Beranda > What I See > Apa Cita-Cita Kamu?

Apa Cita-Cita Kamu?

Apa cita-citamu? Coba sejenak kita kembali ke dalam masa lalu kita, ketika kita masih sebagai balita atau masa di mana kita tengah beranjak menjadi anak-anak. Apa cita-citamu saat itu? Pilot, dokter, guru, polisi, tentara, insinyur, petani, dan yang paling keren adalah menjadi presiden. Jawaban-jawaban polos dari seorang balita atau anak-anak yang masih belum mengerti permasalahan orang dewasa. Cita-cita seseorang tentunya akan mendorong orang tersebut mencapai hal tersebut. Kata orang, cita-cita adalah tujuan, yang mendorong hidup sehingga kenapa ada buku yang berjudul The Purpose Driven Life.

Ketika seorang balita atau anak-anak berbicara tentang cita-cita, mereka tidak sedang membual untuk memimpikan hal tersebut. Waktu balita atau anak-anak tersebut mengatakan apa yang dia cita-citakan tentunya telah ada gambaran visual pada pikirannya sehingga dia bisa mengatakan demikian. Saat saya berada pada masa tersebut, saya bercita-cita menjadi seorang tentara angkatan laut. Saya berkata demikian karena saat itu pada acara Peringatan HUT RI, mama saya membelikan sebuah pakaian seragam seorang tentara angkatan laut yang begitu gagah. Itulah cita-cita pertama saya.

Dosen saya mengajukan sebuah pertanyaan apakah visi dan misi itu bisa berubah? Dia bertanya kepada mahasiswa-mahasiswanya, semua jawaban yang diberikan adalah sama yaitu visi itu tidak berubah sedangkan misi itu berubah. Kemudian dosen saya menceritakan ceritanya ketika dia mengambil pendidikan Magister. Seorang dosen tidak memberikan nilai A kepadanya karena jawaban atas pertanyaan yang sama. Jawaban yang beliau berikan sama dengan jawaban dengan mahasiswa-mahasiswa yang merespon pertanyaan tersebut bahwa visi itu tidak berubah tetapi misi itu berubah.

Aneh bukan! Sebuah konsep yang sejak lama tertanam bahwa visi itu tidak (pernah) bisa berubah sedangkan misi akan selalu berubah menyesuaikan dengan suatu masa untuk mencapai visi itu. Sang dosen beliau mengatakan demikian, visi itu bisa berubah. Ya, visi itu bisa berubah menurut masa dan waktu. Ketika seorang balita mengatakan dia akan menjadi seorang tentara angkatan laut, maka dia telah memiliki visi bahwa suatu saat nanti dia akan menjadi seorang tentara angkatan laut yang gagah, dengan medali-medali penghargaan di dadanya, dengan topi, baju yang berwarna putih, ada tongkat di tangannya, dan bintang di kedua bahunya yang menandakan dia seorang jenderal angkatan laut. Itu adalah visi dari seorang balita tersebut.

Lama kelamaan, waktu terus berjalan, dan sang balita pun perlahan beranjak dewasa. Menjadi seorang anak yang berusia 5-12 tahun memiliki pemikiran yang berbeda dengan balita yang kebanyakan berusia 3-5 tahun. Ketika pelajaran sekolah dasar mulai menjadi menu kesehariannya di samping bermain dan istirahat, maka dia mulai melupakan atau memikirkan kembali akan cita-citanya tersebut. Semula, dia berpikir akan menjadi seorang angkatan laut atau dokter atau pilot, dan sebagainya. Kali ini dia mulai melihat sosok-sosok lain dalam lingkungannya, dia mulai berpikir untuk menjadi seorang pemain sepakbola, pemain basket, aktor maupun aktris, dan sebagainya. Visi dia berubah, begitu juga misinya, dan begitu pula gaya hidupnya.

Memasuki masa SMP, visi untuk menjadi sesuatu yang dia cita-citakan kembali menjadi tanda tanya. Ada perasaan bisa atau tidak yang berkecamuk di dalam pikiran. Orangtua yang sadar akan bakat seorang anak sejak kecil, bahkan sejak balita, akan menuntun anak tersebut mengembangkan bakatnya menjadi sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Tapi, kebanyakan orangtua tidak seperti itu.

Masa SMA adalah masa pencarian jati diri, kata orang. Saat SMA dulu, telah mulai ada yang namanya penjurusan. Saya dimulai penjurusan saat kelas 3, angkatan saya adalah angkatan terakhir yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Angkatan di bawah saya, penjurusan sudah dimulai di kelas 2. Ingin menjadi apa yang kita cita-citakan perlahan mulai kabur. Kenapa mulai kabur? Ketika saya SMP, saya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Saya dipengaruhi oleh sosok tokoh dalam komik yang cukup terkenal saat itu Dragon Ball dan tokoh Son Go Han adalah idola saya. Tokoh tersebut menjadi inspirasi saya ketika ingin menjadi ilmuwan. Saat SMA, jalan itu terlihat begitu dekat karena saya mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada saat saya kelas 3. Visi saya seakan tidak berubah dan misi saya jelas masih sejalan dengan misi saya. Tapi apa yang saya dapati ketika saya di situ? Ketidakmampuan! Bukan karena ketidakmampuan dalam mengikuti kelas atau pelajaran yang diajarkan, tetapi lebih kepada ketidakmampuan dalam mencapainya. Perlahan terasa mulai berat menjadi yang demikian. Saya pun mulai mencoba mencari-cari cita-cita lain saat itu. Visi pun perlu mendapatkan revisi.

Kuliah, sebenarnya merupakan faktor penting dalam meraih cita-cita yang diimpikan. Misalnya, ketika saya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan sains, tapi ternyata dalam kenyataan saya mendapati diri saya di dalam dunia yang jauh berbeda dengan itu, dunia akuntansi. Saya pun mulai mengesampingkan cita-cita tersebut dan kembali mencoba dari awal. Tidak cuma saya yang demikian, seorang teman gadis saya, bercita-cita ingin menjadi seorang yang bekerja di dalam bidang kesehatan masyarakat, tetapi ketika dia mendapati halangan dan nasihat-nasihat dari orang-orang di sekitarnya, maka dia mendapati dirinya berada dalam posisi yang sama dengan saya. Dan bukan cuman dia saja, beberapa teman saya pun demikian. Visi pun dimulai dari awal.

Melewati waktu kuliah, secara tidak sadar kita telah menyelesaikan kuliah. Hal-hal yang kita impikan saat masa kuliah diuji pada dunia yang kejam, dunia pekerjaan yang nyata. Kenapa saya sebut kejam? Karena dipengaruhi oleh acara-acara tv yang memperlihatkan kekejaman dalam mencari pekerjaan. Pekerjaan merupakan faktor yang mendorong kehidupan ekonomi dalam diri. Perlahan-lahan kita mulai melepaskan apa yang disebut dengan ketergantungan dari orangtua melalui pekerjaan yang kita dapatkan. Makin lama, melalui apa yang kita kerjakan, kita malah membantu orang secara ekonomi ataupun secara pekerjaan. Kemudian menikah dan memiliki keluarga, dan mati dengan tenang. Itulah harapan-harapan ketika kita menyelesaikan kuliah. Dalam kenyataan, hal-hal yang tidak pernah kita sadari akan muncul yaitu perbedaan apa yang kita impikan dan kenyataan di lapangan. Saat saya kuliah, saya memikirkan cita-cita saya saat berada di akhir semester 6. Ketika saya magang di sebuah pabrik makanan, saya bercita-cita menjadi seorang analis yang bekerja di pabrik. Saya begitu menyukai dengan pekerjaan memprediksi dan mengatur strategi. Tapi kenyataan memang berbeda, sulit ternyata mencari pekerjaan yang saya inginkan. Visi diombang-ambingkan oleh kenyataan.

Saya pernah bertanya dan mendengar orang-orang dan teman-teman tentang cita-citanya. Ada yang berkata ingin menjadi sukses, menjadi kebanggaan orangtua, menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsa, atau menjadi seseorang yang memberikan dampak di dalam lingkungannya, dan sebagainya. Semua memberikan jawaban yang saya rasa begitu dangkal atau tidak ada gambaran pekerjaan apa sih yang demikian. Kebanyakan orang terjebak dengan situasi seperti ini, ingin menjadi sukses tapi tidak tahu apa pekerjaan yang bisa dibilang sukses. Sukses itu pun bagi sebagian orang terasa bias. Dan hal yang sama juga terbersit dalam pikiran saya, jika saya ingin menanamkan sesuatu yang bersifat everlasting, kemudian meninggalkan karakter yang luhur dalam lingkungan saya maka saya ingin menjadi apa? Pekerjaan apa yang harus kita tekuni untuk mencapai visi kita yang masih begitu mentah?

 

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: