Beranda > What I See > Hari Pahlawan: Apa Kita Mengingat Mereka?

Hari Pahlawan: Apa Kita Mengingat Mereka?

Bung Karno dan Bung Hatta diakui sebagai Pahlawan Nasional menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Banyak pro dan kontra tentang hal ini. Ada yang setuju bahwa Bung Karno dan Bung Hatta memang harus diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional mengingat jasa-jasa yang diberikan oleh mereka berdua selama Indonesia masih dalam penjajahan. Belum lagi mereka adalah bapak-bapak pendiri bangsa yang memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di sisi lain, ada yang menganggap bahwa gelar Pahlawan Nasional menurunkan “derajat” kedua orang ini sebagai Proklamator. Nama mereka begitu terkenal hingga nama Bandar Udara di Jakarta diberi nama Soekarno-Hatta. Tapi apakah gelar pahlawan atau proklamator itu menghilangkan esensi nyata dari kedua bapak pendiri bangsa tersebut?

Seorang pejuang, membela tanah airnya bukan sekedar ingin diakui sebagai pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang memberikan seluruh nyawanya bagi nusa dan bangsa. Dan saya pikir, kalaupun pahlawan itu tidak diberi gelar pahlawan nasional pun, mereka tetap bangga akan panggilan mereka dalam membela tanah air. Mungkin kita sulit membayangkan bagaimana Bung Karno dan Bung Hatta dibuang ke pengasingan oleh penjajah, atau diculik oleh para pemuda menuntut kemerdekaan pada hari itu juga. Jika kita merunut kembali, apakah mereka mengharapkan gelar untuk menjadi pahlawan? Dan jika kita masyarakat Indonesia saat ini lebih memikirkan sebuah gelar kebangsaan untuk dipakai sebagai merek pribadi bukankah itu suatu hal yang munafik?

Ingat! Bahwa pahlawan itu bukan seorang yang mau mengambil keuntungan atas apa yang telah diperbuatnya. Jika seseorang bertindak atas namanya sendiri tapi menggembar-gemborkan slogan-slogan persatuan, maka dia tidak lebih dari seorang yang munafik. Kembali ke Bung Karno dan Bung Hatta, terpilihnya mereka sebagai presiden dan wakil presiden bukan karena mereka yang menuntutnya tapi merupakan desakan dari setiap elemen bangsa. Berbeda dengan para “sok pahlawan” masa kini, berbekal duit segepok dan mengatakan diri sebagai pahlawan. Pahlawan yang sejati bukan hanya dinilai dari jasa-jasanya tapi juga dinilai berdasarkan ketulusannya. Seseorang yang berperilaku oportunis lebih memikirkan diri sendiri ketimbang kepentingan bangsa dengan berujar bahwa dia membela kepentingan bangsa. Di hadapan Tuhan saja, manusia bisa bermulut manis, apalagi di depan rakyat.

Bung Karno dan Bung Hatta adalah sosok-sosok yang memberikan pemikiran kebangsaan, bukan sekedar pemikiran ekonomi atau seni, bukan pula politik dan budaya. Tapi bagaimana menyatukan setiap elemen yang berbeda menjadi suatu kesatuan, suatu tubuh yang terdiri atas organ-organ yang berbeda satu sama lain. Kebangsaan itu seperti tubuh, yang berbeda-beda tetapi berada dalam satu tubuh. Konsep kebangsaan yang dikenal sebagai ideologi Pancasila bukan lahir dari pikiran pendek manusia. Melainkan lahir dari suatu visi ke depan akan berdirinya sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang berkelanjutan, bukan hanya memikirkan sisi ekonomi belaka, tetapi bagaimana menyatukan seluruh suku yang berbeda, budaya yang berbeda, alam yang berbeda untuk mencapai tujuan bangsa.

Jangan tanya apa yang harus negara bagi kita, tapi tanya apa yang harus kita berikan kepada negara. Pahlawan adalah mereka yang telah membaktikan diri kepada nusa dan bangsa tanpa pamrih. Nyawa adalah taruhan mereka. Tidak ada rasa penyesalan di dalam diri Bung Karno dan Bung Hatta dalam membangun negeri ini walau kadang jasa mereka dilupakan. Mereka tetaplah pahlawan walaupun mereka tidak diberi gelar pahlawan. Mereka tetaplah bapak pendiri bangsa yang tulus, bekerja untuk bangsa dan negara.

Mengutip perkataan John F. Kennedy, ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country! Pahlawan tidak pernah bertanya tentang apa yang negara telah berikan bagi mereka. Namun, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. Selamat memperingati Hari Pahlawan.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: