Beranda > Museum > Weekend di Museum Sejarah Nasional Indonesia (Monas)

Weekend di Museum Sejarah Nasional Indonesia (Monas)

Minggu pagi di awal bulan yang baru bernama Juli, suasana kamar agak berantakan karena ada tumpukan koran yang belum disortir sehingga sedikit mempersempit ruangan kamar kecil saya. Di depan kamar saya, Andri dan Gilang ternyata sudah bersiap untuk menuju ke museum. Waktu saat itu masih menunjukkan jam setengah 8, setengah jam sebelum kita berangkat menuju Museum Sejarah Nasional RI yang dikenal dengan nama Monumen Nasional atau Monas.

Saya terkejut dengan kedatangan Wuri, teman wartawan dari media massa yang ada di dunia maya. Memang sehari sebelumnya, dia sudah bilang dia tidak akan ikut karena sesuatu dan lain hal. Hampir juga saya batalkan kunjungan kita ke Monas pada Minggu pagi itu. Andri malamnya sempat bilang bahwa Wuri jadi ikut tapi saya kira itu cuman angin lalu. Dan Minggu paginya dia sudah stay tuned di kamar Andri seraya saya yang baru selesai mandi mampir ke kamar Andri yang mana Gilang sudah siap.

Kita berangkat pada pukul 8 kurang 5 menit menuju ke salah satu terminal busway di Slipi. Untuk Gilang, dia belum pernah naik busway sebelumnya kalau Wuri dan Andri sudah pernah naik sebelumnya bahkan Wuri katanya punya pengalaman pahit kala naik busway. Saat itu dia jatuh terjerembab ke lantai bus saat bus melaju sehingga dia emoh lagi naik busway. Menuju ke terminal busway yang ada di Slipi itu kita mengambil angkot M11 melewati pasar Palmerah di pagi hari dan jalanan agak sepi ketimbang hari-hari sebelumnya.

Dari Slipi Petamburan, kita menuju ke terminal busway Semanggi untuk berpindah ke busway tujuan Kota untuk menuju Monas. Sempat terjadi kebingungan ketika Wuri mau melewati Harmoni, tapi setelah saya jelaskan bahwa lebih dekat melalui Semanggi maka dia pun ikut aja. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ada rasa senang dan benci jika melewati jembatan Semanggi untuk berpindah ke busway jurusan Kota. Jembatannya itu lho panjang banget! Dan saat itu masih pagi kira-kira pukul 08.30.

Kita tercengang melihat keadaan jalanan di kawasan Soedirman yang sama sekali tidak ada mobil dan motor kecuali busway yang melaju di lajurnya sendiri!! Ada sekelompong drum band yang sedang marching menuju kawasan Senayan. Kita sempat berdiri di jembatan menunggu kelompok drum band itu lewat. Drum band itu memakai seragam merah-merah dan nampaknya itu merupakan bagian dari kampanye cagub-cawagub yang akan bertarung di pemilihan gubernur DKI Jakarta nanti. Dentuman drum dan permainan alat musik ketuk yang saya memang tidak tahu namanya apa menjadi satu harmoni menciptakan sebuah musik yang judulnya saya tidak mau tahu.

Karena sepanjang jalan Soedirman sedang tidak ada kendaraan bermotor, maka peserta drum band ini tidak mengganggu jalannya lalu lintas.

 

Karena drum band ini dan melihat betapa bebasnya orang-orang berkeliaran di jalanan maka sempat saya berpikir “jangan-jangan busway pun gak ada ini”. Untungnya kekhawatiran saya tidak terjadi karena melihat beberapa busway lalu lalang dengan cepat serta tidak mengeluarkan asap melaju kencang di kedua jalurnya yang saling berlawanan arah itu. Kita masih berjalan perlahan menuju ke terminal Bendungan Hilir (Benhil). Wuri begitu cerewet di sepanjang jalan itu. Kadang-kadang kita yang cowo (saya, Andri, dan Gilang) diam melihat dia begitu agresif bercerita. Saya biarpun seringkali cerewet tapi tidak terlalu ambil bagian jika sudah ada orang yang mampu tampil agresif hehehehe.

Ada yang aneh jika melihat antrian di terminal Benhil kali ini. Yaitu tidak adanya pembatas antara yang berbentuk huruf L di tempat tunggu busway. Sehingga orang-orang yang datang dari samping kiri (dari arah jembatan Semanggi) serta arah kanan (arah Benhil) bertumpuk di tengah dan melebar ke samping kiri dan kanan. Untungnya ya, saat itu tidak banyak orang yang ikut antri ke arah Kota jadi tidak meluber terlalu jauh. Kalo seperti itu antriannya, hanya akan menciptakan dorong-mendorong antar penumpang yang telah menunggu busway datang. Selain itu, hal aneh lainnya adalah dibukanya pintu belakang busway. Setau saya, busway yang biasa saya naiki di jalur ini hanya membuka pintu tengah saja. Terang saja saya agak kaget saat itu, tapi teman-teman lain yang begitu sangat bersemangat langsung masuk ke dalam busway. Kali ini saya khawatir bahwa pintu belakang tidak akan terbuka atau akan terbuka namun tidak bisa menurunkan penumpang. Dan hal itu terjadi di beberapa terminal kecil seperti Setiabudi dan Tosari. Saat itu saya mulai berpikir apakah terminal Monas, pintu belakang ini akan terbuka? Saya mulai mengingatkan Andri untuk nanti berpindah ke depan saat penumpang mulai tidak padat lagi. Tapi setelah pikir lagi, Andri meyakinkan saya bahwa terminal Monas cukup besar sehingga pintu belakang ini pasti terbuka.

2 terminal lagi sebelum terminal Monas, penumpang sudah mulai berkurang. Perlahan bus ini berjalan dengan kecepatan sedang telah berada di terminal Bank Indonesia. Terminal Bank Indonesia adalah terminal busway sebelum terminal Monas. Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, saat melewati bundaran di depan menara Indosat saya berpikir masih ada 1 terminal busway di depan kita sebelum terminal Monas. Dan saat berada di terminal Monas saya secara tidak sadar menyuruh Gilang naik lagi padahal dia telah turun. Andri berkata “satu lagi satu lagi, naik lagi Lang” yang diaminkan oleh saya. Wuri dan Gilang diam saja karena tidak tahu apa-apa, sedang Gilang percaya saya karena pernah ajak dia naik busway. Sayang, saya baru sadar ketika melihat tulisan Museum di sebuah bangunan yang begitu familiar dengan saya. Ya, gedung itu adalah gedung Museum Nasional RI atau Museum Gajah. Di dalam busway anak-anak tertawa terbahak-bahak, Wuri bilang “gimana nih guide bisa gak tau” sambil melirik dan cengengesan ke saya. Saya pun mencoba ngeles hahaha. Kita menuju ke terminal pusat yang ada di daerah Harmoni untuk mengambil jalur balik ke terminal Monas.

Harmony yang padat dengan penumpang. Kita bergegas naik busway tujuan Pulo Gadung bukannya Blok M karena terburu-buru. Untungnya buru-buru kali ini tepat karena busway tujuan Pulo Gadung akan melewati terminal Monas. Petugas busway baik hati memberikan petunjuk agar kita jangan turun terminal Monas melainkan turun di terminal Gambir 1 yang lebih dekat dengan pintu masuk Monas. Kita mengiyakan seraya saya sambil ngeles ke Wuri “sengaja tuh Wur saya ngambil Harmony, biar lebih deket gitu jalannya” hahahaha “Alasan” jawab Wuri. Jadi ketika busway berhenti di Monas, kita tidak turun. Sekarang giliran saya yang gugup karena cuman sekali aja lewat jalur busway Harmony-Pulo Gadung dan setelah itu jalur ini tidak pernah saya lirik lagi. Karena itu ketika busway berhenti di terminal Balai Kota, saya malah meminta turun sebelum Gilang bilang “belum bro, ini masih di Balai Kota”.

Tiba di terminal Gambir. Ada jembatan rel kereta api di dekat situ jadi bisa terlihat kereta api yang lalu lalang dari bawah. Bajaj-bajaj berjubel di jalanan dekat pintu masuk Monas, begitu juga motor-motor yang parkir di depan pintu sehingga area tersebut terlihat semwrawut. Panas terik di Monas, padahal masih jam 9 lewat seperempat. Banyak orang di sana, ada yang berkumpul bersama keluarga, ada yang berolah raga, bermain, ada juga yang berkampanye di sana dengan cara gathering di salah satu tempat di Monas. Ada juga orang-orang asing di sana yang berkunjung, pohon-pohon rindang pelit di jalan silang Monas sudah dipenuhi orang-orang yang berteduh atau gelar tikar. Banyak pedagang yang menjajakan daganganya sambil jalan-jalan berkeliling, ada juga yang duduk gelar tikar sambil teriak “baju Monas baju Monas”.

Wuri ke WC dan kita gelaran tikar di bawah pohon rindang yang pelit amat tidak jauh dari  Monumen Nasional yang menjulang tinggi ke angkasa. Pesona lidah api yang berbalutkan emas tidak menyilaukan mata. Kenapa? Ya karena memang tidak memantulkan sinar matahari dan juga tidak ada awan di langit yang biru mesra. Sekelompok orang berpakaian putih bertuliskan “Ber 1 Untuk Jakarta” sedang maen sepatu roda. Beberapa duduk dekat kita di bawah pohon rindang pelit sambil merokok yang asapnya secara acak melaju deras.

Menuju ke pintu masuk Museum Sejarah Nasional cukup jauh dari tempat kita masuk. Kalau melalui pintu dari terminal busway Monas, maka kita tinggal berjalan lurus dan berbelok ke arah kiri setelah memasuki pelataran merdeka. Di sana ada patung kuda berdiri angkuh dan tulisan Pintu Masuk Monas di depannya. Nah karena kita melalui Gambir, maka kita perlu berjalan lurus dan jangan menyimpang ke kiri atau ke kanan. Kita mengarah ke sana sambil berbincang-bincang. Gilang berjalan cukup cepat dan saya masih bisa mengajaknya ngobrol, Wuri masih cerewet seakan dia itu tidak pernah lelah, dan Andri sedang mencari objek untuk dipotret. Andri nampaknya begitu semangat sehingga memotret sana dan memotret sini. Banyak orang yang lalu lalang di pelataran merdeka yang kita lewati, ada yang menggunakan kedua kakinya (kebanyakan), ada yang mengendarai sepeda, dan ada yang sibuk berpotret di sana sini. Suasana yang ramai.

Kerjaan Andri yang memotret sana-sini. Ramai suasana di Monas saat pagi hari yang menyengat ini. Dari kiri ke kanan Gilang (jacket kuning), gak tau siapa, Wuri (baju pink), saya. Andri tukang potret (tidak terlihat).

 

Sasaran kita untuk ke Monas adalah untuk naik ke puncak Monas, melihat pemandangan sekeliling Jakarta dari puncak Monas. Tugu Monas memiliki tinggi 132 meter. Menurut penjelasan yang saya dengar di ruang kemerdekaan dalam Museum Sejarah Nasional, 132 memiliki arti Bhinneka Tunggal Ika dengan mengambil prinsip matematika. 1 tambah 2 tambah 3 menghasilkan angka yang sama dengan 1 dikali 2 dikali 3 yaitu 6 tapi mengapa 132 ya bukan 123?

Pintu masuk Monas tertera di sebuah papan. Saya tahu pintu masuk itu harus melalui terowongan, dan saya tahu ada harga yang harus dibayar di sana yaitu karcis dan antri. Wah, tibanya di terowongan Monas, orangnya berjibun. Penuh dan pengap karena pendingin ruangan yang dipasang terlalu kikir untuk mendinginkan terowongan yang panjangnya kira-kira 20 meter dari pintu masuk ke tempat karcis. Ada orang Jawa, turunan Cina, saya Manado, trus ada orang-orang yang saya terka asal-asalan asalnya dari mana. Saking banyaknya orang yang antri, saya dan Gilang mohon diri untuk tunggu di depan pintu masuk Monas yang harus naik tangga lagi dari sisi kanan tempat penjualan karcis. Karena saya dan Gilang langsung menghilang sambil mengucapkan kata “Semangat!” pada Andri dan Wuri yang mau antri karcis berharga 5 ribu perak itu.

Bersama Gilang, saya duduk di depan pintu penyortiran orang-orang yang berkarcis. Sambil memotret tugu Monas dari bawahnya.

 

Setelah menanti beberapa menit, datanglah Andri dan Wuri dengan 4 lembar karcis di tangan mereka. Kita bergegas masuk ke sana. Di atas sana, antrian massa untuk naik ke atas tugu Monas makin berjubel dan panas terik memang tidak sampai ke sana karena terhalang “lesung”. Andri dan Wuri telah masuk ke jalan yang salah saat mereka langsung saja nyelonong memotong jalan ke tugu Monas dan tanpa menghiraukan petugas yang tengah mengingatkan sebelumnya “Ikut sini ya, mohon ikut di jalan ini” sambil menunjukkan jalan yang telah diatur tersebut yang berada di sebelah kiri kita. Ada patung-patung dan relief tentang Majapahit dan kejayaan Nusantara pada masa tersebut. Ada wajah Gadjah Mada di sana, surya Majapahit, dan sebagainya

Masuk ke Museum Sejarah Nasional saya tercengang dengan keadaannya. Banyak sekali orang dewasa dan anak-anak yang berlari-larian. Ini seperti tempat pengungsian pengungsi bencana alam. Dan yang mengecewakan adalah penerangan dalam museum yang agak gelap, pendingin ruangan tidak berjalan sempurna dan WC nya ampun parahnya! Di WC pria, air sama sekali tidak mengalir di kloset-kloset untuk buang air kecil dan hanya ada 3 kloset untuk buang air kecil serta 1 kloset untuk buang air besar. Jadi tidak heran jika baunya memang wah pesingnya. Entah kenapa tidak ada renovasi, atau memang telah diatur oleh arsitek seperti itu. Pihak pengelola Museum ini tidak sadar betapa banyaknya orang-orang yang berkunjung ke sana. Mereka juga tidak menyadari bahwa tempat itu adalah satu-satunya tempat hiburan masyarakat, hiburan untuk memperkenalkan sejarah bangsa dan negara ini. Tapi dengan keadaan seperti sekarang ini, museum ini tidak lebih dari tempat gelaran tikar dan tidak mengandung arti. Mungkin Museum Gajah akan berakhir seperti museum ini jika setiap hari didatangi ribuan orang setiap akhir pekan. Mengerikan.

Di luar pengelolaannya yang jelek dan tidak profesional dalam mengurus museum (mungkin juga karena dana pengelolaan minim sedang dipatok tarif masuk yang murah disertai sikap pasrah pengelola), diorama-diorama yang ditampilkan mencoba menceritakan sejarah bangsa dan negara Indonesia sejak masa zaman batu alias purba di mana manusia-manusia itu ceritanya menjadi cikal bakal manusia. Aneh ya, karena manusia purba digambarkan tidak memakai baju padahal dalam cerita Alkitab sejak manusia jatuh dalam dosa, mereka telah memakai pakaian.

Kita memulai dengan kesalahan mengikuti alur cerita diorama karena dimulai pada saat cerita diorama yang berakhir dengan bergabungnya Papua Barat ke dalam pangkuan ibu pertiwi. Saat berada dan melihat diorama-diorama tersebut (walaupun kita tidak sadar bahwa kita memulainya salah) kita menikmatinya karena mencoba menggali apa yang mereka pikirkan saat itu dalam musyawarah tentang masuknya Papua ke pangkuan ibu peritiwi. Pada diorama-diorama tersebut terdapat juga informasi yang menjelaskan apa yang diceritakan dalam diorama tersebut. Informasi yang diberikan ada dalam 2 bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sehingga orang-orang yang tidak bisa mengerti bahasa Indonesia bisa mengerti arti cerita dalam diorama.

Setelah melewati 2 sampai 3 diorama, kita akhirnya menyadari (akhirnya) bahwa kita salah mengikuti alur cerita dalam diorama tersebut. Entah siapa yang mulai pertama kali ngomong “Eh kita salah, harusnya mulai dari sana” sambil menunjuk ke arah kanan di mana orang-orang juga berkumpul di sana memperhatikan diorama dengan setengah seksama. Benar memang bahwa kita salah, karena diorama pertama dimulai pada masa purba, dan benar-benar purba. Ada sekelompok manusia purba dalam diorama tersebut yang sedang nggak tau ngapain.

 

Salah satu diorama tentang Sidang Musyawarah Pendapat Rakyat Irian Barat. Diorama ini ada karena kesalahan kita yang salah mengikuti alur cerita pada awalnya.

 

Setelah diorama tentang manusia purba yang cuma ada satu (ngapain dibuat panjang lebar tentang itu), diorama berikutnya mulai menceritakan masa-masa Hindu-Buddha purba yaitu tentang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang berkuasa di Jawa serta ada juga beberapa yang berkuasa di luar Jawa. Diorama-diorama tentang kerajaan Hindu-Buddha, bagaimana mereka membangun masyarakat yang plural saat itu tanpa terjadi perselisihan antar masyarakat. Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan tanpa kekerasan, tanpa perlu memandang rendah orang-orang dari kepercayaan lain. Hal tersebut tergambar dalam diorama yang menceritakan dibangunnya Candi Jawi sebagai tempat peribadatan pengikut ajaran Siwa-Buddha dan kerajaan Singhasari sendiri terdapat banyak masyarakat yang memeluk kepercayaan yang berbeda-beda. Ada juga diorama tentang raja dari masa kerajaan Hindu-Buddha yaitu Raja Airlangga. Diorama raja Airlangga menceritakan bahwa saat itu beliau tengah menghadiahkan kepada rakyat pada kawasan situ sebuah bendungan untuk mencegah banjir. Ada juga diorama tentang patih Majapahit yang terkenal Gadjah Mada sedang mengucapkan Sumpah Palapa, di mana dia bersumpah tidak akan hidup senang-senang sebelum menyatukan seluruh wilayah dunia (nusantara) di bawah panji Majapahit. Ada juga diorama tentang rencana pendirian candi terbesar dan terelok di dunia yaitu candi Borobudur di sebuah tanah datar di kawasan Magelang (saya nggak tau nama daerahnya). Beberapa diorama saya tidak terlalu mengenalnya karena mungkin saya belum pernah baca atau mempelajarinya.

Alangkah baiknya jika ada seorang pemandu yang memandu orang-orang yang menurut saya kebanyakan awam menceritakan isi dari diorama-diorama tersebut, setiap diorama memiliki cerita dan latar belakang peristiwa dan hal itu lah yang perlu kita ceritakan kepada mereka, mengapa mereka mengadakan perlawanan, apa akhir cerita dari perlawanan tersebut, dan apa pelajaran yang kita bisa petik dari peristiwa tersebut. Sebenarnya mempelajari sejarah itu adalah salah satu hal yang paling sulit untuk dilakukan. Sulit karena jika mengunjungi sebuah museum dan kita akan melihat bukti dari sebuah sejarah, maka kita perlu menggali nilai sejarah yang terkandung dalam suatu bukti sejarah. Kenapa sebuah peristiwa itu terjadi, tokoh-tokoh yang terlibat, bahkan kalau perlu bagaimana kita menghubungkannya dengan kehidupan kita saat ini. Itulah cara mempelajari sejarah. Mungkin karena kompetensi guru-guru sejarah kita cuman berbentuk teori tapi tidak mampu menimbulkan rasa keingintahuan yang lebih (agak emosional hahaha).

Sejarah bangsa Indonesia berlanjut dengan masuknya agama Islam ke nusantara yang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab. Saya yakin bahwa saat sebuah kerajaan membuka diri kepada kebudayaan luar, setiap agama telah masuk di dalamnya termasuk Islam. Jadi Islam itu ada bukan pada saat masa akhir kejayaan suatu kerajaan seperti Majapahit, tapi telah ada pada saat Majapahit telah mencapai kejayaannya. Hanya saja, kenapa tidak menjadi booming dan membentuk kerajaan-kerajaan Islam yang mulai “bermunculan” di akhir masa Majapahit? Karena pada saat itu, rakyat Majapahit melihat Hayam Wuruk sebagai raja yang mampu membawa kesejahteraan kepada rakyat-rakyatnya. Rakyat masih menganggap Hayam Wuruk sebagai figur dewa mereka. Dan pada saat pewaris-pewaris takhta kerajaan hanya sibuk bertikai, Islam muncul di situ. Sehingga dalam sejarah Indonesia, setelah masa kerajaan Hindu-Buddha adalah kerajaan-kerajaan Islam.

Diorama-diorama setelah masa kerajaan Hindu-Buddha adalah tentang kerajaan Islam di Indonesia. Tidak banyak yang diceritakan tentang kerajaan Islam pada diorama-diorama tersebut karena kerajaan-kerajaan Islam ini ternyata tidak sendiri. Ada gangguan dari “luar”. Berbeda dengan keadaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang mengalami gangguan lebih banyak dari pihak “dalam”, kerajaan Islam mengalami keduanya. Pihak luar yang dimaksud adalah kedatangan pedagang asing, berbeda dengan pedagang-pedagang lain yang berasal dari luar nusantara. Mereka datang dengan maksud menguasai alih-alih berdagang. Saya ingat cerita tentang persaingan negara-negara Eropa dalam mencari wilayah jajahan yang datang dengan dalih perdagangan. Alih-alih perdagangan mereka mulai menguasai, memonopoli, dan menjajah. Itulah yang terjadi dalam diorama-diorama berikutnya tentang kerajaan Islam.

Dimulai dari perang Sunda Kelapa, saya tidak tahu dan belum mempelajari jejak-jejak kerajaan Islam di nusantara karena tidak memiliki cukup waktu serta sedikitnya sumber yang menceritakannya. Perang Sunda Kelapa menurut hemat saya adalah peperangan antara sebuah kerajaan Islam (entah Banten atau Demak) dengan penjajah yang menyamar menjadi pedagang. Perang Sunda Kelapa kalau tidak salah ingat dipimpin oleh Fatahillah (sekali lagi, saya bisa saja salah dalam hal ini) dan merupakan cikal bakal awal dari kota Jakarta. Dan diorama-diorama berikutnya menceritakan peperangan antara kerajaan-kerajaan Islam berhadapan dengan bangsa Belanda. Saya tidak melihat munculnya kerajaan Demak atau kerajaan Mataram Islam muncul dalam diorama-diorama tersebut. Padahal perang melawan penjajah berbulu pedagang telah dimulai dari masa tersebut jauh sebelum Perang Diponegoro ataupun Perang Padri pecah.

Diorama-diorama yang ditampilkan memang tidak memuat semua peristiwa sejarah yang terjadi karena mungkin tidak cukup tempat untuk menceritakan semuanya. Perang-perang melawan penjajah mulai menghiasi diorama-diorama berikutnya. Saya tidak mau menamakannya sebagai perang perjuangan Indonesia, tetapi lebih cenderung sebagai perang mempertahankan daerah mereka masing-masing. Namun saya melihat bahwa ada perlawanan terhadap pengekangan kebebasan pada saat itu.

Diorama-diorama berbau perang mempertahankan daerah pun dimulai. Diawali dari perang Sunda Kelapa, kemudia perang Diponegoro, perang Padri, perang Banjar, perang Bali dan perang Puputan Margana, perang Maluku, perang Makassar, dan yang lain yang saya lupakan.

Beberapa diorama tentang perang di daerah-daerah melawan penjajah.

 

Cerita-cerita diorama tentang perang mulai berkurang karena ya kita kalah. Diorama tentang perang akan ada jika masih ada perang di daerah-daerah melawan penjajah. Singkatnya pada saat itu penjajah menang dan kita kalah. Ada perasaan saat melihat diorama-diorama tersebut untuk membalas “sesekali kita serang Amsterdam” kata hati saya. Diorama-diorama tentang kemalangan masyarakat mulai memudar dengan adanya pergerakan nasional. Berbeda dengan peperangan yang bersifat keras, pergerakan nasional ini sifatnya lembut dan tidak menggunakan kekerasan.

Diorama Boedi Oetomo menjadi awal pergerakan perjuangan nasional. Kali ini perjuangan untuk secara nasional digalakkan bukan lagi secara kedaerahan. Tapi saya pun belum bisa memastikan jika tujuan Boedi Oetomo bersifat nasional ataupun kedaerahan. Setelah Boedi Oetomo, maka berdirilah organisasi-organisasi lain yang bertujuan mulia yaitu untuk mendidik masyarakat. Muhammadiyah, Taman Siswa, kemudian sekolah Kartini, STOVIA, dan sebagainya. Puncaknya adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dari sekian diorama tentang peperangan dan pergerakan nasional melalui organisasi-organisasi dapat dilihat bahwa penggunaan kekerasan pun tidak akan berguna jika kita menggunakannya hanya untuk tujuan atau kepentingan kita saja, sebaliknya sebuah pergerakan melalui organisasi jauh lebih memberi nilai kepada masyarakat untuk berjuang untuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang bernama kemerdekaan!

Sial atau berkah, Jepang datang menyingkirkan Belanda. Itulah yang terjadi pada cerita dalam diorama selanjutnya. Jepang datang ke Indonesia dengan mengagungkan gerakan 3A yang menyampaikan pesan bahwa Jepang ada untuk negara-negara Asia (sama seperti Doraemon yang alat-alatnya selalu ada untuk Nobita). Tapi diorama yang lain menceritakan kekejaman Jepang bernama Romusa alias kerja paksa ala Jepang. Itulah kampanye 3A dari Jepang. Kata Wury penjajahan Jepang lebih baik daripada Belanda karena mengizinkan anak-anak bangsa memperoleh pendidikan. Saya tanya ke Wury “kamu mau jadi geishanya Jepang?” dia tidak mau (pastilah). Penjajahan di mana-mana hanya menciptakan penderitaan. Manusia-manusia Indonesia saat itu oleh Jepang akan dipakai sebagai tameng negara mereka dalam perang Pasifik 1942-1945 dan Bung Karno sadar akan hal itu (dalam buku Cindy Adams)..

Makin ke kanan (ingat, ini bukan bercerita ideology tapi diorama. Entar ada yang salah kaprah lagi) cerita berlanjut dalam perancangan kemerdekaan Indonesia. Ada yang namanya BPUPKI yang kemudian diganti menjadi PPKI pada bulan sekitar Juni 1945. Pancasila pun lahir dalam satu sidang BPUPKI. Saya tidak melihat diorama tentang peristiwa Rengasdengklok atau mungkin saya terlalu terpesona dengan diorama-diorama yang ditampilkan hahaha.

Diorama tentang pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

 

Perjalanan kita melihat diorama sejarah nasional berakhir pada diorama tentang perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945 yang dikenal sebagai hari Pahlawan. Diorama ini sebenarnya bukan menjadi tujuan kita ke Monas melainkan ingin pergi melihat pemandangan Jakarta dari tugu setinggi 132 meter itu.

Bergegas kita menuju ke lantai atas untuk ikut antrian yang bujubuset panjangnya kayak antrian minyak tanah atau sembako pada masa Orde Lama!! Melihat panjangnya antrian serta menimbang bahwa untuk ke puncak Monas cuman sampai jam 4, maka kita pun mengurungkan niat dan menuju ke Ruang Kemerdekaan. Waktu saya pergi ke Monas beberapa waktu lalu, saya dengar Ruang Kemerdekaan akan memperdengarkan suara Bung Karno yang membacakan teks Proklamasi kemerdekaan RI. Kita pun naik ke sana.

Ruang Kemerdekaan suasananya mirip kafe remang-remang. Cahaya lampu remang mengitari sebuah pilar 4 sisi berwarna hitam. Banyak orang di sana, anak-anak berlarian di sana sini. Ruang Kemerdekaan ini di desain mengikuti model tugu Monas itu sendiri. Dengan tangga-tangga sebagai tempat duduk kemudian ada dinding miring sekitar 60 derajat. 4 sisi pilar berwarna hitam masing-masing memiliki sebuah gambar/relief yang berbeda-beda. Pada pintu masuk, relief yang ditampilkan adalah berupa pintu persegi empat dengan corak-corak yang unik berwarna emas. Relief itu adalah pintu yang menyimpan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan RI. Naskah asli lho! Berarti umur naskah itu sudah akan berumur 67 tahun pada 17 Agustus tahun ini. Pintu itu akan terbuka secara otomatis pada saat pembacaan teks Proklamasi oleh Bung Karno yang diadakan sejam sekali. Kita juga sempat mendengarkan pembacaan teks Proklamasi itu yang memang cukup menggetarkan.

Di sisi setelah pintu yang saya lupa namanya, ada lambang negara Republik Indonesia yaitu Garuda Pancasila. Lambang negara itu dengan gagah terpajang di dinding pilar pada ruang kemerdekaan. Banyak orang yang ingin mengambil gambar mereka bersama Garuda Pancasila. Terbukti dengan antrian saat menunggu giliran foto hahaha. Banyak juga orang tua atau muda-mudi berpasangan duduk di tangga-tangga yang berhadapan dengan Garuda Pancasila. Jadi kalau ke sana sebaiknya tidak sendiri atau kita hanya akan menjadi bintang bisu di sana. Andri mencoba mengambil gambar tersebut secara close up bersama Wuri di sana. Saya dan Gilang duduk bersandar di dinding miring itu sambil menunggu giliran foto hahahaha.

Dari kiri ke kanan: saya, Andri, Wuri, dan Gilang berpose di bawah burung Garuda Pancasila.

Sisi ketiga dari pilar adalah sebuah tulisan yang berwarna emas. Saya lupa dengan apa yang tertulis di dinding itu, apakah itu teks Proklamasi atau apa, entahlah. Saya ingin mencari peta Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saya lihat di Wikipedia Indonesia. Peta Indonesia itu digambar di dinding pilar Ruangan Kemerdekaan dan berwarna emas. Saya menangkap pesan dari sudut pandang saya yang polos ini (hahaha) bahwa persatuan suatu bangsa merupakan suatu hal yang paling mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya tidak tahu dengan perancang pilar tersebut kenapa dia menggunakan warna emas untuk peta tersebut tapi saya yakin dia memiliki pendapat yang berbeda dengan saya. Dari Sabang sampai Merauke, dari barat sampai timur. Dari Pulau Rote sampai Pulau Miangas, dari ujung selatan sampai ujung utara. Peta itu menggambarkan Indonesia walaupun tidak detail dengan belasan ribu pulau-pulaunya. Tapi sudah cukup menggambarkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Ingat, negara KEPULAUAN bukan negara PERTAMBANGAN!!

Indah dan luas bukan negara Indonesia.

Petualangan di Museum Sejarah Nasional berakhir ketika niat kita untuk menuju puncak tugu Monas mulai hilang dengan melihat antrian nekat dari pengunjung yang sudah mengular kira-kira 5 kilometer (lebay hahahaha) disertai panas terik yang parah saat itu. Kelaparan melanda pula di saat kita keluar dari Ruang Kemerdekaan. Saya pun berkata dalam hati “suatu hari nanti saya akan ke puncak Tugu Monas” semoga saja karena Tugu Monas dirancang untuk berdiri 1000 tahun lagi dan saya masih ingin hidup 1000 tahun lagi. Kita pun menuju Lapangan Banteng.

Iklan
Kategori:Museum
  1. Belum ada komentar.
  1. Januari 6, 2017 pukul 11:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: