Beranda > Umum > Kisah Aragorn dan Arwen

Kisah Aragorn dan Arwen

Penulis: JRR. Tolkien

Sumber: The Lord of The Rings: Return of The King (Appendix)

Arador adalah kakek Raja. Putranya, Arathorn, meminang Gilraen yang Cantik, putri Dirhael, yang juga merupakan keturunan Aranarth. Dirhael tidak setuju dengan perkawinan ini karena Gilraen masih muda dan belum mencapai usia di mana biasanya kaum wanita Dunedain menikah. “Lagi pula,” kata Dirhael, “Arathorn pria yang keras dan sudah cukup umur, dan akan segera menjadi kepala suku; tapi aku punya firasat bahwa hidupnya akan sangat singkat.”

Tetapi Ivorwen, istrinya, yang juga berpandangan jauh, menjawab, “Justru kalau begitu, harus dipercepat! Masa gelap sebelum badai sudah menyongsong, dan peristiwa-peristiwa besar akan berlangsung. Kalau dua orang ini menikah sekarang, masih ada harapan bagi bangsa kita; tapi kalau mereka menundanya, perkawinan itu tidak akan terjadi selama zaman ini masih berlangsung.”

Alkisah ketika Arathorn dan Gilraen baru satu tahun menikah, Arador diculik para troll bukit di Coldfells di sebelah utara Rivendell, dan dibunuh, maka Arathorn menjadi Kepala Suku kaum Dunedain. Tahun berikutnya Gilraen melahirkan putranya, yang dinamai Aragorn. Tetapi Aragorn baru berusia dua tahun ketika Arathorn pergi bertempur melawan para Orc bersama kedua putra Elrond, dan ia terbunuh oleh panah Orc yang menembus matanya. Dengan demikian hidupnya memang sangat singkat menurut ukuran orang dari bangsanya, karena umurnya baru enam puluh tahun ketika ia tewas. Maka Aragorn, yang sekarang menjadi Pewaris Isildur, dibawa bersama ibunya untuk menetap di rumah Elrond, dan Elrond bertindak seperti ayah baginya, sangat menyayanginya seperti terhadap putranya sendiri. Aragorn dipanggil Estel, yang berarti ‘Harapan’. Nama aslinya serta garis keturunannya dirahasiakan atas perintah Elrond, karena Kaum Bijak tahu bahwa Musuh berupaya mencari apakah masih ada yang hidup di antara Pewaris Isildur.

Tetapi ketika Estel baru berusia dua puluh tahun, suatu saat ia kembali ke Rivendell setelah melakukan perbuatan-perbuatan gagah berani bersama kedua putra Elrond. Elrond memandangnya dan merasa puas, karena ia melihat Estel tampan dan mulia, dan cepat dewasa, meski ia masih akan tumbuh lebih hebat lagi, baik tubuh maupun pikirannya. Maka hari itu Elrond memanggilnya dengan nama aslinya, dan menceritakan siapa dia sebenarnya, putra siapa dia, lalu ia menyerahkan benda-benda pusaka rumahnya kepada Aragorn. “Ini cincin Barahir,” katanya, “tanda tali persaudaraan kita dari jauh dan inilah serpihan-serpihan Narsil. Dengan benda-benda ini kau akan melakukan perbuatan-perbuatan besar, sebab kulihat masa hidupmu akan jauh lebih panjang daripada ukuran Manusia, kecuali kalau kau ditimpa bencana atau gagal dalam ujian. Ujiannya akan sulit dan lama. Tongkat kekuasaan Annuminas masih kutahan, karena kau harus membuktikan dirimu pantas memperolehnya.”

Hari berikutnya, saat matahari terbenam, Aragorn berjalan-jalan sendirian di hutan, dan hatinya begitu senang. Lalu dia bernyanyi, karena hatinya dipenuhi harapan dan dunia tampak begitu indah. Tiba-tiba, saat sedang bernyanyi, dia melihat seorang gadis berjalan di halaman hijau di antara batang-batang putih pohon birch. Ia pun berhenti dan terkagum-kagum, karena menyangka dia sudah tersasar masuk ke dalam sebuah mimpi, atau bahwa mungkin dia sudah diberkati seperti para penyanyi Peri, yang mampu mewujudkan hal-hal yang mereka nyanyikan, di depan mata mereka yang mendengarkan. Sebab yang tadi dinyanyikan Aragorn adalah sebagian dari syair Luthien, yang mengisahkan pertemuan Luthien dan Beren di hutan Neldoreth. Lalu lihatlah! Nun di sana, Luthien berjalan di depannya, di Rivendell, berpakaian jubah perak dan biru, cantik seperti senja di rumah Peri, rambutnya yang gelap berkibar tertiup angin yang tiba-tiba berembus, dan alisnya dihiasi permata seperti bintang-bintang. Untuk sejenak Aragorn menatap diam, namun karena khawatir gadis itu akan pergi dan tidak terlihat lagi, dia memanggil sambil berteriak, “Tinuviel, Tinuviel!” sama seperti yang dilakukan Beren pada Zaman Peri lama berselang. Maka gadis itu memutar badannya dan tersenyum, lalu berkata “Siapakah kau? Mengapa kau memanggilku dengan nama itu?” Lalu Aragorn menjawab, “Karena aku memang menyangka kau Luthien Tinuviel, yang sedang kunyanyikan lagunya. Tapi kalau kau bukan dia, maka kau mirip sekali dengannya.”

“Banyak sekali yang mengatakan demikian,” jawab gadis itu dengan khidmat.“Tetapi namanya bukan namaku. Meski mungkin nasibku takkan berbeda jauh dengan nasibnya. Tapi siapakah kau?”

“Aku dinamai Estel,” sahut Aragorn. “Tetapi aku adalah Aragorn, putra Arathorn, Pewaris Isildur, Penguasa kaum Dunedain.”

Namun sambil mengatakan itu, Aragorn merasa bahwa keturunannya yang begitu mulia, yang membanggakan hatinya, kini tak bernilai tinggi, bahkan sama sekali tak berharga bila dibandingkan keagungan dan kecantikan gadis itu. Tetapi gadis itu tertawa ceria dan berkata. “Kalau begitu, kita masih saudara jauh. Karena aku adalah Arwen putri Elrond, dan aku disebut juga Undomiel.”

“Di masa berbahaya, sering sekali orang-orang menyembunyikan harta mereka yang paling utama,” kata Aragorn. “Tetapi aku sungguh heran, karena meski aku tinggal di rumah ini sejak masa kanak-kanakku, tak pernah aku mendengar namamu disebut-sebut oleh Elrond maupun kedua kakakmu. Bagaimana bisa terjadi bahwa kita belum pernah bertemu? Tak mungkin ayahmu mengurungmu di gudangnya, bukan?”

“Tidak,” kata Arwen, sambil memandang Pegunungan yang menjulang di timur. “Untuk beberapa lama aku tinggal di negeri keluarga ibuku, di Lothlorien nun jauh di sana. Aku baru saja kembali untuk menjenguk ayahku lagi. Sudah bertahun-tahun aku tidak berjalan-jalan di Imladris.”

Lalu Aragorn pun heran, karena tampaknya Arwen tidak jauh lebih tua daripada dirinya, yang baru hidup tak lebih dari dua puluh tahun di Dunia Tengah. Lalu Arwen menatap matanya dan berkata, ‘Tak perlu heran! Anak-anak Elrond mempunyai kehidupan seperti kaum Eldar.” Maka Aragorn menjadi malu, karena dia melihat cahaya peri dalam mata Arwen, serta kebijaksanaan yang tumbuh dari menjalani masa hidup yang lama, namun sejak saat itu hatinya terpaut kepada Arwen Undomiel putri Elrond.

Pada hari-hari berikutnya Aragorn menjadi pendiam, dan ibunya merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi dengannya. Akhirnya Aragorn menyerah pada pertanyaan-pertanyaan ibunya dan menceritakan pertemuannya pada senja hari di hutan. “Putraku,” kata Gilraen, “cita-citamu tinggi sekali, meski kau keturunan para raja. Karena wanita ini adalah yang paling mulia dan cantik yang sekarang ada di dunia ini. Dan tidak pantas kalau seorang manusia fana menikahi Peri.”

“Tapi kita masih punya pertalian saudara dengan bangsa Peri,” kata Aragorn, “kalau dongeng-dongeng nenek moyangku yang kudengar memang benar.”

“Memang benar,” kata Gilraen, “tapi itu sudah lama berlalu, terjadi pada zaman lain di dunia ini, sebelum bangsa kita menyusut. Karena itu aku khawatir; sebab tanpa kebaikan hati Master Elrond, para Pewaris Isildur akan segera musnah. Tapi kukira dalam hal ini kau tidak akan memperoleh kebaikan hati dari Elrond.”

“Kalau begitu hari-hariku akan sangat pahit, dan aku akan berjalan sendirian di belantara.”

“Memang itulah takdirmu,” kata Gilraen.

Meski punya keahlian meramal dalam batas-batas tertentu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang firasatnya, juga tidak menceritakan pada siapa pun apa yang diceritakan putranya kepadanya. Tetapi, Elrond melihat banyak hal dan membaca banyak pikiran. Maka suatu hari, sebelum musim gugur tahun itu, dia memanggil Aragorn ke kamarnya dan berkata, “Aragorn, putra Arathorn, Penguasa kaum Dunedain, dengarkan kata-kataku! Malapetaka besar menunggumu, kau mungkin akan bangkit melebihi keagungan semua nenek moyangmu sejak zaman Elendil, atau kau mungkin jatuh ke dalam kegelapan dengan semua yang tersisa dari bangsamu. Bertahun-tahun pencobaan ada di depanmu. Kau tidak akan mempunyai istri, juga tidak akan mengikat wanita mana pun dalam pertunangan, sampai datang saatmu, dan kau sudah terbukti pantas dan layak memperolehnya.” Maka Aragorn menjadi gelisah, dan ia berkata, “Apakah ibuku sudah membicarakan hal ini?”

“Sama sekali tidak,” kata Elrond. “Matamu sendiri sudah mengkhianatimu. Tapi aku tidak berbicara hanya tentang putriku. Kau belum akan dijodohkan dengan putri siapa pun. Tapi Arwen yang Cantik, Lady dari Imladris dan Lorien, Evenstar dari bangsanya, berasal dari keturunan yang jauh lebih agung daripada garis keturunanmu, dan dia sudah hidup begitu lama di dunia, sehingga baginya kau hanyalah sebuah tunas muda di samping pohon birch muda yang sudah menyaksikan sekian banyak musim panas. Dia terlalu  tinggi derajatnya bagimu. Dan kukira, begitu pula yang dia rasakan. Tapi meski hatinya terpaut padamu, aku masih tetap sedih karena takdir yang menguasai kami.”

“Takdir apakah itu?” kata Aragorn.

“Bahwa selama aku tinggal di sini, dia akan terus hidup mengecap masa muda kaum Eldar,” jawab Elrond, “dan kalau aku pergi dari dunia ini, dia akan pergi bersamaku, kalau itu pilihannya.”

“Aku mengerti,” kata Aragorn, “bahwa aku sudah jatuh hati pada suatu harta yang tak kalah nilainya dibanding harta Thingol yang begitu didambakan Beren. Begitulah ternyata nasibku.”

Maka tiba-tiba kepandaian meramal yang dimiliki bangsanya, timbul dalam dirinya, dan ia berkata, “Tapi lihatlah! Master Elrond, masamu berdiam di sini tak lama lagi akan berakhir juga, dan anak-anakmu akan segera dihadapkan pada pilihan, apakah akan berpisah denganmu atau dengan Dunia Tengah.”

“Benar,” kata Elrond. “Segera, menurut ukuran kami, meski masih lama kalau diukur dengan waktu Manusia. Tapi takkan ada pilihan untuk Arwen yang kusayangi, kecuali jika kau, Aragorn putra Arathorn, memisahkan kami dan mengantar salah satu dari kita, kau atau aku, ke suatu perpisahan yang sangat pahit, perpisahan yang melampaui kiamat dunia. Kau belum tahu seberapa beratnya hal ini bagiku.” Elrond menghela napas panjang, dan setelah beberapa saat, sambil memandang Aragorn dengan serius, ia berkata lagi, “Waktulah yang akan membawa apa yang dikehendakinya. Kita tidak akan membicarakan hal ini lagi sampai waktu yang lama sekali berlalu. Hari-hari gelap sudah menjelang, dan banyak malapetaka akan terjadi.”

Lalu Aragorn berpisah dari Elrond dengan penuh rasa kasih; hari berikutnya dia pamit kepada ibunya, kepada seisi rumah Elrond, dan kepada Arwen, lalu dia pergi ke belantara. Selama hampir tiga puluh tahun dia bekerja keras dalam upaya melawan Sauron. Dia menjadi sahabat Gandalf yang Bijak, dari siapa dia memperoleh banyak kearifan. Bersama Gandalf dia melakukan banyak perjalanan penuh bahaya, tapi sementara tahun-tahun berlalu, dia semakin sering pergi sendirian. Pengembaraannya sulit dan panjang, dan ekspresi wajahnya menjadi murung, kecuali kalau kebetulan dia tersenyum, tapi dia tampak sangat mulia di mata orang-orang, seperti seorang raja dalam pengasingan, pada saat-saat dia tidak menyembunyikan wujudnya yang asli.

Dia pergi dengan berbagai macam penyamaran, dan memperoleh kemasyhuran dengan berbagai nama. Dia bergabung dengan pasukan berkuda kaum Rohirrin, dan bertempur demi Penguasa Gondor di darat dan di laut; lalu di saat kemenangan dia menghilang tanpa sepengetahuan Orang-Orang Barat, dan pergi sendirian sampai jauh ke Timur dan Selatan, menjelajahi hati orang-orang jahat maupun baik, menyingkap komplotan dan tipu muslihat budak-budak Sauron.

Maka akhirnya dia menjadi orang yang paling tangguh di antara kaum Manusia, mahir dalam keterampilan dan adat istiadat, namun melebihi mereka semua. Karena dia juga mempunyai kebijakan kaum Peri, dan dan matanya terpancar cahaya yang hanya sedikit orang bisa tahan melihatnya wajahnya sedih dan keras karena takdirnya yang keras, namun masih ada harapan di hatinya, dan kadang-kadang kegembiraan muncul bagai mata air memancar keluar dari dalam batu karang. Alkisah ketika Aragorn berusia empat puluh sembilan tahun dia kembali dari pengembaraan penuh bahaya di perbatasan gelap Mordor, di mana kini Sauron bermukim lagi dan sibuk menjalankan rencana-rencana jahatnya.

Aragorn sangat letih dan ingin kembali ke Rivendell, beristirahat sebentar di sana sebelum berpetualang lagi ke negeri-negeri jauh. Dalam perjalanannya ia sampai ke perbatasan Lorien, dan dia disambut di negeri tersembunyi itu oleh Lady Galadriel. Aragorn belum tahu bahwa saat itu Arwen Undomiel juga sedang berada di sana, untuk sementara waktu tinggal bersama keluarga ibunya. Arwen belum berubah banyak, karena dia tidak terpengaruh usia seperti makhluk-makhluk fana. Namun wajahnya sekarang lebih serius, dan suara tawanya jarang terdengar lagi. Tetapi Aragorn sudah tumbuh sempurna secara fisik maupun mental, dan Galadriel meminta dia melepaskan pakaiannya yang lusuh karena perjalanan. Dia memakaikan Aragorn pakaian perak dan putih, dengan jubah Peri kelabu dan sebuah permata cemerlang di dahinya. Maka Aragorn tampak lebih gagah daripada Manusia, bahkan ia tampak seperti bangsawan Peri dari Pulau-Pulau Barat. Seperti itulah Arwen pertama kali melihat Aragorn lagi setelah perpisahan mereka yang begitu lama dan saat Aragorn berjalan ke arahnya di bawah pepohonan Caras Galadhon yang dipenuhi bunga-bunga emas,

Arwen pun menjatuhkan pilihan yang menentukan nasibnya. Selama satu musim itu mereka berjalan-jalan bersama di padang-padang Lothlorien, sampai tiba saatnya mereka harus berpisah. Pada senja hari Tengah Musim Panas, Aragorn putra Arathorn dan Arwen putri Elrond, pergi ke bukit indah Cerin Amroth, di pusat negeri, lalu mereka berjalan tanpa alas kaki di atas rumput abadi yang dipenuhi bunga elanor dan niphedril. Dari atas bukit mereka memandang ke timur, ke arah Bayang-Bayang, dan kepada Senja di barat, lalu mereka mengucapkan janji setia, dan merasa sangat bahagia. Lalu Arwen berkata, “Bayang-Bayang itu sangat gelap, namun hatiku gembira; karena kau, Estel, akan berada di antara orang-orang hebat yang dengan berani akan menghancurkannya.” Tetapi Aragorn menjawab, “Sayang sekali! Aku tak bisa melihat tanda-tandanya, dan bagaimana hal itu akan terjadi, masih rahasia bagiku. Tapi dengan didukung oleh harapanmu, aku akan terus berharap. Dan aku menolak sama sekali Bayang-Bayang itu. Tetapi, Lady, begitu juga Senja bukanlah untukku; karena aku makhluk fana, dan kalau kau mengikat dirimu kepadaku, Evenstar, maka kau juga harus melepaskan Senja.”

Lalu Arwen berdiri diam seperti pohon putih, menatap ke Barat, dan akhirnya Ia berkata, “Aku akan menggantungkan diriku kepadamu, Dunedain, dan berpaling dari Senja. Meski di sanalah letak negeri bangsaku dan rumah tetirah seluruh bangsaku.”

Arwen sangat menyayangi ayahnya. Ketika Elrond tahu pilihan putrinya, dia diam saja, meski hatinya sangat sedih dan malapetaka yang sudah lama dikhawatirkannya tidak terasa lebih mudah dipikul. Tapi ketika Aragorn kembali ke Rivendell, Elrond memanggilnya dan berkata, “Anakku, akan datang saat-saat semua harapan pupus, dan di luar itu belum jelas bagiku apa yang akan terjadi. kini sebuah bayangan berada di antara kita. Mungkin juga memang sudah ditakdirkan begitu, bahwa dengan kehilanganku, kerajaan Manusia akan pulih kembali. Maka, meski aku menyayangimu, kukatakan padamu: Arwen Undomiel tidak akan mengorbankan hidupnya yang abadi demi perkara yang kurang berharga. Dia tidak akan menjadi pengantin Manusia yang derajatnya kurang daripada Raja Gondor dan Arnor. Namun bagiku kemenangan kami hanya akan membawa duka dan perpisahan, tapi bagimu akan ada harapan untuk mencapai kebahagiaan, untuk sementara waktu. Duh, anakku! Aku khawatir bahwa bagi Arwen, nasib menjalani ajal Manusia pada akhirnya akan terasa berat.”

Begitulah keadaan antara Elrond dan Aragorn sejak itu, dan mereka tidak membahas masalah ini lagi. Aragorn pergi lagi menghadapi bahaya dan kerja keras. Sementara dunia menggelap dan ketakutan menimpa Dunia Tengah. Ketika kekuatan Sauron semakin besar dan Barad-dur menjulang semakin tinggi dan kuat, Arwen tetap tinggal di Rivendell, dan ketika Aragorn berada di luar negeri, dari jauh dia memperhatikan di dalam hati. Dengan penuh harapan dia membuat untuk Aragorn sebuah tiang panji besar dan agung, yang pantas dikibarkan seseorang yang menuntut hak kekuasaan bangsa Numenor dan warisan Elendil.

Setelah beberapa tahun, Gilraen pamit kepada Elrond dan kembali ke bangsanya sendiri di Eriador. Dia hidup sendirian di sana, dan jarang melihat putranya lagi, karena Aragorn menghabiskan banyak waktu di berbagai negeri jauh. Tetapi pada suatu saat, ketika Aragorn kembali ke Utara dan menjenguknya, ibunya mengatakan padanya sebelum dia pergi, “Inilah perpisahan kita yang terakhir, Estel, putraku. Aku sudah tua, bahkan menurut ukuran Orang biasa; dan kini ketika kegelapan masa kita semakin dekat ke Dunia Tengah, aku tak sanggup menghadapinya. Aku akan segera meninggalkan dunia ini.” Aragorn mencoba menghiburnya dengan berkata, tapi mungkin ada cahaya setelah kegelapan; dan kalau memang begitu, aku ingin Ibu melihatnya dan berbahagia. Tetapi ibunya hanya menjawab dengan linnod ini: “Onen i-Estel Edain, u-chebin estel anim.” Lalu Aragorn pergi dengan berat hati. Gilraen meninggal sebelum musim semi berikutnya.

Demikianlah maka Perang Cincin semakin dekat, tentang itu diceritakan lebih banyak dalam buku lain (The Lord of The Rings). Bagaimana terungkap cara yang tak terduga untuk menggulingkan Sauron, dan sekarang segala harapan sudah terpenuhi. Syahdan, pada saat kekalahan (perang Pelennor), Aragorn datang dari laut dan mengibarkan panji buatan Arwen dalam pertempuran di Medan Pelennor, dan saat itulah dia pertama kali disambut sebagai raja. Akhirnya ketika semua sudah selesai, Aragorn menerima warisan leluhumya dan menerima mahkota Gondor serta tongkat kekuasaan Arnor. Dan pada Tengah Musim Panas, di tahun Kejatuhan Sauron, dia menikahi Arwen Undomiel di Kota Para Raja. Demikianlah Zaman Ketiga berakhir dengan kemenangan dan harapan. Tetapi perpisahan Elrond dengan Arwen sangat menyedihkan, karena mereka dipisahkan oleh samudera dan takdir maut yang melebihi kiamat dunia. Ketika Cincin Utama sudah dimusnahkan dan kekuatan Tiga Cincin hilang. Elrond akhirnya jemu dan meninggalkan Dunia Tengah, dan tak pernah kembali lagi. Tetapi Arwen menjadi manusia fana, meski nasibnya menentukan dia baru akan mati ketika semua yang sudah diperolehnya hilang. Sebagai Ratu Peri dan Manusia, Arwen mendampingi Aragorn selama enam kali dua puluh tahun dalam kemuliaan dan kebahagiaan.

Akhirnya Aragorn merasa usia tua sudah menjelang, dan dia tahu bahwa masa hidupnya sudah mendekati akhir, meski memang sudah berlangsung sangat lama. Maka Aragorn berkata kepada Arwen, “Akhirnya, Lady Evenstar yang tercantik di dunia, dan sangat kucintai, duniaku sudah mulai memudar. Lihatlah! Kita sudah mengumpulkan dan menghabiskan, maka sekarang saat pembayaran sudah dekat.” Arwen tahu apa yang dimaksud Aragorn, dan sudah lama ia tahu hal itu akan terjadi; tapi bagaimanapun ia merasakan kesedihan yang amat mendalam.

“Apakah kau akan meninggalkan bangsamu, yang menggantungkan diri kepadamu, sebelum waktumu, Tuan?” kata Arwen.

“Bukan sebelum waktuku,” jawab Aragorn. “Karena kalau aku tidak pergi sekarang, tak lama lagi aku akan dipaksa pergi. Lagi pula Eldarion putra kita sudah matang untuk mengemban tugasnya sebagai raja.”

Maka Aragorn pergi ke Rumah Para Raja di Jalan Sunyi, membaringkan diri di pembaringan panjang yang sudah disiapkan untuknya. Di sana dia berpamitan kepada Eldarion, dan menyerahkan mahkota bersayap dari Gondor serta tongkat kekuasaan dari Arnor kepadanya. Lalu semuanya, kecuali Arwen, meninggalkannya, dan dia berdiri sendirian di samping tempat tidur Aragorn. Dengan seluruh kebijakan dan keagungan keturunannya Arwen toh tak bisa menahan diri untuk membujuk Aragorn agar tinggal bersamanya lebih lama.

Arwen masih belum letih dalam usianya, maka dia merasakan sepenuhnya kegetiran kehidupan fana yang sudah ia pilih untuk dirinya sendiri. “Lady Undomiel,” kata Aragorn, “memang perpisahan ini berat, tapi sudah ditakdirkan demikian, ketika kita bertemu hari itu di bawah pohonpohon birch putih di kebun Elrond yang sekarang kosong. Dan di bukit Cerin Amroth ketika kita meninggalkan Bayang-Bayang maupun Senja, kita sudah menerima takdir ini. Coba pikirkan, kekasihku, tanyakan apakah kau memang ingin aku menunggu sampai aku layu dan jatuh dari kedudukanku yang tinggi dalam keadaan pikun dan tak berdaya. Tidak, Lady, akulah yang terakhir dari bangsa Numenor dan Raja paling mutakhir dari Zaman Peri. Kepadaku telah diberikan bukan hanya masa hidup tiga kali lipat Orang-orang Dunia Tengah, tetapi juga anugerah untuk bisa pergi sekehendakku, dan mengembalikan pemberian itu. Maka sekarang aku akan tidur.”

“Tak ada penghiburan yang bisa kuberikan padamu, karena memang tak ada penghiburan untuk kepedihan semacam ini di dalam lingkungan dunia. Pilihan terakhir ada di depanmu: pergi ke Havens, membawa ke Barat kenangan tentang masa kita hidup berdampingan, yang di sana akan selalu abadi, meski tak lebih dari kenangan; atau mematuhi hukum Ajal Manusia.”

“Tidak, Tuanku,” kata Arwen, “pilihan itu sudah lama lewat. Kini sudah tak ada lagi kapal yang akan membawaku ke sana, dan aku memang harus mematuhi hukum Ajal Manusia, mau tak mau: kehilangan dan kesunyian. Tapi ingin kukatakan padamu, Raja bangsa Numenor, bahwa baru kini aku memahami kisah bangsamu dan kejatuhan mereka. Dulu aku mencemooh mereka sebagai orang-orang bodoh yang jahat, tapi sekarang aku mengasihani mereka. Sebab kalau ini memang hadiah dari Yang Satu kepada Manusia, seperti dikatakan kaum Eldar, maka sungguh pahit untuk menerimanya.”

“Begitulah adanya,” kata Aragorn. “Tapi jangan sampai kita jatuh dalam ujian terakhir, kita yang dulu sudah melepaskan Bayang-Bayang dan Cincin. Memang kita harus pergi dengan penuh kesedihan, tapi bukan dengan putus asa. Lihatlah! kita tidak terikat selamanya kepada lingkungan dunia, di luarnya masih ada banyak selain kenangan. Selamat tinggal!”

“Estel. Estel!” seru Arwen, sementara itu sambil memegang tangan Arwen dan mengecupnya, Aragorn tertidur. Sosoknya tampak begitu elok, sehingga semua yang datang setelah itu, memandangnya heran, karena mereka melihat keindahan masa mudanya, kegagahan masa dewasanya, dan kebijakan serta keagungannya di usia tua, semuanya berbaur jadi satu.

Maka dia berbaring lama di sana, sebuah citra kecemerlangan para Raja Manusia dalam kegemilangan yang tak pernah pudar, sebelum hancurnya dunia. Lalu Arwen pergi dari Rumah itu, cahaya di matanya padam, dan orang-orang melihatnya menjadi dingin dan kelabu seperti malam musim dingin. Tanpa bintang. Lalu Arwen pamit kepada Eldarion, dan kepada putri-putrinya, dan kepada semua yang dicintainya; ia keluar dari kota Minas Tirith dan pergi ke negeri Lorien, tinggal sendirian di sana, di bawah pepohonan yang sudah mulai layu, sampai musim dingin tiba. Galadriel sudah pergi, begitu juga Celeborn, dan negeri itu sunyi senyap.

Di sanalah, di mana daun-daun mallorn berjatuhan, tetapi musim semi belum datang, akhirnya Arwen membaringkan dirinya di Cerin Amroth; di sanalah kuburannya yang hijau berada, sampai seluruh dunia berubah, dan seluruh masa hidupnya sama sekali terlupakan oleh orang-orang sesudah itu, dan Elanor serta Niphredil tidak lagi mekar di sebelah timur Samudra. Begitulah akhir kisah ini, sebagaimana diceritakan kepada kami oleh orang-orang Selatan; dan dengan wafatnya Evenstar tidak diceritakan lagi kisah-kisah lain dalam buku tentang zaman lampau ini.

Aragorn dan Arwen

Viggo Mortensen dan Liv Tyler yang memerankan peran Aragorn dan Arwen dalam Trilogi The Lord Of The Rings

 

Kategori:Umum
  1. Maret 16, 2015 pukul 10:46 am

    kalau boleh tau ,, nama bukunya apa sob

    • Mei 6, 2015 pukul 12:08 pm

      Lord of the rings: return of the king..bagian appendix

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: