Beranda > Olah Raga > Timnas Miskin Formasi Alternatif

Timnas Miskin Formasi Alternatif

Untuk pertama kalinya Indonesia (Timnas),dalam sejarah, meraih hasil imbang saat bertemu Laos di ajang Piala AFF, Minggu (25/11) di Malaysia. Hasil 2-2 pun merupakan hasil keberuntungan semata karena Laos bermain lebih baik dan penuh semangat saat meladeni permainan teknik oleh Timnas yang juga dibebani ekspektasi tinggi. Permainan keras kedua tim berujung pada 2 kartu merah yang diterima kedua tim, Timnas dan Laos. Timnas sendiri sebenarnya tidak terlalu mengecewakan pada awalnya, karena mampu menekan dengan baik dan terorganisir. Sayang, penyakit kambuh pemain kembali kambuh di saat pertandingan memasuki pertengahan babak. Umpan-umpan dari lini tengah Indonesia mampu dipotong dengan baik oleh pemain belakang Laos dan diselesaikan dengan serangan balik cepat yang berbahaya yang tidak mampu diimbangi oleh pemain belakang Timnas. Proses transisi pun kacau balau, ditambah tidak sigap pemain dalam mengantisipasi aliran bola lawan.

2 gol timnas Laos berasal dari serangan balik cepat yang gagal dihalau lini belakang. Kiper Endra Prasetya menjadi korban kelemahan lini belakang yang terlambat mengantisipasi pergerakan pemain depan Laos. Endra pun mendapatkan kartu merah, dan Indonesia bermain dengan 10 pemain serta mendapat hukuman penalti yang diselesaikan dengan baik oleh Kampheng Sayavutthi. Keberuntungan Indonesia datang pada saat pemain Laos, Saysana juga mendapatkan kartu merah. Pemain keturunan asing, Maitimo menyamakan kedudukan saat terjadi kemelut di depan gawang Laos. 1-1 adalah skor hingga turun minum.

Babak kedua, pertandingan berjalan lebih lambat dari babak pertama. Mungkin karena ingin menyimpan energi, jadi kedua tim mencoba bermain efektif. Laos menjebol gawang Indonesia pada menit ke 79, dan keberuntungan Vendry Mofu memasukkan bola hasil muntahan tembakan Andik mengubah kedudukan menjadi 2-2. Seru, sayang Timnas hanya meraih 1 poin dari target 3 poin  yang ditentukan.

Ada kekakuan dalam setiap formasi yang coba dimainkan oleh Timnas. Pola 4-4-2 atau 4-3-3 adalah pola baku Timnas saat ini. Pola tersebut cenderung dipakai untuk mengikuti perkembangan sepakbola yang memakai 2 formasi tersebut dan pengembangannya. Formasi 3-5-2 dan 3-4-3 yang menjadi tren ditinggalkan. Sehingga adanya penyesuaian akan kebutuhan pemain, terutama lini belakang yang memakai formasi 2 stopper sejajar, dan 2 full back yang sejajar. Berbeda dengan formasi 3-5-2 yang menggunakan 2 stopper sejajar dan 1 libero yang berdiri agak di belakang kedua stopper. Untuk menggantikan posisi sayap yang kosong, maka 2 wing back adalah andalan setiap pelatih untuk memberikan kecepatan serta crossing dari 2 sisi. Kelemahan para pelatih Indonesia, adalah kadang sulit untuk mengubah pola dasar saat pertandingan. Dan jikapun diubah, maka tidak mendapatkan hasil karena pola yang digunakan masih kaku.

Apakah ada strategi yang usang di sepakbola? 3-5-2 adalah pola usang, tapi bukan berarti tidak bisa dimodifikasi menjadi modern. Butuh keberanian sekelas Pep Guardiola atau Cesare Prandelli atau Antonio Conte mengubah pola dasar mereka yang menggunakan 4 bek berdiri sejajar berubah menjadi 3 bek sejajar. Spanyol pun mencoba menggunakan modifikasi “false 9” saat bermain di ajang sekelas Euro 2012 dan berhasil menjuarainya. Artinya di sini bukanlah soal model formasi yang digunakan, tetapi bagaimana memaksimalkan peran pemain dalam formasi tersebut. Bagaimana memodifikasi sistem strategi transisi yang mudah dimengerti pemain.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan oleh Juventus dan Antonio Conte berbeda dengan formasi 3-5-2 yang diterapkan Italia dan Prandelli saat menghadapi Spanyol di ajang Euro 2012. Pertama adalah Juventus lebih memilih 3 pemain belakang murni untuk mengawal lini belakang. 2 pemain merupakan stopper yang memiliki peran mobile. Biasanya diisi oleh Chiellini dan Barzagli sebagai stopper yang bisa bergerak cukup mobile ketimbang libero yang diisi oleh Bonucci. Kelebihan lainnya adalah fisik dari ketiga pemain ini yang sangat mendukung pola ini. Berbeda dengan Italia yang memakai “false defender” untuk melengkapi formasi 3-5-2 mereka. False libero ini adalah peran penting yang diberikan Prandelli kepada Danielle De Rossi. Peran ini dimainkan dengan sangat baik oleh De Rossi saat menghalau serangan tiki-taka Spanyol. Kemampuannya sebagai gelandang bertahan menjadi kelebihannya. Kadang dia berada di belakang untuk membantu pertahanan, tapi dia diberikan “free role” untuk melakukan dribbling kala timnya menyerang. Formasi yang sama 3-5-2 tapi telah dimodifikasi oleh kedua tim.

Satu lagi adalah tim yang paling terkenal saat ini, Barcelona. Ketika Pep Guardiola kebingungan karena tidak memiliki pemain bertahan yang murni, dia menaruh 2 gelandang bertahannya, yang biasanya ditempati oleh Javier Mascherano atau Sergio Busquet atau Seydou Keita. Peran berbeda diberikan kepada mereka yaitu memainkan peran sebagai bek sentral, bukan seperti  De Rossi. Atau, Pep bisa saja mendorong Dani Alves sebagai pemain sayap dengan menggeser Abidal ke sisi tengah untuk menemani Puyol dan Pique (kalau ketiganya tidak sering cedera). Pemain Barcelona pun lebih menumpuk di tengah sehingga menyulitkan pemain lawan melakukan permainan kaki ke kaki dengan cepat karena telah diintervensi. Formasi 3-4-3 adalah favorit Pep ketika mengalami keterbatasan pemain atau mengakomodasi Cesc Fabregas di lini tengah.

Bagaimana dengan Indonesia? Jika Nilmaizar berani mengubah pola permainan menjadi 3-5-2 atau 3-4-3, saya rasa tidak akan terlalu sulit. Kenapa? Tim-tim yang bermain di 2 kompetisi Liga yang bergulir di Indonesia masih sering memakai pola ini. Pola ini tidak usang, hanya saja tidak banyak tim yang memakainya. Dari sisi pemain, Indonesia bisa memakai pola ini. Untuk menutupi kelemahan Wahyu yang lambat, Nil bisa saja menggesernya ke tengah ditemani 2 stopper Fachrudin dan Handi. Fachrudin dan Handi adalah pemain pertama yang harus dihadapi jika lini tengah Timnas berhasil dilewati. Mencadangankan Okto adalah pilihan terbaik untuk dikorbankan. Pertama, permainan Okto mudah dibaca. Dia hanya berlari kemudian mengumpan dan tidak bisa melakukan cut in selayaknya para pemain sayap modern saat ini. Kedua, pemain ini sering egois. Jika sudah mendapatkan bola, dia akan berlari melewati lawan, kalaupun hendak mengoper, operannya tidak sempurna atau salah sasaran. Walaupun dia punya kecepatan tapi mudah dibaca, maka permainannya pun percuma. Okto bisa menjadi senjata rahasia dalam pola 3-4-3.

Pemain lini tengah memang agak sulit, karena hanya akan ada 2 pemain tengah murni. 2 pemain di posisi sayap biasanya diisi oleh para full back dan wing back. Ketahanan fisik 2 pemain sayap ini adalah kunci dari formasi ini. Saat bertahan, mereka harus cepat turun mengantisipasi pergerakan lawan dari sayap. Dan di saat menyerang, keduanya harus padu menyisir sisi sayap ketika para pemain depan membutuhkan bantuan. Pemain sekelas Novan dan Maitimo bisa mengisi peran ini. Jika terdesak, pelatih bisa mengganti salah satu pemain dengan Okto atau Ellie, atau pemain yang memiliki kemampuan menyerang dari sayap yang baik. Lini tengah juga vital. 2 pemain tengah murni harus diisi antara pemain yang bersifat pengatur serangan (Taufiq dan Cussel) atau diisi pemain bertipe bertahan (Vendry). Pemain yang dipakai tergantung keperluan pelatih. Jika menghadapi lawan yang memiliki kecepatan dan teknik tinggi. Maka pemain yang bersifat defensif di lini tengah merupakan hal yang lumrah. Cussel memiliki kemampuan defensif lebih baik dari Taufik.

Lini depan, tidak ada opsi lain selain trio Andik-BePe-Irfan. Dalam pertandingan melawan Laos, peran Andik sebagai penerobos begitu kentara. Peran ini yang tidak bisa diperankan Irfan ketika bermain dalam formasi 4-4-1-1 karena dia turun terlalu dalam dan suplai bola kepadanya terlambat. Memainkannya di posisi sayap, mungkin bisa mengeksploitasi kemampuan menggiring bola atau membuka celah ke pertahanan lawan. BePe adalah target man, yang bisa saja sebagai pemantul dan penahan bola ketika terjadi serangan balik yang cepat. Formasi 3-4-3 atau 3-5-2 bisa saja diubah oleh Nil seperti menaruh Vendy dalam menopang pertahanan sebagai “false defender” dan mendorong Taufik dan Cussel sebagai pemberi bola. Bisa saja menaruh Cussel di lini tengah dan berada di belakang 2 striker. Butuh kejelian taktik Nil untuk menghadapi Singapore dan Malaysia. Kunci strategi ada di pelatih, dan kunci di lapangan ada pada pemain. Teruslah berjuang, Timnas Indonesia!

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: