Beranda > Umum > Lapangan Banteng 1 Juli 2012

Lapangan Banteng 1 Juli 2012

Terik di Monas hari Minggu (1/7) siang sangat terasa. Kita tidak tahan dengan cuaca yang disebut orang bersahabat ini. Tidak ada awan yang menutupi matahari di atas sana, yang melindungi sesekali para manusia di bawah sini. Yang ada hanyalah matahari sendiri, angkuh bersinar tanpa ditemani busa-busa putih angkasa. Sedang manusia-manusia yang ada di kompleks Tugu Monas berteduh di bawah “lesung” yang besarnya 45 m x 45 m (pantes agak capek pas keliling). Jalan keluar dari kompleks Tugu Monas ternyata tidak sesulit masuknya. Kalau masuk kita harus mengunjungi antrian karcis di bawah tanah, nah kalo ini kita bisa lenggang kangkung berjalan melewati pagar keluar. Di depan pagar keluar, sekelompok anak-anak mencoba membujuk satpam penjaga yang menyuruh mereka ikut dari pintu masuk.

Pukul setengah 12, kita keluar dari kompleks Tugu Monas dan berjalan di Pelataran Merdeka menuju pintu keluar kompleks Monas. Kita menuju ke Lapangan Banteng.

Menurut Wuri sebelumnya (ketua panitia), Lapangan Banteng tengah menyelenggarakan pameran Flona 2012 (Flora dan Fauna 2012). Dari Pelataran Merdeka, kami mengarah ke arah pintu masuk/keluar di timur laut. Karena pintu masuk/keluar dari Monas berada pada 4 sudut kompleks, maka tidak ada pintu utara, selatan, timur, dan barat di sini. Malah yang ada jalan Merdeka yang mengelilingi bagian luar kompleks Monas.

“Jadi nggak mau naik ke atas nih kita?”

Di Pelataran Merdeka, walaupun siang dan matahari lagi ngambek, tetap saja banyak orang yang beraktivitas di sana. Entah mereka berjualan, bersepeda, atau main layangan melawan teriknya matahari. Saya, Andri, dan Gilang pun berkesempatan berteduh sejenak saat ketua panitia ingin buang air. Sementara berteduh, tidak jauh dari tempat kami, ada sekeluarga yang mendirikan tenda di situ. TENDA! Yang bener aja, emang ini pramuka. Omong-omong soal pramuka, tadi juga saat di ruang Kemerdekaan di Tugu Monas, banyak pemuda yang memakai pakaian pramuka. Saya tanya apa mereka dari Jambore, mereka jawab bukan tapi dari sarasehan. Saya baru ngerti sarasehan mereka saat melewati sebuah baliho dengan gambar wakil presiden Bapak Boediono terpampang di suatu sudut dekat pintu masuk Monas.

Kita adalah kumpulan manusia yang butuh makan. Dan perut nampaknya tidak mau kompromi, jadi kita pun duduk makan bersama di trotoar beratapkan pohon rindang dengan daun-daun kuning yang berjatuhan (tapi tidak selalu). Bunyi-bunyi riang kendaraan bermotor dan sesekali suara kereta api terdengar dari jembatan stasiun Gambir yang tidak jauh dari tempat kami berteduh. Ya karena hanya ada 2 gerobak makan dan 1 gerobak minuman, makanan yang ditawarkan pun ala kadarnya alias sangat terbatas. Saya dan Gilang memesan ketoprak, kebetulan saya sudah lama tidak makan ketoprak. Andri dan Wuri memesan mie ayam yang gerobaknya di sebelah gerobak si ketoprak. Apapun makanannya, minumnya es kelapa muda yang gerobaknya di sebelah gerobak si ketoprak juga (ketoprak ada di tengah). Jadi, pendapatan dari 4 orang yang kelaparan ini dibagi rata pada 3 gerobak. Adil kan hehehe.

Menurut Wuri (kali ini bertindak sebagai guide), Lapangan Banteng itu tidak jauh dari Monas karena hanya berada di belakang kantor Pertamina pusat. Gilang bilang kalo cuman dekat ngapain kita naik bajaj, karena Wuri menyarankan supaya kita ke sana naik bajaj. Kami tengah berdiskusi soal mau makan di mana juga saat itu sebelum nekad makan di pinggiran bersama debu-debu dan angin-angin disertai suara nyaring lalu-lalang kendaraan bermotor.

Perjalanan ke Lapangan Banteng tidaklah sejauh apa yang dikatakan Wuri. Hanya sekitar 300 meter saja dari tempat kami makan, atau 350 meter dari pintu masuk Monas sebelah timur laut. Wuri yang doyan naik gunung ini nampaknya agak meremehkan 3 pria tampan ini hehehehe. Kita pun melaju ke Lapangan Banteng setelah tenaga terisi.

Jalan ke Lapangan Banteng sebenarnya memanjakan para pejalan kaki. Kenapa? Karena tersedia trotoar yang lumayanlah ditemani pepohonan yang cukup rindang untuk melindungi para pejalan kaki dari terik matahari (tapi tidak dari curahan hujan makanya ada semacam halte di situ). Sayang seribu sayang, ada tempat perhentian busway di situ. Menghalangi jalan para pejalan kaki sehingga pejalan kaki harus turun ke jalan. Untungnya, frekuensi busway di tempat itu tidak sering jadi kenyamanan masih agak terjaga walaupun sebenarnya saya agak kecewa dengan penempatan seperti itu. Busway seperti masuk ke pit stop kalo mau berhenti di terminal itu, karena ada semacam jalan khusus di situ yang tidak terlalu panjang tapi cukup untuk dilewati busway yang berhenti di situ. Tidak ada acara potret-potret selama perjalanan!

Selain terminal busway yang menghalangi pejalan kaki untuk bernyaman ria di bawah pepohonan, ada satu hal lagi yang membuat perjalanan ke sana cukup mengganggu. Kali! Rupanya itu adalah kali Ciliwung. Ada jembatan yang menghubungkan jalan melewati kali Ciliwung ini. Warna kali ini tidak biasanya seperti kali-kali atau sungai-sungai yang berada di kota-kota besar seperti Seine di Paris, Thames di London, atau sungai yang membagi kota Budapest menjadi 2 bagian. Jika sungai-sungai atau kali-kali di kota-kota tersebut tergolong ya bersihlah karena air masih dapat mengalir bebas jika tidak membeku karena salju, maka kali Ciliwung ini airnya mampet! Kalau diumpamakan dengan kemacetan lalu lintas, maka kali ini sudah tergolong padat merayap!! Uh, dan baunya menyengat. Mungkin lalat juga nggak bakalan tahan hidup di situ. Airnya berwarna hitam pekat seperti karbon. Gilang dan Andri berlari cepat melewati jembatan itu, meninggalkan saya dan Wuri yang memakai masker alami yaitu tangan untuk menutupi hidung. Parah dan parah!

Sialnya, selain kantor Pertamina Pusat, ada juga kantor Departemen Agama dan Mesjid Istiqlal serta gereja Katedral di seberang Mesjid Istiqlal. Anehnya, mereka sepertinya tidak menjadi contoh yang baik karena sudah sekian tahun berdiri, tidak ada perubahan dengan warna kali Ciliwung tersebut. Tetap HITAM!

Lapangan Banteng! Setelah melewati trotoar yang menyenangkan karena berstandar internasional (cie ileh) dari jembatan tadi, akhirnya kita sampai ke Lapangan Banteng. Ikon lapangan ini adalah patung Pembebasan Irian Barat. Pada film Gie karya Riri Riza, patung ini masih sementara didirikan. Saya juga tahu nama patung ini saat menonton Kick Andy yang saat itu temanya mengunjungi museum-museum. Sayang, kita tidak sempat mengunjungi patung tersebut padahal sudah cukup dekat, dekat sekali dari tempat kita berdiri.

Saya, Andri, dan Gilang bertanya kepada Wuri “mana pameran flora dan faunanya?”, “ada, di sebelah sana” Wuri jawab sambil berjalan cuek. Memasuki lokasi pameran Flora dan Fauna 2012 (Flona), saya tidak sadar karena melihat pohon-pohon yang masih setinggi 1-2 meter berjejeran di situ, saya mengira itu memang hiasan taman di situ. Ada pohon mangga, pohon entah apa, pohon apa itu, dan semacamnya. Ada yang sudah dikawinkan silang, dicangkok atau diokulasi, tapi saya tidak melihat kalo ada pohon yang dikorupsi. Ah itu cuman ada di Senayan atau mungkin di Kemendag.

Aneh, saya melihat ada pohon mangga, yang masih setinggi saya sudah berbuah beberapa. Pohon di rumah saya, tidak terlalu tinggi dan dahannya juga tidak terlalu tangguh untuk dinaiki, kalau berbuah cukup lebat. Aneh, padahal kalau pohon mangga di kampus saya dulu, cukup tinggi, sulit dijangkau, dan buahnya kecil-kecil pula. Saya menyebutnya mangga kota dan mangga hutan.

Masuk lebih ke dalam, saya mulai penasaran dengan pameran ini. Kami pun sempat berpose di papan pameran Flona.

dari kiri ke kanan: Gilang, Andri, dan Wuri. Saya? Yang motret dong.

Di foto tersebut, ada pepohonan yang nampaknya akan membuat para pelancong sejuk. Nyatanya tidak, masih tetap panas karena pohon-pohon sebagiannya hanyalah pemanis, hiasan untuk pameran saja. Panas memang hari Minggu itu, mungkin sebagai akibat dari saya tidak masuk gereja mungkin hahahaha. Tidak jauh dari tempat kita foto, ada sebuah konsep taman yang unik, dengan sebuah roda air (namanya apa sih) yang berputar dan tersambung dengan pemukul-pemukul kolintang/gamelan yang ada di sampingnya secara berurutan sehingga menimbulkan nada-nada yang indah. Saya bilang ke teman-teman, itu kalo malam bisa bikin takut karena bisa aja tu roda nggak berputar tapi suara dari kolintang masih keluar hahahaha.

Itu yang bundar namanya apa ya? Gua lupa apa nggak tau ya namanya?

Berjalan lebih ke dalam, ada stand-stand dari beberapa lembaga yang ada di Jakarta, juga pihak pemerintah kota-kota yang ada dalam DKI Jakarta ikut serta. Dan yang paling menarik perhatian adalah stand milik pemerintah kota Jakarta Utara. Yang berbentuk kapal yang sedang merapat ke dermaga  yang tertulis Pelabuhan Sunda Kelapa. Unik dan kreatif, kita masuk ke dalam dan menemukan tidak ada apa-apa di dalam selain televisi, sebuah buku tamu, dan beberapa perabot yang tidak menarik perhatian.

Di depan stand pemerintah kota Jakarta Utara. Gilang, Andri, dan saya. Wuri jatah potret.

Banyak penjual yang menjajakan alat-alat untuk berkebun, pupuk, atau bibit tanaman. Ada juga yang kreatif dengan memamerkan desain taman lengkap dengan perabot pendukung sebuah taman seperti pencahayaan, kursi dan meja, jalan setapak melewati rumput-rumput kecil, serta tidak lupa pula sistem penyiraman otomatis. Lain lagi dengan beberapa penjaja yang menawarkan hasil dari tanaman seperti buah, atau jamur dan semacamnya. Tanaman lain yang menarik adalah bonsai dan kaktus. Tanaman-tanaman berlabel “mungil” ini juga unik. Ada tanaman bonsai yang bentuknya seperti manusia, ada juga model reka ulang kecelakaan pesawat sukhoi yang belum lama terjadi. Unik-unik.

Seorang ahli bencana sedang memaparkan peristiwa Sukhoi melalui media tanaman wakakakak.

Ada juga jajanan makanan di dalam pameran ini. Sayang terbatas pada 1 menu saja, kerak telor! Sepanjang kita keliling, tidak terlihat jajanan makanan selain fast food lokal ini. Minumnya juga cuman ada stand teh botol Sosro. Ya nggak apa-apalah, toh namanya juga dalam rangka memperingati hari ulang tahun Jakarta. Saya juga belum pernah nyoba fast food lokal ini yang bernama kerak telor. Saya cuman dengar dari berita aja atau acara kuliner yang ada di TV. Pada dasarnya kita harus menghormati dan menghargai budaya setiap suku bangsa yang unik-unik ini. Ya karena kita adalah bangsa Indonesia.

Masih di tempat pameran Flona 2012, kali ini kita masuk ke wilayah pameran fauna. Fauna yang ditontonkan bukanlah fauna langka (seperti yang saya pikirkan awalnya), tetapi fauna yang biasa dipelihara dalam rumah-rumah seperti kucing, anjing, dll. Fauna-fauna untuk para penggemar hewan ekstrim juga ada seperti ular, biawak, atau reptil-reptil yang tergolong “jarang” untuk dipelihara. Ada juga kura-kura yang gitu-gitu aja badannya. Saya tidak melihat ikan hias yang dipasarkan (mungkin ada tapi gak sempat ke standnya). Saya penasaran dengan ikan piranha. Ada juga ayam aneh yang kita lihat. Jenis ayam ini adalah ayam serama (Wuri bilang ayam kate ke saya). Ayam itu, menurut penjualnya, berharga 10 juta!! Padahal ayam itu kecil, tidak besar seperti ayam KFC (yang 1 ekor maksudnya), tapi, ada tapinya, ayam itu tidak seperti ayam lainnya yang berjalan menunduk, atau seperti ayam jago yang angkuh tapi lehernya panjang seperti jerapah. Ayam ini berjalan seperti manusia yang membusungkan dada, sombong tapi unik, ayam ini berbeda dengan ayam-ayam di tempat sabung. Ayam ini lehernya tidak panjang, bulu-bulu ekornya berdiri seperti burung merak. Harganya kata Wuri 3 juta, gak taunya 10 juta hahahaha.

Kata Wuri, ini ayam kate hahahaha. Nggak taunya salah wkwkwk.

Ayam serama itu memang unik, sampe pake kontes segala. Jadi sekarang bukan cuman manusia aja yang berkompetisi dalam “olimpiade’. Rupa-rupanya setiap spesis hewan memiliki lombanya sendiri. Dulu saya cuma kenal anjing, kuda, kucing, atau burung perkutut. Mungkin zaman makin maju, hak asasi spesis binatang lain rupanya menuntut adanya kompetisi. Makanya ada kompetisi ini. Kira-kira itulah banyolan aneh saya hahaha.

Memang ayam itu menarik, tapi masih banyak binatang unik di pameran. Pertama stand binatang yang kita kunjungi adalah kelinci (Gilang gak tau ke mana itu). Itu kelinci juga lucu perilakunya. Mereka ada di atas kandang bergerombol (yang kecil dan sengaja memang ditaruh di situ) sambil nyantai. Ada juga yang nakal, lari sana lari sini untuk mencari kenyamanan. Rupa-rupanya mereka gerah dengan suhu udara yang panas. Beberapa tetua kelinci (sepertinya sih, terlihat dari gayanya) berada di dekat kipas angin yang disediakan oleh penjaga stand itu. Yang lain bergerombol di dekat atau di tempat di mana angin yang dikeluarkan kipas menjangkau.

Kelinci-kelinci yang sedang nyantai dengan asiknya.

Sementara Wuri yang doyan hewan ini nyari-nyari info, Andri sibuk motret (capturing the moment), saya lagi ketawa liat kucing yang malas kayak Garfield, Gilang entah di mana ya.

Kita menikmati stand-stand di pameran ini, terutama fauna. Si Wuri juga agak ekstrim, dia bermimpi memiliki ular sanca (atau piton ya) yang berwarna kuning belang putih. Memang sih lucu, cuman saya geli kalo sama ular. Aneh bin ajaib, Wuri ini sama seperti  sahabat saya Ghe, Ghe ini penakut sama anjing sampe pernah dia teriak gara-gara anjing lewat hahaha. Tapi dia berani sama ular hahaha.

Sebelum mengakhiri dan merencanakan perjalanan berikut, kita duduk sejenak di tempat makan kerak telor. Seperti yang saya katakan di atas, kerak telor ini cukup terkenal saat pada HUT Jakarta. Karena saya belum pernah mencoba, Gilang dan Andri juga jadi kita memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menambah tenaga dengan kerak telor. Kerak telor rupanya juga pake pilihan, pake telor ayam atau telor bebek. Nanti mungkin juga akan pake telor puyuh apa ya, bisa bentoel-bentoel nih badan. Menurut saya, kerak telor itu enak juga (jika perut lapar). “Mau ke mana kita sekarang, masih jam 2 kurang nih”.

Gilang: “eh Wuri, ke mana nih abis liat pameran hewan” Wuri: “ke hatimu deh Lang :p”  (cat: Oma ini, dari mukanya kelihatan galau, susah senyum :D)

Ke mana ya habis itu? Hari masih panas….

Iklan
Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: