Beranda > Olah Raga > Olahraga Bukanlah Politik

Olahraga Bukanlah Politik

Bulutangkis dunia berduka. Perilaku tidak sportif yang ditunjukkan oleh 4 ganda putrid dari China, Korea Selatan (2), dan Indonesia mendapat kecaman keras. Dan bukan kepada mereka saja yang dikecam oleh para pecinta bulutangkis, BWF (Badminton World Federation) pun dikecam keras seolah mengabaikan kemungkinan “main sabun” dalam sistem kompetisi yang digunakan.

Kejadian bermula dari kekalahan mengejutkan ganda putri Cina Tian Qing/Zhao Yunlei dari ganda putri Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl di partai terakhir grup D, yang menyebabkan ganda putri Cina menempati posisi runner-up. Karena hal itu, ganda putri Cina di grup lainnya Wang Xiaoli/Yu Yang bermain sengaja untuk kalah dari pasangan Korea Selatan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na. Kesengajaan itu dilakukan ganda Cina tersebut untuk menghindari pertemuan dini di semifinal melawan rekan senegaranya tersebut (Tian/Zhao). Akibat hasil dari Wang/Yu yang menjadi runner-up, maka permainan “main sabun” menjalar ke pertandingan ganda putri lainnya yaitu Greysia Polii/Meiliana Djauhari melawan Ha Jung Eun/Kim Min Jung. Saking kedua ganda tersebut “ogah” bertanding, wasit yang memimpin pertandingan tersebut sampai-sampai mendiskualifikasi kedua ganda tersebut dengan memberikan kartu hitam. Pertandingan dilanjutkan setelah wasit berdiskusi dengan pihak ganda tersebut. Dan permainan adem ayem pun dilanjutkan dengan kekecewaan penonton.

Ternyata, insiden tersebut pun diselidiki dan keputusan pun turun dengan mendiskualifikasi keempat ganda putri tersebut. Hasil yang cukup adil mengingat keempat ganda itu menciderai sportifitas seperti yang dituduhkan. Empat ganda putri dunia tersebut harus angkat kaki lebih dahulu dari arena walaupun mereka telah lolos ke babak berikutnya. Namun masih ada riak-riak dari insiden tersebut.

Seorang relawan olimpiade yang melihat insiden itu berkata “Ini bukanlah olimpiade sebagaimana mestinya.” “Seperti pertandingan sirkus” kata Taufik Hidayat, salah satu legenda bulutangkis Indonesia “Saya senang jika ada yang didiskualifikasi. Saya memang dari Indonesia dan ganda putri (Greysia/Meiliana) juga dari Indonesia, tapi itu tidak sportif” lanjut Taufik yang kalah sportif dari Lin Dan.

Lin Dan pun ikut angkat suara “terutama untuk para penonton. Ini sudah pasti tidak selaras dengan semangat olimpiade. Tapi seperti apa yang saya bilang sebelumnya, ini bukan kesalahan satu pihak.”

Pihak Cina pun menyesalkan insiden itu “Perilaku Yu Yang dan Wang Xiaoli di lapangan melanggar idealisme dan semangat kompetisi yang fair. Delegasi Cina menyayangkan hal ini.”

Bukan cuma 4 pasangan ganda putri yang kena kritik karena ketidak sportifan mereka dalam even sebesar Olimpiade. BWF selaku federasi yang memayungi bulutangkis juga kena kritik tajam dari para pecinta bulutangkis maupun para atlet tentang format Olimpiade tersebut.

“Siapapun yang menetapkan peraturan semestinya membuat format knockout sehingga siapapun yang tidak berusaha menang akan tersingkir dari Olimpiade” kata Lin Dan yang mengkritik format Olimpiade.

“Solusi sederhana, bulutangkis tak perlu dimainkan dalam (format) grup. (Formatnya) biasanya knockout, jadi pertahankan saja seperti itu!” seru Gail Emms, peraih medali perak bulutangkis di Olimpiade 2004, melalui akun twitternya.

Pelatih Australia Lasse Bundgaard juga ikut mengkritik format tersebut “Tidaklah bagus ketika anda menciptakan sebuah turnamen di mana para pemainnya ditempatkan ke dalam situasi ini. Jika anda bisa meraih medali dengan kalah, itu bukan situasi yang bagus.”

“Saya sangat bisa memahami mengapa mereka melakukannya. Kini kubu Indonesia ikut melakukannya, memang tidak bagus menempatkan para pemain ke dalam situasi ini” lanjut Bundgaard.

Memang, Indonesia terkesan ikut-ikutan dalam situasi ini, padahal sejatinya parapecinta bulutangkis selalu berada di belakang para atlet bulutangkis walaupun mereka kalah. Saya agak kecewa juga dengan pernyataan pelatih ganda putri Indonesia Paulus Firman yang menyalahkan orang lain ketimbang pemainnya sendiri. Apakah kalau negara lain tidak sportif kita juga harus berlaku tidak sportif? Apakah medali di atas segala-galanya dan mengalahkan sportifitas yang dijunjung dalam olahraga? Kejadian ini serupa dengan kasus sepakbola gajah di Piala AFF (dulu Piala Tiger) yang mencoreng sepakbola kita. Kali ini bulutangkis yang menjadi kebanggaan Indonesia. Greysia/Meiliana seharusnya tahu bahwa walaupun kalah di perempat final, kita akan selalu berada di belakang kalian dan akan terus mendukung kalian.

“Kami dilatih oleh senior-senior yang sudah punya pengalaman mendunia, kami siap untuk kalah. Namun kami tidak siap dituduh curang” ujar Meiliana mengekspresikan kekecewaanya. Dan hal ini wajar karena selain atlet, format juga ikut ambil bagian dalam ulah tidak sportif ini. Saya setuju dengan komentar Emms dan Bundgaard untuk hal tersebut.

“Setelah dipikir ulang, kesedihan pasti ada. Tapi mengucap syukur sama Tuhan buat keadaan ini lebih baik daripada bersedih. Sebagai pemain pasti kejadian ini membuat kami terpukul tapi setidaknya kami sudah berusaha dan menyelesaikan pertandingan” kata Greysia.

“Ya mau bagaimana lagi, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kami. Kecewa itu pasti, namun kami akan fight back dengan prestasi” lanjut Meiliana.

Ayo bulutangkis Indonesia! Walaupun kalian kalah, tapi bertandinglah dengan semangat kesportifan olahraga. KARENA OLAHRAGA ITU BUKAN POLITIK!!!

Ganda Putri terbaik Indonesia, Greysia Polii/Meiliana Jauhari saat bertanding di Olimpiade London 2012.

Ayo Indonesia!! Aku Akan Selalu Ada Untukmu

Sumber: detiksport.com, kompas.com, reborn-art.blogspot.com, dan google.com

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: