Beranda > Shushan's Column > Indofood di Tomohon of Flower 2012

Indofood di Tomohon of Flower 2012

Tidak seperti biasanya, Rabu (8/8) ini saya mempersiapkan diri lebih awal dan menggunakan kemeja brand serta sepatu kets. Biasanya setiap hari Rabu sekitar jam 6 pagi, saya menunggu bus antar-jemput karyawan Manado-Bitung dengan menggunakan setelan blazer biru (seragam kerja hari Senin dan Rabu). Sehari sebelumnya, saya sudah janjian dengan ibu Meivi (PDQC Spv), Oliv (staff HR) dan Nova (kasir) untuk bertemu di suatu tempat, namun belum dipastikan di mana tempatnya. Pagi itu, sementara siap-siap, saya mendapat SMS untuk kumpul jam 6 di depan Minimarket Fiesta. Selanjutnya kita berempat diantar oleh seorang rekan bukan ke Bitung tapi ke Tomohon untuk mengikuti acara TOF (Tomohon of Flower).

TOF merupakan bagian dari rangkaian acara Tomohon International Flower Festival (TIFF) yang menampilkan iring-iringan float (kendaraan yang dihias dengan bunga). Semacam Pasadenanya Indonesia. TIFF sendiri berlangsung selama 5 hari mulai tanggal 8 – 12 Agustus.

Saya tiba di Fiesta jam 6, tapi kita berangkat dari Manado sekitar jam setengah tujuh (agak lama juga menunggu bapak yang akan mengantar kita berempat). Perjalanan Manado-Tomohon pagi itu lancar, hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam. Cuaca cerah dan udara pagi terasa sangat nyaman. Tapi setibanya di Tomohon beberapa jalan sudah ditutup sehingga kita harus mencari jalan alternatif untuk sampai di lapangan tempat kumpulnya float. Ibu Meivi dan Oliv menelepon teman –teman di Bitung untuk menginformasikan kita sudah tiba di Tomohon sekalian memberikan petunjuk jalan yang bisa dilewati, jadi mereka nantinya nggak perlu mutar-mutar lagi kayak kita.

Sesampainya di lapangan sudah ada bermacam-macam float dari berbagai perusahaan, daerah, organisasi, bahkan dari mancanegara yang berbaris rapi di dua sisi lapangan. Beberapa di antaranya float Indofood, Pertamina Geotermal, BCA, Bank Sulut, W1N, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Bitung, Pagar Alam (Sumatera Barat), Forum Kerukunan Umat Beragama, Amerika, Belanda, dan Korea. Jumlahnya sekitar 36 float. Di dekat float Indofood sudah ada pak Sulis (Tek Spv) dan Gideon (Tek Opr) yang ikut menyelesaikan float Indofood sejak subuh bersama tim dekorator. Wuihh! berangkat dari Bitungnya sejak dini hari tuh. Ada juga dua pasang siswa-siswi yang menggunakan pakaian adat Minahasa yang nantinya akan naik di atas float. Float Indofood berupa mangkuk mie raksasa, lengkap dengan mie dan sumpitnya. Brand yang dipakai adalah Indomie dengan motto “Berbeda-beda,  Satu Selera”. Sumpitnya dibuat agar bisa bergerak seperti sumpit yang digunakan saat makan. Seluruh permukaan kendaraan dan mangkok dihias dengan bermacam-macam bunga. Krisan, marigold dan aster mendominasi. Kata tim teknik dan dekorator, sebenarnya dalam mangkok mie akan dibuat efek uap dengan dry es tapi tidak jadi. Di depan float Indofood ada float Pertamina Geotermal berbentuk cerobong yang mengeluarkan (kita pikir) uap. Gideon lalu bilang, beda uap dengan asap. Di dalam float mereka ada yang membakar kertas bekas sehingga dari cerobongnya keluar asap. Duh, pencemaran udara dong….

Kita langsung berfoto-foto dan yang lain langsung mengupdate status mereka. Tim dekorator mengingatkan kita agar jangan berdiri dan berfoto terlalu dekat dengan float agar dekorasinya tidak rusak. Tiap float memang punya tim dekoratornya sendiri. Tim dekorator float kita ada 3 orang.

Tak berapa lama Astrid, teman kita yang tinggal di Tomohon tiba. Biasanya dia pulang ke Tomohon seminggu sekali, hari Sabtu sampai Minggu, kali ini dia di Tomohon sejak kemarin. Kita rencananya akan ikut berjalan dalam iring-iringan TOF. Sudah disiapkan topi sombrero (Mexican flavor :p) yang dihias dengan bunga dan mie yang terbuat dari styrofoam juga kaos brand yang didesain khusus untuk ajang TOF. Kita berganti kaos dan menunggu teman-teman dari Bitung. Selagi menunggu satu persatu float mulai keluar dari lapangan, sambil terus diingatkan oleh panitia agar tim decorator memperhatikan jalan yang akan dilewati float agar bersih terutama dari benda tajam sekaligus mengarahkan supir yang membawa float. Maklum, agak ribet juga supirnya kalo mau lihat jalan. Float kita juga mulai jalan. Jalannya berhenti-berhenti karena menjaga jarak dengan iring-iringan yang lain. Sekitar jam 9 rombongan dari Bitung tiba. Float Indofood masih terparkir manis di tengah lapangan, menunggu aba-aba untuk lanjut jalan lagi. Mereka langsung berganti kaos dan ikutan foto-foto juga.

Dari kiri-kanan: siswa, Astrid, pak Sulis, Susan, ibu Meivi, siswi, pak Dani, siswi, Oliv, Nova, siswa

 Akhirnya kita keluar dari lapangan. Melewati jalan yang sempit sebelum tiba di jalan utama, float berjalan perlahan-lahan. Saat di depan rumah mantan wakil walikota Tomohon ibu Syenny Watulangkow (awalnya kita tidak tahu itu rumahnya), iring-iringan berhenti. Berhentinya lama juga. Ada yang bilang iring-iringan dihentikan karena menunggu rombongan menteri (yang hobinya suka telat). Cuaca sangat cerah, matahari bersinar leluasa tanpa ada awan yang menghalangi dan suhu semakin panas. Sembari menunggu, kita berteduh di depan rumah yang rindang dan gerbangnya terbuka lebar itu. Yang mau ke toilet pun tidak perlu khawatir karena tersedia di bangunan pos dekat gerbangnya. Pasangan siswa di atas float kita ajak untuk turun dulu dan berteduh. Untuk mengisi waktu beberapa mulai pasang aksi di depan kamera.

Depan ki-ka: Joram, Edo, Risal, Astrid, pak Aminto, Alan, Frendy; Belakang ki-ka: pak Dani, Anita, saya, Nova, ibu Meivi, Oliv, pak Marvel, pak Harto, pak Sulis, pak Ferdy.

Float ada di jalan depan rumah ini. Depan: pak Steven; Belakang ki-ka: pak Marvel, saya, Nova, Astrid, Edo, Frendy, Joram (kepalanya doang), ibu Meivi, Oliv, Alan, pak Dani, Risal, Anita.

Bosan menunggu, saya, Astrid (PD field), Anita (adm Marketing) dan Frendy (PDQC analis) memutuskan untuk jalan ke depan. Kita singgah dan duduk sebentar di warung yang kita lewati sekedar makan roti dan minum. Sementara duduk-duduk di warung, pak Dani (BM) dan pak Santo (FAM) juga lewat, mungkin sudah bosan juga hanya menunggu. Mereka berjalan sambil memotret tiap float dan tidak melihat kita yang sedang duduk-duduk. Selesai makan dan minum, kita melanjutkan perjalanan sampai ke float paling depan, pas dibagian perempatan jalan dekat supermarket Cool. Jalan yang berhadapan dengan jalur float merupakan iring-iringan marching band, musik bambu, cakalele anak-anak dan dewasa juga pasukan berkuda. Jalan yang tegak lurus dengan jalur float ada iring-iringan bendi. Nah jalan yang satunya lagi menuju ke pusat kota. Iring-iringan dari ketiga jalan ini bergantian melewati jalan yang menuju pusat kota dan nantinya akan lewat di depan panggung utama, depan kantor walikota pusat kegiatan TIFF selama 5 hari.

Saat matahari sudah tinggi barulah pawai mulai jalan lagi. Tomohon yang sudah tidak seadem dulu semakin terasa panas menyengat. Ditambah kuda-kuda yang mulai stress dengan panas dan keramaian ada yang mulai ngamuk dan BAB sembarangan (>_<!). Pemandangan dan bau kotoran kuda jadi nilai minus ajang bertaraf internasional ini. Panitia tidak terlalu sigap membersihkan kotorran kuda. Beberapa anak marching band yang jalurnya pas kena di kotoran kuda terlihat jijik dan menghindar sehingga barisannya agak kacau.

Di luar itu semua, TOF berjalan dengan lancar. Tidak ada yang membuat kekacauan dan kuda-kuda yang lagi sensi masih bisa ditenangkan oleh penunggangnya. Kotoran kudapun dibersihkan walau agak lama. Cakalele anak-anak terlihat sangat ekspresif dan bersemangat. Kita berempat tetap di area dekat perempatan, menonton pawai sambil menunggu float Indofood lewat untuk kemudian bergabung dalam rombongan pawai.

Float kita sering terhenti lama karena banyak orang yang berfoto di depan float. Memang masyarakat yang menonton bisa dengan bebas turun ke jalan karena tidak ada pembatas ataupun petugas yang menjaga dan memperingati warga. Akibatnya barisan kita agak kocar-kacir karena bagian depan menyesuaikan dengan rombongan di depan, sementara bagian belakang menunggu float. Sepanjang jalan dari dalam float diputar jingle-jingle Indomie. Kita finish setelah melewati panggung utama. Banyak tamu-tamu lokal dan asing berpartisipasi dalam acara ini. Perjalanan yang kita tempuh berjarak kurang lebih 3 km (saya baru tau pas selesai TOF).

Kita baru bisa makan siang jam 3. Itupun sulit mencari tempat makan dan menunya banyak yang sudah habis. Salut buat mereka yang puasa dan tetap ikut. Begitu semua rombongan sudah finish dan TOF hari itu selesai, jalan-jalan yang tadinya ditutup langsung dibersihkan dan dibuka untuk umum lagi. Beberapa orang berpendapat TOF kali ini tidak semeriah dan setertib TOF sebelumnya. Setidaknya ajang seperti ini masih dipertahankan dan diselenggarakan. Untuk kedepannya masih harus ditingkatkan lagi, baik ketertiban (masyarakat yang menonton seharusnya tidak sampai turun ke jalan karena mengganggu jalannya pawai), keamanan, kebersihan dan kenyamanan.

Kita pulang jam 16.30 dan tiba di Manado sekitar jam 17.30. Efeknya terasa kemudian. Kaki sakit dan kulit perih. Tapi tidak masalah, karena ini momen yang jarang dan menyenangkan bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini.

Finish!!! Foto bersama karyawan Indofood, Tim dekorator dan siswa pembawa spanduk.

by: Ester Susanty Makalalag (karyawan Indofood)

Iklan
Kategori:Shushan's Column
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: