Beranda > What I See > Hidup Di Negara Ini…

Hidup Di Negara Ini…

Hidup di negara ini memerlukan sikap untuk berani sakit hati dengan apa yang terjadi. Hidup di negara ini perlu siap untuk mengelus dada melihat tingkah laku orang-orang yang mengaku “perangkat” negara. Terlalu banyak kejadian yang terjadi menimbulkan sakit hati pada masyarakat. Sakit hati yang kadang harus diterima dengan kedewasaan dan mungkin dalam hati berkata “kenapa orang-orang seperti itu masih hidup?”.

Adanya jarak antara keadilan yang berlaku di masyarakat dan elit politik di negeri ini menimbulkan sakit hati yang luar biasa. Di BBM (Blackberry Messenger), saya melihat beberapa kawan memajang foto yang memperbandingkan jarak keadilan tersebut. Foto yang memajang 2 pelaku kejahatan pencurian mengalami jumlah hukuman yang berbeda. Di situ ada wajah seorang pemuda, tertutup topi dan kelihatannya khilaf dengan tindakan yang dia lakukan yaitu mencuri sandal. Mungkin, kalau tidak salah ingat, dia adalah pemuda yang mencuri sandal bermerek seorang perwira di mesjid. Dia bersalah, dan dia patut mendapatkan hukuman yang pantas untuk itu. Pemuda itu juga mengembalikan sandal yang dicurinya kepada sang pemilik dan harus menerima nasib dengan dituntut penjara 5 tahun. Kondisi ini menimbulkan gerakan mengumpulkan sandal untuk mendukung pemuda itu. Kenapa masyarakat demikian membela sang pemuda itu, padahal dia bersalah? Ada jarak dalam hal keadilan.

Di sebelah foto sang pemuda itu, yang wajahnya ditutup topi dan berwajah muram, terpampang wajah seorang wanita dengan wajah sumringah. Wanita ini cantik, dia adalah Angelina Sondakh. Namanya akhir-akhir ini berkibar disertai kritik tajam terhadap pengadilan. Kenapa? Sama seperti dengan sang pemuda tersebut, wanita juga ini bersalah dalam tuduhan pencurian dan penyogokan untuk kasus besar Hambalang yang begitu menyita perhatian publik. Berapa jumlah uang yang dicuri wanita ini? 12,5 miliar rupiah dan 2,3 juta dollar Amerika. Jika ditotalkan keduanya dalam bentuk rupiah, kira-kira nilainya mencapai 33 miliar rupiah. Yang bersalah pastilah dihukum, sama seperti pemuda tadi. Berapa jumlah hukuman wanita yang korupsi 33 miliar rupiah itu? 4,5 tahun plus denda 250 juta rupiah subsider 6 bulan penjara. Jika ditotal maka sebenarnya jumlah kurungan Angelina Sondakh sama dengan sang pemuda yang mencuri sandal. Muak? Tentu saja! Siapa yang tidak muak dengan keadaan yang demikian. Jika sebuah sandal bermerek dihargai 1 juta rupiah dan dikenai hukuman 5 tahun penjara, maka Angelina Sondakh harus dipenjara sebanyak 33 ribu juta dikalikan 5 tahun. Jika mengambil dari sisi hukuman yang sama, maka seharusnya Angelina Sondakh dihukum ribuan tahun lamanya di dalam terali besi. Bukan hanya Angelina Sondakh saja, tapi semua pelaku korupsi pantas untuk dihukum ribuan tahun. Kalau mau bicara keadilan, itulah yang harus terjadi. Mengapa harus ada tebang pilih jika menurut undang-undang di negeri ini menyatakan bahwa semua manusia sama di hadapan hukum?

Sulit berbicara keadilan di negeri ini. Karena keadilan itu bersifat subjektif dan berdasarkan keputusan seorang pengadil yang mungkin sudah dipengaruhi berbagai trik dan intrik oleh pembela tersangka korup untuk mendapatkan keringanan. Mungkin hakim itu tidak merasakan apa yang dirasakan rakyat kecil saat ini. Saya turut simpati kepada mereka yang karena kepepet, melakukan tindakan pidana seperti mencuri dan merampok, dihukum dengan seberat-beratnya. Mereka pantas mendapatkannya karena menyusahkan orang lain. Tapi tidak dengan pelaku korup, mereka merugikan negara harusnya mendapatkan hukuman lebih berat daripada kita yang merupakan rakyat biasa. Dengan hukuman hanya 4,5 tahun penjara plus potongan-potongan remisi, maka wajarlah rakyat sakit hati. Selama ini keadilan itu tidak pernah menyentuh kalangan “elit”. Kalangan elit seakan tidak tersentuh dengan hukum, hukuman untuk mereka lebih ringan daripada rakyat jelata. Bisa-bisanya para koruptor yang merugikan negara miliaran rupiah hanya dihukum penjara hanya 1 digit saja. Semua korupsi adalah sama, sama-sama merugikan. Entah duit negara atau duit swasta sama-sama ada pihak yang dirugikan, bukan tidak ada yang rugi. Walaupun tidak ada yang rugi, tapi mencuri adalah hal yang dilarang dalam agama dan norma kemasyarakatan. Haram untuk mencuri.

Belum jauh dari kasus Angelina Sondakh yang dipenjara 4,5 tahun aja, hadir si calon hakim agung Muh Daming Sanusi yang bikin geger negara. Pernyataan bahwa pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama “menikmati” melukai kaum wanita yang paling sering merupakan korban dari pemerkosaan. Di India, masyarakat berdemo untuk menghukum mati pemerkosa seorang mahasiswi di Delhi, di Indonesia itu menjadi olok-olok calon hakim agung. Percuma dia menyebut dirinya adalah hakim, untuk hal yang demikian saja dia tidak tanggap. Apa yang ada dibenaknya jika anaknya (kalau ada) diperkosa orang dan orang lain berkata “anakmu kan menikmati juga”. Para elit politik dan hukum kita terlalu konyol untuk memimpin negara ini. Walaupun ada yang baik dan idealis, tapi terperangkap dalam sistem yang akan menggagalkan mereka bertahan sebagai idealis. Nama DPR telah cemar, KPK juga belum memuaskan kinerjanya, ditambah hakim yang konyol seperti ini maka makin pesimis saya akan kemajuan negara ini. Cita-cita yang ada dalam pembukaan UUD 1945 mungkin hanya mimpi di siang bolong. Tidak ada rencana strategis untuk ke sana, tidak ada planning. Semua didasarkan kepada ekonomi bukannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Belum menjumpai berita yang benar-benar membuat hati sedikit senyum dengan berita yang ada. Di olahraga, kehidupan atlet pun menjadi gambaran sedih suatu masyarakat. Di sepakbola, para pengurusnya saling bertikai untuk hal yang tidak akan dibawa ke akhirat. Mengusap-ngusap dada dan menggeleng-gelengkan kepala mungkin tepat jika melihat berita yang demikian. Ah kadang-kadang saya bertanya kepada Tuhan, mengapa hal-hal demikian terjadi di negara ini? Jika mengingat film karya anak bangsa, Alangkah Lucunya Negeri Ini, para pedagang kaki lima dikejar-kejar pamong praja padahal mereka mencari sesuap nasi untuk hidup, tapi para koruptor di atas sana malah senyum-senyum di dalam penjara menunggu turunnya remisi dan kembali menghirup udara bebas. Ah, sesekali kita perlu melawan dan jangan diam. Jadi ingat kata Soe Hok Gie, mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: