Beranda > What I See > Anti-Korupsi Dimulai Dari Diri Sendiri

Anti-Korupsi Dimulai Dari Diri Sendiri

Sebuah infotaiment di salah satu TV swasta beberapa tahun lalu mengangkat topik tentang korupsi yang sedang menjadi isu hangat saat itu. Isu yang diangkat saat itu adalah masalah keterkaitan kasus korupsi yang dilakukan oleh “oknum” yang kemudian seakan dibela oleh pihak kepolisian, dalam hal ini Polri, kemudian menimbulkan sebuah istilah Cicak vs Buaya. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saat itu menghadapi permasalahan serius dengan kepolisian karena dikriminalisasi oleh “oknum” tersebut sehingga memaksa kepolisian turun tangan. Di situlah mulai merebak istilah Cicak vs Buaya dan orang-orang turun ke jalan membela KPK kemudian timbulah topik itu yang dibahas infotaiment tersebut.

Sang pembawa acara, ditemani seorang pemusik yang cukup beken terlibat diskusi tentang korupsi, KPK, dan kepolisian. Sang pembawa acara atau presenter melemparkan pertanyaan yang sederhana kepada pemusik tersebut yaitu “Seandainya anda ditilang oleh polisi, berani tidak anda tidak menyogok polisi tersebut tetapi taat mengikuti proses peradilan?” Pertanyaan tersebut sebenarnya ditujukan saat keadaan di mana polisi, yang image mereka telah rusak di mata masyarakat, memperbaiki diri kemudian menentang yang namanya penyogokan saat kendaraan ditilang, apakah anda mau demikian? Sang pemusik tersebut hanya tertawa kecut.

Pertanyaan yang sama juga akan dilemparkan kepada kita-kita. Jika korupsi itu jahat kemudian merugikan banyak pihak, apakah kita siap menyingkirkan korupsi yang telah menjadi “budaya” di dalam struktur kehidupan bermasyarakat? Sederhana tapi sulit. Menyingkirkan sesuatu yang telah berakar dengan sangat dalam sulit untuk disingkirkan kemudian ditebang. Sederhananya adalah kasus penyogokan saat ditilang, berapapun uang yang kita berikan kepada polisi yang menilang itu tetap namanya korupsi dan bukan “fee”.

Artinya, kita berjuang menyingkirkan korupsi bukan sekedar main-main saja atau sebagai ajang balas dendam. Kasarnya, jika masih ada mereka kita tidak bisa korupsi! Bisa dilihat dari sejarah panjang Indonesia selama ini, bahwa kasus tuntutan-tuntutan perubahan justru tidak membawa perubahan secara signifikan pada hal-hal yang dituntut seperti korupsi, penyamarataan hidup sosial berbudaya, tidak ada tumpang tindih kepentingan di dalam suatu kebijakan, dan tentunya kehidupan yang berkesejahteraan dan damai (yang terakhir ini hanya mimpi bagi saya).

Tahun 1966, demonstrasi mahasiswa menuntut orang-orang yang korupsi diturunkan dari jabatannya dan dihukum berhasil. Dengan mimpi perubahan ke arah yang lebih baik berjalan dengan tidak semestinya. Rezim yang berganti tetap melakukan korupsi di seluruh jajaran birokrasi walaupun ada yang jujur tapi hanya sedikit. Rezim Orde Baru juga dilengkapi dengan kepemimpinan secara diktator sehingga masyarakat diliputi ketakutan, kecemasan, dan tidak bebas dalam bertindak. Tahun 1998, rezim ini tumbang selayaknya rezim sebelumnya. Dituntut oleh demonstrasi mahasiswa dan masyarakat yang kemudian berakhir dengan chaos di berbagai tempat sebagai tanda pergeseran atau tanda klimaks dari emosi yang tidak tertahankan.

Rezim reformasi, sama dan tidak ada perubahan. Mereka yang berteriak-teriak anti korupsi pada tahun 1998, dipertanyakan eksistensinya. Ke manakah aktivis-aktivis tersebut? Ke manakah mereka yang berteriak-teriak lantang anti korupsi pada tahun 1998? Apakah mereka telah hilang ditelan kegelimangan harta dari kekuasaan yang semu? Tidak ada yang tahu.

Tapi kejadian-kejadian di atas merupakan bukti bahwa masyarakat kita dewasa ini belum mampu menghilangkan korupsi dalam kehidupan sosial mereka. Bahwa kasus-kasus sederhana dalam kehidupan pun dikorupsi sedemikian rupa sehingga memperkuat budaya korupsi itu sendiri. Dan generasi-generasi yang baru pun mendapat didikan yang sama dengan generasi sebelum-sebelumnya. Slogan-slogan anti korupsi digalakkan di sekolah-sekolah tetapi dalam prakteknya guru-guru mengizinkan apa yang namanya mencontek massal. Kasus seorang siswa SD yang diasingkan karena keberanian dia untuk tidak memperlihatkan jawaban kepada teman-temannya patut dihargai yang artinya masih ada secercah terang yang muncul di dalam kegelapan yang pekat.

Generasi-generasi sekarang seolah-olah dibius dengan slogan-slogan membenci korupsi tapi gagal di dalam kasus-kasus sederhana yang bersifat korup. Pertumbuhan slogan anti-korupsi makin hari makin meningkat yang disertai dengan makin menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam kehidupan pribadinya menentang korupsi. Kasus pertanyaan tadi adalah gambaran ketidakmampuan kita, masyarakat Indonesia, dalam menyingkirkan kehidupan yang korupsi. Karena kesalahan pribadi kita sendiri kemudian kita harus menyuap agar kita tidak dihukum maka kita telah mengkorupsi sebuah nilai pribadi dalam diri kita sendiri.

Mengutip apa yang ditulis seorang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche:

“He who fights with monsters should look to it that he himself does not become a monster. And when you gaze long into an abyss the abyss also gazes into you.”

Sudah seharusnya kita melihat diri kita sendiri dalam perjuangan melawan korupsi. Jika diri kita belum mampu melepaskannya, maka haruslah kita berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan bimbingan untuk mentransformasi diri kita.

 

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: