Beranda > Keluarga > Manado, saya datang….

Manado, saya datang….

Saya mengerti arti waktu itu terbatas saat mengambil cuti selama 2 hari (dengan total liburan 5 hari) untuk pulang sebentar ke Manado. Awalnya, saya cuma ingin menghadiri acara pernikahan salah satu teman baik saya Adi dan Ghe di Manado. Sejak Desember 2011, Ghe sudah bilang tanggal pernikahannya kepada saya sehingga saya bisa merencanakan tanggal cuti saya sejak awal. Tapi saya minta dia konfirmasi lagi bulan Januari, supaya tanggal pastinya sudah fix. Ya, itulah cerita awal mengapa saya mendadak pulang di tengah tahun, tanpa kabar sebelumnya.

Arti waktu makin terasa ketika seminggu menjelang hari H pulang ke Manado. Dari awal hanya untuk menghadiri acara pernikahan Adi dan Ghe, merembet ke acara-acara yang tidak direncanakan dari awal. Mama yang memang sibuk, kali ini tidak kompak karena malah ke Jakarta untuk urus kuliahnya, jadi tidak bertemu sama sekali. Kabar lainnya adalah sakitnya Om Piet, kemudian ada Adi yang masih sibuk dengan kuliahnya dan rupa-rupanya butuh teman berbincang, Papa yang ingin belajar lebih dalam lagi tentang komputer dan internet sehingga sempat-sempatnya membeli laptop, dan selain itu ada seorang wanita yang ingin saya temui jadi saya menyediakan hari khusus untuknya. Belum lagi rencana-rencana yang lain seperti mengunduh beberapa video yang saya cari, berkunjung ke rumah kong di Lililoyor, ketemu teman-teman, dan macam-macam.

Semangat pada saat hari H, hari Kamis (21/6) sangat tinggi. Sayangnya dirusak oleh sebuah maskapai penerbangan yang delay kurang lebih 2 jam, jadilah saya harus menunggu di ruang tunggu keberangkatan hingga badan pegal, nasi kotak tidak cukup untuk menghibur saya. Sambil nunggu, berita jatuhnya pesawat Fokker di sekitar Jakarta Timur malah menimbulkan was-was untuk naik pesawat. Setelah berita kecelakaan pesawat komersil yang diuji coba belum lama ini, berita ini malah menambah kabar buruk penerbangan di Indonesia. Belum lagi artikel dari bang Chappy Hakim yang menceritakan tentang buruknya ATC (Air Traffic Control) bandara Soekarno-Hatta. Wah, cukup komplikasi juga saat itu. Untungnya ada teman ngobrol yang bisa berbahasa Manado, jadi lumayanlah bosan berkurang sekelingking.

Dasar pesawat delay, ada-ada aja akibatnya. Setelah pesawat datangnya terlambat yang mengakibatkan penumpang terlantar, kali ini merembet ke urusan take-off. Saya baru tau kalo bandara Soekarno-Hatta juga punya yang namanya traffic di lapangan terbangnya, bukan cuma di udara saja. Setelah seluruh penumpang naik ke pesawat, pramugari-pramugara menjelaskan basa-basi, pesawat terdiam (tidak gerak) selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, pesawat jalan menuju ke landasan pacu. Setelah menuju landasan pacu, maka saya baru mengerti traffic landing-take off. Sang kapten pilot mengumumkan bahwa mereka sedang menunggu traffic untuk take off dan berada pada urutan ke 16!! Jadi, ada 15 pesawat yang take off-landing sebelum pesawat yang saya tumpangi beranjak dari Jakarta. Fiuh!!!! Riuh rendah suara penumpang lain yang masih geleng-geleng kepala. Saya yang duduk di deretan pintu emergency bersama seorang Chinese (yang saya baru sadar saat transit di Balikpapan) terus melihat ke jendela. Seperti kata comedian stand up, bisa aja itu pemandangan terakhir yang kita akan lihat hahahaha. Pesawat berangkat pada jam 6 malam lewat seperempat (kurang lebih), transit Balikpapan, sebelum mendarat di Manado (akhirnya) jam setengah 12 malam. Saya berada di bandara Soekarno-Hatta sejak jam 1 siang, jadi hampir 12 jam saya menunggu untuk sampai di Manado dengan selamat.

Manado, saya datang……

Pesawat datang jam setengah 12 (kira-kira) malam. Saya ditawari orang Chinese yang duduk di sebelah saya untuk ikut tumpangan dia, saya bilang saya dijemput papa dan kami ber zai jian di ruang tunggu bagasi. Karena saya tidak membawa bagasi sama sekali, jadi saya lenggang kangkung menuju pintu keluar. Di sana ada 2 orang yang menunggu, pertama sudah pasti papa saya, kedua mamanya Candy. Candy memang menitipkan sesuatu ke mamanya. Saya ketemu mamanya di bawah papan iklan produk kopi. Kaget juga liat mamanya Candy, kecil rupanya hihihi (semoga Candy nggak baca :p).

Setelah barang titipan diambil, saya yang sudah bertemu papa langsung berangkat menuju rumah (orang tua) di Mahakeret Barat. Jalanan sepi, kendaraan pun hanya satu-dua saja yang lalu lalang (iyalah, jam berapa emangnya waktu itu!!!). Manado rupanya sudah lumayan berkembang rupanya. Jalanan di daerah Paal 2 sudah lebar dikit, walaupun jalan-jalan yang lain cuman catnya aja yang baru tapi saya pikir sedikit berkembang lah. Sampai di rumah, langsung tidur karena kecapean.

Hari Jumat siang, saya menunggu Adi pulang ke rumah. Papa seperti biasa pergi ke gereja, dan rumah kosong karena mama lagi di Jakarta, dan tidak ada pembantu. Ada sih 2 makhluk lucu yang pagi-pagi ribut, siang-siang ribut juga, 2 makhluk itu Pin-pin dan Lion. 2 makhluk pengganti Prime, Snowie, dan Bondie. Ada juga anjing 1 yang serupa dengan Prime, sayang mati sebelum saya liat.

Adi datang sekitar pukul 2 siang, dan pukul 4 sore jalan-jalan sekalian membawa titipan Michan. Michan menitipkan hadiah ulang tahun kepada sahabatnya yang juga bernama Ghe. Ghe ini juga teman saya dari SMP, dia saat SMA bersekolah di SMAN 1 Manado yang juga sekolahnya Michan saat SMA. Kita janjian di pasar swalayan bernama Multi Mart yang ada di belakang Mega Mall di kawasan Boulevard.

Jarak rumah ke Mega Mall cukup jauh sih kalo jalan kaki. 1,5 kilo barangkali ada. Karena sepakat, kita pun jalan kaki dari rumah ke Mega Mall. Karena lokasi rumah berada di daerah yang cukup tinggi, jadi jalan menurun adalah jalan yang harus dihadapi (emang musuh). Papa tidak ikut karena ada tugas di gereja tapi sempat berpesan untuk membeli makan nanti malam. Suasana di daerah sekitar rumah pun tidak banyak berubah. Bendera-bendera negara Eropa berkibar di ujung tiang-tiang yang terbuat dari bambu. Wajarlah, karena saat itu ada gelaran Piala Eropa dan masih berlangsung. Manado memang terkenal sebagai kota fanatik sepakbola. Teringat kala dulu menonton kesebelasan Persma Manado di stadion Klabat yang selalu penuh kala mereka bermain. Bahkan dulu, di Manado sempat digelar Final Liga Indonesia antara PSIS dan Persebaya. Manado dikenal dengan kota yang aman.

Di Multi Mart, saya dan Adi menunggu Ghe. Ya mungkin karena wanita, jadi agak karetan. Padahal janjian jam 5an, eh nanti jam 6 lewat baru barangnya diambil. Sudah lama juga tidak ketemu sama Ghe, yang dari dulu hobinya menggambar di buku tulis. Seingat saya, buku tulisnya saat SMP penuh dengan gambar-gambar kartun Jepang Rurouni Kenshin atau dikenal dengan Samurai X di layar kaca saat itu. Ghe cukup tinggi, seperti Michan dan Ghe (yang mau nikah). Karena saya menunggu lama, maka saya minta dibelikan roti sama Ghe hahaha. Dan benar saja, saat keluar dari tempat pembayaran Ghe membawa 1 kantong plastik berisi roti daging hehehe.

Setelah bertemu Ghe dan menyerahkan barang yang dititip Michan, saya dan Adi pun menuju sebuah restoran fast food ternama di bilangan Mega Mas. Kita berbincang banyak hal di sana sampai jam makan malam tiba.

Iklan
Kategori:Keluarga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: