Beranda > What I See > Keraguan

Keraguan

Apakah boleh meragukan Tuhan? Mungkin ini akan ditanggapi negatif oleh orang-orang yang terlalu dangkal akan segala hal. Sifat ragu pada suatu keberadaan yang tidak terlihat saya rasa adalah hal wajar. Saya percaya akan Tuhan dan tidak meragukan-Nya. Tapi mengapa orang-orang tidak boleh meragukan Tuhan? Untuk mereka yang sungguh-sungguh percaya, mereka akan berkata bahwa tidak ada keraguan di dalam diri mereka dalam mempercayakan diri mereka kepada Tuhan. Banyak martir yang mati untuk Tuhan, merekalah yang patut diyakini bahwa mereka tidak meragukan Tuhan.

Ahmad Wahib, seorang intelek Muslim, pernah menulis dalam catatan harian miliknya, bahwa dia meragukan akan hukum Tuhan sehingga dia meminta Tuhan untuk memaklumi keraguannya. Saya pikir juga, sebagai seorang manusia adalah hal yang wajar bahwa kita meragukan sesuatu. Baik untuk sesuatu yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Iman mengajarkan bahwa kita menerima (percaya) sesuatu yang tidak pernah kita lihat.

Keraguan pun memiliki 2 sifat yang saling bertentangan. Yang satu, ragu tapi bersifat acuh tak acuh terhadap keraguannya. Sifat seperti ini sangatlah berbahaya karena tidak ingin mencari jawaban atas keraguannya. Di masa yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainty condition) adalah penting untuk mencari cara mendapatkan kepastian (certainty condition). Berada dalam lingkungan yang tidak pasti, yang dipenuhi keragu-raguan dan membiarkannya sama seperti kita menempatkan diri kita mengikuti arus sungai. Oke kalau kamu mengetahui ke mana ujung sungai itu berada, bagaimana kalau tidak? Bagaimana keragu-raguanmu hanya membawa ke dalam kesesatan? Tanpa pencarian jawaban dari keragu-raguan kita, bukan tidak mungkin kita tersesat, dan tersesat itu membawa kita kepada kebinasaan.

Sifat yang kedua adalah ragu tapi punya keinginan mengetahui jawaban atas keragu-raguan. Masa depan tentunya tidak mudah untuk diprediksi, bahkan dalam waktu 1 jam ke depan, kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi. Banyak perusahaan membuat perencanaan untuk masa depan untuk mengira-ngira kejadian yang kemungkinan terjadi di masa mendatang. Maka mereka membuat forecast (ramalan) kemudian menuangkannya ke dalam bentuk yang lebih detail bernama budgeting (anggaran). Proses menciptakan sebuah forecast tentunya tidak bisa sembarangan. Hal ini menentukan suatu taktik operasional perusahaan, strategi jangka panjang, dan misi untuk mencapai visi. Ragu? Tentu saja ada keraguan. Tapi sebuah perusahaan biasanya membaca situasi sekarang dan memprediksi masa depan. Seorang ahli dalam jual-beli saham akan menggunakan seluruh teknik prediksi untuk menilai harga saham 10 tahun ke depan. Keragu-raguannya akan menuntun orang mencari data-data yang mendukung analisanya, kemudian ketika dia menemukan data-data yang diperlukan, maka dia akan menciptakan informasi untuk dirinya. Saat waktunya tiba, maka dia akan menemukan jawabannya. Jika meleset, tentunya orang itu akan memperbaiki teknik pengambilan keputusannya, jika tepat maka dia telah mengalahkan keragu-raguannya dengan jawaban.

Saya kira adalah wajar ketika orang meragukan orang lain. Tanpa pembuktian, maka tidak mungkin keragu-raguan itu akan hilang. Ungkapan don’t judge book by its cover adalah bentuk keragu-raguan. Orang itu ragu akan sebuah buku tersebut jika hanya dilihat dari depan saja. Jika orang itu memiliki iman tentang buku itu bisa dinilai dari sampulnya saja, maka iman orang itu wow! Tapi kalau ternyata buku itu jelek isinya, imannya tidak berguna. Dalam Ibrani 11:1 dikatakan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Ayat ini memiliki pengertian orang harus memiliki iman, tentu saja demikian. Karena tanpa iman, maka orang itu tidak memiliki dasar dalam berbagai hal, misalnya menilai buku tersebut. Walaupun buku tersebut memiliki sampul sedemikian rupawan, tapi dia tidak memiliki iman tentu saja orang tersebut tidak memiliki alasan untuk mengemukakan betapa baiknya buku tersebut (dilihat dari sampulnya). Sama seperti seorang pria menilai wanita dari kecantikan luarnya saat pertama kali berjumpa, dia memiliki dasar tentunya untuk itu.

Dalam Yakobus 2 menjelaskan lebih dalam tentang iman. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong. Tanpa membaca buku tersebut, maka iman orang tersebut adalah iman kosong. Tanpa perbuatan adalah kesia-siaan iman kita. Ketika seorang pria mengucapkan “I love you” kepada kekasihnya, apakah kekasihnya langsung saja mempercayainya bahwa pria tersebut mencintainya. Jangan-jangan pria tersebut hanya mengucapkan lewat bibirnya saja tanpa ada perbuatan. Maka kekasihnya tentu saja hanya akan menemukan kekecewaan, karena selama ini cinta hanyalah sebuah kata yang terdiri dari huruf saja (love is a four-letters word). Tidak enaknya hal yang demikian.

Ketika keraguan seseorang mulai tertanam, maka orang tersebut akan mulai mencari jawaban atas keraguannya. Saya senang meragukan sesuatu supaya saya didorong oleh keraguan yang menghasilkan penasaran membawa saya kepada sebuah jawaban. Ketika saya berusaha melihat dunia dari sisi manusia (humanity view) maka saya mendapati bahwa percaya kepada manusia adalah bukan suatu kesalahan. Melihat dunia dari sudut pandang kemanusiaan ternyata hanya membawa saya kepada keraguan-keraguan yang tak berujung. Mengapa terjadi kelaparan di mana-mana? Mengapa terjadi perang? Bukankah kita sering berkata kita adalah sesama manusia?

Keraguan akan Allah menuntun kita justru makin dengan Dia. Mengapa? Bukan karena kita yang mencari-Nya, tapi sebaliknya Allah yang mencari kita. Dia tidak akan membiarkan manusia yang dikasihi-Nya tersesat di dalam hutan Mirkwood. Tentu saja Allah akan menuntun kita, Dia tahu kita tersesat, dan mencari Allah yang kita tidak ketahui tempat-Nya justru menghasilkan kesia-siaan. Maka lagu yang berkata bahwa mencari damai di dunia tidak akan ditemukan. Damai hanya ada di dalam Allah. Dan bagaimana kita bisa menemukan damai jika kita berada di tempat yang berbeda dengan Allah? Allah mencari kita, umat ciptaan-Nya, sehingga dikirimnya Tuhan Yesus untuk menjawab keraguan kita akan eksistensi Allah. Sama seperti Simeon, yang menunggu dengan sabar kedatangan Mesias. Simeon bukan mencari Allah, tapi sebaliknya Allah yang mendatangi dia untuk menjawab keraguannya dan rasa penasarannya.

Jika diliihat dari atas, kali ini saya menulis untuk sesuatu yang saya pikir tidak berhubungan sama sekali. Tapi hal ini yang ingin saya keluarkan dari kepala saya. Saya berpikir bahwa bukan manusia yang mencari Allah, justru sebaliknya. Sejarah-sejarah yang ada di Alkitab mencatat bahwa kegagalan manusia diakibatkan bukan karena Allah tidak mau hadir, tapi mereka berada dalam sebuah keragu-raguan yang menyesatkan. Allah ada, bahkan mengingatkan, tapi mereka tetap meragukan hal-hal tersebut sehingga hampir seluruh bangsa Israel hidup dalam sebuah kesesatan. Allah mencari mereka, tapi mereka cenderung mati karena mengikuti arus bangsa-bangsa yang ada di sekitar mereka. Simeon adalah contoh yang paling pas untuk mengemukakan tentang keragu-raguan yang sempurna. Keragu-raguan yang didukung iman serta perbuatan, niscaya Allah akan meluruskannya dengan jawaban. Jika Allah tidak memenuhi jawaban atas keragu-raguan kita di dunia ini, maka dia akan meluruskannya di dunia mendatang. Maka tidaklah ragu saya menyebut bahwa Tuhan Yesus adalah kebenaran absolut, sebagai jawaban atas segala keragu-raguan dan kebenaran yang tidak absolut.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: