Beranda > Olah Raga > Belanda: Monoton, Egois, dan Kutukan

Belanda: Monoton, Egois, dan Kutukan

Layaknya sebuah perahu layar di lautan ganas, maka perahu layar berbendera Belanda telah tenggelam di dalam ganasnya persaingan Euro 2012. Berbekal runner-up Piala Dunia 2010, unggulan pertama saat pengundian grup Euro 2012, dan pemain-pemain bintang yang bertebaran di klub-klub liga Eropa sungguh tragis jika harus mengakhiri Euro 2012 dengan kekalahan, tanpa kemenangan, tanpa poin, dan pulang lebih awal. Pemain-pemain asuhan Bert Van Marwijk ini kehilangan percaya diri setelah mengalami kekalahan 0-1 dari Denmark di pertandingan pertama grup B.

Tersingkirnya Belanda merupakan kejutan yang paling wah ketimbang kontestan lain seperti Rusia atau tuan rumah Polandia di grup A. Memang masih ada tim-tim besar lain yang kemungkinan mengikuti jejak dari Belanda, tetapi tersingkirnya Belanda memang menjadi sorotan saat berakhirnya fase grup ini.

Ada 3 faktor yang menjadi penyebab tersingkirnya Belanda lebih awal dari Euro 2012, yaitu:

Tidak ada perubahan strategi sejak Piala Dunia 2010. 11 pemain starter Belanda selama di fase grup Euro 2012 hanya mengalami 1 perubahan yaitu Jetro Willems, pemain berusia 18 tahun ini mengisi pos yang ditinggalkan Giovanni Van Bronckhost yang pensiun selepas gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Tidak ada masalah dengan perubahan pergantian pemain karena hal itu adalah wajar. Tetapi masalahnya tidak adanya perubahan dalam pola permainan yang diterapkan Van Marwijk. Pola penyerangan Belanda bertumpu pada kuartet pemain depannya Robben-Sneijder-Van Persie-Affelay/Huntelaar di mana 3 pemain pertama adalah pemain inti Belanda yang sukses menjadi finalis di Piala Dunia 2010. Di Euro 2012 pakem yang sama tetap dipertahankan dengan dalih “don’t change the winning team”. Formasi itu tampaknya telah dibaca para ahli strategi (baca pelatih) setiap tim yang bermain lawan Belanda di Euro 2012. Belanda yang pada 2010 lebih banyak dibiarkan berkembang di setengah lapangan permainan ditekan lawan sehingga sulit mengembangkan permainan dari sejak awal pertandingan. Selain itu pemain Belanda terlalu mudah kehilangan bola dan kehilangan kreatifitas yang seharusnya menjadi tugas Sneijder. Duet De Jong dan Van Bommel yang pada Piala Dunia 2010 begitu ganas dengan talking-takling handal mereka kehilangan sentuhannya. Posisi Van Bommel yang seharusnya menjadi salah satu titik regenerasi dipertahankan, sehingga Van Bommel begitu sulit menjalankan perannya serta harus berjibaku dengan pemain-pemain muda macam Christian Eriksen, Mesut Ozil-Thomas Mueller, dan trio lini tengah Portugal Moutinho-Meireles-Veloso. Di sisi sayap pun Belanda masih terlalu mengandalkan “cutting inside” dari Robben dan Affelay yang kali ini sudah mudah dibaca oleh pertahanan lawan.

Arjen Robben merebahkan diri tidak menyangka akan kalah melawan Denmark

Jika pada Piala Dunia 2010, strategi ini bisa menjungkalkan lawan macam Brazil dan Uruguay, tapi untuk menaklukan tim Eropa tidak berhasil. Di posisi pemain belakang, kekhawatiran itu menjadi kenyataan dengan tidak adanya nama besar di posisi tersebut. Joris Mathijsen memang pemain yang bagus, tapi dia hanya bermain untuk tim-tim kelas dua di Eropa sama dengan tandemnya Heitinga, bandingkan dengan duet Denmark Agger-Kjaer, duet Jerman Hummels-Bastuber, dan duet Portugal Pepe-Alves. Sejak kehilangan Jaap Stam, tidak ada lagi regenerasi pemain belakang yang jempolan di lini belakang Belanda. Ada Khalid Boulharouz, Kevin Hofland, atau Ron Vlaar yang tampil di Euro 2012 sayang penampilan mereka angin-anginan serta dua pemain pertama sering ditimpa cedera. Satu-satunya yang konsisten sejak Piala Dunia 2010 sampai Euro 2012 adalah kiper Marteen Stekelenburg. Kalau tidak ada dia, mungkin Belanda akan kebobolan lebih dari 5 gol selama di Euro 2012.

Terlalu Individualis. Siapa yang tidak tahan memiliki deretan pemain bintang kelas 1 di tim nasionalnya, bahkan Belanda menjadi favorit kebanyakan pecinta sepakbola selain Spanyol dan Jerman untuk menjuarai even ini. Bahkan Bola, salah satu tabloid olahraga memprediksikan Belanda akan melaju mulus sampai ke babak final untuk berhadapan dengan Jerman. Namun siapa yang menyangka Belanda akan tersingkir secara tragis. Berbekal Robin Van Persie, top skor di Liga Inggris kemudian Klass Jan Huntelaar, top skor di Liga Jerman. Belum lagi pemain-pemain tengah yang atraktif dengan skil individu yang mumpuni seperti Arjen Robben, Wesley Sneijder, Rafael Van der Vaart, maupun Ibrahim Affelay. Sayang, kebintangan mereka menjadi penghambat permainan tim.

Arjen Robben frustasi karena kalah menghadapi Denmark di laga pertama Euro 2012

Permainan yang monoton serta diiringi permainan yang individualistis menjadi daya hancur yang besar. Hanya beberapa kali permainan “cutting inside” dari Robben maupun Affelay dapat merangsek masuk ke pertahanan lawan, sayang beberapa kali mereka lebih memilih mengambil tembakan langsung ketimbang mengoper ke kawan yang berdiri bebas. Di tengah hilangnya kreatifitas seorang Sneijder, tusukan kedua pemain sayap tersebut adalah opsi alternatif untuk Belanda. Lambat laun strategi seperti itu terlalu mudah dibaca pertahanan lawan yang mulai menaruh 3-4 pemain di sektor sayap jika Robben-Affelay mulai menusuk. Namun, tanpa adanya kekompakan tim, maka hasilnya adalah hanya tercipta 2 gol dalam 3 pertandingan, untuk pertandingan saat menghadapi Denmark saja, Belanda menciptakan lebih dari 20 peluang emas tanpa terciptanya gol. Dan beberapa pengamat menyebutkan permainan Belanda saat itu terlalu individualistis. 5 gol yang bersarang ke gawang Belanda, 3 di antaranya merupakan hasil serangan balik akibat pemain lini depan yang bermain individual dan dengan cepat kehilangan bola. Fakta ini membuktikan ego kebintangan tidak menjamin sebuah tim untuk sukses! Tengok saja Real Madrid beberapa tahun silam.

Kutukan runner-up Piala Dunia. Ini mungkin agak tidak lazim dan berbau-bau mistis. Tapi memang faktanya ada. Sejak tahun 2004 (even Euro yang mulai saya tonton) memang mengemukakan fakta ini. Dari Euro 2004 sampai Euro 2012, tim-tim runner-up yang berasal dari Eropa gagal menuju ke perempat final gelaran Euro! Dan kutukan itu melanda Belanda di Euro 2012. Di gelaran Euro 2004 Portugal, Jerman adalah runner-up Piala Dunia 2002 yang datang sebagai unggulan saat itu. Jerman juga berada di grup neraka bersama Republik Ceko, Belanda, dan Latvia. Hasilnya Jerman hanya meraih 2 poin dari hasil 2 kali seri melawan Belanda dan Latvia, serta kalah dari Republik Ceko dalam partai yang dramatis. Jerman bukan satu-satunya tim runner-up Piala Dunia yang gagal mencapai perempat final dalam even Euro. 4 tahun kemudian, Euro 2008 yang berlangsung di Austria-Swiss kembali memakan korban tim runner-up Piala Dunia 2006 Perancis. Perancis datang dengan kepala tegak setelah “hanya kalah” dari Italia di babak tos-tosan padahal mereka bukanlah unggulan di kompetisi tersebut. Datang ke Austria-Swiss, Perancis kehilangan maestro mereka Zinedine Zidane yang memutuskan pensiun setelah turnamen Piala Dunia 2006 di Jerman. Anehnya, sama dengan Jerman, Perancis berada di grup NERAKA dalam kompetisi tersebut. Perancis bersua tim-tim kelas berat Eropa seperti Belanda, Italia, dan kekuatan Eropa Timur Romania. Hasilnya Perancis pun tercecer dari fase grup dan kembali lebih cepat. 1 poin dari 3 pertandingan merupakan hasil yang tragis bagi tim Ayam Jantan tersebut. Imbang menghadapi Romania, dan kalah menghadapi Belanda dan Italia cukup membuat Perancis diam di peringkat terbawah grup C. Dan terakhir, yang baru-baru saja terjadi adalah Belanda, runner-up Piala Dunia 2010! Tim favorit saya sejak Euro 2004 gagal melaju ke perempat final Euro 2012 dan parahnya lagi sama sekali tidak memperoleh poin!! Hanya mencetak 2 gol dalam 3 pertandingan!

Kalah melawan Portugal dan tersingkir tragis!

De Oranye gagal memperlihatkan penampilan terbaiknya, gagal mengatasi tekanan, gagal mengatasi ego pemain bintang, dan tersingkir! Sungguh tragis memang apa yang terjadi, kalah dari Denmark, Jerman, dan baru saja kalah dari Portugal untuk memperkuat fakta kutukan runner-up Piala Dunia masih berlaku!!

Tersingkirnya Belanda dari ajang ini sebagai introspeksi diri menghadapi babak kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil. Belanda datang ke ajang tersebut masih sebagai runner-up Piala Dunia 2010. Dengan permainan yang seperti ini, bukan tidak mungkin Belanda akan gagal ke putaran final Piala Dunia 2014. Dan mungkin Belanda akan mendapatkan julukan sama seperti Spanyol sebelum 2008 sebagai “raja kualifikasi”.

Seorang suporter Belanda yang termenung menyaksikan kekalahan tim favoritnya

Semoga ada perbaikan dalam tim nasional Belanda sehingga bisa berbicara banyak di level Piala Dunia 2014. Bagi fans berat Belanda, tersingkirnya Belanda berarti berakhirnya Euro 2012 lebih cepat. Tapi bagi kita-kita yang fans Belanda dan pecinta sepakbola, Euro 2012, the best is yet to come!

HUP HOLLAND HUP!!

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: