Beranda > What I See > Belajar Dari Pengalaman Itu Sulit

Belajar Dari Pengalaman Itu Sulit

Guru terbaik adalah pengalaman. Begitu kata orang kepada saya berkali-kali. Pinter sih boleh, tapi tidak berguna kalau tidak ada pengalaman. Walaupun saya memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 4.0 tapi tidak memiliki pengalaman sama sekali, meminjam peribahasa maka saya bisa menyebutnya air beriak tanda tak dalam. Tanpa pengalaman, seberapa banyakpun teori yang dikuasai, pasti akan gagal di lapangan. Gagal karena tidak memiliki pengetahuan praktis yang dibutuhkan saat berada di lapangan. Penguasaan teori yang dimiliki seseorang akan diuji ketika berada di lapangan, menghadapi masalah, menggunakan segala macam teori yang dimiliki, menganalisa, kemudian menerapkan dan mengevaluasi. Pengalaman dibutuhkan dalam hal-hal demikian, walaupun tidak bisa dipungkiri teori juga berperan penting, tapi untuk soal efektifitas maka pengalaman paling sering diandalkan.
Guru terbaik adalah pengalaman. Dari mana pengalaman itu berasal? Well, pengalaman berasal dari kegiatan yang kita lakukan dalam hidup kemudian memberikan dampak. Semacam ada trial and error kemudian kita mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Dengan demikian, kita berhasil mendapatkan pengalaman. Jika kemudian kejadian yang sama kembali terulang, maka kita mengetahui apa yang akan kita lakukan. Efektif dan efisien juga diperoleh dari pengalaman, dan itu berasal dari trial dan error yang berulang-ulang terjadi untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Banjir di Jakarta, dalam beberapa hari terakhir ini mencontohkan betapa pengalaman itu ternyata sulit untuk dipelajari. Mungkin eksistensinya dilupakan oleh masyarakat di sini yang sudah cenderung “terbiasa” dengan keadaan demikian. Masyarakat yang terbiasa, kemudian berulang-ulang kali berteriak kepada pemimpinnya bahwa mereka kebanjiran, tapi saat dibutuhkan malah tidak kooperatif dengan pemerintah. Pemerintah sendiri kadang malah meninabobokan masyarakat dengan undang-undang yang memperlihatkan “pertumbuhan kesejahteraan” tanpa melihat adanya “kerusakan” yang terjadi. Seumpama sebuah pohon yang sedang bertumbuh, dia akan berusaha sekuat tenaga menembus batas-batas yang bisa dia lalui untuk mendapatkan pertumbuhan yang paling maksimal. Kadang, tanpa kita sadari, mungkin bukan pertumbuhan ke atas yang merusak, tapi pertumbuhan ke bawah (pertumbuhan akar pohon).

Dari sumber yang diperoleh dari harian Kompas (18/1), maka diperoleh data yang cukup mencengangkan. Dalam suatu artikel yang ditulis oleh Ahmad Arif berjudul Dataran Banjir Yang Kebanjiran, terdapat data-data yang memuat tahun-tahun banjir terjadi di Jakarta dengan membandingkan banjir pada era kolonial dan banjir pada 15 tahun terakhir. Data tersebut menyajikan bahwa bukan pada saat ini saja banjir besar terjadi, jauh pada era kolonial bencana ini telah terjadi. Bahkan diikuti oleh bencana penyakit yang timbul akibat banjir dan menewaskan begitu banyak orang.

Dalam data tersebut, ada 9 masa di mana Jakarta mengalami banjir pada era kolonial. Tahun 1621, 1654, 1876, 1892, 1909, 1918, 1931, dan 1932 Jakarta atau yang dikenal dengan nama Batavia pada saat itu, mengalami banjir. Menurut catatan Restu Gunawan, sejarawan yang meneliti riwayat banjir di Jakarta (diambil dari harian Kompas juga), bahwa pada Januari 1918 terjadi banjir hebat yang melanda Batavia. Dan itu menyebabkan pemerintah Belanda pada saat itu mengambil langkah untuk membuat kanal dan pintu air. Restu juga memberikan data bahwa pada 1 Januari 1892 (puluhan tahun sebelum saya lahir) curah hujan mencapai 286 milimeter dan menyebabkan banjir. Bandingkan dengan saat ini yang hanya diterjang hujan 40-100 milimeter saja sudah membuat warga kelabakan.

Belanda sebenarnya meninggalkan peninggalan-peninggalan sejarah berupa cara mengatasi banjir yang sebenarnya gagal menjadi alat pencegah banjir, tapi merupakan sebagai alat pengalihan banjir semata. Menurut catatan pak Restu, Kanal Banjir Kalimalang, pintu air Matraman, dan pintu air Kalimalang. Dampak akan pembangunan kanal-kanal dan pintu air ini dapat mengalihkan banjir. Misalnya, Kanal Banjir Kalimalang dibuat untuk menyelamatkan kawasan Menteng (daerah elit pada masa kolonial) dan sekitarnya dari banjir, tapi pemukiman pribumi tetap saja tergenang.

Menurut Ahmad Arif, yang menulis artikel di harian Kompas, dari dulu kanal tidak memberikan jaminan, apalagi kanal Barat yang dirancang oleh Herman Van Broeen pada 1923 dan baru dibuat pada 1973. Proyek tersebut sudah ketinggalan 50 tahun. Artinya ada rancangan baru sebenarnya tentang pembangunan kanal, tapi tidak menjadi pilihan rupanya oleh pemerintah saat itu. Pak Restu mengatakan, kegagalan sistem kanal yang dirintis Belanda karena topografi Jakarta yang datar dan tingginya tingkat sedimentasi.
Bagaimana dengan 15 tahun terakhir? Harian Kompas (18/1) memberikan data mulai dari 1996. Data memperlihatkan banjir yang cukup merepotkan dan hebat terjadi dalam rentangan waktu 3-5 tahun. 11 Januari 1996, 4 kelurahan di Jakarta Timur banjir akibat luapan sungai Cipinang, 745 rumah dan sekitar 2000an orang menjadi pengungsi. 3 tahun setelah itu, masih pada periode yang sama yaitu Januari tahun 1999, area banjir hebat mulai meluas. Banjir terjadi bukan hanya di Jakarta tapi juga di Bekasi dan Tangerang. Kejadian ini memakan korban tewas 6 orang, dan 30ribu orang menjadi pengungsi.

Kejadian berikutnya terjadi pada 2002, dan kembali kenanya di awal tahun, 29 Januari 2002 dari data di harian Kompas, daerah yang terkena banjir masih sama Jakarta, Bekasi dan Tangerang tapi jumlah pengungsi bertambah menjadi 40ribu orang. Artinya bisa terjadi 2 kemungkinan pada saat itu, area yang terkena banjir meluas atau area yang terkena banjir 1999 masih sama hanya saja jumlah penduduk bertambah. Atau opsi ketiga yang menjadi tambahan, area banjir meluas disertai pertambahan penduduk.
2-4 Februari 2007, dalam rentang 5 tahun, kembali banjir besar melanda. Kali ini pemerintah sampai perlu memberikan “status” kepada Jakarta dalam kondisi darurat banjir. Banjir pada kali ini menggenangi 60% wilayah Jakarta! Dalam 5 tahun, jumlah area yang terkena banjir meningkat pesat. 150ribu orang menjadi pengungsi. Data juga menambahkan bahwa ada 1300an gardu induk terganggu akibat banjir, dan 420ribu pelanggan listrik tidak mendapat pasokan listrik alias terganggu! Jika melihat tren yang terjadi, tidak adanya planning yang nyata berupa tindakan pencegahan banjir. Selama ini pemerintah Jakarta lebih senang kepada “proyek-proyek” besar sebagai tindakan pencegahan banjir di Jakarta. Maka dibangunlah waduk-waduk yang notabene mempersempit wilayah Jakarta. Penambahan kanal di sisi timur pun tidak banyak membantu jika banjir tetap menjadi masalah setiap tahun.
Terlepas dari analisa geologis yang menyatakan bahwa wilayah Jakarta sebagai “mangkuk” dan dikatakan secara geomorfologi sebagai dataran banjir Jakarta. Ada baiknya pemerintah berfokus dalam hal koordinasi dengan daerah-daerah yang menjadi daerah hulu sungai yang bermuara di Jakarta. Ahli geologi LIPI, Jan Sopaheluwakan mengatakan bahwa waduk-waduk dan rawa-rawa yang banyak di pinggiran Jakarta dikeringkan dan dijadikan wilayah hunian yang sebenarnya merupakan daerah resapan air agar tidak lari ke tengah Jakarta. Saran dari beliau adalah bagaimana menambah kawasan resapan dan mengembalikan fungsi tempat parkir air. Harus ada lebih banyak ruang terbuka hijau dan situ-situ untuk menyerap air. Kawasan penyangga, seperti Bogor dan Tangerang, harus dihijaukan dan tidak boleh lagi dihabiskan untuk menjadi kawasan hunian.

Ada satu hal yang menjadi saran yang tidak enak dari pak Restu yaitu bagaimana warga harus beradaptasi dengan banjir. Menerima fakta dengan lapang dada bahwa Jakarta sepertinya ditakdirkan untuk menjadi daerah banjir (ada analisa geologinya di Kompas 18 Januari 2013) tapi bukan berarti pemerintah tidak bisa mengurangi jumlah wilayah yang tergenang banjir, atau mengalihkannya dengan membuat sumber-sumber resapan baru di luar Jakarta yang dilindungi undang-undang dengan bekerja sama terhadap daerah sekitarnya.
Jakarta memang membutuhkan ahli, tapi pengalaman yang dilihat dari televisi tidak akan menolong. Pengalaman warga yang terkena sering terkena banjir pun tidak akan menolong berkurangnya wilayah banjir jika terus menerus membuang sampah di kali-kali. Sama dengan peristiwa kebakaran yang sering terjadi di Tambora. Warga sepertinya lebih berpengalaman pada tindakan setelah kejadian terjadi ketimbang mencegah kejadian itu terjadi. Warga Indonesia juga lebih banyak bergantung kepada pemerintah tapi tidak mau berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengatasi masalahnya. Jika diperhatikan, masalah banjir ini sebenarnya adalah kejadian berulang tapi yang dilakukan adalah kegiatan-kegiatan yang sama dengan membangun kanal-kanal, merehabilitasi kali-kali, gorong-gorong, saluran air diperlebar, tapi tidak mendidik masyarakat untuk bekerja sama dalam mengatasi banjir. Edukasi untuk mencegah banjir itu diperlukan terhadap masyarakat yang masih “buta” dan “menerima” musibah ini. Percuma saja jika proyek-proyek pencegahan digalakkan pemerintah tapi tidak melibatkan masyarakat.

Data terakhir dari banjir yang saya peroleh pada awal 2013 ini, sudah 94ribuan orang menjadi pengungsi, 5 orang meninggal. Banjir terjadi di 203 RW di 44 kelurahan di 25 kecamatan. Menurun sih, tapi namanya banjir tidak bisa dilihat dari data penurunan orang yang menjadi pengungsi. Pengalaman akan kejadian banjir harusnya menjadi cambuk untuk mau keluar dari masalah ini. Jika tidak bisa keluar dari masalah ini, setidaknya kita berharap dampaknya berkurang. Semua teknologi tersedia, hanya tinggal bagaimana kita menganalisa, mengolah, dan mengefektifkannya. Tuhan memberikan karunia setiap orang untuk belajar dari apa saja, termasuk pengalaman. Pengalaman seperti apa yang harus dipelajari, butuh lebih banyak pendalaman untuk menulis demikian.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: