Beranda > Museum > Museum Nasional RI (Kali yang Ketiga)

Museum Nasional RI (Kali yang Ketiga)

Hari Sabtu (8/9), panas menyengat Jakarta saat waktu menunjukkan pukul 2 siang. Tidak tanggung-tanggung. Selesai kuliah, dengan perlengkapan kuliah yang masih dipundak menuju ke Museum Nasional RI. Ini kali ke 3 saya ke sana, tapi pertama kalinya pergi ke museum sendiri. Pada kunjungan pertama, saya pergi bersama Andri (baca Weekend di Museum Nasional). Pada kunjungan kedua, saya pergi bersama Andri, Wuri, dan Gilang (baca Museum Nasional RI (Part II).

Dari Universitas Trisakti ke mall Ciputra atau yang lebih dikenal dengan nama CL untuk urusan yang sebentar sebelum bertolak ke Museum Nasional yang berada dekat dengan Monas. Dari CL, saya lebih memilih mengambil busway dari Halte Jelambar. Alasannya halte Grogol selalu penuh kalo jam segini dan memang analisa saya tidak salah. Halte Grogol memang penuh. Antrian berdesak-desakan di tengah udara panas yang memang sudah biasa terjadi. Kemudian busway yang saya naiki hanya melewati antrian itu begitu saja padahal mereka mungkin (kebanyakan) bertujuan ke Harmoni. Tapi tak apa, busway pun tidak terlalu penuh dan penumpang cukup nyaman di dalamnya. Saya duduk dan menikmati perjalanan ke Harmoni yang sesekali tersendat akibat macet di flyover ITC Roxy.

Dari Harmoni, saya bisa memilih satu dari 2 cara untuk menuju ke halte Monas yang langsung berseberangan dengan Museum Nasional. Cara yang pertama adalah mengambil busway jurusan Pulogadung dan yang kedua adalah mengambil busway jurusan Blok M. Tapi saya lebih memilih cara yang kedua mengingat frekuensi busway jurusan Blok M lebih banyak ketimbang jurusan Pulogadung.

Panas! Setibanya di Harmoni, ada antrian panjang dan berdesakan tepat di pintu turun/naik busway. Udara sejuk karena AC busway, walau sebenarnya pas-pasan sih, hilang ketika turun di antrian yang berdesakan. Saya kasihan dengan mereka (yang antri) yang kepanasan dan disuruh membuka jalan setapak untuk penumpang yang turun. Mungkin karena hal tersebut, ditambah dengan belum datang-datangnya busway yang akan mereka naiki, terjadi debat antara seorang penumpang yang tengah mengantri dengan seorang busway. Bapak tersebut komplain dengan pelayanan busway yang lama, sedang sang petugas membela diri karena tidak tahu apa-apa dengan keterlambatan busway. Mereka hanyalah korban sistem busway yang tidak jalan dengan semestinya. Jika adanya koordinasi antara petugas Polantas dengan Pemda DKI Jakarta soal jalur busway adalah jalur yang perlu dilindungi dari kendaraan-kendaraan lain, maka hal-hal demikian mungkin akan jarang terjadi. Udara di luar masih panas.

Antrian tadi, yang memanjang berdesakan itu rupanya sedang antri di depan pintu turun/naik busway jurusan Pulogadung. Syukur sejak semula saya ingin antri pada jurusan Blok M. Di tempat pintu yang bertuliskan Blok M tidak banyak antrian. Ada 20an orang yang kemudian dalam beberapa saat jumlahnya bertambah dengan cepat menjadi berpuluh-puluh orang kemudian menjadi ratusan. Di kesempatan pertama saya langsung naik ke busway.

Halte busway Monas, sangat sejuk walaupun tidak sesejuk udara di Puncak atau daerah pegunungan, tapi cukup di tengah terpaan udara panas yang ada di luar sana. Halte Monas memang demikian karena dilindungi oleh pepohonan yang rindang sehingga intesitas panasnya udara menjadi berkurang. Di museum, di halamannya seperti biasa sepi dan hanya ada penjual cinderamata di situ yang menyejukkan diri di bawah lindungan museum.

Harga karcis masuk Museum Nasional tidak berubah, tetap berharga lima ribu untuk akhir pekan. Saya guyon dengan bapak yang di loket โ€œbelum naik ya pak?โ€ dan si bapak cuma senyum. Suasananya pun tidak berubah, tetap sepi.

Mulanya saya ingin memulainya dari ruangan arca (ruangan favorit), tapi ada desakan alam yang meminta saya ke belakang sebentar (perlu dibilang sih sebagai alasan kenapa mulainya dari belakang). Keluar dari situ, saya melihat benda unik yang dipajang di situ. Benda peninggalan masa purbakala bernama Sarkofagus alias tempat untuk menyimpan jenasah. Pada informasi yang tertera mengenai sarkofagus, dijelaskan bahwa sarkofagus adalah tempat jenasah untuk mereka yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat atau orang yang dituakan/dihormati. Modelnya seperti bak mandi masa sekarang. Jadi langsung muncul tebak-tebakan iseng soal ini. Mungkin bak mandi yang umum kita lihat berasal dari model sarkofagus ini. Tempat mayat masa lalu.

Sarkofagus, bentuknya mirip bak mandi. Tempat penyimpanan mayat pada masa lalu.

Banyak orang asing di museum ini yang sekedar melihat-lihat betapa menariknya peninggalan-peninggalan bangsa Indonesia pada masa lampau. Sedikit orang lokal yang terlihat. Ada orang lokal (udik mungkin) foto di atas tatakan Arca Harihara (yang dilarang memang) sambil berpose bangga lagi. Orang-orang asing sendiri mencoba mengabadikan apa yang mereka lihat. Beberapa di antara mereka menggunakan guide sehingga membuat iri saya (saya tidak tahu apa kita juga bisa menyewa guide atau tidak). Sesekali ingin juga ada guide yang menerangkan kepada saya tentang arca-arca atau relief-relief yang terpajang di ruangan arca tersebut yang setengahnya tidak memiliki informasi sama sekali.

Karena tidak ada teman, dan ini memang disengaja, maka kali ini menyasar tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi atau ruangan-ruangan menarik tapi pada waktu ke sini sebelumnya saya hanya numpang lewat saja. Pertama nyasar ke ruangan tekstil. Banyak karya-karya asli dan khas daerah-daerah di Indonesia. Seperti songket dan semacamnya. Karya-karya asli negeri ini akhir-akhir ini mulai bangkit karena provokasi negara tetangga. Kain-kain tradisional khas negeri ini mulai dicampur gaya-gaya modernisme untuk memuaskan pasar sekaligus tidak menghilangkan khas kain tersebut. Lihat saja batik saat ini, bukan sekedar identitas masyarakat Jawa semata, tapi telah memiliki kesan ke-Indonesia-an. Andai saja tidak ada klaim sembarangan (dan tentunya ngawur) dari negara tetangga, maka batik mungkin tidak akan menjadi produk yang meng-Indonesia karena (mungkin) tidak akan diwajibkan oleh pemerintah. Kadang saya berpikir bahwa negara tetangga tersebut ada untuk memberikan bangsa Indonesia sedikit kesadaran atas produk lokalnya. Walaupun kadang-kadang memang sangat fatal, tapi ampuh untuk membangkitan rasa sadar bahwa produk asli negara ini ada serta perlu diberi perhatian.

Kain tradisional khas suatu daerah. Gua lupa apa karena nggak sempat cari informasinya.

Saya masih bolak-balik di ruangan arca sekeluarnya dari ruangan tekstil. Pintu masuk ruangan tekstil memang berada di taman tengah museum. Sehingga ketika keluar dari ruangan tekstil, ketemu arca lagi. Tapi tak masalah. Saya senang dengan arca-arca juga sih.

Sekeluarnya dari ruangan tekstil, ada model arsitektur aneh tapi memiliki konsep yang sama yaitu vertikal. Mungkin dua model bangunan tersebut (semacam menara) adalah pintu gerbang ke suatu tempat, istana mungkin, atau memang arsitektur bangunan istana sendiri. Saya tidak tahu. Tidak ada penjelasan tentang batu yang terukir menyerupai bangunan tersebut. Kedua peninggalan ini berbeda satu sama lain dalam hal ukiran, bentuk atap (yang satu menyerupai kubah, yang satunya segitiga).

Benda peninggalan yang atasnya berbentuk piramida.

Yang ini atasnya berbentuk kubah seperti yang ada di Timur Tengah.

Banyak benda unik lain yang saya dapati di ruangan arca. Ganesha banyak mendominasi di sini. Atau dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu. Ada juga Brahma.

Arca Dewa Siwa.

Selain arca Dewa Siwa, saya juga mendapati arca lain yang unik yaitu arca Garuda. Sayang arca Garuda ini sudah tidak utuh. Bagian yang menunjukkan bahwa arca ini arca Garuda sudah cacat yaitu bagian paruh. Dari jauh, hanya terlihat seperti pertapa yang menggunakan masker (emang dulu ada masker gitu ya). Tapi ketika mendekat, langsung dapat dikenali bahwa arca ini adalah arca Garuda yang dikenal sebagai kendaraan dewa Wisnu. Arca Garuda yang sama adalah lambang negara Indonesia Garuda Pancasila. Sultan Hamid II dari Pontianak lah yang memilih penggunaan Garuda sebagai lambang negara. Sungguh sebuah toleransi beragama yang sangat tinggi terjadi, Sultan Hamid II, dari namanya adalah seorang muslim mengambil sosok Garuda yang notabene berasal dari Hindu. Saat ini, lambang PMI aja sudah jadi masalah. Aneh-aneh aja negara ini.

Arca Garuda.

Kembali ke dalam museum setelah keliling-keliling di taman tengah karena kepanasan. Melihat arca yang paling banyak menarik perhatian orang yaitu arca yang menggambarkan raja Adityawarman yang berdiri kokoh menghadap ke arah selatan museum. Banyak orang yang ingin mengabadikan gambar arca setinggi 4 meter lebih itu. Tapi topi yang dipake kok lebih mirip topi koki sih ya hahaha.

Arca raja Adityawarman.

Karena ada urusan jam 3, selain kelaparan sih, saya mengakhiri jalan-jalan ke museum dengan berkunjung ke gedung B. Tidak seluruh lantai yang saya kunjungi, hanya sampai lantai 2 mengingat waktu juga (selain perut). Kali ini suasana agak rame, sekitar 10an orang berlalu lalang di lantai ini. Ada yang berjalan sekeluarga, ada yang berpasangan, ada yang sendirian (saya dan seorang pria asing). Saya juga melihat benda-benda yang sebelumnya sudah saya lihat. Ada bel gereja dari Tomohon, Sulawesi Utara di situ. Kaget juga lihat bel gereja Katolik dari Tomohon dipajang di museum ini.

Bel gereja Katolik dari tahun jadul dipajang di museum ini.

Saya beranjak dari museum pada pukul 2 lewat 40 menit sebelum ke tempat lain. Sebenarnya suasana masih seperti biasa sepi. Tidak ada event menarik dari Museum Nasional yang bisa menarik pengunjung lebih banyak jadi museum ini lebih sebagai tempat menyimpan barang-barang kuno. Sayang sekali museum belum diberdayakan dengan sebaik-baiknya di negara ini.

Iklan
Kategori:Museum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: