Beranda > Olah Raga > Saatnya Berbenah!

Saatnya Berbenah!

Saatnya berbenah!! Kegagalan kontingen Indonesia meraih medali emas di Olimpiade London 2012 menjadi cambuk yang tepat bagi dunia olahraga nasional. Betapa tidak, kejayaan Indonesia di SEA GAMES 2011 Palembang hilang bagai uap. Di tingkat dunia Indonesia masih kalah pamor dari negara-negara yang notabene terkebelakang dalam dunia olahraga seperti Korea Utara. Korea Utara, yang baru saja terkena bencana alam mampu mendulang 4 emas sejauh ini!

Bahkan ketidakmampuan Indonesia dalam meraih medali emas (satupun) ikut menambah luka dunia olahraga nasional di mana salah satu ganda putri terbaik kita didiskualifikasi dengan tuduhan “main sabun” atau tidak fair. Entah mau taruh di mana muka KONI saat ini, ketua PBSI harusnya mundur dari jabatan karena gagal memenuhi target selama 2012. Untuk SEA GAMES saja kita seringkali gagal kalau bertanding di luar kandang, apalagi untuk tingkat dunia seperti olimpiade. Untuk kelas ASIAN GAMES saja kita masih berharap pada medali emas dari cabang non-olimpiade seperti perahu naga. Dunia olahraga nasional dalam tingkat terendah kali ini.

Namun tidak etis bagi kita, penduduk Indonesia, terus mengkritik para atlet maupun pelatihnya. Kali ini harusnya kita lebih mengkritisi ulah pemimpin-pemimpin serta mereka yang duduk tenang di kursi DPR/MPR yang hanya tahu ngomong dan korup. Negara kita seakan dikutuk oleh ulah-ulah mereka. Lihat saja kasus pembangunan proyek fasilitas olahraga nasional di Hambalang kalau ada hasilnya. Bahkan terjadi korupsi untuk kepentingan nasional itu. Proyek itu sekarang hanyalah sampah, karena berhenti akibat korupsi para anjing-anjing DPR. Entah sampai kapan kita harus duduk melihat para atlet kita merasa terhina di luar sana.

Dalam kegelapan pun terang akan selalu ada. Seperti cahaya Elendil di novel The Lord Of The Rings, kali ini cahaya tersebut datang dari cabang yang tidak terlalu dilirik oleh media massa nasional, Angkat Besi. Triyatno, peraih medali perak di kelas 69 kg, adalah atlet muda harapan bangsa di masa datang. Di usianya yang masih muda, diharapkan pada 4 tahun ke depan bisa merengkuh medali emas. Di saat bulutangkis tidak bisa menjadi harapan, Angkat Besi lah yang harus menampuk semua itu.

Di satu sisi, timbul keinginan untuk berbenah dari cabang bulutangkis. Mereka telah sadar sebelumnya, tapi masih merasa nyaman dengan prestasi 1 emas dari setiap olimpiade sebelum akhirnya cambuk London 2012 memecut pantat mereka. Para legenda bulutangkis pun mulai angkat suara sembari memberi motivasi bagi mereka (para atlet, pelatih, dan PBSI) untuk tetap terus menatap ke depan, biarlah sejarah ini berlalu, tapi jangan melupakannya.

“Ini kesalahan regenerasi” kata Rudi Hartono “Ini semua pembinaan secara massal tidak ada. Perlu ada permassalan di sekolah-sekolah” lanjutnya.

“Pasti (ada yang salah). Pembinaan atau dari sistem pembinaannya, talent scouting, kepelatihan, ada banyak yang harus dilihat. Yang kita lihat jangan cuma kekalahan dan prestasi secara umum” Liem Swie King, legenda bulutangkis Indonesia.

Untuk cabang bulutangkis, ini adalah kali pertama sejak 1992, bulutangkis gagal mempersembahkan medali emas. Kekalahan ganda campuran terbaik Indonesia Tontowi/Liliyana dari ganda campuran China semalam memupuskan harapan emas pada olimpiade kali ini.

“Itu memang terbaik yang bisa mereka capai. Mereka secara permainan bagus, namun di set ketiga Tontowi terlihat tertekan dan sering membuat kesalahan sendiri. Mereka bermain cukup baik, tapi China terlihat luar biasa” kata Susi Susanti. “Pastinya kita harus menerima kenyataan, Inilah prestasi yang bisa kita dapat” lanjutnya.

Menpora, Andi Mallarangeng juga bisa berkata bijak pada saat ini padahal dia termasuk pihak yang dituduhkan ikut korupsi dalam kasus Hambalang “Pulang dari sini kita segera evaluasi dan mempersiapkan diri menghadapi Olimpiade Rio (de Janeiro), tentu kita tidak bisa hanya menggantungkan diri pada satu cabang karena akan terlalu berat bagi bulu tangkis.”

“Kali ini kita kurang beruntung, tidak bisa menjadi juara di bulu tangkis. Tetapi masih perebutan medali perunggu, saya harap Tontowi dan Liliyana segera bangkit dan berjuang karena medali perunggu di Olimpiade juga sangat berharga” lanjut sosok yang berkumis lebat ini.

Liliyana pun merasa kecewa dan tidak mau patah arang untuk tetap maju. “Pastinya kecewa, tetapi kalau lihat dari permainan kami juga sudah berusaha maksimal, mainnya sudah all-out. Tetapi ya hasilnya begini, inilah permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Kami tidak mau down, karena besok masih ada perebutan medali perunggu” kata Liliyana

“Kami sudah banyak tertekan, sudah terlalu jauh untuk mengejar ketertingalan, sudah terlalu berat. Saya pribadi tegang, merasa tekanan terlalu besar di game ketiga, memikirkan menang kalah, jadi error-error sendiri” kata Tontowi yang kecewa hasil yang didapat.

Dari kejadian ini pula, kita, selaku sesama penduduk bangsa Indonesia tetap mendukung para atlet Indonesia yang berlaga di ajang-ajang internasional. Banggalah terhadap mereka apapun hasilnya itu, karena mereka ke sana bukan untuk studi banding atau jalan-jalan menghabiskan uang negara seperti orang-orang yang menyatakan diri sebagai wakil rakyat itu.

Terima kasih para atlet Indonesia, atas perjuangan kalian dan atas pengorbanan kalian! Kalian sudah tampil maksimal sejauh ini dan saya sebagai warga Indonesia bangga atas pencapaian ini.

Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan.

Lifter Indonesia Triyatno.

Ganda Campuran terbaik Indonesia Owi/Butet.

Kontingen Indonesia di Olimpiade London 2012.

Ingin mengutip kata Soe Hok Gie untuk para atlet Indonesia yang berjuang:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Kalian, para atlet, telah berusaha mendaki gunung tertinggi di bidang olahraga sekalipun itu gagal, kalian telah berusaha.

sumber: detiksport.com; kompas.com

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: