Beranda > What I See > Kebahagiaan

Kebahagiaan

Kebahagiaan, apa yang dicari-cari orang selain hal ini? Sesuatu yang bisa membuat orang melupakan semua hal untuk mendapatkan kebahagiaan. Entah kebahagiaan itu berupa material ataupun berupa non-material. Sulit mendefinisikan kebahagiaan secara umum atau apa sih kebahagiaan bagi saya, kamu, dia, mereka? Dalam kamus bahasa Inggris Oxford, happy terdapat 4 pengertian. Pengertian yang pertama adalah perasaan, pemberian atau pengekspresian senang atau puas (feeling, giving or expressing pleasure; pleased). Yang kedua adalah digunakan dalam ucapan untuk mengekspresikan harapan-harapan yang baik (used in greetings to express good wishes). Yang ketiga adalah puas dengan sesuatu yang baik atau benar; tidak takut (satisfied that something is good or right; not anxious). Dan pengertian yang keempat adalah ingin atau senang mengerjakan sesuatu (willing or pleased to do something).

Kebahagiaan pada pengertian yang pertama, perasaan, pemberian atau pengekspresian senang atau puas. Kebahagiaan memang tidak lari dari yang namanya perasaan. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk lain karena dia diberikan yang namanya perasaan. Kebahagiaan adalah pengungkapan senang atau puas akan sesuatu yang seseorang lakukan, atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan, atau ada kejadian-kejadian yang memang memberikan seseorang itu kebahagiaan. Ekspresi-ekspresi demikian bisa saya temukan di tempat-tempat yang kumuh, atau di jembatan-jembatan penyebrangan di kota Jakarta, atau mereka yang duduk di kedudukan yang tinggi pun memiliki ekspresi yang sama. Walaupun bentuk atau apa yang diinginkan berbeda satu sama lain, tapi ketika hal itu terjadi maka timbulah kebahagiaan. Seorang anak yang mengemis meminta uang kepada seorang pejalan kaki, kemudian pejalan kaki itu memberikan sejumlah uang receh kepadanya, maka anak itu akan menunjukkan ekspresi bahagia. Anak itu bahagia dan dia merasakan kebahagiaan pada saat itu. Seseorang yang berdosa, berada dalam ancaman hukuman kekal, kemudian Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan yang berdosa itu melalui kematian-Nya, maka seorang yang berdosa itu akan menunjukkan ekspresi kebahagiaan. Ekspresi yang tulus bukan oportunis seperti kebanyakan orang. Pengertian yang pertama ini bersifat temporer, karena kejadian yang sama mungkin jarang terulang.

Pengertian kedua lebih meningkat dari yang pertama dalam hal sharing. Jika yang pertama kita mengekspresikan diri kita dengan perasaan kebahagiaan yang telah kita dapatkan, maka yang kedua ini adalah membagikannya. Greetings atau ucapan untuk sesuatu yang baik adalah ditujukan bukan kepada kita saja melalui pengertian yang pertama, tetapi juga untuk orang lain. Dalam dunia yang sempurna, kebahagiaan saya mungkin adalah kebahagiaan engkau, tapi dalam dunia yang berdosa ini banyak kasus yang menyatakan kebahagiaan saya belum tentu kebahagiaan kamu. Kebahagiaan mereka yang merampok akan suatu barang yang bernilai bukan berarti kebahagiaan bagi orang yang dirampok, malah sebuah kutukan yang akan keluar dari orang yang dirampok tersebut. Kebahagiaan dalam bentuk ucapan menandakan seseorang itu bahagia. Kenapa? Karena seseorang yang tidak bahagia malah akan lebih mencari kebahagiaan ketimbang orang yang biasa-biasa saja, artinya di sini sebuah kebahagiaan telah terjadi sehingga orang yang baru mengalami kebahagiaan tersebut ingin membagikan sebuah perasaan yang sama kepada orang lain. Sebuah pasangan yang baru saja menikah, sangat bahagia perasaan mereka, dan mereka akan membagikan itu dalam bentuk ucapan yang bahagia atau harapan-harapan yang baik bukan hal-hal yang buruk yang diucapkan. Seseorang yang baru saja sembuh dari penyakit kanker stadium empat akan merasa sangat bahagia (pengertian pertama) dan kemudian dia akan membagikan kebahagiaannya dalam bentuk kesaksian di gereja atau di mesjid atau di acara-acara arisan di mana dia bisa membagikan hal-hal yang bersifat bahagia tersebut. Sama seperti kita, orang-orang Kristen, ketika kita berdosa kemudian diselamatkan oleh Tuhan Yesus melalui kematian-Nya, kita merasa bahagia akan sebuah anugerah Allah yang luar biasa. Sama seperti orang yang baru sembuh dari penyakit kanker stadium empat, tentu kita akan mengabarkan hal bahagia tersebut kepada orang banyak, di gereja atau di rumah, dalam sebuah acara ibadah sebagai ungkapan kebahagiaan kita yang telah diselamatkan (pengertian pertama) kepada orang-orang lain yang mungkin belum diselamatkan (pengertian kedua).

Setelah melewati 2 pengertian, yaitu bagaimana kita merasakan dan mengekspresikan kebahagiaan dalam diri dan kemudian mengabarkannya kepada orang lain. Pengertian yang ketiga makin sulit lagi tantangan yang dihadapi. Puas dengan sesuatu yang baik dan benar serta tidak takut. Entah apa artinya sebuah kebahagiaan jika diliputi rasa takut. Kebahagiaan tidak akan hadir juga dalam kepuasan yang salah, artinya jika kita bahagia karena sesuatu yang salah maka itu bukanlah sebuah kebahagiaan tetapi lebih kepada sesuatu yang bersifat kejahatan. Kebahagiaan tidak akan ada dalam sesuatu yang tidak memuaskan, kebahagiaan tidak akan hadir dalam sebuah kepuasan yang salah, dan kebahagiaan tidak ada dalam rasa takut. Kebahagiaan seperti yang dikatakan sebelumnya bersifat sebagai perasaan ketimbang tindakan. Orang yang bahagia akan memusatkan kebahagiaannya untuk membuat orang lain bahagia dan itu akan memuaskan kebahagiaannya. Bukan semata-mata bahagia hanya melalui pengekspresian diri sendiri kemudian dibagikan kepada orang lain yang lama-kelamaan akan membuat diri anda ego-sentris. Kenapa ego-sentris? Seseorang yang terlanjur bahagia kemudian melalui kebahagiaannya dia membagikan hal-hal yang berharga yang membuat dirinya bahagia akan hal itu. Tetapi karena manusia itu berdosa, maka akan ada yang namanya comparison effect dalam diri manusia tersebut. Ada efek pembandingan diri sendiri dengan orang lain. Dan akibatnya muncul egoisme dalam diri sendiri dan mulai mementingkan kebahagiaan diri sendiri tanpa memperhatikan orang lain. Melihat orang lain bahagia (kemudian dipanas-panasi bahwa orang lain itu jauh lebih (terlihat) berbahagia ketimbang kita) akan membuat telinga panas, dan lama-kelamaan kita akan menjadi takut akan tersaingi oleh orang lain yang kemudian akan membawa kita mencari-cari kebahagiaan yang egoistis. Satu contoh yang baik dari Alkitab mengenai hal ini adalah Yohanes Pembaptis. Siapa yang tidak kenal Yohanes Pembaptis? Dia adalah utusan yang mendahului Tuhan Yesus. Dia adalah orang yang besar sebelum Tuhan Yesus turun melayani. Pada suatu ketika, Tuhan Yesus makin terkenal dan makin besar nama-Nya di antara orang-orang Yahudi pada waktu itu. Sedang Yohanes? Dia berada di penjara dan hanya mendengar tentang pekerjaan-pekerjaan mulia dan ajaib Yesus. Tapi apa dia merasa tersaingi? Tidak! Hal yang membuat diri Yohanes tidak merasa tersaingi adalah kepuasan dia karena telah melakukan pekerjaan yang baik dan benar. Dia tidak merasa cemburu. Yohanes Pembaptis sangat jelas berkata tentang kebahagiaannya tersebut dan menggambarkannya sebagai seorang sahabat mempelai laki-laki dan sukacitanya telah penuh ketika Yesus (mempelai laki-laki yang dimaksud) datang. Kalimat yang terkenal dari Yohanes Pembaptis “Ia (Tuhan Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kepuasan yang luar biasa akan sebuah kebaikan dan kebenaran. Dan satu lagi, Yohanes Pembaptis tidak takut merasa tersaingi karena sukacitanya telah penuh dan Tuhan Yesus mengatakan “Tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes.”

Yang terakhir adalah pengertian bahagia adalah ingin dan senang mengerjakan sesuatu (saya tambahkan sesuatu yang baik dan benar). Kebahagiaan seseorang bisa terlihat dari bagaimana mereka mengerjakan sesuatu. Tentu banyak kutipan-kutipan yang berkata bahwa kebahagiaan ada jika kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai. Tapi sayang, memang banyak orang yang bahagia mengerjakan sesuatu yang dia cintai tapi dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Suatu tindakan yang sebenarnya lebih kepada pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang sesungguhnya. Seseorang yang bahagia akan melakukan sesuatu yang benar dan baik. Dia tidak ingin kebahagiaan itu hanya berada pada dirinya sendiri, dia ingin membagikannya sebagai bentuk kebahagiaan dia. Semua hal dalam dunia ini yang menyangkut perasaan memang (akan) berujung kepada sebuah tindakan. Seorang lelaki yang mencintai seorang wanita, dia bahagia, tapi apakah dia hanya akan berkata setiap hari “I love you” tanpa disertai tindakan cinta? Dia akan bahagia melihat wanita itu bahagia. Apakah tindakan itu bersifat egoistis atau universal sebagai kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan saya. Satu hal yang saya temui adalah ketika orang-orang menyatakan bahwa kalau mereka bahagia tergantung diri mereka sendiri. Suatu hal yang egois jika kita bahagia dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain bukan. Kain adalah salah satu contoh yang paling pas untuk menggambarkan kebahagiaan yang salah. Kain adalah anak Adam yang pertama, tersulung, tanpa basa-basi pun saya berani bertaruh dia adalah orang yang lebih giat bekerja ketimbang adiknya Habel. Dia merasa bahagia akan hal yang dia kerjakan, sama seperti Habel. Apa yang Kain kerjakan sebagai petani adalah seturut hatinya dan tanpa ada paksaan dari Tuhan maupun orang tuanya (Adam dan Hawa). Habel pun melakukan hal yang sama. Perbedaan muncul di antara keduanya ketika mereka berdua akan mempersembahkan korban untuk Tuhan. Kebahagiaan Kain hanyalah untuk dirinya sendiri, terlihat dari persembahan korban bakaran yang diberikannya kepada Tuhan. Rupanya sulit bagi Kain untuk membuat sesuatu yang baik dan benar bagi orang lain. Sebaliknya Habel, memberikan persembahan yang mengindahkan hati Tuhan. Dia bahagia melihat Tuhannya bahagia. Kemudian muncul permasalahan dengan Kain, dia menjadi cemburu dengan adiknya dan membunuhnya. Kebahagiaan? Lebih cenderung menimbulkan rasa takut dalam diri Kain. Kebahagiaan lain yang berbeda dengan kebahagiaan Kain adalah kebahagiaan Daud. Daud, raja yang memerintah Israel setelah Saul, begitu dekat dengan Tuhan. Dia begitu akrab dengan Tuhan sehingga ketika dia berbuat dosa yang keji (melalui kacamata manusia juga karena semua dosa sama keji di hadapan Tuhan), Daud sangat gundah gulana. Tapi bukan kisah itu yang ingin saya angkat sebagai contoh terakhir. Kita tahu bersama, bahwa bukan Daud yang mendirikan Bait Allah di Yerusalem, Salomo lah pendirinya. Tetapi Daud sangat gundah gulana karena dia tinggal di istana sedangkan Tabut Tuhan (lambang kehadiran Allah saat itu) hanya tinggal di kemah. Tuhan tidak mengizinkan Daud mendirikan Bait Allah tapi anaknya. Pendeta Bubby Ticoalu memberikan saya banyak pemahaman akan hal ini. Daud, walaupun dia tidak mendirikan Bait Allah, tapi dari jauh hari dia telah mempersiapkannya (1 Tawarikh 22:2-19). Dia tidak berpangku tangan dengan (mungkin) berkata “biarlah Salomo yang mempersiapkan pembangunan Bait Allah itu, toh dia yang disuruh Tuhan.” Tapi apa yang dilakukan Daud sungguh merupakan hal yang luar biasa, dan dia bahagia akan hal itu walaupun dalam kesusahan (1 Tawarikh 22:14). Orang yang bahagia ingin dan senang melakukan sesuatu yang baik dan benar sekalipun itu memberikan resiko hidup susah untuk juga membahagiakan orang lain. Dia berbahagia untuk melakukan sesuatu yang orang lain bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Penutup tentang hal ini, kisah tentang Carl dan Ellie dalam film Up adalah bagaimana kita bahagia dan ingin melakukan sesuatu yang baik dan benar yang membuat orang lain bahagia.

Kebahagiaan itu bukanlah milik kita sendiri, tapi juga orang lain. Apakah kita merasa tersaingi melihat orang lain lebih bahagia daripada kita (menurut pandangan orang)? Saya rasa tokoh-tokoh dalam Alkitab telah mengatakan kepada kita bagaimana kebahagiaan yang sesungguhnya. Rasul Paulus berbalik dari kebahagiaan yang bersifat egoistis menuju kebahagiaan yang bersifat kekal yaitu kebahagiaan yang membuat Tuhan bahagia walaupun dirinya menghadapi tantangan. Dia pun sempat bernyanyi di dalam penjara! Mungkin banyak salah dalam tulisan ini, tapi saya yakin bahwa kebahagiaan bukan hanya untuk diri sendiri dan kebahagiaan yang sejati hanya datang dari Tuhan. Saya yakin bahwa tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dan lebih indah daripada kita membahagiakan Tuhan. Kebahagiaan adalah ekspresi, ucapan, kepuasan, dan keinginan melakukan sesuatu yang baik dan benar untuk sama-sama berbahagia.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: