Beranda > Olah Raga > 4 Semifinalis Euro 2012

4 Semifinalis Euro 2012

Tidak terasa, gelaran Piala Eropa 2012 telah memasuki babak 4 besar. Negara-negara yang terlibat dalam 4 besar kali ini memiliki sejarah panjang dalam persepakbolaan Eropa. Siapa yang tidak kenal Jerman, Spanyol, Portugal, dan Italia. Tim mereka terdapat pemain-pemain kelas dunia yang handal dan menjadi idola para penggila bola di seluruh dunia.

Semifinal pertama akan mempertemukan dua negara asal semenanjung Iberia, Spanyol dan Portugal. Masih belum lepas dari ingatan kita, di Piala Dunia 2010 kedua tim pernah bertemu di babak 16 besar. Kala itu Spanyol berhasil menang melalui gol tunggal David Villa. Saat ini, Spanyol tidak diperkuat oleh pencetak gol saat itu karena cedera, dan Portugal tidak banyak berubah sejak Piala Dunia 2010 itu.

Apa yang menjadi kekuatan dari Portugal saat ini? Bahkan tim sekelas dan sefavorit Belanda sekalipun kalah di babak penyisihan grup B, Jerman pun jika tidak ada pemain sekelas Mario Gomez tidak akan mampu memenangkan pertandingan melawan Portugal. Sejujurnya, lini belakang dan lini tengah Portugal adalah titik terkuat mereka saat ini walaupun mereka kebobolan 4 gol selama babak penyisihan dan memasukkan 6 gol sampai babak perempat final. Pola serangan utama dari Portugal adalah Cristiano Ronaldo dan Luis Nani sebagai target man, mereka ditugaskan sebagai pemain yang mengacak-acak pertahanan lawan. Dengan skil yang mumpuni disertai dengan kemampuan berlari yang cepat, mereka berdua menjadi tulang punggung Portugal dalam hal penyerangan. Ditopang oleh Joao Moutinho yang lebih berperan sebagai pembagi bola ketimbang seorang playmaker. Raul Meireless dan Miguel Veloso berperan sebagai pemutus aliran bola lawan saat dalam keadaan diserang. Raul Meireless bahkan mendapat tugas ganda sebagai pemain box-to-box yang harus siap saat menyerang dan diserang. Sisi ampuh lainnya adalah duo wing back dari Portugal, Fabio Contreao dan Joao Peirera yang konsisten naik turun membantu Ronaldo dan Nani dalam mengacak-acak pertahanan lawan dari sisi sayap. Bahkan Contreao sering melakukan cutting inside jika dia mau. Duo center back, Pepe dan Bruno Alvez menjadi palang pintu terakhir sebelum lawan menghadapi Rui Patricio. Striker Helder Postiga diberi tugas sebagai pengalih lawan di kotak penalty, lebih banyak bergerak sebagai pemantul dan jika diperlukan bisa menjadi penyelesai suatu serangan.

Spanyol, juara bertahan Piala Eropa 2008 datang dengan modal sebagai tim peringkat 1 FIFA dan juara Piala Dunia 2010. Kepercayaan diri yang tinggi membumbung menjelang putaran final Piala Eropa 2012 dimulai sehingga wajar banyak orang dan pengamat lebih memfavoritkan Spanyol sebagai unggulan juara selain Jerman. Spanyol datang dengan pemain-pemain yang bernilai jual selangit sehingga Spanyol ditahbiskan sebagai tim dengan nilai jual pemainnya tertinggi di Euro 2012 ini. Apa yang menjadi kekuatan Spanyol saat ini? Apakah tiki-taka masih atraktif seperti dulu? Spanyol yang paham akan ungkapan “lebih sulit mempertahankan ketimbang merebut” datang dengan tim yang agak compang-camping. Tidak ada David Villa di sana, Carles Puyol pun tidak ikut, mereka adalah punggawa Spanyol yang membawa Spanyol berjaya di 2 ajang kelas dunia yaitu Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Spanyol memulai laga dengan permainan pas-pasan melawan Italia, bahkan Italia mampu meladeni permainan tiki-taka Spanyol dengan bola-bola langsung ke pertahanan Spanyol yang terlibat dalam permainan tiki-taka sehingga seringkali terlambat kembali ke pos. Permainan atraktif Spanyol muncul saat pertandingan ke 2 melawan Irlandia yang dimenangi Spanyol 4 gol tanpa balas. Pelatih Irlandia Giovanni Trapattoni bahkan menyebut para pemain Irlandia terpesona dengan permainan tiki-taka Spanyol saat itu. Permainan Spanyol terletak pada kemampuan 3 orang playmaker yang menguasai lapangan tengah. Poros Xavi-Iniesta-Silva sangat merepotkan lawan karena kemampuan mereka melepaskan passing datar antar pemain. Penambahan Fabregas sebagai false no. 9 juga semata-mata menjadi pelengkap strategi di mana tidak adanya striker yang sekonsisten David Villa. Formasi ini diilhami dari penampilan Barcelona yang memakai Lionel Messi sebagai false no. 9. Duet jangkar Xabi-Busquet sangat penting dalam menjaga keseimbangan tim. Bahkan Xabi menjadi penentu kemenangan 2 gol tanpa balas atas Perancis di babak perempat final. Duo jangkar ini memberikan keleluasaan bagi poros XaviEsta-Silva untuk memainkan perannya. Lini belakang Spanyol terbilang kokoh dengan hanya kebobolan 1 gol saja saat menghadapi Italia. Tanpa Puyol, Sergio Ramos digeser ke tengah mendampingi Pique dan posisi bek kanan diisi oleh Arbeloa dan Jordi Alba di posisi bek kiri. Spanyol masih konsisten dengan tiki-taka untuk menghadapi Portugal walaupun tidak seatraktif tahun 2008.

Peluang kedua tim untuk melaju ke semifinal sama besarnya walaupun Spanyol akan tetap dianggap oleh sebagian besar kalangan sebagai tim yang bakal melaju ke semifinal.

Semifinal kedua akan mempertemukan dua tim berkelas lainnya, Jerman dan Italia. Belum hilang dari ingatan pertemuan kedua tim di semifinal Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Jerman. Kala itu, Jerman takluk di depan pendukungnya sendiri 0-2 dari Italia di babak perpanjangan waktu. Bagaimana dengan sekarang?

Komposisi pemain Jerman tidak banyak mengalami perubahan. Dari Piala Eropa 2008 saat mereka menjadi finalis dan Piala Dunia 2010 di mana mereka mencapai semifinal. Saat ini, generasi emas mereka masih berlanjut. Pemain-pemain sekelas Mesut Ozil, Thomas Muller, atau Manuel Neuer masih berada dalam usia terbaik mereka, bahkan masih akan bertahan sampai 8 tahun ke depan jika penampilan mereka konsisten. Berbicara tentang Jerman, permainan yang mereka bawa begitu atraktif sehingga tidaklah salah banyak pengamat menjagokan mereka untuk menjuarai Piala Eropa 2012. Bahkan saya pun terkesima melihat penampilan Jerman saat berada di penyisihan grup. Mari kita tilik bentuk strategi Jerman. Berbeda dengan Spanyol yang bermain tiki-taka, Jerman lebih cenderung memainkan bola langsung. Dengan pengendali Mesut Ozil dan Bastian Schweinteiger, Jerman mengawali serangan dari kedua pemain ini, sebagai pembagi bola di lapangan tengah dan pengatur arah permainan. Dengan formasi 4-2-3-1 yang menjorok ke dalam, Ozil ditemani oleh 2 orang pemain yang notabene adalah striker yaitu Podolski dan Muller. Formasi ini berjalan dengan baik saat di Piala Dunia 2010 di mana Muller menjadi top skor saat itu. Podolski dan Muller mempunyai peran yang sama yaitu menusuk langsung ke dalam kotak penalty dan tidak melalui by-line seperti yang dilakukan oleh pemain-pemain sayap pada umumnya. Di depan ada Mario Gomez atau Miroslav Klose yang berperan sebagai target man. Berbeda dengan Portugal yang memainkan striker mereka sebagai poacher.  Permainan Jerman juga ditopang oleh Sami Khedira sebagai pemain box-to-box di lini tengah. Golnya ke gawang Yunani membuktikan hal tersebut. Di lini belakang, kuartet Lahm, Jerome Boateng, Badstuber, dan Hummels belum memperlihatkan kelasnya sebagai pengawal lini belakang Der Panzer yang ampuh. Terbukti dari 4 gol yang bersarang di gawang Neuer bandingkan dengan Spanyol yang “hanya” kebobolan 1 gol saat ini. Penjaga gawang Manuel Neuer pun harus waspada dengan penampilan pemain belakang yang demikian, padahal dia jauh lebih tangguh dari penjaga gawang Portugal Rui Patricio. Mesut Ozil masih akan menjadi otak kreativitas Jerman dalam membongkar pertahanan Italia. Harapan tinggi bangsa Jerman ada dipundak mereka, setelah terakhir kali mereka menjuarai kompetisi Piala Eropa pada tahun 1996.

Bagaimana dengan Italia? Tim yang sering dilanda skandal sepakbola. Jika pada tahun 2006, Italia menjadi juara saat dilanda skandal kecurangan oleh sejumlah tim besar Italia, kali ini 2012 Italia dilanda skandal kecurangan oleh beberapa pemain Italia sendiri. Apakah Italia akan juara? Kemungkinan selalu ada mengingat bola itu bundar. Chelsea bisa juara Liga Champions dengan menyingkirkan tim favorit Barcelona, apakah Italia bisa? Italia adalah tim juara dunia 4 kali, terbanyak di Eropa. Italia datang dengan compang-camping setelah skandal kecurangan kembali melanda negeri pizza ini. Prandelli, pelatih Italia saat ini sepertinya tau bagaimana memotivasi timnya ini. Formasi yang dipakai oleh Italia jarang dipakai oleh tim-tim besar Eropa baik itu negara maupun klub. Di Italia, tim-tim yang memakai 3-5-2 (formasi Italia) pun cuman beberapa namun memiliki prestasi yang cukup baik. Udinese dan Napoli adalah 2 tim Italia yang konsisten menggunakannya, kemudian diikuti oleh Juventus. Di bawah mistar, Buffon masih tetap menjadi nomor 1. Ketenangannya dalam menghalau penalty Ashley Cole menjadi bukti masih hebatnya kiper ini. Yang menarik dari formasi Italia adalah penggunaan Daniele De Rossi sebagai bek central yang diapit oleh 2 bek central lainnya dalam formasi 3-5-2. De Rossi sebenarnya pemain gelandang bertahan seperti Pirlo, namun dengan cederanya Bonnuci saat itu, Prandelli menukarnya dengan De Rossi saat menghadapi Spanyol dan tampil cemerlang. Pertahanan grendel Italia tidak lengkap dengan 2 wing back yang merangkap sebagai pemain sayap. Prandelli menempatkan Maggio atau Abate di sisi kanan, dan Balzaretti atau Giacherinni di sisi kiri. Kecepatan dua pemain di dua sisi sayap tersebut sangat mempengaruhi strategi ini. di lini tengah, jenderal lapangan Italia adalah Andrea Pirlo, otak dari segala permainan Italia. Pirlo diapit oleh 2 gelandang berkategori winning ball midfielder seperti Thiago Motta dan Claudio Marchisio. Marchisio bahkan sering menjadi pemain box-to-box yang membantu serangan serta menjadi orang pertama bersama Motta saat bertahan. Dengan diapit 2 pemain ini, Pirlo bebas berkreasi mengalirkan umpan-umpan lambung akurat ke lini depan yang diisi duo bengal Italia yaitu Cassano dan Balloteli. Italia berharap skandal yang menimpa mereka akan memicu semangat mereka menjadi yang terbaik.

Jerman memang difavoritkan untuk lolos ke final, tapi Italia akan menjadi batu sandungan bagi Jerman jika gagal menampilkan yang terbaik. Di sisi lain, Italia yang telah terkuras tenaganya saat menghadapi Inggris selama 120 menit plus adu penalty lebih cenderung bertahan dan memanfaatkan serangan balik yang cepat.

Euro 2012 akan segera berakhir, mari kita nikmati sisa 3 pertandingan terakhir!

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. Juli 17, 2012 pukul 9:01 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: