Beranda > What I See > Kematian, Lembaran Baru Kehidupan

Kematian, Lembaran Baru Kehidupan

Kematian, sesuatu yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Bukan hanya manusia saja, tetapi juga seluruh makhluk hidup. Tidak ada yang dapat berdiri bertahan melawan kematian. Kematian datang kapan saja, tanpa memandang bulu. Dia bisa saja datang pada orang kaya dan orang miskin, orang sakit maupun orang sehat, orang muda, orang tua, bayi, remaja. Entah orang itu adalah sosok penting atau tidak, pahlawan atau pecundang, presiden atau gembel, semua pasti akan menghadapi apa yang namanya kematian. Kematian itu adil.

Pada batu-batu nisan di kuburan-kuburan, tertulis “Telah Beristirahat dalam Damai” atau dalam bahasa Inggris diucapkan “Rest In Peace”. Kalau orang Kristen, biasanya tertulis “Telah Berpulang ke Rumah Bapa”. Umumnya juga adalah penggunaan “Di Sini Dimakamkan … Terkasih”. Damai, ya kematian seakan menenangkan mereka yang telah siap untuk mati. Dan makanya kenapa orang-orang bodoh yang pikirannya pendek selalu bunuh diri karena mereka tidak menemukan damai di dunia ini.

Menurut Steve Jobs, dalam pidato terkenalnya di Universitas Stanford pada 2005, berkata bahwa kematian adalah salah satu penemuan terhebat dari kehidupan, kematian adalah agen perubahan hidup. Setelah dipikir-pikir, pernyataan Steve Jobs memang benar. Seandainya tidak ada kematian dalam kehidupan manusia, maka tidak ada yang namanya regenerasi. Orang yang sudah menduduki posisi tertinggi dalam suatu organisasi mungkin tidak akan mundur mengingat dirinya tidak akan mati.

Salomo, dalam kitab Pengkhotbah berkata “Aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup”. Memang demikian, orang-orang yang sudah mati akan lebih bahagia daripada kita yang hidup. Kita yang hidup masih mengantri dalam satu antrian yang kita sendiri tidak tahu di mana posisi kita berada. Masih menunggu giliran.

Manusia hidup untuk mati? Suatu pernyataan yang kelihatannya benar tetapi memiliki pengertian yang dangkal dan tidak sesuai kenyataan. Kenapa? Jika manusia hidup untuk mati, mengapa mereka tidak mengakhiri hidup mereka saat mulai mengerti akan pernyataan ini? Tetapi mereka hidup, berusaha untuk menantang kehidupan dan kemudian mereka mati dengan gagah. Itulah pahlawan. Kematian ada untuk membuka perspektif dan wawasan baru, menggeser status quo dengan pembaharuan. Yang lama berlalu berganti yang baru. Ada ungkapan bahwa sebuah benih kalau tidak jatuh ke tanah dan mati, maka tunas baru tidak akan pernah muncul.

Apa yang kita lakukan jika orang-orang yang kita kasihi mengalami kematian? Berduka. Sebagai manusia, adalah sewajarnya kita berduka atas kepergian orang-orang yang kita kasihi. Sebagai manusia, adalah sewajarnya kita sedih atas kepergian orang yang kita kasihi. Di satu sisi, kepergian orang yang kita kasihi akan membuka lembaran baru dalam kehidupan kita, lembaran yang masih belum bertulis dalam kehidupan kita. Orang-orang yang kita kasihi seperti sebuah buku tulis, yang di dalamnya terdapat pengalaman-pengalaman yang kita tidak akan terlupakan yang nantinya akan berakhir. Film animasi Disney, Up, ketika Carl sedang bernostalgia dengan buku petualangan milik Ellie, istrinya, dia berhenti pada lembaran terakhir. Di situ ada foto mereka berdua yang sudah berusia lanjut, duduk di kursi yang sederhana, dan memancarkan senyum mesra dan tulus. Di bawah foto itu tertulis “Thanks for the adventure – now go have a new one!”. Orang-orang yang kita kasihi pun mungkin akan berkata demikian, walaupun mereka telah tiada, mereka akan berkata “Thanks for the adventure – now go have a new one!”.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: