Beranda > Umum > Akhir Pekan di Montana, Cibodas

Akhir Pekan di Montana, Cibodas

Rencana berlibur ke daerah Puncak telah dibicarakan 2 minggu sebelumnya. Maka, Jumat malam (27/7) saya, Andri, dan Wuri (kali ini minus Gilang yang balik ke Kalimantan) pergi ke Puncak, tepatnya ke Cibodas di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Jalanan masih sepi, hari telah berubah menjadi malam. Hari itu adalah tepat seminggu sudah saudara-saudara beragama Muslim menjalani ibadah puasa mereka. Padahal tepat seminggu lalu ketika papa saya datang ke kos, jalan di depan kos cukup padat. Kali ini berbeda. Tepat jam 7 teng, kita berangkat dari tempat kos menuju ke terminal Kampung Rambutan menggunakan busway dari arah Slipi. Perjalanan panjang memang, dan berdiri pula selama perjalanan ke Kampung Rambutan.

Busway-busway penuh dengan orang-orang yang baru pulang kantor, jalanan sekitar Gatot Subroto juga terkena dampaknya. Jalanan penuh dengan mobil lalu lalang, mencari celah demi celah untuk mempercepat jalan mereka. Tapi tidak terlihat frustasi mereka dan terus mencari celah. Motor juga demikian. Busway melaju di jalurnya dengan sedikit tersendat akibat mobil masuk ke jalurnya. Dan itu yang bikin malas naik busway karena jalurnya kadang-kadang tidak steril dari kendaraan lain. Walaupun macet, saya dan Andri sempet ngobrol-ngobrol di jalan sementara Wuri berpegangan dengan erat di salah satu besi, maklum nggak biasa dia hahaha.

Perjalanan ke Kampung Rambutan dari halte Slipi Petamburan (tempat kita naik) sangatlah jauh sodara-sodara. Dari halte Slipi Petamburan pun, kita harus masih mengalami perjalanan panjang ke halte Cawang-BNN untuk sekedar berpindah busway. Dan berpindah busway itu atau transit biasanya memakan waktu cukup lama jika sial. Dari halte Cawang-BNN kita menuju ke terminal Kampung Rambutan, melewati pasar Kramat Jati dan entah pasar apa yang baunya minta ampun. Dari halte Slipi-Petamburan sampai Terminal Kampung Rambutan saya dan Andri berdiri sepanjang perjalanan. Wuri pun kalau dapat kesempatan duduk palingan cuma sampe 15-20 menit dari total kurang lebih 2 jam perjalanan tersebut. Cukup melelahkan, dan kita berharap ketika naik bus penumpang jurusan Cianjur, kita akan mendapat tempat duduk.

Kira-kira jam 9 malam, kita tiba di Kampung Rambutan. Masih ramai. Banyak lapak-lapak buah dan sayuran masih berjualan di situ. Banyak orang juga lalu lalang serta kenek-kenek menawarkan jasa transportasi di sekitar situ. Wuri berpesan agar saya dan Andri diam-diam aja nanti di dalam bus sebelum membayar, karena jika tidak pandai berbahasa Sunda, maka kemungkinan kenek bus akan meminta uang lebih bisa terjadi. Biasanya uang perjalanan ke Cianjur cuma 15 ribu saja, tapi semuanya bisa berubah jika kita tidak terlalu pandai berbahasa Sunda menurut Wuri (berdasarkan pengalamannya). Jadilah kita naik bus menuju Cianjur, tapi tidak duduk, melainkan berdiri. Wuri merasa ditipu oleh keneknya karena sempat dibilang bahwa masih ada kursi kosong di dalamnya. Nah! Perjalanan ke Cibodas malam tersebut harus dilewati sambil berdiri di antara kursi-kursi yang sudah terisi penuh!!

Pertama sih, kita bertiga masih enjoy berdiri (saya dan Andri nggak tahu seberapa jauh sih Cibodas itu, jadi sok aja bilang bisa) karena jalan yang dilewati masih lurus melewati jalan tol keluar dari Jakarta menuju Puncak. Jalanan tidak macet (syukurlah) dan bus pun melaju dengan cukup kencang. Kita pun hanya berusaha menghilangkan kepenatan kaki yang belum terlalu terasa capeknya dengan ngobrol. Sial, udah berdiri di gang yang sempit dalam bus, si kenek bolak-balik lagi di situ untuk menagih uang ke penumpang-penumpang. Jadi saya, Andri, dan Wuri pun ikut berdesak-desakan dengan kenek yang bolak-balik itu. Saking bosannya tidak bisa melihat pemandangan, saya dan Andri malah ngobrol tentang lagu-lagu yang diputar dalam bus tersebut. Ada lagu Indonesia yang bagus, ada yang biasa, ada juga yang ancur parah berkeping-keping.

Selama perjalanan tersebut saya dan Andri jadi tiang totem di bus, Wuri sempat muntah karena nggak tahan dengan jalan yang berliku-liku di Puncak. Untung ada seorang bapak yang baik mau memberikan tempat duduk buatnya, jadi bisa muntah dengan tenang hahaha. Cibodas sudah semakin dekat.

Montana, Tempat Para Pelindung Taman Nasional

Udara dingin di Puncak menemani malam. Sunyi sepi di tempat itu. Malam sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Mobil yang lalu lalang tidak banyak. Bus-bus besar lewat dengan terburu-buru. Ada suatu papan reklame di dekat jalan menuju Cibodas, besar seperti layaknya yang ada di kota Metropolitan. Ada Alfamart di dekat kami turun yang langsung berseberangan dengan jalan menuju Cibodas. Angkot parkir di situ tapi tidak terlihat penumpang sama sekali. Malam yang spooky.

Alfamart masih terang benderang, karena mereka siaga 24 jam. Orang-orang yang bekerja di situ pun terlihat masih semangat dan tidak keder dengan udara dingin AC (kan dalam ruangan ya, jadi pake AC). Wuri masih pusing dan kepikiran muntah, juga masih bilang Andri tidak bertanggungjawab lagi hahaha karena nggak dengar dia udah manggil-manggil mau muntah. Wuri hampir juga muntah di jaket Andri saat di bus sebelum seorang bapak memberikan tempat duduk.

Tidak ada penerangan di tempat angkutan umum parkir, warung di situ juga mulai bergegas tutup, ada pemuda yang duduk di situ menunggu ojek. Tujuan kita sama, ke Cibodas tapi tempat si pemuda itu tidak sejauh tempat kita pergi. Wuri ngobrol pake bahasa Sunda, Andri ngomong pake bahasa persatuan, saya diam aja nggak tau mau ngomong apa. Malam makin larut dan dingin, tidak terlihat tanda-tanda ada ojek yang bisa dipakai bertiga (iyalah dudul) eh maksudnya 3 ojek untuk jalan sama-sama. Angkot jadi opsi lain.

Andri mencoba menawar sopir angkot agar mau beroperasi dengan menanyakan harga yang diminta. Semula si sopir minta 30 ribu per orang untuk ke sana. “Gila, ini namanya pemerasan” dalam hati saya terus diupdate ke status BBM (kan zamannya jejaring sosial). 30 ribu per orang untuk jarak yang kira-kira ada 2 sampai 2,5 kilometer. Terbersit untuk jalan kaki ke atas sana, Wuri bilang “mau sampe kapan kita jalannya” hahaha, maka opsi jalan kaki batal. Kita bertiga plus pemuda tadi pun duduk di dekat pos (entah satpam atau polisi, entahlah) sambil ngobrol lagi dengan akrab (maklum, senasib :p).

Diskusi di antara kita bertiga menimbulkan pertanyaan tentang harga semula yang 30 ribu itu. Andri kembali menjadi delegasi untuk bernegosiasi dengan sopir angkot. Ada salah pengertian ternyata antara kita dan sopir angkot, ternyata sopirnya minta 30 ribu untuk 1 kali perjalanan ke atas bukannya per orang. Andri malah nawar sampe 25 ribu untuk  berempat ke atas. Jadilah kita ke atas, dan pemuda yang ikut dengan kita ternyata tidak terlalu jauh tujuannya. Wuri yang pernah berkali-kali ke sini sempat menunjukkan tempat Green Ranger, para pecinta alam di mana Idhan Lubis pernah di situ. Idhan Lubis adalah salah seorang pecinta alam yang mati bersama dengan Soe Hok Gie di Semeru pada 1969. Para pecinta alam pasti kenal dengan Soe Hok Gie.

Di depan pintu masuk ke taman Cibodas. Suasana dingin makin terasa. Jaket makin terasa tidak cukup untuk menjadi penghangat sementara, dan gelap mendominasi jalan yang tiba-tiba menjadi kecil diujungnya. Tujuan kita adalah Montana, kita akan menginap di sana sampai hari Minggu pagi. Montana adalah kepanjangan dari Monyet Taman Nasional kata Wuri. Menurutnya, karena di lokasi tersebut banyak ditemukan monyet (lutung) maka dinamakan demikian. Kita berada di kaki gunung Gede dan Pangrango, tapi keadaan gelap jadi tidak terlihat. Ketemu pula orang, ada 3 laki-laki (om-om), yang menghentikan mobil mereka karena tidak bisa masuk lebih jauh. Wuri menjadi juru bicara. Tapi keadaan di situ memang gelap, dingin, yang ada hanya suara-suara daun bergoyang ditiup angin malam, suara merdu jangkrik yang bersahut-sahutan (sepertinya lagi berantem), aliran air deras yang berada di sisi kiri. Wuri punya teman bernama Suhai (kita panggilnya Bang Suhai). Dia khawatir mungkin bang Suhai sudah mencari-cari dia.

Di jauh, kira-kira 50 meter, ada cahaya senter berwarna putih seakan memberi kode. Kode dia pun dibalas Wuri yang mengerti bahasa senter. Cahaya itu kemudian hilang, dan ada orang yang turun menuju ke bawah. Sebenarnya orang itu bang Suhai (kata bang Suhai nanti), tapi dia cool melewati Wuri yang kecapean serta tidak sadar bahwa orang itu adalah Suhai. Maka ketawalah saya dan Andri bahwa Wuri kegeeran karena mengira bang Suhai akan mencari dia. Kami berjalan terus, aliran air cukup deras mengalir konsisten.

Perjalanan sudah cukup jauh, tapi belum sampai, mana gelap, dingin, dan cukup angker pula. Mana ada gunung menjulang tinggi di depan kita, gunung Pangrango. Menuju Montana, kita harus melewati tangga batu alam yang cukup tajam (karena pake sandal jepit). Gelap dan banyak pohon-pohon tinggi, rumput-rumput yang tidak dikenal tapi bersahaja karena tidak ada gangguan selama kita menaiki tangga itu yang akhirnya sampai di halaman cukup besar, terdapat dua rumah di sana. “Kalau mau nonton TV di situ” bilang Wuri kepada saya dan Andri. Maklum, hari itu adalah malam pembukaan Olimpiade London 2012 jadi kita tidak mau melewatkan momen (tapi tetap aja momennya lewat karena ketiduran).

Montana, nama rumah itu, sebuah rumah panggung yang tidak besar, sederhana, terlihat cukup tua tapi terawat, dan masih asri. Tulisan SEKRETARIAT SUKARELAWAN MONTANA masih tergantung kokoh. Bagi mereka yang ingin mendaki gunung Pangrango, bisa tinggal sebentar di sini karena rumah ini terbuka untuk semua pecinta alam yang berani tidur beralaskan tikar, menikmati dingin malam hari, dan tidak takut gelap tentunya. Rumah ini memiliki 2 kamar, yang satu dipakai sebagai kantor bisa berfungsi juga sebagai kamar tidur (malam pertama kita tidur di situ), satunya sebagai kamar tidur. Kemudian ada kamar mandi dengan air alamnya, langsung dari gunung sodara-sodara, jadi bayangin aja dinginnya bukan dingin kulkas, airnya (yang keluar dari pipa) bisa langsung diminum kok. Kemudian ada ruangan mushollah bagi saudara-saudara Muslim untuk sholat. Ada dapur walaupun tidak besar tapi cukup untuk dipakai buat masak doang, dan hutan tentu saja dibelakang. Jika ada yang datang, para sukarelawan (begitu mereka disebut) TNGGP ramah menyambut, apalagi bagi mereka yang baru akan naik atau turun ke dan dari gunung Pangrango. Jadi tidak ada salahnya singgah sebentar di sini kan.

Wuri naik ke rumah Montana dengan tergesa-gesa sampai dia bingung sendiri. Andri mengikuti dari belakang Wuri, kemudian saya tapi kita tidak seperti Wuri yang salah jalannya. Ada seorang pria, bertubuh kekar menyambut kita (saya lupa-lupa ingat namanya, kalau tidak salah Rudi). Wuri akrab dengan abang itu (begitu kita menyebutnya, karena dia kelihatan lebih tua sih), saya dan Andri mencoba mengakrabkan diri juga sekalian beradaptasi dengan suhu udara yang cukup dingin di situ. Ruang tamunya tidak memiliki perabotan furniture, hanya beralaskan karpet dan ada tape di sudut ruangan. Walaupun udara dingin menyapu, kitanya tetap kepanasan karena keringat abis dari jalan panjang. Bang Rudi (kalo nggak salah namanya ya) ramah. Wuri menanyakan bang Suhai, tapi kata bang Rudi sudah turun untuk belanja. Nah dari situ si Wuri sadar bahwa orang yang kita temui di bawah tadi adalah bang Suhai.

Ada tamu! Saat saya dan Andri duduk-duduk di teras, ada 3 orang datang. 2 orang perempuan dan seorang pria mendekat. Saat mereka masuk, leader mereka (perempuan tinggi, badannya 1,5 kali lebih besar dari teman baik saya Ghe) dengan akrab seakan sudah ditunggu. Kita juga kenalan sama mereka hehehe.

Bang Suhai datang. Saya lupa bagaimana caranya dia tiba (pastinya bukan dengan motor atau terbang). Wuri, Andri, dan saya kemudian duduk menghangatkan diri di dekat api ngobrol-ngobrol dengan bang Suhai. Nah cerita dengan bang Suhai tidak jauh-jauh dengan pesona fauna terutama jenis reptile. Bang Suhai bercita-cita ingin melakukan penelitian di Kalimantan terutama untuk katak. Selain katak, bangsa reptile lain pun bang Suhai tahu. Kita berbicara tentang hewan-hewan reptile, dan bang Suhai kadang-kadang (mostly) harus memakai bahasa latin untuk mengatakan sejenis katak yang kita belum lihat ataupun sudah kita lihat. Wuri sempat bilang bahwa bang Suhai ingin pamer, tapi bang Suhai mencoba menjelaskan bahwa dia memang tidak menemukan bahasa yang pas untuk jenis-jenis katak yang ada banyak. Saya mengerti karena bahasa Indonesia hanya memberikan satu kata umum yaitu katak, sedang untuk para peneliti fauna, kata katak tidak cocok dalam pengungkapan suatu katak. Mungkin dalam urutannya, katak itu bisa disebut dalam kingdom (kerajaan) sedangkan nama latin adalah spesies. Bang Suhai banyak cerita. Sampai-sampai api yang dipasang cukup besar dan bukan hangat lagi, malah kepanasan hahahaha.

Tidur malam, lupa gosok gigi karena airnya dingin, anginnya dingin, dan saya kedinginan. Kita bertiga tidur di ruangan multifungsi yaitu sebagai kamar dan kantor karena kamar yang satu dipakai untuk 3 orang tamu tadi (emang kita bukan tamu ya hahaha). Suasana di luar masih agak rame karena masih ada temu kangen rupanya antara ketiga tamu dan sukarelawan di sini. Mereka ngobrol tentang apa saya lupa, tapi yang perempuan kekar itu cerita bagaimana dia naik 3 gunung sekaligus kemudian pulang ke rumah tiduran untuk mengembalikan kekuatan mereka. Di saat malam, angin dingin berhembus di luar rumah, dan suhu dingin yang cukup menusuk mereka sempat-sempatnya mandi malam di Montana, mukanya langsung segar-segar lagi. Jadi iri. Kantuk tak terhankan, dan besok kita mau ke air terjun Cibeureum.

***

Sabtu subuh saya tidak bisa tidur, kedinginan. Bolak-balik gelisah karena dingin serta paginya kok lama banget. Itu masih jam 5 subuh dan udaranya dingin. Saya masuk lagi ke sleeping bag mencoba tidur tenang sedikit.

Jam setengah 7 saya bangun, dan keluar ke teras. Wuri dan Andri masih tidur. Pakaian di badan masih pakaian yang semalam, belum diganti. Burung-burung sudah pada sahut-sahutan di atas ranting-ranting, matahari belum terlihat bersinar dan masih beranjak naik. Sesekali angin ikut berhembus. Orang-orang yang bekerja di situ seperti tukang sapu sudah berkegiatan dengan sapu di tangan. Ada banyak daun-daun berwarna emas kecoklatan (pas kena sinar mentari yang masih perlahan naik) jatuh di atas tanah dan rumput hijau. Pohon-pohon rindang kali ini baru terlihat, karena semalam gelap. Kata Wuri (lagi) ada lutung katanya yang sering loncat-loncat di dahan pohon-pohon rindang tersebut bahkan turun untuk nyari makan mungkin (atau berkunjung). Masih di teras, kaca pintu dan jendela banyak terdapat stiker-stiker para pecinta alam atau pendaki yang pernah singgah di situ atau menjadi bagian di situ. Salah satu yang menarik adalah stiker Wanadri. Cerita sedikit tentang Wanadri, Wanadri adalah kelompok pecinta alam sekaligus pendaki gunung. Mereka adalah kelompok yang berhasil mencapai 7 puncak tertinggi di dunia (7 summits). Ada juga kelompok lain yaitu Mahitala Universitas Parahyangan (Unpar).

Wuri dan Andri bangun kemudian duduk di kursi batu di halaman sambil disiram sinar matahari hangat. Ada seorang kawan datang, lupa namanya tapi akrab dengan Wuri. Kita makan bersama (waktu sahurnya sengaja dimajukan) dengan makanan buatan koki-koki Montana. Ada nasi seperti nasi uduk, trus gorengan yang tinggal 2, dan jantung pisang tapi rasanya kayak soto. Enak. Duduk makan sambil ngeleseh akhirnya kesampaian di Montana. Terakhir kali duduk makan lesehan di luar pas 2008 hahaha.

Selesai sarapan, perjalanan pertama menuju ke pasar Cibodas yang berada di bawah Montana. Dan sesi foto-foto dimulai dari perjalanan ini. Sambil menunggu sahabat Wuri, Indah, tiba di Montana maka kita jalan-jalan sebentar.

Papan bertuliskan solidaritas untuk melindungi hutan di jalan masuk menuju Lokasi Wisata Cibodas ini.

Jalan semalam yang kita lalui ternyata cukup panjang. Penuh dengan daun-daun kering saat dalam kompleks Montana. Ada jalanan batu yang tertata rapi. Saat itu, sudah mulai ada orang-orang yang pergi ke lokasi wisata. Di sini ada Air Terjun Cibeureum, kemudian Air Panas Ciweulen (ini kalo nggak salah tulis), Kandang Badak, dan tentu saja Gunung Pangrango dengan lembah Mendalawanginya hehehe.

Tangga naik ke Montana maupun ke arah lokasi wisata dari batu yang sama. Jalan yang sama kita lewati semalam, tapi baru bisa lihat pola tangga tersebut pagi itu. Pemandangannya dari tangga itu indah karena menghadap ke bukit Geger Bentang. Geger Bentang adalah lokasi di mana macan hidup. Jadi katanya jangan kaget kalo macannya bisa jalan-jalan ke Pangrango -_-“. Bener-bener deh.

Karena pemandangannya bagus dan cuaca saat itu cerah. Cuaca cerah itu bukan suatu kebetulan, karena Tuhan rupanya merestui kita untuk berkenalan dengan alam. Bukan cuma sekedar slogan GO GREEN, tapi ini benar-benar melihat alam dan kemudian di akhir perjalanan kita hanya bisa mengatakan Allah itu Maha Besar atau Terpujilah Tuhan karena keindahan alamnya yang masih asri serta masih ada manusia-manusia yang menjadikannya sahabat.

Saya dan Wuri dengan latar Geger Bentang. Gila muka saya masih muka kasur!

Kali ini foto dengan Andri. Sama, mukanya masih muka kasur hahaha!

Jalan pagi banyak dengan acara fotonya. Maklum, takjub dengan suasana baru dan indah di tempat ini.

Andri berpose di depan tulisan TNGGP.

Udara segar, tanpa polusi dan polisi, matahari cerah, sejauh mata memandang hamparan hijau di mana-mana. Aliran air deras dari gunung mengalir, jernih, tidak seperti kali-kali atau got-got di Jakarta yang berwarna gelap dan bau. Batu-batu kali terlihat jelas, dipinggirnya banyak tumbuh-tumbuhan tumbuh bebas tanpa takut digusur dari tempatnya. Banyak serangga lalu-lalang, entah jenis apalagi nggak tahu. Jangkrik pun masih sahut-sahutan, dari malam nggak kelar-kelar sahut-sahutannya ya. Jalan dari pasar ke tempat ini sudah rapi, bersemen seperti yang ada di taman-taman rumah. Panjang ke bawah. Di sisi sebelah ada bukit Geger Bentang yang membentang, hijau, dan terlihat asri menyatu. Di belakang kita ada gunung Pangrango.

Bukit Geger Bentang, tempat para macan mencari nafkah :D. Ada juga bunga-bunga dan tanaman-tanaman yang dibudidayakan di pinggir jalan.

Kita masih berjalan terus ke bawah sampai ke pasar Cibodas yang sunyi sepi karena tidak buka. Jalan raya pun sepi. Angkot doang yang mondar-mandir mencari penumpang. Ada juga orang-orang yang ingin berwisata, baru tiba, dan berjalan perlahan ke arah Montana. Kebanyakan dari mereka pergi ke Air Terjun Cibeureum atau lokasi air panas itu.

Pintu-pintu toko tertutup semua. Perut sudah lapar pula, karena makanannya sudah diserap semua. Oh iya, kebetulan lagi dalam ibadah puasa, makanya pada tutup toko-tokonya terutama yang berbau-bau makanan. Hanya ada beberapa yang buka seperti toko yang menjual panganan khas Cibodas. Orang-orang juga tidak banyak lalu-lalang. Beberapa duduk di depan kios mereka sambil menawarkan kepada kita saat kita lewat. Tidak tau mau ke mana, jadi kita duduk di depan sebuah kios. Ada tempat penangkaran burung di dekat sini, tapi jauh kalo jalan kaki. Kita mau ke sana, tapi Wuri sedang menunggu Indah. Ini sudah jam 9 pagi, matahari sudah mulai meninggi, panas mulai terasa tapi udara sejuk mencoba menenangkan sinar mentari yang mulai memanas. Kita berjalan ke terminal untuk membeli sesuatu.

Kios-kios di pasar pada tutup. Gunung Gede menjadi latar yang cantik. Mobil yang berwarna kuning itu angkot ya.

***

Matahari mulai perlahan menuju titik puncaknya di langit, kita sudah mandi dengan badan kedinginan. Airnya dingin, tapi malah mandinya lama hahaha. Indah belum sampe juga, padahal mau ke Air Terjun memakan waktu cukup lama. Kali ini rumah Montana cukup rame, banyak orang dan rata-rata para pecinta alam khususnya untuk para pendaki gunung. Ada rapat Sekretariat Bersama rupanya, jadi banyak yang datang ke sana. Belum tahu jadwalnya, tapi kita cukup tau diri untuk tidak ikutan nguping di sana. Indah masih belum datang, tapi katanya udah dekat. Buset lama bener ya.

Indah tiba saat matahari sudah gerah. Wuri disuruh jemput (mana bawa hape saya lagi hahaha) ke bawah. Mungkin agak malu untuk ke Montana, padahal si Indah dikenal sama anak-anak Montana. Maka jadilah Wuri turun ke bawah, Andri dan saya berdiam di Montana.

Indah, dari namanya sudah ketahuan dia itu seorang wanita dong. Nggak tau bagaimana kenal dengan Wuri, tapi mereka terlihat sangat bersahabat. Indah saat ini masih magang di rumah sakit umum Cianjur, ramah, dan agak cerewet. Ketika Indah tiba di Montana, dia disambut oleh teman-teman yang ada di Montana. Mungkin karena sudah lama pula dia tidak datang ke situ. Selagi kita bersiap-siap untuk ke air terjun, Indah ngobrol-ngobrol.

Air Terjun Cibeureum, terletak di kaki gunung Pangrango. Banyak juga wisatawan yang ke sana, entah itu lokal ataupun mancanegara, cuman kali ini agak sepi karena dalam suasana ibadah puasa untuk umat Muslim. Kata Wuri, kalau tidak puasa, di air terjun juga banyak orang yang jualan makanan-makanan kecil sehingga memang seperti tempat-tempat wisata umumnya. Bedanya, lokasi air terjun ini cukup jauh dari Montana sekaligus menawarkan perjalanan alam yang mengesankan. Hutan-hutannya yang asri, ditemani udara-udara pegunungan yang belum cemar, suara-suara satwa liar juga terdengar. Wuri cerita bahwa pernah ada ular lewat di jalan yang biasa digunakan tanpa takut terhadap manusia “Kurang sopan ya ular-ular sekarang.”

Jalan ke air terjun terbentuk dari batu-batu alam yang sengaja dirancang agar pengunjung tidak kesulitan mencari jalan ke sana karena hutan-hutan yang lebat sehingga kemungkinan wisatawan itu tersesat cukup besar. Hal lainnya adalah untuk memudahkan (apa bedanya dengan yang pertama ya?) mereka yang baru pertama kali ke sana. Tapi siapa yang buat jalan tersebut yah, bahkan batu-batu tersebut teratur membentuk tangga ataupun jalan.

Karena Indah sedang puasa, maka berjalannya pun tidak dengan cepat-cepat. Sesekali berhenti untuk istirahat. Indah dan Wuri banyak ngobrol selama perjalanan, Andri banyak memotret, saya liat-liat hutan dan sesekali ngobrol dengan Andri. Udara bersih memang di sini, pohon-pohon tinggi menutupi dari sinar mentari yang lagi gerah di atas sana.

Istirahat ronde pertama. Yang pake baju hitam ini Wuri, trus Indah di sebelahnya, saya berdiri, dan Andri yang motret.

Ada 1 tempat peristirahatan yang keren sebelum menuju ke air terjun Cibeureum, yaitu sebuah telaga yang airnya berwarna biru dan namanya juga disebut Telaga Biru. Kata Wuri “Telaga Biru itu baru setengah perjalanan ke Cibeureum.” Juga kita bisa mengambil air pegunungan dari sebuah aliran air gunung yang mengalir di dekat Telaga Biru itu. Telaga itu memang mirip telaga pada umumnya yang dipakai untuk memelihara ikan di desa, nah saya tidak melihat adanya ikan di situ. Telaga itu berwarna biru ketika terkenas sinar mentari dan gelap ketika tidak ada cahaya. Tempatnya agak sempit kalau mau tikeran rame-rame di situ, sengaja tidak dibuat demikian mungkin karena takut akan dicemari pengunjung purba (pengunjung yang tak tau aturan). Jadi saat kita tiba di sana, kita tidak bisa duduk  barengan.  Cuman ngobrol-ngobrol sedikit sambil menyejukkan diri di bawah pepohonan sambil memandang ke telaga.

Andri, Indah, dan Wuri di dekat Telaga Biru. Telaganya dari sini tak terlihat biru karena efek kamera hahaha.

Kalau sejenak berkunjung ke sini, kita serasa berada di salah satu Danau Tiga Warna di NTT.

Selain kita, ada juga rombongan yang menyempatkan diri untuk beristirahat di sini sembari meluruskan kaki yang mungkin agak kecapean untuk mau pergi air terjun atau mau kembali dari air terjun. Suasana sejuk juga tidak bisa meniadakan kelelahan tapi bisa membuat kelelahan itu terasa nyaman jika udara sejuk tanpa polusi di sekitar kita. Turis yang datangpun bukan orang-orang yang terlihat muda-muda, tapi orang-orang tua yang ingin berolahraga sambil jalan kaki ke air terjun. Juga ada anak kecil yang cantik duduk di dekat lokasi telaga sambil diberi instruksi dari ayahnya “Luruskan kakimu nak, jangan ditekuk” dan anak kecil ini pun menuruti. Tidak lama kemudian keluarga besarnya menyusul dan suasana pun menjadi rame.

Saya kehausan, dan penasaran dengan air yang meluncur deras dari sumbernya di atas sana. Jadi saya pun tidak ragu mengambil botol air mineral yang telah kosong, kemudian mengambilnya di aliran air yang ada di dekat dan meminumnya. Rasanya berbeda dengan air mineral kemasan, tapi lebih menyegarkan ketimbang air mineral kemasan. Kita mengambil airnya agak jauhan dari Indah, lebih ke atas, karena Indah sedang cuci kaki juga di situ -__-“.

Setelah beristirahat beberapa saat, serta bernasis-nasisan di tempat itu, kita pun melanjutkan perjalanan menuju ke air terjun Cibeureum. Setelah melalui jalan berbatu tajam, batu alam yang teratur membentuk sebuah jalan, kali ini adalah jembatan yang melintasi rawa. Rawa mungkin karena di bawah jembatan tersebut terlihat ada genangan-genangan air. Rumput-rumput cukup tinggi di situ, melebihi jembatan tersebut yang terbuat dari beton (tapi setengahnya ke arah air terjun dari kayu). Sempat istirahat sebentar mengingat Indah yang lagi puasa butuh banyak istirahat. Berjalan cukup jauh ke dalam jembatan sebelum mendapatkan pemandangan yang wow! Pemandangan terbuka ke arah gunung Pangrango dan bukit Geger Bentang yang merupakan macan-macan berumah. Beberapa turis (dari Korea mungkin) sempat mengambil beberapa gambar di situ.

Andri, Indah, dan saya. Di belakang yang cuman terlihat kurang dari seperempat doang gunung Pangrango.

Nah, terlihat kan gunung Pangrango.

Di jembatan ini banyak sesi foto-foto juga, karena pemandangannya mengagumkan dan sudah jarang yang demikian. Penilaian saya demikian karena belum mengetahui di daerah lain apakah ada pemandangan yang sama dengan lokasi wisata yang sudah cukup dikenal publik. Di kedua sisi jembatan banyak bunga-bunga, ada yang model kayak terompet, ada yang wangi, dan kata Wuri tidak boleh dipetik karena itu juga makhluk hidup perlu dilestarikan. Dari sini (jembatan ini) ke air terjun masih cukup jauh, perlu kesabaran serta rasa nikmat dalam menikmati suasana sejuk ini.

Setelah sesi pemotretan di sini, kita melanjutkan perjalanan melewati alang-alang tinggi ini yang dipercantik dengan bunga-bunga putih serta wewangian alam. Suara berisik aliran air pegunungan yang tidak jauh dari sini sedikit menghilangkan hening saat perjalanan. Angin berhembus bersahabat, dan burung-burung tidak sibuk mengitari angkasa. Jembatan-jembatan beton pun mulai berganti dengan jembatan kayu yang di beberapa tempat sudah ada bolong-bolongnya. Tidak lupa pula kita berjumpa dengan sahabat dari Montana, bang Kelo dan teman-temannya yang baru kembali dari air terjun.

Jembatan yang panjang ini terlihat hanya setengah-setengah diperbaikinya. Melihat saat kita melalui jembatan ini yang kokoh karena menggunakan konstruksi beton, kali ini konstruksi kayu yang kuat tapi tidak sekuat pertama kali dibuat menjadi jalan. Di beberapa tempat ada bolong-bolongnya jadi harus berhati-hati kalau berjalan. Tidak tahu sejak kapan jembatan itu ada, tapi jika sudah ada sejak lama, maka kayu yang digunakan adalah kayu terbaik yang biasa dipakai untuk membuat rumah panggung (seperti yang ada di daerah Minahasa gitu).

Indah, Andri, dan Wuri. Wuri dimahkotai bunga layu yang jatuh oleh Indah hahaha. Kedua tangan Andri yang terbuka berarti “kalo 2 istri, gimana hidupinnya” LOL.

Makin lama kita berjalan, maka makin dekat pula lokasi yang akan kita tuju, Air Terjun Cibeureum. “Itu sudah dekat, udah terdengar suara airnya yang deras.”

***

Suara gemuruh air jatuh dari tempat tinggi terdengar. Sayup-sayup suara orang pun tidak banyak, karena ini masih dalam suasana puasa. Air Terjun Cibeureum, begitu yang tertera di papan besi yang berkarat saat kita memasuki kompleks air terjun. Tinggi, tapi tidak setinggi air terjun Angels yang ada di pedalaman hutan Amerika Selatan dan tidak selebar air terjun Niagara yang ada di Kanada. Air terjun ini sudah lebih dari cukup membayar kelelahan kita berjalan kurang lebih 1,5 jam. Ada yang berdiri di bawah siraman air terjun, merasakan langsung air alam langsung.

Air Terjun Cibeureum bukan cuma ada 1 saja, tapi ada 2 air terjun, yang satunya lebih ke dalam sedikit. Ada pondokan-pondokan juga di sini untuk tempat beristirahat. Kata orang-orang sih kalo nggak puasa, ada yang berjualan di sini. Sayang ini saat puasa. Kita juga tidak membawa cemilan sama sekali di sini. Pingin rasanya lesehan di batu-batu besar, duduk melihat air dari tempat tinggi meluncur deras ditarik gravitasi ke tanah, kemudian membentuk sebuah tempat penampungan cukup besar untuk menampung air yang jatuh dari kawasan mata air yang ada di gunung ini. Setelah tampungan itu sudah mampu menahan desakan air yang jatuh dari atas, maka terbentuklah sebuah kolam, dan air dari kolam pun masih mencari jalan untuk mencapai ke tempat lebih rendah. Mungkin kalau air itu hidup, dan memiliki pemikiran akan tujuan, tujuannya tentu akan menuju ke laut. Sayang ini di Indonesia, tujuan seperti itu tidak akan mudah karena setelah melalui aliran-aliran yang bersih dengan penduduk yang bertanggung jawab akan kebersihan sungai, maka air-air tersebut akan melewati hidup yang penuh kekotoran yang ada di kota-kota, ketika orang-orang yang mengatakan air sebagai sumber hidup mulai mengotori sumber kehidupannya hanya untuk egoisme sesaat. Ah sayang, air itu tidak bisa berbicara. Jika mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan melakukan demonstrasi besar-besaran di Departemen Lingkungan Hidup.

Ini adalah air terjun pertama yang ditemui saat memasuki kompleks Air Terjun Cibeureum.

Wuri dan Indah terlihat ogah-ogahan. Dari mulai perjalanan, mereka berdua bicara gosip-gosip. Nggak mau dengar sih tapi tetap kedengeran apa yang diobrolin, satu kawasan TNGGP aja denger kok hahaha. Di kompleks air terjun juga mereka ogah-ogahan naik lebih dekat ke air terjun, malah asik ngobrol di pondokan. Kata Wuri puas-puasin aja, kita udah puas kok karena sering ke sini hahaha. Jadi jangan heran kalau mereka malah duduk di pondokan. Ada tempat bilas di sisi kiri air terjun, juga ada pondokan untuk berteduh dari sengat mentari maupun dinginnya air hujan.

Di air terjun yang satunya, cukup dekat karena hanya berjarak kira-kira 5 meter dari air terjun yang pertama. Yang ini lebih tinggi dari air terjun yang pertama. Tidak ada orang di situ, mungkin karena tidak ada pemondokan di sana jadi agak sepi. Cuma saya dan Andri aja yang pergi ke sana (saat itu) untuk foto-foto.

Air terjun yang kedua, posisinya tidak terlalu jauh dari air terjun yang pertama.

Andri di air terjun ke 2. Batu-batunya lebih besar dan tajam ketimbang yang ada di air terjun pertama.

Karena tidak bawa baju ganti, kita tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan pertapa-pertapa. Duduk di bawah siraman air terjun. Jadi kita pun hanya lihat-lihat sambil beristirahat meluruskan kaki yang masih kecapean dan bersiap untuk kembali melahap perjalanan jauh itu. Mata bisa refreshing di sini, untuk mengurangi beban terhadap radiasi setelah berhadapan dengan komputer selama 5 hari lebih. Belum lagi buaian angin bagai ingin menina-bobokan saya di sini. Ngantuknya nggak tahan. Daun-daun menari mengikuti arah angin. Tapi tidak dengan dahan-dahan yang kokoh.

Sebelum pulang, masih sempat juga foto-foto di dekat jembatan pendek. Wuri juga berwajah cemberut saat itu tanpa tidak ada yang tahu sebabnya. Tapi tidak terlalu dihiraukan karena suasana yang segar dan menyenangkan ini jarang-jarang di alami oleh kita yang beraktivitas di kota besar (penuh polusi lagi). Kita pun balik ke Montana, untuk cari makan, maklum sudah lapar. Tapi jam saat itu belumlah waktu untuk berbuka.

Saya, Indah, dan Andri sebelum pulang foto-foto dulu. Wuri kameramen.

***

Matahari perlahan mulai turun di sisi barat. Tapi saya tidak tahu sebelah mana sisi timur sebelah mana sisi barat hahaha. Montana masih rame, banyak pecinta alam di sana untuk rapat bersama sekalian mengadakan buka puasa bareng. Kongkow-kongkow dengan teman-teman lama di antara mereka begitu mesra, seperti sahabat-sahabat lama yang baru saja ketemu. Ada yang dari Green Rangers Indonesia, kemudian Wanadri, dan lain-lain. Teman-teman Wuri dan Indah juga mereka, jadi mereka pun berbincang-bincang. Di meja batu tempat saya jemur kalo pagi-pagi ramai padahal saat itu mereka sedang menunggu datangnya waktu adzan. Saya juga rindu dengan teman-teman asrama saya kalau kumpul.

Suara Adzan menggema sampai ke Montana. Waktunya berbuka. Dengan menu yang ramah dan bersahabat, kolak, suasana serasa di kampung halaman. Ramai, sama-sama berbincang, tertawa terbahak-bahak dan tidak ada yang melarang. Yang dilarang adalah kita yang masih bengong di depan dan dipanggil-panggil untuk makan kolak bareng. Karena sudah berbuka lebih dahulu (saat turun dari air terjun) jadi kami tidak terlalu menanggapinya dan terus ngobrol sampai-sampai panggilannya terlalu banyak dan kita pun ke rumah panggung yang kecil itu untuk menyantap kolak bersama. Leseh-lesehan di lantai, kolaknya enak juga ternyata.

Belum dicerna betul tu kolak di dalam usus, eh udah datang makan malam x_x. Bang Kole ramah banget lagi, nyuruh makan. “Eh ayo makan makan, keburu dingin” begitu. Teman-teman yang masih di luar ngobrol pun berhamburan masuk. Ada yang sudah pulang tapi ada yang masih tinggal. Makanan yang disediakan sederhana, nasi, kepala ikan yang sudah digoreng, sop terang, lalap, dan sambal. Rame. Suasana yang asik. Di sini saya dan Andri ngobrol dengan bang Akri, salah satu teman Wuri yang tinggal di mana saya lupa. Bang Akri berbicara tentang gunung Pangrango yang nantinya akan dipasangi semacam kereta gantung begitu seperti yang ada di luar negeri dan kemungkinan TNGGP ini bakal menjadi lokasi wisata alam yang luas. Sebuah rencana yang bagus! Jika wisata seperti itu digenjot kemudian dibangun, wah bisa maju wilayah Cibodas ini. Tapi kita mengajukan pertanyaan apakah masyarakat di sini siap dengan investasi seperti itu, belum lagi soal sampah nanti, limbah. Kemudian akan dibangun tentunya usaha-usaha menengah di dekat situ untuk menjawab kebutuhan akan pendukung pariwisata seperti hotel mungkin, losmen, atau semacamnya. Kita pun berbincang seru tentang hal itu karena kalau cuman dipikirkan adalah pemasukan uang semata, maka hal-hal seperti limbah dan hal-hal kecil lain pasti terabaikan.

Setelah berbincang dengan bang Akri, perlahan orang-orang mulai berkurang. Cuman ada beberapa yang tinggal. Ruang tempat kita makan pun telah bersih (maksudnya sudah dirapikan bukan sudah rata makanannya). Setelah itu kita ngobrol tentang situs Gunungpadang di Cianjur. Tidak pernah dengar sih sebelumnya, tapi Wuri, Andri, dan Indah berbicara semangat sekali tentang situs peninggalan masa megalitikum (katanya). Model dari udara terlihat seperti piramid, yang mungkin lebih besar daripada piramida Khufu yang ada di Giza. Saya cuma bengong karena belum begitu familiar tentang situs Gunungpadang, apalagi situs megalitikum yang biasanya cuma kumpulan batu-batu raksasa yang ditumpuk-tumpukkan. Kalau bukan makam kuno, tempat pemujaan dan tidak memiliki relief-relief seperti pada candi-candi masa Hindu-Buddha pada umumnya.

Perbincangan tentang situs Gunungpadang ternyata menarik perhatian bang Agus (awalnya saya nggak tau namanya), seorang pecinta alam juga dari kelompok Wanadri (Wanadri lho Wanadri, kelompok yang naik ke 7 puncak dunia itu lho).  Badannya tinggi kekar, memiliki jenggot, rambutnya dikit, wajahnya bulat. Jadilah kita ngobrol tentang sejarah di teras. Saya dan Andri ikut ngobrol dengan bang Agus, Wuri ngobrol sama temennya, Indah juga entah ngobrol ama siapa. Wah, ngobrol dengan bang Agus panjang lebar, tentang sejarah kuno dan bagaimana orang-orang dulu telah memiliki kemampuan yang luar biasa dalam arsitektur. Tentang Indonesia, khususnya wilayah sebagian Jawa dan Sumatera yang merupakan bagian dari wilayah benua yang hilang Atlantis. Memang ada buku yang menerangkan akan hal itu, judulnya Eden of The East. Tapi setelah cari-cari di internet, ternyata Indonesia bukanlah satu-satunya tempat yang masuk dalam nominasi “Atlantis”. Ada beberapa daerah juga yang masih menjadi penelitian.

Malam menjelang, kami masih terlibat ngobrol-ngobrol. Kali ini sudah beranjak tentang nasionalisme. Bang Agus bercerita tentang bagaimana seorang Kopassus itu dilatih. Latihan Kopassus teramat berat sampai-sampai butuh orang yang benar-benar kuat dan disiplin dalam hal demikian. Belum lagi Kopassus memiliki salah satu unit terkuat yang kata Bang Agus mungkin lebih kuat daripada pasukan khusus Navy Seal milik US. Saya bangga dengan Kopassus, karena salah satu unit terkuat juga di dunia, selain itu Kopassus ada atas prakarsa salah satu putra Sulawesi Utara, Alex Kawilarang, salah satu pemimpin Permesta dan ex-KNIL. Kita berbincang hangat jadi sampai lupa waktu.

Malam makin larut, ada sekelompok mahasiswa yang baru turun dari Pangrango (sok tebak). Cukup banyak, dan mereka dari Yogyakarta. Bang Kole, selaku pimpinan menyambut mereka dengan kolak sisa buka puasa tadi. Mereka terlihat lelah tapi senang. Jadi penasaran apa sih yang mereka lihat di atas sana (Tell me what you see kata The Beatles).

Saya masih asik duduk ngeleseh di lantai, para pendaki yang baru turun masih menyantap santapan kolak yang cukup enak untuk ukuran dapur yang pas-pasan. Mereka ngobrol asik di teras, sampai di bagian dekat pintu masuk. Cukup banyak. Tapi beberapa pulang saat mereka dijemput. Tertinggal ada 4 sampai 5 orang yang mungkin menunggu jemputan. Jika tidak datang jemputannya, sahabat-sahabat yang di Montana telah menyediakan kamar depan untuk dipakai tidur malam, sedang kita pindah ke kamar yang satunya (kali ini ada kasur).

Kelompok ngobrol terbagi. saya lanjut ngobrol dengan bang Agus, Andri-Wuri-Indah dengan para mahasiswa dari Jogja itu (saat itu baru tau mereka dari Jogja). Suasana akrab hadir di ruangan sebesar 4×2 meter itu. Kelihatan seperti teman lama yang baru ketemu atau kelompok diskusi yang memiliki satu interest yang sama sehingga suasana akrab hadir.

Bang Agus. Bercerita tentang petualangannya ke daerah-daerah di Indonesia yang menakjubkan. Saya juga sok-sokan tahu karena pernah baca ulasan di koran, tapi beberapa merupakan hal baru. Seperti suku pemenggal kepala di Papua, trus ada salah satu pulau di Maluku juga yang didiami suku aneh. Pokoknya itu kali pertama yang saya dengar. Bang Agus cerita juga tentang pendakiannya di gunung Kerinci, Sumatera. Di sana dia harus menandatangani kontrak mati di badan vulkanologi setempat. Saya tanya mengapa, bang Agus menjawab “karena badan vulkanologi tidak ingin bertanggungjawab jika terjadi apa-apa dengan kami (kelompok pendaki), karena gunung itu sedang aktif-normal” dengan jelas.

Ada danau di atas gunung Kerinci setahu saya, dari catatan jurnalistik Kompas yang kemukakan. Bang Agus mengkonfirmasi itu bahwa memang ada danau besar di Kerinci dan terlihat dari puncak. Besarnya lebih besar daripada danau Sunter yang ada di Jakarta. Ada lagi pendakian di gunung Semeru, yang berpasir ketika akan menuju puncak Mahameru. Saya tanya apakah pernah naik gunung di Sulawesi Utara (Klabat dan Lokon), bang Agus ternyata belum pernah ke sana tapi dia bercerita bahwa ada temannya yang mengikuti ekspedisi Sulawesi menggunakan sepeda (diselenggarakan oleh Kompas). Kalau bang Agus ke Sulawesi Utara, mampirlah ke Pasar Tomohon, di mana para binatang disembelih untuk menjadi lauk. Aktivis pecinta hewan ke laut aja (kalau ke situ). Bang Agus juga merupakan tim SAR yang bertugas saat peristiwa Sukhoi di gunung Salak (bang Agus kan Wanadri). Bang Agus cerita bahwa dia harus mendaki 6 puncak untuk tiba di lokasi pesawat naas tersebut. Setibanya di sana, dia hanya bercerita apa yang dia lihat. Mengerikan. Nanti bang Agus turun kembali ke pusat tim SAR karena logistik yang dia bawa tidak cukup.

7 Summits. Bang Agus juga bercerita tentang 7 Summits. Kali ini bang Agus menjadi pusat cerita di mana kami menyimak dengan serius, tegang, sesekali bertanya. Bang Agus rupanya kenal dengan para pendaki 7 Summits itu karena dia tahu detil seperti ada seorang wanita dari Tim Wanadri (waktu itu ada 2 kelompok 7 Summits, Mahitala Universitas Parahiyangan dan Wanadri) tidak diizinkan melanjutkan karena alasan tertentu. Bang Agus cerita juga bahwa ada di gunung (gua lupa), dilarang buang kotoran (segala bentuk) di gunung. Nah kalo kita boker, kita harus boker di tempat yang sudah dibawa dari awal mula pendakian, kemudian dibawa turun lagi. Ada lagi cerita dari Puncak Cartenz, Papua di mana dalam 1 tahun hanya diizinkan 1 kali pendakian! Harus ada izin menteri katanya dan instansi bernama Freeport (harusnya diusir tuh perusahaan itu dari Indonesia).

Makin larut mata makin berat. Malam memang sudah larut, dan pikiran mulai nggak konsentrasi. Maka itu berakhirlah acara ngobrol dengan bang Agus. Langsung beranjak ke kamar untuk menikmati malam terakhir menginap di Montana. Seharian dihabiskan dengan jalan kaki, lelah sih tapi terbayar dengan pemandangan indah, udara segar, dan suasana nyaman di sini. Belum lagi bonus teman-teman Montana yang ramah-ramah, baik lagi. Jadi ketika malam dingin menerpa, saya pun terlelap (tidak tahu sama yang lain) dalam mimpi. Lelah tapi menyenangkan.

Pagi, seperti biasa, dinginnya daerah tinggi melanda tubuh. Saking dinginnya, saya bolak-balik kamar dan teras menunggu matahari terbit. Wuri dan Andri masih terpesona dalam kelelapan mimpi, Indah sudah nggak ada karena sudah pulang dari jam 2 dinihari (dibilang Wuri). Matahari pagi itu memang lagi malas-malasan, maklum hari Minggu. Di meja batu yang ada di halaman, ada pacarnya bang Kole lagi tidur-tiduran sambil dengar lagu. Mana ada tenda lagi di situ.

Sempat ngobrol sebentar dengan pacarnya bang Kole sekalian menghangatkan diri. Pagi yang cerah. Wuri dan Andri ikut bergabung duduk dan ngobrol juga. Terakhir kali bisa merasakan nikmatnya duduk di bawah pohon saat kuliah. Tidak lama kemudian bang Ari datang, dia mencari bang Kelo. Terlihat dia mau ke gunung Pangrango (sendiri) tapi dibantah dengan bilang “mau ke air terjun” bang Ari sambil senyum. Dia duduk, dan kita ngobrol tentang masalah-masalah lucu yang dihadapi bangsa terutama di kota Jakarta. Dia membawa berita tentang kebakaran di Tambora (Sabtu, 28/7). Di wilayah situ memang biasa terjadi, dan orang-orang sudah terbiasa juga dengan bencana demikian. Tapi hebat, mereka bisa kembali bangkit dengan bikin rumah lagi di daerah yang sama. Bang Ari cerita tentang pemadam kebakaran di Indonesia. Kita pun mulai membandingkan pemadam yang ada di Amerika Serikat (AS) dan di Indonesia. Kata bang Ari, di Amerika petugas pemadam kebakarannya terlatih, dan peralatannya lengkap termasuk sistem hydrant. Kalau di Indonesia, kata bang Ari petugas pemadam seperti anak baru yang baru dipanggil ikut tim pemadam. Wah. Belum lagi tidak ada hydrant yang berfungsi saat terjadi kebakaran di Tambora, dan harus pake air kali yang di dekat situ. Akibatnya, selang yang dipakai untuk memadamkan kebakaran mampet karena sampah yang masuk. Walah walah.

Satu lagi cerita dari bang Ari yang menarik adalah soal tanam bakau. Banyak perusahaan yang mengadakan kegiatan demikian di pinggiran pantai. Pertama kali menurut bang Ari ini sesuatu yang baik karena untuk perestorasian lingkungan baru di tepi pantai. Tapi lama-kelamaan bang Ari melihat, setelah bakau itu mulai tumbuh (atau semacamnya), maka mulailah dibangun properti-properti di sekitar tempat itu. Kata bang Ari gak ulang lagi deh kalo dipanggil atau diminta gituan hahahaha.

Waktu 3 hari dan 2 malam di Montana sangatlah menyenangkan. Ingin sekali lagi ke sana dan berpetualang ke tempat-tempat lain di sekitar Montana seperti Ciwelen (tulisannya kalo gak salah), tempat penangkaran burung, kebon raya atau taman raya tuh yang didekat Montana, Kandang Badak, atau puncak Pangrango hehehe. Pulang ke Jakarta, untuk kembali ke kehidupan nyata.

Wuri, Andri, dan saya siap untuk kembali ke Jakarta.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: