Beranda > Keluarga > Manado: Sanak Keluarga, Sahabat, dan Hai Susan…..

Manado: Sanak Keluarga, Sahabat, dan Hai Susan…..

Kabar tentang sakitnya Om Piet memang baru lewat kurang lebih sebulan. Rupanya sakitnya cukup parah sampe perlu ke rumah sakit, keluarga di sana sudah berkunjung walaupun belum semuanya. Hari Sabtu jadwalnya cukup padat, karena saya sudah janjian dengan dua sahabat saya Ruth dan Meidy di Mantos, kemudian bertemu Susan di tempat yang sama. Di sela-sela pertemuan itu, saya harus mengantarkan barang titipan orkam Billy ke rumahnya. Jadi cukup sibuk memang hari Sabtu ini.

Paginya, saya dan Adi sibuk berurusan dengan internet yang koneksinya lambat minta ampun di pagi hari. Tidak seperti biasanya, kali ini internet jalannya lambat jadi rencana untuk mengunduh beberapa video dan film batal (sejak semalam juga gitu). Mau unduh video presentasi Steve Jobs juga memakan waktu lama. Jadi kita memutuskan untuk tidak mengunduh file-file yang memakan waktu lama seperti film atau video berdurasi di atas 20 menit.

Valdy, sepupu saya datang ke rumah. Dia mau minta game Football Manager 2012 (FM 2012). Adi memang punya game itu, dan sudah ada sejak beberapa waktu lalu cuman karena Adi seringkali misterius keberadaanya jadi baru saat ini Valdy datang mengambilnya. Selain itu, saya ajak juga dia ke rumah Om Piet untuk jenguk. Valdy sebelumnya merasa enggan untuk pergi ke sana karena baru saja didamprat ci Lisa di twitter hahahaha.

Saya, Adi, dan Valdy pergi ke gereja Kristus terlebih dahulu. Karena Adi harus disuntik serum anti rabies di balai pengobatan Immanuel. Saya tidak tahu kenapa Adi, Papa, dan Mama harus disuntik serum anti rabies tersebut dan pergi melapor sebulan sekali ke balai pengobatan. Balai pengobatan Immanuel sudah pindah dari tempatnya semula yang berada di bagian gereja arah Boulevard. Balai pengobatan ini pindah ke salah satu ruko yang ada di jalan Boulevard di kompleks Marina Plaza. Kata Adi sih, ruko itu adalah hadiah dari seorang jemaat untuk gereja, jadi balai Immanuel pindah ke situ. Sayang lokasinya tidak strategis (kalo untuk ukuran bisnis) karena berada di 3 blok di belakang. Kalo jalan kaki untuk encim-encim umur 80an pasti capek. Di Balai saya bertemu Ma Ses (mamanya Valdy).

Bersama papa, saya dan Adi pergi ke rumah Om Piet yang ada di Karombasan. Valdy nanti menyusul karena ada urusan.

Di rumah Om Piet, ada tamu, pak pendeta dan ibu pendeta, ada juga mahasiswa (sepertinya). Ci Lisa juga ada, biasa jadi perawat dadakan. Kou Tju lagi keluar dan balik beberapa saat kemudian. Om Piet agak kurusan, papa yang senang bercanda bilang “sudah kuat lari belum” masa orang sakit (belum sembuh sama sekali) disuruh lari. Ketika Kou Tju datang, papa pulang karena ada urusan di rumah. Saya dan Adi tinggal sambil menunggu Valdy.

Valdy datang dan kita (sesama bersaudara) ngobrol sebelum dihentikan oleh acara makan siang yang tertunda. Tertunda karena nasi buatan ci Lisa masih mentah pas jamnya hahahaha. Adi dan Valdy gengsi nggak mau makan, mungkin karena mereka belum terbiasa hidup terasing sih jadi belum bisa menghargai berkat hahahaha. Habis makan siang, ngobrol sedikit dengan om Piet, kemudian Adi dan Valdy pulang, saya ke rumah orkam yang searah dengan rumah Valdy. Saya belum sempat ketemu saudara-saudara lain.

Baru beberapa langkah keluar dari rumah orkam, telepon bordering, Meidy menelepon tanya saya di mana, ya saya bilang saya baru mau menuju ke Mantos. Kita memang janjian di Mantos.

Manado juga terkena dampak macet. Sekitar 50 meter dari Mantos, mobil mulai tersendat, padat merayap. Untungnya Cuma 50 meter, jadi kalo jalan kaki dekatlah. Saya bertemu dengan Ruth dan Meidy di studio 21, mereka baru saja selesai ngantri beli tiket nonton film Putri Salju dan 7 Kurcaci. Ada juga Dede di sana. Mereka juga agak ngejek perut saya yang mulai tumbuh ke depan alias gendut. Ya apa daya makanan di kos bisa membuat gendut. Di Mantos juga saya janjian dengan Susan tapi jam setengah 5. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 3 sore lewat dikit.

Dari studio 21, kita ke food court Mantos untuk membicarakan rencana untuk besok (Pernikahan Adi dan Ghe) di situ. Saat lagi menuju ke sana, tidak disangka bisa ketemu admin alias Angel Anita, wartawan sebuah media cetak ternama di Sulawesi Utara hahahaha. Agak kaget juga bisa ketemu di depan Sport Station (dulunya toko mainan deh itu). “Mana mobil barunya” gurau saya ke admin yang baru saja beli mobil hahahaha.

Di food court Mantos. Kita berbicara rencana untuk besok hari. Mulai dari acara pemberkatan yang nanti kita akan hadiri sampai ke acara resepsinya. Tapi lebih banyak tentang tanya kabar saja sih, atau rencana ke depannya nanti. Seringkali Ruth dan Meidy juga tanya keadaan teman-teman lain, kabar orkam Bily, kemudian Mario Tumbel, Michan, dan juga lainnya. Ah banyak deh ceritanya, sampe-sampe saya sudah mulai khawatir karena di food court tidak ada signal di hape saya. Saya takut Susan bingung cari saya, kemudian ngambek, dan pulang. Bisa batal deh rencana.

Ruth dan Meidy rupanya penasaran dengan orang yang saya akan temui ini. Memang sih, nama Susan tidak banyak saya sebutkan atau bilang ke teman-teman dekat. Saya pernah bilang ke Ghe (sekali apa berkali-kali ya). Sampai kita berpisah, saya masih merahasiakan hal itu, sampai sekarang juga (kecuali mereka baca cerita ini :p).

Manado itu kota kecil ya, bisa-bisanya saya, Ruth, dan Meidy yang lagi ngobrol di depan Hypermart ketemu Tony Runtu! Tony yang memakai baju hijau datang dan agak terkejut “Wei Manggoes”. Saya tanya Tony apa dia mau datang ke acara nikahnya besok. Kata Tony “saya kira hari ini, kalau besok saya nggak bisa karena mau balik” lhaa -_-“. Tony memang kerja di Gorontalo, 8 jam dari Manado. Dia datang bersama kekasihnya Lita, cuman nggak keliatan. Ruth dan Meidy masih belum mau beranjak karena penasaran. Saya telpon Susan ternyata dia sudah ada di Mantos, lagi nongkrong di J.Co bersama Truly dan kakaknya Ruth (Ruth yang ini beda sama Ruth sahabat saya). Saya bilang tunggu sebentar ya.

Mendekati jam 5, Ruth dan Meidy masih penasaran tapi dibatasi oleh waktu, jam film yang akan mereka tonton adalah jam 4.50 (kalau tidak salah jam segitu). Maka beranjaklah mereka ke studio 21, saya menuruni ekskalator menuju ke J.Co yang ada di dekat pintu masuk. Sulit menelpon Susan waktu itu, karena signal di Mantos naik turun seperti harga saham. Setelah bolak-balik, akhirnya saya bertemu Susan dan berkata “Hai Susan” sembari menyerahkan buku biografi Steve Jobs.

***

Susan rupanya tidak sendiri. Dia datang bersama Truly (teman saya juga sekalian tante) dan kakaknya Ruth. Tapi saya beruntung, hanya menemui Susan saja di J.Co sedang mereka berdua pergi entah ke mana. Saya menemui Susan, it was the first time I saw her,  she was wearing white t-shirt and absolutely beauty in white with two little black-spots on her face. She has white skin. And when we were talking, walking, joking, and having some food I looked darker beside her hahahaha.

Seperti rencana saya semula, saya ingin mengajak Susan makan sore yaitu pisang goreng. Susan bilang sebelumnya dia tahu tempat makan pisang yang enak dekat Mantos. Oke, kita ke sana dan memang tidak jauh dari Mantos, kira-kira 50 meter (di mana kendaraan mulai merayap jalannya) dari Mantos mengarah ke arah pusat kota. Ada rumah-rumah kecil di situ yang menyediakan jajanan seperti pisang goreng, binte (jagung siram), jagung bakar, dsb. Susan, yang menggunakan tangan untuk menghalangi sinar matahari yang memantul di wajahnya (yang cantik tentunya), bilang mungkin tempat-tempat itu belum buka, karena biasanya malam baru ramai tapi tak apalah kita tetap coba ke sana.

Tempat pertama yang kita singgah adalah sebuah rumah makan kecil, ada pengunjung sekitar 10 orang di dalam yang sedang bergurau karena tawa mereka kedengaran (iyalah, cuman yang tuli aja yang gak bisa dengar). Cuaca sore itu panas merusak (suasana). Matahari sementara bergegas mau terbenam, ingin mengakhiri tugasnya pada hari itu dengan semangat sambil melirik sana-sini. Orang-orang mulai mengarahkan kaki ke Mantos dan menciptakan kemacetan sementara di depan tempat kami makan.

Karena saya ingin makan pisang goreng, maka yang dipesan adalah pisang goreng. Cuman ada kesalahan dalam memesan, salah saya karena main pesan yang paketan aja. 1 paket pisang goreng goroho seharga (cuma) 8 ribu perak pun disikat. Saya juga lupa (mungkin lagi terpesona dengan Susan) mau pesan pisang goreng jari yang saya suka. 1 piring pisang goreng goroho itu ternyata banyak juga. Kita berdua mulai makan sambil ngobrol berusaha menghabiskan sepiring pisang goreng itu. Dan tentunya saya paling banyak makan hihihi (buka kartu nih ye :D).

Next destination, binte. Tidak jauh dari tempat makan pisang goreng kami makan binte atau jagung siram (orang Manado bilang Milu Siram). Kali ini saya yang ngebet mau coba dan langsung masuk ke rumah makan itu. Binte kalau tidak salah makanan asli dari daerah Gorontalo, bukan dari Manado atau Minahasa. Binte itu seperti sop jagung, bedanya tidak sekental sop jagung ala Chinese food, biasanya pake udang-udang kering kecil cuman pas saya makan nggak ada udang alias hampa. Ada daging buah kelapa, kemudian daun bawang serta daun-daun lainya, tidak lupa bawang goreng, selain itu saya tidak tahu bumbu apa lagi yang ditaruh di dalamnya. Rasanya? Tawar! Rumah makan ini menyajikan binte tawar. Di saat saya protes, Susan bilang pakai garam sedikit. Oh ya, ngomong-ngomong soal Susan, wanita ini jago masak juga, berkali-kali saya mencoba membujuk dia untuk buatkan saya kue pai buah cuma selalu kandas di kata “tidak”.

Binte hambar itu berharga 12 ribu per mangkok. Walaupun hambar, tetap habis karena sayang sudah dibeli masa tidak dihabiskan. Obrolan dengan Susan banyak dihabiskan dengan tertawa.

Pertamanya sih cuman bercanda untuk jalan kaki dari Mantos sampai ke Mega Mall, tapi Susan tertarik untuk sebuah “pengalaman” yang baru. Maka tanpa ragu lagi, kita berjalan kaki menuju ke Mega Mall. Cahaya matahari telah redup padam berganti warna-warni lampu perkotaan. Mobil-mobil lalu lalang di jalan raya, orang-orang pun tidak kalah lalu lalang di trotoar. Tapi Susan dan saya enjoy aja, malah menikmati percakapan. Saya juga tidak ambil pusing dengan orang yang teriak memanggil saya dari mobil yang ternyata itu Lita, pacar dari Tony Runtu teman saya hahahaha (sadar pas liat di twitter).

Memang perjalanan menyenangkan kalo dihiasi percakapan tanpa ujung, waktu pun terasa cepat berlalu, kaki juga tidak terlihat pegal (gengsi lah kalo bilang capek di depan cewe cantik :D). Dalam percakapan antara saya dan Susan, paling banyak saya yang tanya dan Susan yang jawab. Kenapa? Ehm Susan agak pendiam (tapi cerewet kalo sudah kenal). Saking serunya ngobrol, tidak terasa sudah sampai di Mega Mall di mana kita berdua memilih untuk ikut jalan belakang kompleks Mega Mas untuk kembali ke Mantos dari pada lewat depan.

Remang-remang suasana di belakang Mega Mas. Beberapa tempat kosong terdapat rumput-rumput yang cukup tinggi. Ada besi-besi tua berserakan,  ada juga yang tersusun rapi, ada pilar-pilar yang tidak sempurna tapi masih berdiri kokoh. Restoran-restoran dipenuhi orang walaupun tidak terlalu banyak. Berjejeran dan menyediakan berbagai masakan yang tentunya mengundang selera, enak atau tidaknya tergantung lidah anda bukan perkataan orang. Saya dan Susan terus berjalan ditemani cahaya lampu yang bersinar remang.

Jika kita menikmati sebuah perjalanan, sejauh dan sesulit apa pun itu pasti terasa dekat dan mudah. Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri, jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama (pepatah).

Iklan
Kategori:Keluarga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: