Beranda > What I See > Memulai Pagi

Memulai Pagi

A morning prayer

Bagi kebanyakan orang, sebelum teknologi berkembang seperti saat ini, jam weker adalah sahabat setia yang membangunkan mereka saat pagi hari. Suara nyaring jam tersebut menggema di telinga dan kadang-kadang mereka akan terkejut dan mematikannya lalu melihat jam berapakah sekarang. Setelah terkejut, kemudian melihat jam tersebut, sekelompok orang tentu akan bangun kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan atas anugerah dan kesempatan yang masih diberikan. Sebagian lagi akan langsung mencari alas kaki mereka, berjalan setengah menghayal ke kamar mandi, berdiri di depan kaca (jika kamar mandinya memiliki kaca), dan mulai membasuh muka mereka supaya terlihat segar dan melenyapkan virus-virus kantuk yang masih tersisa. Itulah masa di mana teknologi belum semaju saat ini.

Di era teknologi seluler, pergeseran budaya pun mulai terjadi. Saya tidak melakukan survey, tapi mengamati apa yang terjadi di sekitaran saya saja. Jam weker telah berganti dengan sebuah telepon seluler yang cukup canggih dengan fitur jam wekernya. Jika weker seluler itu berbunyi, maka yang dilihat hanyalah sebuah angka kecil yang menunjukkan angka waktu weker itu menyala. Kalau orang yang belum mengerti penggunaan jam digital, mungkin dia akan sedikit bingung karena sudah terbiasa menggunakan jarum jam. Hal ini terjadi sebelum era telepon seluler pintar (smartphone) berkembang luar biasa seperti saat ini.

Teknologi seluler benar-benar menjadi candu. Dengan kemampuan berkomunikasi tanpa batas serta kemampuan berinteraksi sosial melalui dunia maya (web citizenship), maka sebuah pagi pun berubah. Dari bunyi nyaring weker seluler, maka orang-orang pun akan sibuk membuka apa yang terjadi dalam dunia sosial seluler yang saya lewatkan. Walaupun mata masih penuh dengan kotoran mata yang menutupi, seakan hal itu tidaklah menjadi masalah. Dan kita, mulai melupakan apa yang harus kita lakukan saat kita bangun pagi yaitu berdoa. Terlihat sederhana, tapi sulit dilakukan karena seluler pintar lebih menyenangkan. Berinteraksi sosial dengan mengucapkan selamat pagi kepada para masyarakat dunia maya lebih bermakna ketimbang interaksi kita dengan yang Mahakuasa.

Pagi hari adalah awal yang paling pas, menurut saya, sebagai permulaan untuk melakukan doa. Ya, memang doa bisa dilakukan kapan saja dan bisa semau gue. Tapi pagi hari adalah waktu paling istimewa untuk berinteraksi, waktu di mana energi-energi yang telah diperbaharui melalui tidur panjang dipersembahkan kepada Tuhan. Kita berdoa di pagi hari, bukan karena sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan semata, tapi merupakan persembahan energi dan waktu yang paling pertama kepada Tuhan.

Jika kita bangun di pagi hari, maka sejenaklah kita duduk bersila di atas tempat tidur, menenangkan diri kita, kemudian berdoa kepada Tuhan. Tidak ada salahnya mendahulukan bercakap dengan Tuhan ketimbang dengan isteri saat pagi hari, atau melihat isi seluler pintar yang mungkin saja penuh dengan berita-berita sosial yang terjadi saat kita tidur.

Sinar mentari yang cerah ataupun awan gelap yang mengawali sebuah pagi, saat kita bangun untuk memulai aktivitas kita, teduhlah sejenak untuk mengucapkan syukur kita kepada Tuhan atas sebuah hari yang indah, sebuah berkat yang baru, dan sebuah persembahan kita pada-Nya.

 

 

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: