Beranda > What I See > Berpetualang Ke Galunggung

Berpetualang Ke Galunggung

Siapa yang menyangka, rencana yang hampir batal di detik terakhir menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan bagi kita? Hari Rabu (14/11), saat matahari mulai bersinar dengan semangat-semangatnya walau cahayanya membentur sekelompok awan, kabar kurang menyenangkan datang. Rencana menggunakan mobil kantor satu-satunya untuk jalan-jalan ke Kawasan Wisata Galunggung akan dipakai oleh seorang jaksa tak bermodal. Walaupun konfirmasinya belum pasti, tapi 90% kita yakin bahwa mobil itu pasti digunakan. Sampai saat mau pulang pun, kita belum dapat konfirmasi tersebut. Saat jam mulai menujukkan pukul 5 petang, Pingkan mulai mencoba mencari alternatif lain. Walaupun diusahakan, tetap sulit mendapatkan mobil untuk dipakai jalan-jalan. Saat harapan mulai menjadi kekecewaan, maka sebuah mujizat terjadi. Ya! Akhirnya kita bisa menggunakan mobil milik salah seorang manajer di perusahaan tempat kita bekerja, Bu Hety. Siapa yang menyangka bahwa Bu Hety bersedia meminjamkan mobilnya karena pada saat itu Bu Hety tidak berada di tempat dan sedang dilanda kedukaan?

Setelah mendapat kepastian dari Bu Hety bahwa mobil bisa diambil di rumahnya, dan kuncinya yang, sekali lagi mujizat terjadi, dititipkan kepada pembantu rumah tangga dan bisa diambil kapan pun. Sebelumnya, Pingkan bilang bahwa mobilnya hanya akan dipakai sehari saja, artinya dipakai hari Rabu dan dikembalikan pada hari Kamis. Tapi rencana tinggalah rencana. Karena siapa yang menyangka (sekali lagi) petualangan ke Kawasan Wisata Galunggung memakan waktu lebih.

Macetnya Jakarta!

Jam masih menunjukkan pukul 9 malam, ketika mas Tono dan Joe pergi mengambil mobil di rumah Bu Hety. Saya, Pingkan, dan Putri menunggu di kantor sambil mempersiapkan barang dan diri untuk menuju ke Galunggung. Hanya, Jakarta kali ini berbeda dengan hari biasanya tapi sama jika kalender menunjukkan very long weekend. Jalanan, baik itu tol maupun jalan arteri, dipenuhi mobil yang ingin berliburan ke luar Jakarta. Tol yang berada di depan kantor kita pun menjadi penuh dengan mobil yang berjalan perlahan di dalam jebakan macet parah. Mungkin jarak Slipi ke Semanggi bisa ditempuh selama 1 jam bahkan lebih jika melihat kemacetan parah yang terjadi.

Edoh dan suaminya Purnomo belum juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal mobil sudah menunggu di tempat parkir. Mas Tono naik ke kantor yang berada di lantai 23 untuk mengkonfirmasikannya kepada kita. Saya, Pingkan, dan Putri pun bergegas mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke sana. Joe menunggu di tempat parkir seraya menghabiskan beberapa batang rokok sebagai obat anti ngantuk.

Edoh dan Purnomo akhirnya sampai, kemudian mempersiapkan barang-barang lain untuk dibawa ke mobil. Kantor tidak lupa dikunci, lampunya dipadamkan. Dan kita bergegas ke tempat parkir di mana Joe dan mas Tono tengah menunggu. Masih nggak menyangka juga akhirnya bisa pergi (siapa juga yang bisa sangka dari awal). Posisi duduk di mobil, di balik kemudi ada Joe, asisten kemudi adalah mas Tono, di bagian tengah ada saya, Pur, dan Edoh. Di bagian belakang diisi oleh Pingkan dan Putri.

Klakson-klakson mobil bertegur sapa satu sama lain di tengah padatnya mobil di jalan tol yang sebenarnya akan kita lewati juga. Khawatir juga sih, karena perjalanan ke Tasikmalaya, di mana lokasi Galunggung itu berada cukup jauh. Mungkin ada 6 jam kurang lebih perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya. Namun estimasi waktu bertambah menjadi 8 jam jika melihat keadaan yang demikian. Joe mengubah arah perjalanan ke timur Jakarta. Kita akan melewati tol yang berada di Jakarta bagian timur dan berharap tidak macet seperti yang ada di tol Jalan S. Parman.

Nasib jalan tol lingkar luar juga tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di jalan tol dalam kota. Sama-sama padat tapi jalan dengan kecepatan 20km/jam masih bisa. Truk-truk dan bus-bus melaju, sangat banyak jumlahnya, tapi mobil-mobil pribadi pun tidak kalah banyaknya. Lalu lalang kendaraan di jalan sebelahnya masih lebih baik daripada di jalur yang kita lalui. Jam setengah 12 malam, udah malam lho, masih macet di tol Cikampek. Kebayang macet di Slipi yang dilewati tadi, di sini masih agak mending.

Mobil baru bisa bebas dan lancar berjalan pada KM 11. Entah nama tolnya masih sama atau udah berubah, pokoknya lepas dari macet. Jam setengah 1 dinihari, hari Kamis, mobil memasuki tol Cikarang Utama kemudian masuk ke area peristirahatan untuk sejenak duduk, buang air, belanja, makan cemilan yang dibeli di Pasar Senen, dan mendinginkan mesin mobil. Di dalam area peristirahatan sendiri dipenuhi mobil-mobil yang pengemudinya ingin beristirahat atau menunggu pagi di sini. Kita beristirahat di tempat ini kurang lebih 1 jam sebelum melanjutkan perjalanan. Mobil juga diisi bahan bakar hingga penuh agar tidak mengganggu perjalanan kalau mogok.

Jam 2 pagi, mobil memasuki tol Cipularang. Tol yang mengarah ke Bandung ini memotong gunung dan kebun teh, jadi wajar jalannya rada naik turun. Di beberapa bagian jalan, terdapat lampu-lampu penerang jalan, di beberapa bagian lain tidak. Pernah ada peristiwa kecelakaan yang melibatkan seorang penyanyi dangdut di sini, tapi sayang isterinya yang mati bukan dia. Joe menunjukkan lokasinya di mana.

Menuju ke Tasikmalaya, kita mengambil jalan melewati Bandung kemudian ke arah Nagreg lalu menuju ke Tasikmalaya. Agak ngeri juga sih pas mendengar nama Nagreg, karena di situ biasanya terjadi kecelakaan, entah itu siang atau malam. Kalau tidak kecelakaan, macet karena truk gak tau diri macet di tengah jalan. Rencana awal kita beristirahat di Bandung. Tapi Joe dan mas Tono masih kuat, begitu juga saya jadi perjalanan terus. Melewati konstruksi stadion Gedebage yang sudah memasuki tahap penyelesaian. Kemudian ada kecelakaan yang melibatkan 2 mobil di jalan tol yang dilewati, tanah berhamburan ke jalan, lampu sirene mobil polisi yang berwarna biru menjadi penarik perhatian di sana. Mobil berjalan santai, tidak terburu-buru sehingga tidak sadar kita telah melewati Cicalengka, Rencaekek, dan menuju ke Nagreg.

Nagreg dan Tanjakan Gentong

Jalur Nagreg terkenal dengan macetnya saat Idul Fitri tahun ini. Macet total, kecelakaan, mogok, dan sebagainya mewarnai berita kurang baik di Nagreg. Walaupun menurut berita tahun ini kecelakaan di Nagreg mengalami penurunan saat perayaan Idul Fitri, tidak mengurangi kekhawatiran  saya di sini. Jalan di sini berkelok dan menurun, belum lagi bus dan truk sering ugal-ugalan mengikuti gaya mobil pribadi demi mengejar waktu yang memang selalu jadi penjahat karena dikejar.

Seru juga kalo bisa balapan di sini jika memang ada naluri pembalap. Tapi kebanyakan orang-orang Indonesia memiliki hal tersebut. Terlihat dari apa yang terjadi di Nagreg ini. Kecepatan mobil yang menuju Tasikmalaya dan sekitarnya memang sangat cepat, kalau lambat maka akan mengakibatkan macet tentunya karena jalan hanya bisa dilalui satu mobil satu jalur.

Nagreg sendiri hanya berhiaskan lampu-lampu kendaraan yang lewat. Rumah-rumah penduduk di sekitaran daerah tersebut sementara menikmati mimpinya di bawah kabut tipis saat kita melewati tempat itu. Jalur ini rupanya juga sudah dipersiapkan rencananya jika suatu saat nanti memerlukan pelebaran jalan. Dari 2 jalur bisa menjadi 4 jalur jika diperlukan. Selain itu, lahan yang tidak dipakai yang berada di sisi jalan bisa menjadi tempat peristirahatan sejenak jika para pengendara capek. Kita juga sempat singgah untuk buang air sejenak di samping rumah yang tidak dikenal.

Jalan menurun dan hanya sesekali datar terus diikuti hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 4 subuh. Di beberapa daerah mulai terlihat bayangan-bayangan tipis pemandangan daerah Tasikmalaya. Jalan masih menurun dan menanjak mengikuti alur jalan raya yang panjang itu. Beberapa dari kita pun masih tertidur pulas dibalut dinginnya AC mobil atau angin pagi. Tidak banyak bintang berkeliaran di sini, tidak seperti yang terlihat kalau kita berada di tepian pantai Lehaga. Mungkin karena tertutup kabut yang tidak terlihat sehingga sebagian bintang pun hilang. Bintang pagi pun tidak kelihatan, mungkin karena kita berada di sisi yang berbeda dengan keberadaan bintang itu. Jalanan masih terasa padat untuk seukuran jalanan kecil ini. Tapi tak apalah, karena kita akan segera tiba di Tasikmalaya.

Tasikmalaya dan Jalan Rusak ke Galunggung

Kabut tipis mulai hilang terlihat menebal di beberapa sisi wilayah Kabupatan Tasikmalaya. Terang sebentar lagi menjelang yang artinya kita gagal mengejar terbitnya mentari. Suasana sepi di jalanan kota, hanya sedikit orang yang tengah beraktivitas. Hari Kamis (15/11) adalah hari libur keagamaan, jadi sangat terasa suasana sepi rumah-rumah sekitar. Jalanan sering pecah dari keheningannya ketika bus, mobil, dan motor lewat.

Mobil yang kita naiki pun sudah memasuki jalan-jalan kecil di kota, yang hanya bisa dilewati 2 mobil dengan saja. Berbeda dengan apa yang ada di Jakarta, jalanan di Tasikmalaya, tepatnya di Ciawi, tidak macet saat pagi hari. Udaranya pun cukup bersahabat dengan kita, tidak panas, tetapi juga tidak dingin yang membunuh. Sejuk. Mobil berjalan perlahan untuk mencari tempat pemberhentian sebelum melanjutkan perjalanan ke Galunggung sekaligus mencari-cari informasi jalan ke sana. Mobil berhenti di salah satu gerai Indomaret yang memiliki tempat parkir yang luas. Papan pengenalnya pun masih terang benderang, karena suasana masih remang-remang karena matahari rupanya terlambat menjelang.

Di Indomaret, beberapa orang masih tertidur pulas, seperti Pingkan dan Putri yang masih setengah teler karena mengantuk. Joe sudah terlihat cape, Edoh dan Pur juga mas Tono masih memasang muka ngantuk mereka. Saya juga capek dan ngantuk, untuk mencegahnya makanya beli kopi di Indomaret sekedar untuk membunuh kantuk.

Pingkan dan Putri lagi tidur

Pingkan dan Putri, masih ingin tiduran lagi. Mas Tono membelakangi mobil.

Tidak jauh dari Indomaret, tepatnya di seberang Indomaret, terdapat sebuah mesjid. Mas Tono bergegas menuju ke sana untuk mencuci muka, tapi bukannya mengarah ke mesjid tapi ke sebuah SPBU yang tidak jauh dari mesjid tersebut. Edoh dan Pur ketika telah sadar pergi ke dalam Indomaret untuk sekedar melihat-lihat barang, mungkin ada yang perlu dibelanjakan atau gimana gitu. Joe masih sibuk dengan rokoknya, membuka kap depan mobil untuk didinginkan mesinnya. Jalanan masih sepi, matahari pun mulai perlahan memperlihatkan cahayanya.

Joe di parkiran

Joe berpose di tempat parkir. Mas Tono lagi ngelirik apa ya?

Setelah melihat-lihat keadaan dan melihat mas Tono kembali dengan wajah yang segar habis cuci muka, maka saya pun ke mesjid seberang untuk mencuci muka saya sekaligus buang air kecil. Ngajak juga Pingkan dan Putri yang masih bermuka masam akibat baru bangun tidur semalaman. Di mesjid ini punya 4 wc yang ruangannya cukup sempit untuk saya, dan 1 ruangan kamar mandi yang cukup besar untuk Pingkan dan Putri masuk bareng. Sayang, wc dan kamar mandinya cukup kotor. Mana lampunya juga di antara mati dan hidup alias 5 watt saja. Tidak nyaman sebenarnya cuci muka di dalam suasana yang agak kotor ini. Tapi apa boleh buat, setidaknya bisa cuci muka dan buang air kecil. Airnya adem, sejuk, dingin dan bersih. Untung airnya bersih, terasa dari segarnya ketika menyentuh kulit. Jadi ketagihan, maka saya siram saja segayung air ke wajah, nyaris 1 badan basah karena sesaknya wc. Keluar dari wc, saya bercakap-cakap dengan seorang ibu yang sedang bersih-bersih di sekitar mesjid. Ya, karena hari itu adalah Tahun Baru untuk warga muslim, jadi saya ucapkan saja happy new year kepada ibu itu. Ibu itu tanya dari mana dan mau ke mana, saya bilang saja dari Jakarta dan mau ke Galunggung. “Kenapa ke Galunggung?” tanya ibu ini yang kayak polisi aja mau investigasi. Saya jawab karena kita ingin menikmati pemandangan yang ditawarkan Galunggung. Ibu itu juga tidak lupa memberi pesan agar memasukkan uang (saya bingung sih, itu terserah atau harus sih) di kotak yang telah disediakan. Pingkan dan Putri lama, jadi saya balik duluan.

Saya sudah berbalik untuk mencicipi arem-arem dan risoles yang dibeli dari Pasar Senen oleh Edoh dan Pur. Joe masih sibuk merokok, Pur juga. Mas Tono masih lihat kiri kanan sembari duduk di pagar pendek sebagai batas antara Indomaret dan sebuah bengkel di sampingnya. Makan risoles ditemani kopi Nescafe dingin memang nikmat di saat ransum terbatas. Risoles sudah dingin, tapi sayang isinya sayuran.

Duduk di parkiran Indomaret Ciawi

Ki-ka: Saya, Pingkan, Putri, Joe, Edoh, Pur, dan mas Tono di depan kita.

Masih sibuk dengan bergurau kecil di tempat parkir Indomaret, beberapa mobil datang dan pergi di sini. Belum lagi suara-suara motor yang memecah kesunyian pagi lewat di depan Indomaret. Bus-bus dengan supir edan mulai mempertontonkan keahlian mengemudinya sampe-sampe ada bus yang ngerem tiba-tiba karena gagal mau menyalib sebuah mobil yang melaju santai. Kalau mau ke Galunggung dari sini, maka kita harus berkendara menuju ke arah terminal Indihiang kemudian belok ke kanan sebelum mencapai terminal tersebut.

Kita pun mulai melanjutkan perjalanan. Setelah perut telah diisi oleh sarapan yang cukup banyak, ada arem-arem, resoles, brownies, kopi, susu, de el el, kesegaran pun telah menghiasi seluruh tubuh kita. Semangat kembali muncul, muka-muka kantuk dan kelelahan pun tidak tampak lagi. Hanya ada kantung-kantung mata yang tergantung di bawah mata.

Suasana pagi di Tasikmalaya begitu sejuk, cukup menyegarkan tubuh. Udaranya masih bersih, karena masih belum banyak kendaraan yang berkeliaran di saat pagi hari. Jalanan tidak macet karena jumlah mobil tidak terlalu banyak. Melewati persawahan, rel kereta api sampai beberapa kali, jalanan berkelok tapi tidak menanjak. Itu masih jalan menuju jalan masuk ke kompleks Galunggung. Dari Ciawi, kita menuju ke Indihiang melewati jalan tersebut. Menurut petunjuk yang didapat sebelumnya, bahwa sebelum menuju ke arah terminal, kita sudah harus belok kanan. Di petunjuk jalan sih begitu, cuma untuk lebih meyakinkan lagi, kita bertanya kepada penduduk lokal, seorang bapak yang kebetulan terlihat oleh kita. Bapak tersebut memberikan petunjuk, dalam bahasa Indonesia tentunya, sambil kita iya-iya aja di dalam mobil.

Ternyata, jalan ke kompleks wisata Galunggung melewati sebuah jalan yang lebarnya hanya bisa dilewati 2 mobil dengan cara dipaksa. Petunjuk di depan jalan masuk tersebut tertulis kawasan pemandian air panas Cipanas, Galunggung 20 km. Jauh juga. Karena sudah yakin, maka mobil memasuki jalan yang lebarnya pas-pasan itu. Memang sih jalannya tidak sukar, tidak menanjak dan berkelok. Justru lurus dan jalan berlubang tapi belum parah. Saking lurusnya jalan itu, jadi penasaran, ini jalan bener nggak ya? Jadi untuk memastikannya lagi, kita bertanya kepada penduduk sekitar yang terlihat. “Lurus aja pak” kira-kira begitu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maklum yang bertanya Joe, menggunakan bahasa Sunda.

Di dalam mobil sendiri, cukup rame dengan guyonan-guyonan mengejek satu sama lain. Baik itu guyon tentang perilaku sampai hal-hal yang terjadi di kantor. Ada juga guyon tentang hal-hal yang berbau pribadi tapi tidak ada yang menganggap serius sehingga menjadi menyenangkan. Ya, suram juga sih kalau selama perjalanan diam saja padahal tidak ngantuk. Mobil lalu lalang tidak terlalu banyak, sampai-sampai kita khawatir, jangan-jangan cuma kita lagi yang ke sana. Pemandangan di kiri dan kanan dihiasi oleh rumah-rumah penduduk pada awalnya, tapi makin jauh kita masuk ke dalam, maka hamparan sawah dan perkebunan di daerah ini mewakili keindahan dan kesuburan daerah bekas letusan gunung Galunggung ini.

Namanya juga di daerah pedesaan yang minim memakai teknologi yang berpolusi, kecuali truk-truk pengangkut pasir yang lalu-lalang, udara di sini menyejukkan dan menggoda untuk tidur sebenarnya. Maklum mata saya saat itu sudah mulai mengantuk, tapi udara sejuk itu ditemani dengan pemandangan yang lebih menggoda dari kantuk saya.

Angga di jalan menuju Galunggung

Galunggung dari kejauhan

Joe di jalan menuju Galunggung

Pemandangan

Pemandangan yang ditawarkan oleh jalan menuju kompleks gunung Galunggung. Ada persawahan, perkebunan, dan yang tidak ditangkap oleh kamera kita adalah pertambangan pasir gunung. Kita mengetahuinya karena banyak truk yang lalu lalang membawa pasir yang berlawanan arah dengan mobil yang kita naiki dan penuh pasir. Memang sih, muntahan material dari gunung Galunggung saat meletus dahsyat beberapa kali membuat daerah ini kaya akan pasir vulkanik. Bukan cuma daerah ini sebenarnya, tapi daerah yang menjadi korban dan dahsyatnya letusan Galunggung. Oh ya, sebagai informasi, gunung ini sebenarnya sementara beristirahat dari aktifitasnya. Di awal Januari tahun ini, gunung ini sempat aktif dan membuat kawasan wisata di tutup sementara. Bukti kedahysatan letusan Galunggung sebenarnya hanya bisa dibuktikan melalui satu hal. Yaitu menuju ke gunungnya. Menuju ke bekas kawah yang menjadi letusannya. Ada 2 kawah, yang satu bernama Kawah Telaga Bodas, letaknya masuknya berbeda dari tempat yang kita lewati saat ini, dan yang satu lagi adalah yang baru terbentuk yang akan kita pergi, lupa namanya sih hehehe. Ah cerita tentang gunung meletus nanti saja, itu butuh pakar vulkanologi kalau cerita-cerita gituan.

Jalanan ya, ampun rusaknya, cuma di awal jalan masuknya saja tu jalan bagus, giliran makin masuk ke dalam, eh memang jalanan desa yang ada. Saking gemesnya, kadang-kadang sering muncul guyonan, udah sampai belum, kok gunungnya makin jauh sih, atau kok nggak terlihat rombongan yang berlibur ke Galunggung sih. Kalau dipikir-pikir sih iya, tapi jam masih menunjukkan jam 7, “ada jalan lain ini” timpa Joe yang rupanya mulai kepikiran dengan trek yang berlubang ini. Sampai suatu waktu kita melewati perempatan. Dan memang benar kata Joe, ada jalan lain selain jalan rusak ini. Kita jalan lurus lagi dari melewati perempatan, makin rusak aja sih jalannya, dan sedikit menanjak. Sampai-sampai kita makin bertanya-tanya, ini bener nggak ya jalannya. Sebelum melewati jalan yang agak menanjak ini, memang sih sudah terlihat garis berwarna keabu-abuan dari jauh, kata yang lain sih itu tangganya. Tangga menuju salah satu kawah di Galunggung. Itu yang tertera di cerita-cerita orang yang pernah berlibur ke sana.

Kita melewati jalur sungai yang pernah dialiri lahar akibat letusan gunung berapi. Walau hanya sekilas karena tertutup pepohonan, pasir-pasir yang merupakan material gunung masih berserakan di daerah ini. Warnanya hitam pekat, dan aliran sungai tidak cukup leluasa mengalir. Di beberapa tempat pasir-pasir ini ditambang kemudian diangkut oleh truk-truk yang kita lihat tadi. Jalanan masih tetap rusak, pemerintah daerah kabupaten Tasikmalaya tidak serius melihat kawasan ini sebagai kawasan wisata potensial nantinya. Apa mungkin mereka terlalu takut berinvestasi besar dengan memperbaiki jalan 10 km ke kawasan Galunggung karena takut adanya letusan lagi, tidak tahu. Tapi dengan membangun jalan yang lebih baik, maka roda perekonomian kawasan ini akan meningkat. Investor akan mulai memikirkan membangun unit-unit usaha di daerah ini yang tentunya akan membawa dampak ke pemerintah sendiri.

Walaupun jalanan rusak, yah tidak menyurutkan niat yang sudah tertanam sejak awal keberangkatan. Mobil berjalan perlahan karena jalannya berlubang, kali ini suasana di kiri kanan berupa hutan dengan pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Tanaman-tanaman liar yang tumbuh di sekitaran pohon-pohon tersebut juga hijau mempesona. Ada satu-dua buah rumah yang berjarak cukup jauh satu sama lain yang kita lewati. Ada motor-motor yang lewat yang searah dengan kita, menuju kawasan Galunggung. Mobil seukuran minibus juga lewat dengan cukup terburu-buru (kayak tu gunung mau lari aja). Jadi ternyata bukan cuma kita kan yang ke sana, tapi juga ada orang-orang sekitar yang ingin menghabiskan liburan di kawasan wisata Galunggung. Kita sampai tepat di depan pintu masuk Galunggung di mana beberapa orang penjaga yang bertugas memungut uang masuk bertugas.

Di depan pintu masuk wisata Galunggung

Foto di depan pintu masuk Kawasan Wisata Galunggung. Ki-ka: Edoh, Putri, Pingkan, Mas Tono, saya dong.

Di spanduk selamat datang tertulis demikian “SELAMAT DATANG, KUNJUNGAN WISATA DI GALUNGGUNG TASIKMALAYA” tertulis dengan tulisan tebal dan cukup besar. Kemudian di bawahnya tertulis “KAWAH GALUNGGUNG SUDAH NORMAL KEMBALI dan GALUNGGUNG AMAN UNTUK DIKUNJUNGI”. Kutipan tersebut menandakan Galunggung belum beraktivitas lagi. Pada awal tahun ini, gunung yang disebut orang Singa yang Tidur Lelap ini aktif lagi. Galunggung juga merupakan salah satu gunung yang berada dalam kawasan Ring of Fire yang terkenal di Indonesia. Ketinggian gunung ini mencapai 2.167 meter di atas permukaan laut (dpl). Sedikit cerita tentang gunung ini, tahun 1982, gunung ini meletus selama 9 bulan dan berakhir pada awal tahun 1983 (seperti orang melahirkan saja, butuh 9 bulan).

Galunggung, Tangga Menuju Puncak

Biaya Rp. 4.200/orang tidaklah mahal untuk orang-orang berwisata ke tempat ini. Setelah tempat membeli karcis, terdapat 2 jalan, ke kiri dan pastinya ke kanan. Yang ke kanan mengarah ke tempat pemandian air panas, Cipanas. Sedangkan ke kiri menuju ke gunung Galunggung. Masih ada 2,5 km lagi untuk ke sana. Dan jalannya kali ini menanjak lebih tajam ketimbang jalan saat memasuki kompleks ini. Tapi bedanya, jalan di kawasan wisata ini sudah cukup bagus. Ditambah lagi pemandangan dan pohon-pohon rindang menghiasi jalan menuju ke tempat yang lebih tinggi. Papan cukup besar bertuliskan Kawasan Wisata Galunggung terpampang mencolok dengan tulisan yang berwarna coklat tua itu. Jadi ada tempat untuk berpose sejenak sebelum menuju ke puncak.

Papan di pintu masuk Galunggung

Kawasan Wisata Galunggung. Here we come!

Sibuk foto-foto akhirnya lupa diri hahaha. Di depan papan ini, kita beristirahat sejenak melepaskan penat sepanjang perjalanan ke sini. Foto beramai-ramai di depan papan yang menjadi objek latar yang baik ini.

foto dulu ahh

Ki-ka (berdiri): Mas Tono, Putri, Pingkan, Edoh, Joe. Pur (duduk).

Karena jalanan cukup menanjak, dan takut juga bisa-bisa mobilnya nggak bisa naik. Maka mobil pertama jalan terlebih dahulu mencapai jalan yang cukup landai untuk berhenti kemudian kita naik. Ada yang nekat, tapi bukan dari kita, yang berjalan sejauh 2,5 km untuk mencapai tempat naik tangga di gunung Galunggung. Karena sudah ditunggu Joe yang ada di atas, maka yang lain ikut berlarian ke atas melewati jalan yang cukup menanjak itu sejauh 60-70 meter. Oksigen yang tipis makin membuat kita ngos-ngosan. Tapi tak apa, olahraga pagi namanya.

Rombongan yang menggunakan mobil pun makin bertambah, bukan cuma kita saja, ada beberapa mobil yang terparkir di dekat pos pembayaran karcis sesaat kita bergegas menuju ke lokasi selanjutnya. Jalan menanjak dan lebih baik daripada sebelumnya. Dan kita menjumpai dengan kawan-kawan yang entah dari mana telah terlebih dahulu nekad berjalan kaki, sayang tidak ada tumpangan karena mobil tidak cukup untuk kalian kawan.  Suasana hijau di kiri kanan membuat mata tidak jenuh, karena yang dilihat adalah pemandangan yang menyegarkan jiwa. Seandainya langsung ada apartemen di situ, wah amsiong deh.

Tinggal beberapa saat tiba di lokasi wisata, eh ada petugas pungut lagi. Tapi ini untuk uang parkir doang. Emang ini kantor dinas pemerintah yang sedikit-sedikit minta duit. Uang 3ribu perak untuk parkir sampai bengong di sana. Tidak banyak mobil sebenarnya yang parkir di situ, kebanyakan motor karena banyak anak-anak muda menjadikan kawasan wisata ini sebagai tempat nongkrong sekaligus berpacaran. Setibanya di tempat parkir, kita disambut oleh beberapa tenda tempat jualan. Tidak ada yang khas dari jualan tenda-tenda itu, hanya ada pop mie, gorengan, telur rebus, dan minuman-minuman yang umum ditemui di Jakarta. Coba kalau ada wedang gitu yang dijual, atau minuman khas Tasikmalaya gitu.

Setibanya di tempat parkir, yang cukup untuk menampung 6-7 mobil, kita beristirahat sejenak sebelum menaiki tangga. Selain menjaga fisik, tapi juga menjaga mental jika melihat tangga yang panjang seperti tiada ujung di sana. Sebuah papan, berdiri di dekat tangga naik menuju puncak, tertulis 620 anak tangga. Jumlah yang cukup wah. Jika tidak menjaga kondisi tubuh, bisa koit saat tiba di puncak nanti karena kecapean. Selain istirahat, seperti duduk, tiduran, kita juga mengkonsumsi makanan ringan seperti kue atau gorengan. Tidak lupa pula menyantap telur rebus dan teh manis. Saya malah makan sampe 3 telur rebus untuk kondisi hahaha.

Setelah beristirahat yang cukup, makan yang cukup, minum yang cukup, dan ngobrol yang cukup. Saatnya untuk menaiki tangga sebanyak 620 anak tangga yang menjadi tantangan menuju salah satu kawah gunung Galunggung. Makin siang, suasana makin ramai. Makin banyak pula yang naik. Suara-suara motor bergantian naik turun di tempat parkir. Ada yang pergi ada yang datang. Mobil pun, walau hanya satu-dua saja mulai memenuhi tempat parkir. Tidak ada WC umum di atas sana. Jadi siapa yang ingin buang air, dipersilahkan dilakukan di sebuah mushollah yang tidak jauh dari tempat parkir. Banyak anak-anak muda yang perlahan menaiki tangga tersebut, ada juga anak-anak kecil yang mungkin baru kelas 1 atau kelas 2 SD ikut menaiki tangga ini. Kita masih berjalan santai menuju tangga yang cukup ramai pada saat itu. Di arah Tasikmalaya, kabut tebal menutupi sehingga kita tidak bisa melihat pemandangan kota Tasikmalaya dari tempat parkir ini.

pemandangan dari tangga ke sekian

Pemandangan dari tangga yang baru dinaiki beberapa.

Derap langkah orang menaiki tangga tidak terdengar karena tertutup oleh suara-suara yang menikmati olahraga naik tangga ini. Karena masih pagi, jadi masih bisa dinamakan olahraga. Mas Tono sudah mulai dari awal langsung naik dengan cepat. Joe malah agak lambat karena nafas sudah berat saat menaiki tangga yang baru beberapa puluh saja. Bukan cuman kita saja sih, yang lain juga pada ngos-ngosan. Karena ngos-ngosan, jadi bisa istirahat sambil foto-foto.

edoh, putri, pingkan

Putri , Edoh, dan Pingkan. Kecapean tuh mereka bertiga, jadi istirahat dulu hahaha.

seorang ibu beristirahat sejenak

Seorang perempuan sedang beristirahat. Di bawah, segerombolan orang sedang menaiki tangga.

Sulit untuk menceritakan keadaan sedang menaiki tangga. Jadi disampaikan melalui gambar saja.

Foto-foto

Lanjutan dari foto sebelumnya. Joe membelakangi kamera, Pur di kanan, dan trio kwek-kwek (Putri, Edoh, Pingkan) di kiri yang sedang narsisan.

Jalan terus dong

Pingkan kecapean, Pur enjoy aja, Edoh cengengesan. Yang lain masih di bawah, kalo nggak di atas.

Setelah melewati tangga yang berjumlah 620 buah itu, akhirnya kita sampai juga di atas. Pemandangan yang di atas jauh lebih menawan. Dan kabut menutupi sebagian puncak gunung yang berada tepat di depan kita. Sebuah danau kawah, yang merupakan hasil dari letusan gunung Galunggung berwarna kekuningan terlihat indah. Tempat di atas ini, seperti telah disediakan alam karena memiliki jalan yang terbuat dari pasir vulkanis, yang kemungkinan dirapikan oleh penduduk sekitar dan pemerintah serta mengubahnya menjadi lokasi wisata yang enak dikunjungi. Banyak pedagang yang menjajakan banyak makanan di sini, sayang tidak ada yang khas sekali lagi, tidak ada bedanya jajanan yang dijajakan di atas sini dengan yang di bawah sana.

pemandangan kawah Galunggung

Pemandangan danau kawah di Galunggung. Masih ada puncak lagi di depan sana, yang tidak tahu lewat dari mana. Katanya sih masih ada kawah lagi di sana.

Kiri kanan banyak pengunjung. Kebanyakan adalah anak muda yang ingin berpacaran di sana sekaligus menghabiskan waktu melihat-lihat serta bergombal ria di atas sini. Jadi iri sebenarnya hahaha. Untung Jawa Barat ini luas, jadi tidak ketemu teman lain yang saya kenal di sini. Kita juga bertemu dengan pak guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang mengajak serta murid atau anaknya saya lupa. Pak guru ini bilang, anak-anak zaman sekarang memang harus datang ke tempat seperti ini, untuk mengetahui apa yang dipelajari dan apa yang ditemukan di lapangan. Iya juga sih, kita juga bertujuan seperti itu. Melihat gambar yang ada di internet, kemudian mencoba melihat apa yang bisa kita temukan di lapangan. Anak-anak yang bersama pak guru itu masih kecil-kecil. Kelas 2, kelas 3, dan kelas 4 mereka. Joe bilang mereka hebat-hebat, karena membawa tas yang berisi makanan, naik tangga sampai di puncak ini. Pak guru mengajak kita untuk jalan turun ke danau kawah, sekaligus menikmati pemandangan di sana. Kata pak guru “masak sudah jauh-jauh dari Jakarta nggak turun ke bawah”. Maka rasa penasaran kita pun bertambah, jadi kita pun ikut turun ke bawah. Karena tidak ada tangga, maka kita melewati jalan alam yang sudah dibuat. Karena tidak bertangga, jadi di beberapa tempat cukup terjal untuk turun. Harus satu per satu dan hati-hati.

bareng pak guru en anak didiknya

Pak Guru dan anak-anak kecil sama Putri, Pingkan, Edoh dengan latar danau kawah Galunggung.

Memang bukan cuma kita saja yang turun. Ada beberapa remaja juga turun ke bawah. Karena kita agak lambat, maka mereka langsung melewati begitu saja. Para cewe-cewe pun pelan-pelan turun karena takut terpleset. Mereka  berpegangan tangan, Pur ada di bagian depan, kemudian Edoh, Pingkan, dan Putri saling berpengangan tangan. Mas Tono dan Joe ada di depan untuk foto-foto dan buka jalan, sekaligus memberitahukan apakah jalan tersebut licin atau tidak. Saya di belakang dong, tempat favorit.

Ada kejadian lucu, Pur terpeleset sesaat Joe baru selesai memperingatkan bahwa daerah yang akan dilewati licin karena pasir-pasir halus. Untung Pur tidak apa-apa dan perjalanan dilanjutkan. Kita sempat beristirahat di salah satu tempat bekas jualan jajanan yang sudah ditinggalkan. Kita duduk sebentar sambil memandang danau kawah yang ada di bawah. Serta si pak guru dan anak-anak yang sudah ada di bawah duduk makan kayak gelaran tikar. Padahal ini bukan di pantai. Gunung sih masih adem-adem aja, tapi kan siapa tahu suhu airnya naik.

Menelusuri jalan sempit untuk mencapai kawah

Pelan-pelan. Licin nih!

Setelah menuruni tebing yang antara terjal dan tidak terjal untuk sampai ke kawah gunung, kita mendapati sebuah lahan datar yang penuh dengan pasir hitam khas gunung berapi. Padang rumput di sisi kanan dari tempat turun kita terbentang luas. Kabut masih menutupi sebagian puncak gunung yang berada lebih di atas dari danau kawah ini. Mungkin danau kawah ini berada lebih di bawah ketimbang kawah Telaga Bodas yang kalau di peta sih ada.

Saat berada di bawah, kita mendapati pemandangan  yang indah. Danau kawah yang cukup luas tapi tidak besar, di sana ada pintu air yang fungsinya untuk mengalirkan air yang berkelebihan agar tidak membanjiri kawasan atau meluncur ke kawasan yang lebih rendah tanpa ada kendali. Terdapat tangga menuju ke pintu air tersebut tapi harus naik ke atas dulu. Di dekat danau kawah ini, kita mengabadikan diri kita dengan berlatar sebuah objek yang mengagumkan.

foto-foto di depan danau kawah Galunggung

Ki-Ka: Mas Tono, saya (masih dengan kemeja kantor), Putri, dan Pingkan. Ini bukan di Cina ya :p

Pemandangan di sekitar danau kawah

Pemandangan di sekitar danau kawah yang penuh dengan alang-alang serta rumput-rumput setinggi lutut orang dewasa. Pasir vulkanik yang berwarna hitam pekat membuat komunitas alang-alang dan rumput-rumput subur di sini. Ekosistem di tempat ini selalu siap sedia menghadapi aktivitas gunung Galunggung yang mungkin saja tiba-tiba meningkat.

Ada orang yang berkemah di sekitar sini. Ada juga alat-alat milik pemerintah yang menjadi alat lacak jika gunung mulia menunjukkan gejala-gejala peningkatan aktivitas. Di tempat ini, kita juga bergabung dengan pak guru serta 3 anak kecil yang hebat-hebat. Seperti awal ketika turun, kali ini pak guru mengajak kita naik dari arah yang berlawanan. Jika tadi kita turun berada di sisi kanan dari tangga menuju tempat ini, kali ini naik ke sisi kiri sehingga kita harus berjalan kira-kira 500 meter ke arah barat.

Sambil berbincang-bincang, kita melewati 2 bakal anak gunung yang muncul dari danau kawah. Di atas salah satu puncak tersebut terdapat bendera merah putih yang berkibar di ujung sebuah batang bamboo yang ditancapkan ke puncak anak gunung tersebut. Karena penasaran, dan sebelum anak gunung itu menjadi dewasa, saya dan Joe berusaha menaklukkan salah satunya dengan mendaki ke sana. Di sana kita melihat danau yang di beberapa tempat terdapat gelembung-gelembung air yang kelihatan seperti ada mata air yang mengisi tempat ini dengan tidak habisnya. Danau ini berwarna kuning kehijauan, tidak cerah, tapi indah dan tenang.

Kita berjalan terus ke kiri, setelah saya dan Joe turun dari salah satu bakal anak gunung tersebut. Makin ke arah kiri, kita mendapati sebuah aliran air yang jernih, tidak seperti di kali Ciliwung atau saluran-saluran air yang berada di Jakarta yang berwarna hitam pekat. Air di sini sangat jernih, dingin dan menyegarkan. Nampaknya air ini berasal dari salah satu mata air yang berada di bagian lain dari Galunggung. Kalau diperhatikan juga, gunung ini kaya akan mata air, jadi tidaklah heran kenapa bisa ada danau di kawah ini dan mengapa juga dibuat sebuah pintu air agar air tidak memenuhi kawah ini. Kalau tidak, maka air akan meluap dan jika aktivitas gunung ini meningkat, maka desa-desa yang berada di kaki gunung akan dilimpahi oleh air bah.

perjalanan kembali

Salah satu foto favorit saya. Diambil oleh Joe pada saat kita sedang berjalan menuju ke arah barat untuk naik kembali ke atas melalui jalan yang berbeda.

Ketika kita sampai di dekat jalan untuk menuju ke atas. Saya melihat betapa curamnya jalan yang akan kita lalui. Hanya terdiri atas pasir-pasir hitam, yang butiran-butiran pasirnya lebih besar daripada butiran pasir putih di pantai Tasik Ria yang lebih halus. Meleng sedikit melihat jalan yang kita akan lalui, pak guru dan anak-anak kecil sudah sampai setengah jalan. Sedang kita, saya, Joe, Putri, dan Pingkan masih berjalan perlahan sambil bercanda. Edoh dan Mas Tono juga berjalan cepat. Awalnya sih, untuk 50 meter awal, jalan masih cukup landai dan belum curam-curam amat, namun setelah itu sudut kemiringan berubah. Harus perlahan-lahan melewati pasir-pasir yang bisa membuat kita terperosot. Sebagai kelompok terbelakang dan paling banyak tertawanya. Kita saling berpengangan tangan. Joe berada di paling depan, kemudian Putri dan Pingkan, trus saya di tempat favorit.

Kalau tidak berhati-hati berjalan, maka kita akan terperosot kembali ke bawah. Jika bisa digambarkan menggunakan angka, maka setiap kita berjalan 10 langkah, maka paling tidak ada 4 langkah kita kembali ke bawah. Belum lagi panas mentari yang sudah menyengat mengingat jam sudah menunjukkan waktu untuk mentari bersinar cerah.

Jalan kembali ke atas, berpasir

Pur sementara asik duduk dan memotret ke arah kita yang berada di bawah.

Capek memang untuk kembali naik ke atas. Saya masih juga memikirkan tangga yang akan kita pakai untuk turun ke bawah. Masih sibuk dengan pasir-pasir yang sering membuat perjalanan tertunda, kita berjalan perlahan. Kawan-kawan yang lain sudah berada di atas, kita masih terjebak di pasir hitam ini. Tapi cukup menyenangkan sih, artinya kita tidak terburu-buru untuk menyelesaikan rute yang akan kita lewati. Banyak hal yang bisa dinikmati melalui jalan berpasir ini. Pengalaman, kesulitan, panas yang menyengat, kerja sama, dan karakter orang bisa dilihat melalui hal-hal sepele seperti ini.

Setibanya di atas, kita beristirahat sejenak menghilangkan kepenatan kaki yang sudah kecapean. Kita duduk di tangga pintu air sejenak, kemudian di tenda untuk minum segelas teh manis hangat. Walaupun sedikit menghilangkan esensi naik gunung, tapi dengan adanya kawasan pariwisata yang berlatar alam bisa membuat kita merasa dekat dengan alam. Menaiki tangga, turun melewati celah-celah kecil yang membelah sebuah bukit, menaiki pasir hitam yang curam dan elok, dan tiba dengan sebuah kelegaan di dalam kelelahan. Saya tidak merasa heran dengan para pecinta alam yang tergila-gila naik gunung, karena gunung menawarkan hal yang tidak pernah bisa dilupakan orang tentunya. Pemandangan, tempat-tempat yang jarang dijangkau orang. Hal-hal menarik ini bisa kita bawa pulang dan menceritakan kepada orang lain. Kita kembali ke Jakarta dari tempat ini jam setengah 8 malam dan tiba keesokan harinya (26/11) dengan selamat.

foto bersama

***

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: