Beranda > What I See > Malam Hymn

Malam Hymn

Jika manusia menyanyikan sebuah pujian penyembahan untuk Tuhan Allah yang begitu indah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana indahnya pujian para malaikat di sorga saat ini. Itulah gambaran keindahan lagu Hymn atau yang lebih dikenal lagu gereja-gereja tradisional atau lebih sedikit mengejek lagu Hymn sering dibilang lagu ketinggalan zaman oleh anak-anak muda saat ini (walaupun tidak semua). Mengapa lagu yang begitu indah dibilang ketinggalan zaman? Karena gereja-gereja yang menggunakan lagu-lagu Hymn ini tidak dinyanyikan dengan benar, dengan tulus, dengan perasaan dekat kepada Allah karena hanya dinyanyikan dengan monoton, tidak tulus, hanya sebagai bentuk kebiasaan setiap hari Minggu saja. Belum ada yang membuatnya dengan benar. Saya mengenal lagu Hymn sejak kecil ketika papa dan mama mulai membawa saya ke gereja di mana lagu-lagu Hymn itu dinyanyikan. Dan menghilang rasa cinta saya kepada Hymn ketika gereja mulai terlihat asal-asalan menyanyikannya. Saya kembali menemukan indahnya lagu itu ketika berkuliah, dan sampai saat ini saya mengerti betapa lagu Hymn itu begitu indah, begitu terasa dekat dengan Allah, dan membawa perasaan tenang dalam hati.

Hari Sabtu (15/9), gereja tempat saya beribadah sementara di Jakarta mengadakan suatu acara yang sangat bernilai jika dilewatkan, yaitu Hymn Night: Experiencing Him Through Hymn, sebuah acara di mana kita, jemaat gereja bersama paduan suara tentunya, akan menyanyikan lagu Hymn yang menurut saya akan dilakukan dengan benar, dengan tulus, dan bukan saja sekedar hiburan di malam yang panjang tapi untuk menciptakan sebuah pengalaman dalam menyanyikan Hymn. Suatu kesempatan yang tidak akan saya lewatkan tentunya.

Kali ini saya ditemani oleh salah satu kawan saya, Meydi Punuh atau Madam Meidy (begitu saya memanggilnya) ke gereja yang akan mengadakan acara tersebut, GKY Jemaat Greenville, tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Karena acara ini bersifat gratis, walaupun ada tiket, maka saya memutuskan untuk datang lebih awal ke sana supaya bisa mendapatkan tempat yang strategis dan nyaman untuk bersama menikmati pengalaman menyanyikan lagu Hymn. Benar saja, ketika kita tiba di gereja, bagian balkon gereja sudah terisi setengah penuh bagian tengahnya padahal itu masih jam 5 lewat seperempat. Orang-orang lain masih menunggu kerabat di lobi gereja yang kemudian naik ke atas memenuhi tempat duduk gereja ini.

Saya duduk di balkon bagian tengah, tepat di depan ruangan audio visual gereja. Para paduan suara tampak sedang masuk ketika saya telah duduk di bawah balkon. Kemudian para teknisi sedang melakukan persiapan terakhir secara teknis. Ruangan gereja pun mulai sedikit bising dengan para jemaat yang berlalu lalang di balkon, di bagian bawah juga sepertinya demikian. Banyak anak muda juga yang datang untuk melihat dan menikmati konser Hymn ini. Kalau mau jujur, sudah sangat jarang pemuda yang begitu mencintai lagu-lagu Hymn ini. Saya kenal beberapa orang pemuda yang mencintai Hymn, tetapi kebanyakan pemuda tidak tahu lagu Hymn itu seperti apa.

Suasana panggung ketika saya tiba di gereja.

Acara dimulai pukul 6 malam, tepat sesuai jadwal, dan kursi di balkon telah 95% penuh diduduki oleh jemaat. Masih juga ada yang lalu lalang seperti seksi sibuk dalam acara ini. Di layar LCD, pengumuman dilarang mengambil gambar atau video saat acara berlangsung dikampanyekan. Awalnya, kamera yang saya bawa terasa percuma karena pengumuman itu. Tapi seorang bapak yang duduk 2 baris di depan saya dengan pede memotret-motret dengan kamera profesionalnya dengan lensa tele berwarna abu-abu. Jepret sana jepret sini tanpa ada yang menindak berarti diizinkan untuk mengambil gambar. Di seberang kanan bapak yang jepret sana jepret sini duduk, seorang wanita muda (mungkin berusia 30 tahun) juga dengan taktis mengambil gambar dengan smartphone ukuran raksasanya yang berwarna putih (sebuah tab). Tanpa tunggu lama, saya pun meminta Madam Meydi mengeluarkan kamera saya setelah melihat situasi tersebut.

Seorang bapak, berpakaian rapi dengan jas, menjadi pembawa acaranya. Dia menjelaskan tentang Hymn sebagai pujian tentang Allah, sebagai penguat iman orang percaya. Dia melemparkan pertanyaan kepada dirinya dan jemaat, yaitu berapa banyak Hymn yang ada di dunia? Jawabannya adalah tidak pasti! Memang belum pernah ada yang mensensus lagu-lagu Hymn tapi ada juga beberapa sumber yang sebenarnya terlihat masih ragu-ragu dalam menjawabnya. Ada yang menyebutnya kurang lebih ada 10 juta Hymn ada juga yang menyebutnya kurang lebih 90 juta Hymn. Tapi pada akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa Hymn adalah produk budaya yang terbanyak diproduksi di dunia!! Musik yang tidak akan pernah lekang oleh zaman.

Lagu pembuka, dengan megah, Sungguh Besar Kau Allahku (How Great Thou Art) bergema di ruangan utama gereja ini. Dipandu oleh sepasang song leader, Ray dan Luciana, kemudian paduan suara dari GKY sendiri bergabung dengan suara ribuan jemaat menyanyikan lagu yang terdiri dari 3 stanza tersebut. Lagu tersebut membuat bulu kuduk saya berdiri, seakan-akan ada suatu yang besar hadir di hadapan kita, sesuatu yang hanya bisa kita lihat ketika kita menyanyikan lagu tersebut dengan penuh ucapan syukur dan tulus keluar dari hati. “Maka jiwa ku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku!” terdengar nyaring. Memang tidak seindah nyanyian para malaikat di surga tapi cukup menggugah hati-hati sombong saat itu.

Para jemaat belum diberikan jeda untuk berhenti memuji Tuhan, dengan musik bagai orkestra-orkrestra di gedung-gedung pertunjukan Eropa, lagu dengan judul Terpujilah Tuhan Di Tempat Yang Mahatinggi terlantun begitu indah. Saya juga takjub dengan jemaat di sini yang memenuhi tempat duduk gereja padahal ini hanyalah acara puji-pujian dan bukan KKR yang membawa embel-embel mujizat secara jasmani sehingga (jujur) lebih terlihat murahan. Jemaat masih berdiri dari tempat duduknya menyanyikan lagu tersebut. Kedua song leaders menyanyikan lagu dengan variasi-variasi suara yang berbeda namun selaras dan serasi dengan jemaat, paduan suara GKY tidak kalah semangat menyanyikan lagu tersebut, konduktor pun menggerakkan tangannya untuk memandu seluruh hadirin di situ yang sebenarnya saya nggak ngerti maksudnya. Lagu berakhir kemudian mimbar diambil alih oleh pendeta Tommy Elim selaku gembala sidang untuk membawakan doa pembukaan.

Sayang, penyelenggara tidak menyediakan buku lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Seakan menimbulkan kesan kejutan pada lagu-lagu yang akan dinyanyikan, jadi lirik-lirik lagu tersebut hanya ditampilkan pada layar LCD di depan.

Masih tetap berdiri, lagu ketiga pun dinyanyikan. Dengan irama yang lebih cepat, lagu berjudul Puji Nama-Nya dilantunkan. Lagu tersebut diiringi oleh tepuk tangan jemaat. Riuh rendah suara tepukan tangan beradu dengan suara musik dan suara nyanyian jemaat.

Kali ini jemaat telah duduk. Setelah menyanyikan 3 lagu Hymn secara berurutan yang berintonasi tinggi, lagu berikutnya diciptakan oleh Charles Wesley yang berjudul Kasih Ajaib O Mungkinkah. Lagu ini memiliki melodi yang menyenangkan. Naik turun bagaikan ombak di pantai, jemaat terlihat menikmati pujian ini. Bait lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara serta song leader kemudian bersama-sama dengan jemaat pada refrainnya. Pengalaman seperti ini pernah saya alami ketika di Manado, saat gereja saya mengadakan acara yang sama tapi dengan skala yang lebih kecil daripada saat ini.

Di GKY Greenville ini, ada paduan suara yang bernama Kaleb. Paduan suara ini berisikan para orang-orang yang sudah tua (mungkin di atas 60 tahun). Mereka maju ke depan menggantikan paduan suara sebelumnya. Di belakang mereka, pada kursi paduan suara terdapat paduan suara gabungan (mungkin PS Sanctus 1-4). Lagu yang ke 5 adalah lagu Kekuatan Serta Penghiburan. Ketika mendengar lagu ini, saya seperti berada di pemakaman, bukan karena lagu ini bersifat penghiburan semata atau terdengar mellow dan cocok untuk acara duka atau pemakaman mereka menyanyi tapi lebih karena pengalaman. Pengalaman saya terhadap lagu ini saya dapatkan kebanyakan ketika dalam acara-acara duka saja, jarang pada acara HUT atau acara gembira lainnya lagu ini dibawakan. Kebanyakan lagu dibawakan dalam acara-acara seperti itu adalah lagu Terima Kasih Tuhan. Bosan banget deh karena jarang ada variasi. Dalam lagu ini, saya menangkap kalimat “Suka Duka datang bergantian, ‘tuk perkuat imanku” kalimat yang murni, objektif. Mengapa? Karena sang penulis lirik ini tidak hanya menaruh dukacita semata sebagai alat untuk memperkuat iman, yang oleh kebanyakan orang diaminkan, tapi juga semua peristiwa sukacita sebagai alat memperkuat iman. Dari sisi-sisi demikian, saya menyukai lagu Hymn, karena mereka tidak munafik dan oportunis. Setelah lagu ini dinyanyikan, ada kesaksian seorang dewasa yang telah bergumul dengan lagu Hymn selama puluhan tahun.

Lagu yang berikutnya adalah I’d Rather Have Jesus (Ku Memilih Yesus). Lagu ini merupakan lagu Hymn yang paling sering dinyanyikan. Terlalu sering mungkin dinyanyikan. Lagu ini memiliki lirik yang indah pula “Ku memilih Yesus lebih dari semua” sebagai pernyataan bahwa Yesus adalah segala-galanya. Lagu ini tidak dinyanyikan oleh jemaat, tetapi ditampilkan dalam sebuah klip masa lalu.

Sang pembawa acara pun mulai menceritakan sebuah kisah tentang lagu Dia Peliharakan Burung (His Eye is On The Sparrow). Lagu ini terinspirasi dari perjalanan Civilla Durfee Martin, seorang wanita kelahiran Kanada, beserta suaminya ke Elmira, New York untuk mengunjungi sepasang suami-istri Mr. dan Mrs. Doolittle. Sang istri telah 20 tahun lebih terbaring di ranjang! Dan sang suami adalah orang lumpuh pengguna kursi roda. Di luar semua kekurangan mereka, keduanya hidup bahagia dalam Kristus, malah membawa inspirasi serta penghiburan bagi orang-orang di sekelilingnya. Suatu hari, suami Civilla, Walter bertanya tentang rahasia hidup mereka yang bahagia. Jawaban dari Mrs. Doolittle sangat sederhana: “His eye on the sparrow, and I know He watches me” yang artinya, Tuhan p’liharakan burung, pasti juga p’liharakan ‘ku. Suatu lagu yang tidak bersifat emosional yang kebanyakan menjadi tema-tema lagu-lagu kontemporer. Lagu ini justru lagu yang melambangkan 1 hal, yakin bahwa Tuhan (pasti) memelihara kita dalam keadaan apa pun. Kisah dari pasangan Doolittle ini menjadi inspirasi yang amat dalam bagi kita, yang hidup tanpa cacat tubuh atau terbaring di tempat tidur.

Lagu ke 8 dalam acara Hymn Night kali ini dibawakan solo oleh Ray, sang song leader. Judul lagu yang dibawakan adalah The Majesty And The Glory of Your Name. Jemaat dibawa dalam suasana menikmati lagu Hymn seperti mendengarkan lagu untuk menenangkan diri. Setelah Ray, sebuah paduan suara undangan dari Bandung membawakan 3 lagu berturut-turut. Diawali dengan lagu God So Loved The World, kemudian Be Thou My Vision, dan diakhiri oleh God is My Rock. Paduan suara ini ternyata tidak berasal dari satu denominasi gereja, tetapi dari banyak denominasi. Jadi terasa suasana Bhinneka Tunggal Ika dalam paduan suara tersebut.

Di layar LCD, muncul seorang pria yang bercerita tentang sebuah lagu Hymn. Dia bercerita tentang sekelompok misionaris yang mencoba menginjil di salah satu suku di pedalaman (setelah dicari di internet, ternyata di India). Para misionaris ini telah menjawab panggilan mereka sehingga tidak berputus asa ketika mereka ditolak. Ada sebuah keluarga yang mau menerima Kristus sebagai juruselamat. Sang kepala suku rupanya memanggil keluarga itu dan mempertanyakan imannya tersebut di hadapan penduduk. Kepala suku meminta kepala keluarga itu menyangkal Kristus supaya dia selamat. Tapi kepala keluarga itu tidak mau. Maka ancaman mati pun ditujukan, pertama kepada anak-anaknya, jika dia menyangkal Kristus maka anak-anaknya tidak akan mati dan keluarganya akan selamat. Tapi apa kata kepala keluarga tersebut, “I have decided to follow Jesus, no turning back.” Dan panah meluncur menuju pada anak-anaknya dan kemudian mati di tempat. Tidak tahu bagaimana suasana hati dari kepala keluarga tersebut. Kepala suku tersebut kembali meminta dia menyangkal Kristus, kali ini isterinya tercinta menjadi sandera di bawah ancaman hukuman mati jika dia tidak mau menyangkal. Jawaban kepala keluarga kembali menyakiti hati sang kepala suku, jawabannya “Though no one join me, still I will follow, no turning back” maka isterinya mati saat itu juga. Tinggallah si kepala keluarga, yang masih mendapat pengasihan dari kepala suku tersebut yang memaksa dia untuk menyangkal Kristus, maka dia akan selamat. Iman sang kepala keluarga kepada Kristus membuatnya menjawab kepala suku tersebut “The world behind me, the cross before me, no turning back” dan sang kepala keluarga mati. Cerita tidak berakhir begitu saja kawan, sang kepala suku rupanya penasaran dengan iman keluarga tersebut. Singkat cerita, kepala suku tersebut dan seisi desa percaya kepada Kristus dan kematian keluarga tersebut menjadi benih yang member kehidupan. Saya membandingkan kepala keluarga itu dengan rasul Petrus. Rasul Petrus, seseorang yang melihat Yesus Kristus, hidup bersama-sama dengan Dia, menyangkal tiga kali kepada Yesus. Sedang kepala keluarga ini, hidup pada masa jauh sesudah Yesus mati dan dibangkitkan, berani menyatakan imannya terhadap Yesus Kristus walaupun kematian di depan mata. Dia mati, dan mungkin dia dan keluarganya dijemput Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita?

Lagu I Have Decided To Follow Jesus digabung dengan lagu He Leadeth Me secara bergantian dinyanyikan oleh jemaat. Dan saya masih terkejut dengan cerita lagu I Have Decided To Follow Jesus karena lagu tersebut bernada gembira, beralunan cepat, dan tidak terlihat sesuatu yang mengerikan pernah terjadi sebagai inspirasi lagu tersebut. Artinya, menurut saya, kematian di dalam Yesus Kristus bukanlah sesuatu yang menyedihkan tetapi adalah sebuah keuntungan dan patut diterima dengan gembira. Rasul Paulus pun berkata demikian bukan.

Lagu berlanjut ke lagu milik Fannie J. Crosby. Kata pembawa acara, Crosby adalah salah satu penulis lagu Hymn yang paling produktif. Padahal dia buta karena kecelakaan sejak usia 6 tahun. Sebelum lagu dinyanyikan, saya sudah tebak-tebakan dengan Madam Meidy. Kemungkinan lagu yang akan dinyanyikan adalah Blessed Assurance (Jaminan Mulia), tapi ternyata bukan. Lagu yang dipilih adalah Dia Menggenggamku Dalam Tangan Teguh (He Hideth My Soul). Walau meleset, lagu ini termasuk lagu favorit dalam keluarga saya. Papa sering menyanyikan lagu ini. Dan sampai sekarang masih semangat dalam menyanyi.

Sebenarnya saya agak tidak sadar ketika lagu-lagu yang dinyanyikan ternyata telah mendekati akhir acara. Lagu ke 14 adalah lagu dengan judul Sandar Pada Lengan Yang Kekal (Leaning on The Everlasting Arm). Lagu ini juga sebenarnya diciptakan karena ada peristiwa duka yang terjadi kepada 2 orang murid dari Anthony J. Showalter yang bercerita tentang kematian isteri mereka. Ketika dia menulis surat balasan sekaligus ucapan turut berduka, Showatler terinspirasi dari frasa yang berada pada kitab Ulangan 33:27, saat Musa memberikan berkat kepada suku-suku Israel. Demikian frasa tersebut “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal.”

Lagu ke 15, adalah lagu yang telah umum kita dengar, Besar Setia-Mu (Great Is Thy Faithfullnes). Lagu yang terinspirasi dari kitab Ratapan, kitab yang ditulis oleh Nabi Yeremia, yang berbunyi “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habis rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23. Tapi lagu ini bukanlah lagu penutup. Setelah kita menyanyikan lagu tersebut, lagu Sandar Pada Lengan Yang Kekal menutup acara Hymn Night: Experiencing Him Through Hymn. Balkon penuh, dan saya yakin di bawah juga penuh. Kehadiran jemaat kali ini lebih banyak daripada kehadiran jemaat di kebaktian umum. Kebanyakan terlihat gembira dan ceria saat lagu ini berakhir. Saya keluar beberapa saat sebelum acara ditutup oleh pembawa acara. Pengalaman dengan Tuhan melalui lagu Hymn hari ini akan sulit dilupakan.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Februari 25, 2013 pukul 9:05 pm

    nice artikel. kunjungi blog saya http://christianhymn.blogspot.com
    Tuhan memberkati

    • Februari 26, 2013 pukul 8:58 am

      thx..

      sesama penggemar hymn ternyata hehe

      Gbu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: