Beranda > Museum > Museum Nasional RI (Part II)

Museum Nasional RI (Part II)

Hari Minggu pertama bulan Juli, masih di Lapangan Banteng. “Mau ke mana kita sekarang, masih jam 2 kurang nih” bingung juga ya, karena  kalau masih jam segitu trus langsung mau balik kos. Jadi saya bilang aja ayo kita ke Museum Gajah, museum favorit saya. Museum Gajah itu terletak di jalan Merdeka Barat, berhadapan dengan terminal busway Monumen Nasional. Kita, sementara ini, berada di Lapangan Banteng dalam keadaan kelelahan akibat jalan-jalan di Monas, kemudian lihat-lihat pameran Flona 2012. Sebelum memutuskan pergi ke mana, kita menuju ke tempat di mana kita makan siang sebelumnya. Kita di Lapangan Banteng memang tidak terlalu lama, karena kepanasan dan butuh sesuatu yang adem.

Sempat terbersit keinginan untuk pergi ke museum Arsip Nasional RI (ANRI) yang ada di sekitar Mangga Besar, tidak jauh dari Lapangan Banteng ini cuman makan waktu aja untuk ke sana. Jadi kita kembali dulu ke Monas, tepatnya di dekat pintu masuknya yang ada di timur laut.

Kita berjalan ke arah Monas, kali ini melewati Departemen Agama (Depag) yang hanya berseberangan dengan Lapangan Banteng. Seraya melewati gedung Depag, maka yang terlontar pertama adalah kasus korupsi pengadaan Kitab Suci oleh oknum-oknum pejabat yang bersemayam di Senayan. Entahlah, saya tidak tahu harus berkomentar apa dengan hal ini, tapi kasus tersebut benar-benar keterlaluan. Andri dan yang lain (mereka Muslim) juga ikut berkomentar atas kasus ini. Mengerikan memang. Jadi tidak ada perasaan bangga dengan gedung Depag yang cukup megah saat kita melewatinya, bahkan langsung menyebrang jalan kita.

Uh, lewat lagi jalan yang sama artinya kita akan melewati jembatan “bau” itu lagi. Gilang, yang rupanya melihat ada sekelompok anak-anak menyeberang melalui besi yang cukup lebar di sebelah jembatan, tertarik untuk ikut jalan itu. Saya dan Andri juga setuju ingin mencobanya, tapi setelah melalui beberapa pertimbangan, kita membatalkannya. Pertimbangan paling tepat adalah, jembatan itu tidak layak dilewati karena bau. Kedua, jembatan (yang besi) kalo salah melangkah, bisa good bye to a damn river. Makanya nggak jadi.

Di tempat kita makan siang tadi, berembuk. Saya mengusulkan tempat yang dekat untuk dikunjungi yaitu museum Gajah. Pertama saya bilang untuk jalan ke Monas lagi, trus kita memotong ke arah barat ikut jalan di silang Monas. Cuman kita kecapean, jadi naik bajaj. Andri yang nego dengan tukang bajaj supaya bisa naik berempat dengan bayaran 10 ribu aja. Tukang bajaj nggak tau tu museum Gajah di sebelah mana, saya bilang antar aja ke jalan Merdeka Barat dekat terminal busway. Tukang bajaj itu deal, dan kita ber 4 naik ke bajaj. Wuri dipangku Andri.

Saya agak khawatir semula pas tukang bajaj muter-muter sampai lewat Tugu Tani (ingat Xenia maut). Saya bisik ke Andri “jangan-jangan tukang bajajnya minta tambahan lagi karena udah muter-muter” hahaha. Suara berisik bajaj berbahan bakar gas itu tidak seberisik bajaj yang berwarna oranye. Dulu, saya sempat bilang ke salah satu teman saya kenapa motor mesinnya tidak terlalu berisik, terutama motor-motor matik saat ini tapi bajaj yang sebenarnya berasal dari 1 kingdom yang sama hanya beda spesis aja tidak bisa menciptakan bajaj yang tidak berisik. Nah, bajaj yang berwarna biru ini adalah satu dari penemuan (entah siapa) untuk mengurangi kebisingan di Jakarta. Naik bajaj ber 4 seru juga, ini juga kali pertama saya naik bajaj yang berbahan bakar gas. Cukup ramah juga suara mesinnya.

Bajaj akhirnya berhenti di dekat patung kereta kuda (yang saya bilang itu sama seperti kereta di cerita Mahabharata yang dikendarai Krisna bersama Arjuna). Ngomong-ngomong soal cerita dari India kuno itu, saya tertarik dengan kisah Mahabharata yang menjadi juga cerita-cerita pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Raja Jayabaya, raja Airlangga, dan lainnya digambarkan berdasarkan kisah ini. Dari kisah ini juga saya mendapati nama Angga berasal dari sebuah nama kerajaan di India Utara (Nepal mungkin saat ini).

Gilang yang berpose di taman kecil dekat patung M. H. Thamrin, tidak jauh dari lingkaran air mancur.

Kalau jalan kaki memang agak jauh ke Museum Nasional dari bundaran air mancur. Kita melewati gedung Sapta Pesona di mana ada 2 kementrian berkantor di sana serta beberapa dirjen/ditjen. Kemudian ada kantor kementrian koordinator politik, hukum, dan keamanan berjejeran di jalan Merdeka Barat. Gedung Museum Nasional ini memang strategis karena di dekatnya ada beberapa landmark yang cukup mentereng. Selain patung Arjuna dan MH Thamrin, lokasi Museum juga bisa dijangkau dengan busway dan tidak jauh dari kompleks Monumen Nasional. Tapi cuaca saat itu panas. Tidak ada waktu untuk menari di bawah matahari.

Kali ini agak berbeda kunjungannya. Hari Minggu, orang-orang yang datang tidak sebanyak hari Sabtu. Bahkan kali ini bisa dihitung dengan jari. Seperti biasa kebanyakan orang yang berkunjung adalah pengunjung asing ketimbang anak negeri. Entah apa yang bisa mendorong mereka mengunjungi salah satu tempat elok ini. Di sana ada patung Prajnaparamita, patung terelok peninggalan masa Hindu-Buddha. Bahkan sekumpulan batu tanpa seni bernama Stonehenge tidak mampu mengalahkan keindahan ukiran para pengukir masa Hindu-Buddha yang begitu detil. Dan karena nasionalisme saya selalu menggelora jika berhadapan dengan karya seni anak negeri, maka jangan heran kalau saya menilai lukisan Monalisa tidaklah sebanding dengan patung Prajnaparamita. Bahkan kecantikan Monalisa dalam lukisan itu kalah dengan kecantikan sosok patung Prajnaparamita. Sayang tidak banyak yang tertarik. Entah mereka tahu atau tidak akan hal itu.

Karena saya telah mengeksplorasi bagian lantai pertama, jadi ada beberapa bagian yang akan saya lewati. Bagian pertama yang saya lewatkan pada kunjungan sebelumnya adalah kawasan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia (tapi saya nggak lihat yang dari Sulut, jadi saya bilang ke Andri diskriminasi nih :D). Bagian rumah-rumah itu ada di dekat patung Papua yang tinggi itu. Banyak kebudayaan-kebudayaan daerah yang ada di situ.

salah satu model perahu dari salah satu daerah di Indonesia.

Bagian lain yang dilewatkan juga pada kunjungan awal adalah ruangan peninggalan pada masa-masa prasejarah (begitu kata orang Sejarah) berupa pahatan batu, perunggu, atau sisa-sisa tulang mereka yang ditaruh dalam ruangan itu. Ternyata banyak juga ya peninggalan dari masa prasejarah yang sebenarnya saya meragukan kalau itu dari masa tersebut. Karena bentuk dan desainnya seperti bukan berasal dari masa prasejarah (kata sejarah) tapi malah dari zaman Hindu-Buddha. Jadi tidak semuanya benda yang diruangan itu merupakan hasil dari masa prasejarah, mungkin lebih pasnya disebut ruangan perunggu/besi.

Ke lantai 2, saya kembali mengunjungi patung Prajnaparamita. Makin lama makin dilihat, saya makin jatuh cinta dengan sosok yang digambarkan dalam patung itu. Mungkin beberapa orang tidak tahu dengan sosok Prajnaparamita, tapi mereka mungkin mengenal sosok Dewi Kwan Yin (atau Kwan Im) yang sering muncul di sinetron Sun Go Kong yang pernah tayang di salah satu TV Swasta di Indonesia. Jadi sosok Prajnaparamita adalah Dewi Kwan Im. Saya tidak begitu tahu dengan detail dari patung Prajnaparamita yang berada di lain tempat, misalnya India. Pada patung yang ada di Museum ini, terlihat sosok yang ditampilkan hanya memakai kain tipis yang menutupi dadanya sehingga kelihatan puting payudara dari sosok wanita tersebut. Dan itu bukanlah suatu hal yang asing bagi kita, karena di lantai 1 ada juga patung/arca yang tidak memakai pakaian dalam seperti BH (yang identik pada masa sekarang) atau baju/pakaian yang menutup sampai ke bagian dada wanita. Di dalam novel Arus Balik, sosok Idayu dan beberapa wanita dari salah satu desa di dekat Tuban telanjang bagian atasnya sehingga laki-laki bisa melihatnya (baik yang mesum tapi ada juga yang menganggap itu sah karena itu bagian dari kebudayaan). Andry sering dimarah Wuri karena kadang terlalu porno hahahahaha.

Andri dengan salah satu arca seorang wanita (Buddha mungkin) tapi saya tidak tau dari masa kerajaan apa.

Dari lantai 2 itu, kita menuju ke arah diorama manusia purba yang berada di sisi timur museum. Sebelum ke tempat yang sepi itu, sempat-sempatnya Wuri dan Gilang membatik. Memang di ruangan tengah yang menjadi penghubung antara gedung satu dengan gedung yang lain disediakan kain batik panjang, hanya ada motif dan belum berwarna. Pengunjung dipersilahkan membatik di kain tersebut dengan kuas dan cat warna-warni yang telah tersedia. Saya bicara kepada seorang bapak yang rupanya semacam panitia di situ bahwa kain batik tersebut merupakan salah satu ilustrasi Bhinneka Tunggal Ika, dalam 1 kain terdapat berbagai macam warna. Warna-warna yang menurut saya indah dipandang dari jauh, tapi norak dilihat dari dekat. Karena seringkali warnanya tidak saling bersesuaian satu dengan yang lain. Hal tersebut disebabkan karakter-karakter pembatik yang berbeda satu dengan yang lain. Selera mereka berbeda satu dengan yang lain. Ada juga bule yang ikutan membatik dan Wuri sok-sokan nyuri-nyuri pandang hahaha.

Wuri lagi membatik di samping seorang turis asing.

Batik tersebut belum selesai diwarnai ketika kita berkunjung. Andri (memegang kamera), Gilang (berjacket kuning), dan Wuri (berpakaian merah jingga). Pake putih itu satpam yang penasaran, 2 turis asing yang entah ngobrol apa, dan siapa nih yang pake biru?

Dari tempat pembatikan, kita menuju ke tempat diorama manusia purba yang berada di gedung sebelah tempat kita membeli karcis masuk. Ada juga 2 lantai yang belum saya kunjungi di sana, jadi ini kesempatan yang tepat. Seperti di awal cerita, tidak banyak orang di tempat ini sehingga serasa aneh berada di museum yang besar ini, untungnya kita ber 4.

Di Museum Gajah ini tersedia lift untuk mereka yang mudah lelah menaiki ekskalator. Lift tersedia di gedung berlantai 3 di sisi timur arah ruangan arca. Di mana ada tersedia diorama makhluk purba atau manusia Jawa purba (karena ditemukan di Jawa, di Sulawesi kebetulan belum ditemukan). Jika saya bertemu orang Jawa, saya akan guyon bilang itu (diorama manusia purba) nenek moyangmu hahahaha. Kalau mereka marah, marahlah kepada para “ilmuwan” yang memberi nama seperti itu. Tidak ada seorangpun yang mau menerima bahwa nenek moyang mereka lebih menyerupai kera ketimbang manusia. Bahkan Charles Darwin pun akan mengutuki saya jika bilang itu (manusia purba yang seperti kera) adalah nenek moyangnya dan dia termasuk keturunan kera. Tapi masa bodoh, kita tetap ke atas, lantai 2.

Di lantai 2, prasasti Yupa menyambut. Ternyata prasasti peninggalan kerajaan Kutai itu besar juga. Mungkin hampir setinggi saya dan cukup lebar. Prasasti itu masih dipenuhi tulisan-tulisan sansekerta. Ada juga prasasti-prasasti milik kerajaan Tarumanegara yang cukup banyak. Ada salah satu prasasti Tarumanegara yang berbentuk batu raksasa tapi yang ada di museum ini hanyalah duplikat. Mana mungkin batu sungai raksasa dari daerah Jawa Barat dipindahkan ke lantai 2 Museum Gajah ini, yang ada malah memakan hampir 1 ruangan. Selain prasasti, ada juga benda-benda budaya lain yang tersimpan di lantai 2. Ada juga benda-benda modern yang tersimpan di lantai 2 ini seperti peralatan navigasi jaman dahulu. Ada juga senjata mirip laras panjang tapi ini larasnya panjang banget, entah itukah yang disebut cetbang atau bukan saya tidak tahu. Saya melewatkan informasi yang tertera di peninggalan itu.

Ngomong-ngomong soal cetbang, cetbang adalah senjata andalan kerajaan Majapahit saat menguasai Nusantara. Kekuatan armada laut Majapahit ada di dalam cetbang itu. Mungkin telah ada pada zaman kerajaan Singhasari yang melancarkan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada zaman raja Kertanegara.

Suasana di Lantai 2 Museum Gajah, sepiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!

Di lantai 2 ini, banyak prasasti, arca, relief-relief, dan beberapa benda kebudayaan suku-suku yang ada di Indonesia seperti rumah adat, senjata, ukiran, alat transportasi, dan sebagainya. Susunan benda-benda sejarah atau budaya dipajang cukup rapi, berbeda dengan apa yang ada di lantai 1, apalagi di ruangan arca-arca dan prasasti yang dekat dengan taman yang seadanya. Susunan prasasti-prasasti di lantai 1 masih berhamburan tidak teratur walaupun telah disediakan tempat. Tapi di lantai 2 ini, prasasti-prasasti ada wilayahnya sendiri. Lantai 2 masih cukup untuk memuat prasasti-prasasti yang masih belum memiliki tempat yang layak di lantai 1 itu. Masih bisa saling bertetangga dengan prasasti Yupa atau prasasti milik Punawarman di situ. Mungkin pengelola museum sudah memikirkannya tapi terbentur dengan dana serta sumber daya manusia yang memadai. Lagi-lagi soal itu yang muncul di benak saya.

Sepeda roda 3!! Ukurannya besar, mungkin sepeda tersebut adalah cikal bakal dari sepeda ontel. Entah dari zaman apa benda itu, tapi mungkin dari zaman Belanda. Zaman Hindu-Buddha maupun zaman kerajaan Islam di Indonesia lebih senang memakai kuda atau berjalan kaki ketimbang pake sepeda. Sepeda itu sudah karatan, melambangkan bahwa itu memang dari zaman dulu. Kalau dikayuh mungkin jalannya tidak akan mulus akibat korosi. Entah sepeda itu menjadi saksi sejarah apa, saya tidak tahu. Apa mungkin hanya pajangan atau alat refresing seorang pejabat kompeni? Mungkin saja.

Sepeda Ontel zaman dulu, jauh sebelum kita lahir. Wuri, Andri, dan saya di situ, Gilang juru kamera.

Walaupun ini museum, dan sepi, tapi teknologi yang digunakan cukup maju. Selain ada kamera pengawas, kemudian ada lift, kali ini ekskalator mereka menggunakan sensor untuk mengetahui apakah ada orang yang akan menggunakan atau tidak ada. Dengan alat itu, museum bisa menekan biaya penggunaan listrik dengan percuma. Dan teknologi semacam itu juga ada di mal-mal.

Andri dengan senjata zaman dulu. Mungkin cetbang itu seperti ini ya?

Meninggalkan lantai 2 menuju lantai 3 menggunakan ekskalator. Suasana di lantai 2 sebenarnya agak spooky walaupun ada beberapa orang di sana. Tidak ada yang menjaga, hanya ada kamera-kamera pengintai yang siap mengintai anda. Penerangannya pun tidak terlalu terang seperti mal (emang kita di mal ini?) seperti mengikuti suasana masa lalu yang hanya ada sinar mentari di siang hari, dan cahaya obor di malam hari.

Lantai 3. Lebih sepi. Kali ini cuma kita ber 4 saja. Ekskalator yang dipakai naik pun membuat kaget karena tiba-tiba bergerak (ada sensor kan). Barang-barang yang dipajang kali ini berbeda. Sedikit yang saya kenal di sana. Hanya maket candi Borobudur yang saya kenal, selain itu tidak. Ada stempel bertuliskan tulisan Arab, berarti itu menandakan berasal dari zaman kerajaan Islam. Cuman, dulu di masa kerajaan Majapahit, perdagangan dengan khafilah-khafilah Arab telah dilakukan. Bahkan lebih lagi sebelum era Majapahit. Saya tidak mengerti bahasa Arab, informasi yang diberikan juga terbatas. Tapi tak apalah, tidak terlalu menarik.

Ada maket Borobudur juga di museum ini. Lebih tepatnya replika candi Borobudur. Wuri bilang, bahwa ada yang bilang peta Borobudur dimiliki oleh Perancis, jadi Perancis lah yang tahu apa sebenarnya maksud dari candi/kuil ini. Cerita di dalam relief juga sepertinya ada di peta itu. Karena menurut yang saya tahu, cara membaca relief di candi Borobudur ada caranya, tidak bisa sembarangan. Sama dengan membaca prasasti, tidak bisa sembarangan karena ada cara membacanya serta arah membacanya. Nah, saya bilang bahwa Tembok Raksasa Cina yang orang-orang banggakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan candi ini. Jika merujuk pada model tembok Cina, itu adalah benteng penjaga saja, tidak lebih. Nilai historis dari tembok Cina tidak lebih dari sebuah tembok benteng penghalang yang tinggi dan panjang. Tidak ada yang perlu dipuja dari sana. Berbeda dengan candi kebanggaan kita Borobudur. Candi ini memiliki keunikan karena modelnya adalah punden berundak-undak. Candi ini dibagi menjadi 3 tingkatan dan setiap tingkatan memiliki nama dan arti (saya lupa nama ketiga tingkatan itu, maklum bukan arkeolog atau sejarawan). Dengan relief-reliefnya yang sedemikian detil, tidaklah sebanding dengan tembok polos yang hanya bergaris-garis karena susunan batunya. Kata Andri saat melihat keindahan patung Prajnaparamita “hebat orang yang buat patung ini, detilnya terlihat jelas”. Sama seperti relief dari Borobudur, detil. So, kenapa kita harus ke tembok Cina jika kita memiliki yang lebih dari itu dalam wujud candi Borobudur? Bahkan tembok panjang itu belum tentu lebih historis daripada candi Prambanan.

Lantai 3 masih menyajikan suasana sepi, walaupun ada 1-2 orang yang di sana melihat-lihat selain kita. Ruangan di lantai 3 dibuat sama seperti di lantai 2. Berbentuk model gang agar di sisi kiri atau kanan, pengunjung bisa melihat benda-benda yang dipajang. Masih dari lantai 3, ada model rumah-rumahan dari Bali mungkin, karena mirip dengan yang ada di lantai 1. Ada juga alat transportasi salah satu daerah di Indonesia berupa perahu.

Ini model rumah adat dari daerah Jawa mungkin.

Suasana Museum Gajah di lantai 3.

Gilang bersama maket rumah adat.

Habis muter-muter di lantai 3, sampe si Wuri kecapean (yang cowo-cowo masih semangat). Waktu ternyata udah mau jam tutup. Petugas-petugas mulai bersih-bersih, menutup kaca-kaca yang berada di lantai 1. Eh Andri dan Gilang masih sempat-sempatnya foto bareng diorama manusia purba. Jam operasional Museum Gajah itu jam 9 pagi sampai jam 5 sore, hari Senin libur. Karcis masuknya cuman lima ribu perak, murah kan daripada nonton bola di stadion yang keamanannya masih belum terjamin.

Ehm, ketika bangsa lain mencoba menggali sejarah bangsanya, kita malah seolah-olah melupakannya. Dan Sejarah bangsa ini juga mengajarkan hidup bertoleransi antar sesama. Entah itu sejak masa Kerajaan Hindu-Buddha maupun kerajaan Islam. Sayang kita terlalu sibuk dengan urusan masa depan yang belum jelas, tapi melupakan apa yang dibelakang. Steve Jobs, dalam pidatonya di Universitas Stanford tahun 2005 mengatakan, You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future (anda tidak bisa menghubungkan titik-titik melihat ke depan, anda hanya bisa menghubungkan mereka ke belakang. Jadi anda harus percaya bahwa titik-titik itu  suatu saat akan berhubungan di masa depan). Sejarah masa lalu bangsa kita, suatu saat akan saling berhubungan di masa depan kita. Di Museum, kita bisa mempelajari banyak hal tentang masa lalu, masa depan itu bergantung dengan apa yang kita lakukan terhadap sejarah masa lalu pada masa kini.

Udah mau tutup. Pulang ah…

*** Lampiran dari jalan-jalan ke Museum Nasional RI ***


Baju dari Kulit Pohon.

***

Iklan
Kategori:Museum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: