan mengeluh. Karena daya tahan tubuh mereka terganggu akibat suasana panas dan suasana dingin. Akibatnya, kebutuhan suplemen lebih tinggi dan biaya ke dokter pun muncul. Tapi keduanya memang dibutuhkan oleh manusia, bukan sekedar hanya musim yang bersifat datang dan pergi. Ada maksud tertentu yang berkaitan dengan manusia melalui musim. Dan saya bersyukur hidup di negara yang hanya memiliki 2 musim saja, kemarau (panas) dan hujan, sehingga tidak perlu panjang lebar mengulas musim-musim di luar negara saya.

Sejak kecil, ketika masuk sekolah dasar (SD), saya diajarkan tentang musim yang ada di Indonesia. Musim ini berkaitan keberadaan Indonesia di sekitar khatulistiwa. Di Indonesia, kira-kira guru mengajarkan, hanya ada 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau berada di periode April sampai Oktober, sedang musim hujan sebaliknya. Dengan hanya 2 musim saja, Indonesia telah diberkati dengan melimpahnya sumber daya alam. Sumber daya yang tentunya akan dicemburui oleh negara-negara lain di luar Indonesia. Negara-negara di ASEAN memiliki iklim dan musim yang sama, hanya saja varietas yang mereka miliki tidaklah sebanyak yang ada di Indonesia.

Lupakan dulu mengapa kita kalah bersaing dengan negara-negara seperti Thailand dalam tanaman hortikultura atau semacamnya. Mari kita memperhatikan pergerakan musim di Indonesia yang saling melengkapi ini. Jika memakai ilustrasi di dalam Alkitab, karena saya senang mengambil ilustrasi dalam Alkitab, maka kedua musim ini bisa diibaratkan sebagai mimpi Firaun. Di mana ada masa kelimpahan dan masa kelaparan. Kedua musim ini bisa diibaratkan masa kelimpahan dan masa kelaparan, mengapa? Ketika para petani mulai merayakan panen mereka, mengambil tanaman padi untuk diolah, memetik daun teh, atau mengambil kelapa untuk diolah maka mereka melakukannya pada waktu musim kemarau. Musim di mana air tidak mengganggu para petani, pekebun untuk bekerja.

Hasil-hasil dari apa yang dipanen, kemudian diolah dan disimpan di lumbung sebagai bagian dari perbekalan pada musim mendatang, di mana para petani tidak memperoleh panen. Kalau diperhatikan, maka manusia dalam hal ini tidak berbeda jauh dengan semut, bekerja di musim kemarau, mengumpulkan makanan untuk persediaan musim hujan. Tidak semua semut tentunya yang tidak bekerja pada musim hujan, karena ada sebagian yang terlindung dari hujan yang masih tetap bekerja. Mungkin yang terlindung dari hujan bisa diumpamakan sebagai para pekerja yang bukan petani, misalnya pekerja kantoran, pekerja pabrik, pekerja di rumah makan.

***

Kembali, terjadi ironi di negara yang saya tinggali ini. Jika dahulu, mulai dari kerajaan masa Hindu-Buddha, kemudian ke masa kerajaan-kerajaan Islam dan kolonialisme, air merupakan sarana transportasi dan sumber kehidupan. Bukan semata-mata karena manusia membutuhkan air untuk hidup, tapi bagaimana air menghidupi tanaman-tanaman yang menjadi bagian dari energi kita dalam beraktivitas. Bukan saja sebagai sarana transportasi, tapi juga sebagai sebuah sistem modern dalam membagi air dan menyimpannya pada musim kemarau. Pada musim kemarau, manusia diberkati dengan kehadiran panen yang berlimpah, walau akhir-akhir ini gegap gempita panen agak berkurang, paling tidak kebutuhan pangan ada pada musim kemarau dalam memasuki musim hujan. Ini bisa diumpamakan sebagai masa kelimpahan dalam kitab Kejadian. Masa di mana kita memiliki pangan yang cukup.

Saya pikir, dalam kitab Kejadian yang menceritakan tentang Yusuf dalam masa pemerintahan Firaun bukan semata-mata persoalan pangan saja yang melimpah, tapi air juga melimpah. Dan pada masa kelaparan, rakyat bukan hanya membutuhkan makanan, tapi juga air. Entah apa yang dilakukan Yusuf tentang hal itu, dan saya sebenarnya sendiri ragu apakah memang tidak pernah terjadi kelangkaan air pada masa itu. Mungkin, dan mengira-ngira, apakah ada bendungan yang dibangun pada masa itu.

Kembali ke negara Indonesia, air pada musim kemarau akan dianggap sebagai masa kelaparan. Karena ketersediaan air di Indonesia pada saat itu berkurang drastis. Dan PLN membuatnya sebagai alasan mengapa listrik bisa saja padam. Ekstrim, kadang di satu sisi musim kemarau, kita mengalami kekeringan walaupun di ada juga yang tidak mengalami demikian. Saat memasuki musim penghujan, maka kelebihan air yang luar biasa terjadi di Indonesia. Di Jakarta, yang terjadi baru-baru ini pun demikian halnya. Begitu pula kejadian yang sama akan terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.

Kegagalan Indonesia di sini adalah kegagalan mengelola sumber daya yang dihasilkan melalui musim. Air, yang turun dari langit sebagai berkat, jangan dibuang begitu saja. Tetapi kelola sebagai persediaan pada musim kemarau. Berkaca dengan pengalaman Yusuf, maka 6 bulan kelimpahan haruslah menjadi persediaan untuk menghadapi 6 bulan kesusahan.

Membaca artikel yang ada di harian Kompas oleh Nawa Tunggal (21/1), terdapat bagian yang berjudul Ironi Air. Di situ dijelaskan oleh bapak Pitoyo Subandrio bahwa kita memiliki bencana lain yang tidak kalah penting dari pada bencana banjir yaitu kekeringan. Pemerintah saat ini berkeinginan membuang limpasan air hujan secepatnya ke laut dan membuat kanal dengan triliunan rupiah. Memang Indonesia belum melihat dan mengalami bagaimana pentingnya mengelola air itu. Bukan hanya sekedar muncul dari mata air, tapi juga bagaimana air itu dikelola.

Siklus air yang diciptakan oleh Tuhan sangatlah sempurna. Awan itu seumpama bank yang menyimpan kelebihan persediaan air pada masa musim kemarau untuk tidak disia-siakan begitu saja dengan membuang-buang air. Dan ketika kita membutuhkannya, awan menurunkan hujan. Tapi kita tidak bisa menyimpan di awan saja untuk dikelola, maka perlulah mengelola air yang ada di dalam tanah dengan cara menyimpannya. Tingkat curah hujan yang tinggi disebabkan bukan karena cuaca ekstrim yang dibuktikan dengan makin hangatnya bumi dan menguapnya air-air di daratan menjadi butir-butir hujan dengan curahan tinggi. Tapi juga karena kita tidak “menyembunyikannya” dari penguapan tersebut. Keberadaan tanah justru membuat air tersembunyi dan tidak menimbulkan penguapan. Deposito air yang ada di atas awan pun bisa tidak berlebihan. Mungkin pepatah jangan menaruh telurmu dalam satu keranjang saja bisa menjadi penjelasan yang singkat. Air yang disimpan di tanah bisa dikeluarkan melalui pompa saat kita kekurangan, dan air yang lebih bisa kita tampung di waduk, bendungan, atau tempat-tempat penyimpanan air. Negara-negara yang tidak memiliki bank air pada masa sekarang akan mengalami kendala keterbatasan air pada masa mendatang.

Saat ini gempita CSR ada di mana-mana, tapi tidak mendidik orang untuk mempersiapkan masa depan melalui manajemen sumber daya. Artinya CSR hanya dituntut untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, lingkungan yang hanya penanaman pohon semata, dan kepada negara. Perusahaan-perusahaan yang melakukan CSR adalah perusahaan yang sebenarnya gagal mengelola alam sehingga dialihkan menjadi CSR. CSR ada bukan karena suatu sikap preventif pada saat sekarang, tapi merupakan perilaku yang bersifat detektif.

Indonesia tentunya tidak ingin menjadi seperti negara-negara di Timur Tengah yang harus membeli air bersih dari negara lain. Jika pengadaan BBM bersubsidi saja membuat APBN jebol bertriliunan akibat kegagalan manajemen migas, nanti (mungkin) kita akan mendengar juga air bersubsidi karena diimpor dari negara lain. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin.

Saya tidak tahu bagaimana masa depan nantinya, bagaimana sumber daya alam dalam 1000 tahun nanti, apakah negara ini akan memberikan air bersubsidi kepada warga atau justru menjadi negara yang memberikan air kepada negara lain. Sama ketika Yusuf menjadi kepala pemerintahan di Mesir, bagaimana dia mengelola pangan di sana sehingga Mesir menjadi terkenal.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: