Beranda > Museum > Weekend di Museum Nasional RI

Weekend di Museum Nasional RI

Sabtu, 9 Juni 2012 saya ditemani Andri teman 1 kos pergi Museum Nasional RI atau juga dikenal dengan Museum Gajah. Lokasi Museum Gajah cukup strategis di pusat kota Jakarta. Berada di Jalan Merdeka Barat, dekat dengan Monumen Nasional (Monas) serta tepat berada di depan salah satu terminal Busway. Tempat yang menarik untuk menyegarkan dahaga nasionalisme saya yang selalu meluap-luap dengan sejarah bangsa saya.

Rencana ke Museum Gajah merupakan rencana mendadak saya. Sejak membaca artikel di surat kabar Kompas tentang arca Prajnaparamita, saya ingin melihatnya secara langsung keindahan arca yang kononnya merupakan wujud Ken Dedes. Menurut artikel tersebut, arca Prajnaparamita yang paling indah ada di Museum ini dan yang ada di Trowulan merupakan arca yang cacat. Setelah mengetahuinya, saya langsung mencari lokasi Museum Gajah yang ternyata hanya dekat dari tempat saya tinggal. Saya terus mencari informasi tentang Museum itu, mulai dari harga karcis masuknya, hari dan jam Museum buka, serta bagaimana caranya ke sana. Namun setelah mengetahuinya, saya jadi takut karena tidak ada teman yang nampaknya berniat ke sana. Lisa, kakak dari teman baik saya Ghe ingin ke sana cuman mungkin sibuk jadi belum sempat.

Dan hari Sabtu itu, telah saya rencanakan ingin ke Museum Gajah setelah mengambil hasil tes masuk Program Pasca Sarjana di Universitas Trisaksti Grogol. Tapi semangat saya kembali surut dan agak ketakutan ingin ke sana. Mengikuti rencana awal ke Trisakti, saya mengambil hasil tes yang menurut saya cukup bagus walaupun aneh. Kemudian saya kembali ke kos untuk beristirahat dan memutuskan saya akan ke Museum Gajah pada hari Sabtu minggu depan, maka saya pun kembali ke kos.

Di kos, saya bertemu Andri yang sebelumnya kami telah banyak ngobrol tentang agama, filosofi, politik, dan banyak hal. Maka saat dia lagi makan, saya tawarkan dia untuk pergi ke Museum Gajah dan bertanya apakah dia sudah pernah pergi ke sana dan dia menjawab belum. Deal! Maka kita pun memutuskan mengunjungi Museum Gajah pada siang itu setelah makan siang indomie.

Karena berada di Monas, maka kami harus mengambil busway dengan sekali transit di Semanggi dan mengambil jurusan Blok M-Kota. Berangkat dari kos kemudian menuju shelter busway Slipi Kemanggisan. Tidak menunggu lama di shelter tersebut membuat rencana berjalan mulus. Saat itu jam menunjukkan lepas dari jam 12 sehingga kira-kira jam setengah 1 atau jam 1 paling telat tiba di Museum Gajah. Busway memang alat transportasi yang paling efektif walaupun kadang-kadang menjengkelkan. Dan itu merupakan moda transportasi favorit saya yang memang hanya berkutat di seputaran wilayah yang saya sebut kota. Dan perasaan jengkel itu kadang-kadang karena orang-orang berperilaku tidak sabaran untuk masuk ke busway, terburu-buru seakan mengejar waktu yang mereka tidak atur dengan baik.

Jalan Gatot Subroto pun tidak terlalu macet seperti hari biasa, sehingga tidak sampai 20 menit kami telah sampai di shelter transit Semanggi. Bergegas turun walaupun tidak tergesa-gesa karena kami tidak memburu waktu yang memang telah diatur. Menyusuri jembatan Semanggi untuk menuju shelter Bendungan Hilir (Benhil) sangatlah panjang. Kadang-kadang saya senang dengan jembatan ini, tapi kadang-kadang saya malas dengan jembatan ini.

Orang-orang berlalu lalang, saya dan Andri ngobrol-ngobrol tentang Laruku yang ternyata dia juga ngefans. Tentang Andri, saya kenal baru beberapa minggu dan terlibat pembicaraan yang menarik tentang hal-hal yang berbau filsafat dan agama. Dia seorang muslim tapi sekuler dan menerima orang-orang yang beragama lain. Dia bekerja sebagai cameramen di salah satu stasiun TV Swasta Nasional. Wartawan kedua yang saya kenal setelah Angel alias Admin.

Kami di jembatan Semanggi berbicara banyak tentang konser Laruku yang saya juga agak menyesal tidak nonton langsung. Andri nonton langsung konser Laruku yang diadakan di Senayan beberapa waktu lalu, jadi dia dengan semangat menceritakan bagaimana perilaku personel-personel Laruku saat konser. Saya katakana bahwa mereka itu adalah band yang senang berkomunikasi dengan penonton, ingin penonton ikut terlibat juga dalam setiap lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Dan dia terkesima juga dengan penonton Indonesia yang semangat saat itu sehingga membuat Hyde memuji penonton Indonesia dan berjanji akan kembali

Di shelter Benhil, pembicaraan tentang music Jepang masih berlangsung. Bahkan di dalam busway pun masih berlangsung walaupun tidak seintense saat di jembatan Semanggi. Saya senang dengan Andri karena dia cukup semangat dan menyenangi apa yang dia kerjakan. Kami tiba di shelter Monas, di depan Museum Gajah kira-kira jam 1 kurang. Sebelum busway itu berhenti di depan shelter Monas, saya telah melihat monumen Gajah kecil yang ada di depan Museum Nasional RI atau Museum Gajah.

Kata Andri, shelter busway Monas merupakan shelter yang paling indah. Saya mengerti kenapa karena shelter itu berada di bawah pohon rindang yang membuatnya shelter itu dingin alami. Saya juga kelabakan saat itu karena tidak ada jembatan penyebrangan namun kekhawatiran itu hilang karena ada zebra cross tepat di depan pintu keluar/masuk shelter Monas. Agak ragu pertama dengan cara berkendara orang-orang di Jakarta yang bagaikan dikejar setan sehingga tidak menghormati pejalan kaki yang ingin menyebrang.

Museum Gajah ternyata cukup rame! Saat masuk ada sekelompok anak muda yang mungkin sedang latihan fotografi di tempat itu, ada penjual-penjual juga yang berjualan di depan pintu masuk museum. Saya tidak begitu mengetahui sejarah gedung museum ini, tapi museum ini terlihat megah dengan pilar-pilar seperti yang ada di kuil Parthenon di Yunani. Ada karya seni tinggi yang terlibat dalam arsitektur gedung ini.

Harga tiket masuk memang sesuai dengan apa yang saya telah telusuri sebelumnya yaitu lima ribu rupiah, cuman saya ingin terlihat akrab dengan petugas jadi saya bertanya. Tiket itu berwarna oranye dan sayangnya telah saya buang. Beberapa meter dari tempat pembelian tiket masuk dan penitipan tas/barang, kami telah disambut arca-arca dari masa entah kapan. Ada arca Buddha, arca-arca penjaga pintu seperti yang ada di keraton-keraton juga. Namun perhatian saya langsung tertuju pada ruangan di depan saya dan mencoba mencari arca Prajnaparamita.

Ruangan di depan saya penuh dengan arca-arca. Sangat banyak dan beraneka ragam. Arca-arca entah dari masa kerajaan siapa tidak diketahui karena informasi yang disediakan amat kurang untuk koleksi-koleksi tertentu. Ada arca yang berbentuk wanita, ganesha, pendeta brahma, patung Buddha, dan arca-arca yang berbau agama Hindu-Buddha. Arca Ganesha cukup besar menyambut di depan ruangan, namun satu peninggalan sejarah yang merupakan koleksi museum Gajah yang paling besar adalah patung Adityawarman raja kerajaan Melayu yang berpusat di Sumatera. Arca itu setinggi kurang lebih 5 meteran yang sayangnya ada sebagian batu sebagai sandaran patung telah hancur tapi itu tidak mengurangi ketakjuban saya melihat karya tersebut yang telah saya lihat di internet sebelumnya.

Foto saya di ruangan arca dan patung Adityawarman.

Patung yang tinggi itu unik, karena patung sang raja beralaskan tengkorak-tengkorak manusia yang berjejeran, dan raja memakai sebuah mahkota lucu yang berbentuk kupluk gede. Patung ini tidak juga saya ketahui sejarahnya serta cuman sedikit yang saya ketahui tentang Adityawarman, jadi perlu belajar lebih banyak lagi tentang sejarah bangsa Indonesia karena siapa tahu saya bisa jadi guide tidak berbayar di museum yang unik ini hehehe.

Saya dan Andri juga menerka-nerka arca-arca yang ada di ruangan arca tersebut. Banyak arca tapi info yang diberikan terlalu sedikit. Seperti contoh arca pendeta agama, tidak dijelaskan arca ini ditemukan di mana dan berasal dari agama apa, apakah Hindu atau Buddha. Mengingat pada saat itu tingkat pluralism dalam masa Hindu-Buddha sangat tinggi tidak seperti saat ini. Saya katakana pada Andri, banggalah kamu jadi orang Jawa, karena mereka bisa membuat patung-patung seperti ini yang tidak kalah dari patung-patung seniman Bali.

Ruangan Arca juga diatur sedemikian rupa sehingga terlihat teratur. Beberapa arca juga cacat dengan tidak utuhnya arca tersebut. Ada arca yang tangannya buntung atau matanya sudah tidak ada. Ada sebagian juga yang hanya tinggal kepala doang. Beberapa kepala yang kemungkinan sangat besar adalah kepala Buddha dipajang di atas pilar-pilar pajangan. Ada juga prasasti-prasasti yang diletakkan di situ. Ada prasasti peninggalan raja Airlangga yaitu prasasti Pucangan kalo tidak salah. Sebagian tulisan sansekertanya telah terhapus.

Keluar dari ruangan arca, ada ruang terbuka yang lumayan luas, mungkin hampir sama besar dengan lapangan basket. Di situ terdapat arca-arca dalam berbagai kuburan yang diletakkan di atas hamparan rumput hijau. Di balik pilar-pilar juga ada arca-arca, kumpulan prasasti, serta patung-patung. Ada prasasti-prasasti yang diletakkan di tempat yang tidak menarik serta lokasinya tidak menarik pengunjung.

Koleksi prasasti di museum Gajah ini sangatlah banyak. Bahkan saking banyaknya, hanya prasasti-prasasti yang berbentuk unik yang diletakkan di ruangan-ruangan strategis dari museum ini. Prasasti-prasasti yang saya temui umumnya berbentuk kotak dan memang tidak menarik minat saya untuk melihatnya lebih detail karena letaknya sangat berdesakan. Ketiadaan petugas museum di situ juga menjadi hal yang membuat orang-orang agak enggan berkunjung ke museum ini.

Patung-patung koleksi Museum Gajah yang diletakkan di tempat terbuka di tengah museum.

Masih di ruangan arca, saya menemukan surya Majapahit. Andri sebenarnya yang temukan benda itu tapi dia tidak tahu benda apa itu, jadi saya katakan itu surya Majapahit yang menjadi lambang kerajaan mashyur tersebut. Ada juga patung Raden Wijaya atau nama kerennya arca Harihara yang saya sadar saat saya mengetik cerita ini. Patung Ganesha juga menarik rasa penasaran saya. Saya katakan kepada Andri bahwa imajinasi saya tentang Gajah Mada adalah Ganesha ini. Manusia berwajah gajah dan membawa gada adalah gambaran saya tentang patih terkenal Gajah Mada, bahkan walaupun dalam buku sejarah saat itu, gambaran Gajah Mada telah diperlihatkan tapi saya tetap teguh sampai masa SMA hahaha.

Keluar dari ruang arca, kami masuk ke ruangan budaya Indonesia. Saat memasuki ruangan itu, suasana adem air conditioner (AC) sangat menyejukkan karena baru saja kepanasan di ruangan arca yang memang cuma memakai angin cepoi-cepoi. Di ruangan itu, langsung disambut miniatur rumah-rumah yang ada di Bali. Bahkan di depannya sudah ada 1 set alat music trandisional Bali lengkap dengan perlengkapan model barongsai-barongsai gitu. Bali memang senang banget dengan tradisional-tradisional, bahkan mereka dengan teratur menjaga budaya mereka yang di beberapa tempat di Indonesia telah mulai luntur diserang oleh budaya-budaya asing jelek. Saya salut dengan Bali, karya-karya ukiran mereka dipajang di ruangan itu. Ada keris Bali yang menurut Andri mirip juga dengan keris yang ada di Jawa walaupun berbedanya di lekukan pada keris itu saja. Dari perkataan Andri, bisa saya katakan bahwa kebudayaan Bali dan Jawa sebenarnya sama walaupun berbeda pulau. Mungkin karena raja Airlangga yang berasal dari Bali datang ke Jawa kemudian salah satu anaknya menjadi raja di Bali membawa kebudayaan Jawa atau sebaliknya.

Ruangan itu memang penuh dengan karya-karya budaya-budaya suku-suku yang ada di Indonesia. Suku-suku seperti Dayak juga sangat beragam karya-karyanya yang dipajang. Seperti asesoris-asesoris Dayak, senjata, atau anting yang dipake oleh orang-orang sana.

Papua! Siapa bilang orang-orang Papua tertinggal dalam hal intelektual! Saya bisa menyanggahnya setelah melihat hasil ukiran, pahatan, serta patung karya mereka yang menurut saya indah luar biasa. Dimulai dari sebuah perahu, perahu yang dipakai oleh suku-suku Papua. Perahu itu terlihat sederhana seperti sebuah batang pohon yang dibentuk dengan mudah menjadi perahu. Tapi hal itu bukanlah hal yang utama, hal yang utamanya adalah kemampuan mereka mengukur keseimbangan perahu saat akan berada di atas air. Jadi orang-orang atau suku-suku di Papua memiliki kemampuan untuk memperkirakan dengan akurat, sama seperti orang-orang yang tinggal di kota.

Perahu yang berasal dari salah satu suku di Papua. Sederhana dan menakjubkan serta membuktikan mereka tidak tertinggal secara intelektual.

Satu karya dari Papua yang membuat saya terkejut dan makin menguatkan kesimpulan saya bahwa mereka orang Papua tidaklah mengalami terkebelakangan secara intelektual tapi hanya karena mereka tidak bergaul di perkotaan saja yang walaupun katanya berisi orang-orang pintar tapi tetap bodoh dalam mengatur waktu.

Patung yang berasal dari salah satu suku di Papua. Indah bukan!!

Banyak yang dipajang di ruangan budaya ini. Ada satu set alat music kesenian Jawa serta pewayangan. Saat kami keluar perlahan dari ruangan itu untuk mencari patung Prajnaparamita yang begitu membuat saya penasaran kami berbicara tentang ramalan Jayabaya. Menurut Andri, ramalan Jayabaya memang meramalkan pemimpin-pemimpin yang akan hadir di negara Indonesia beserta perilaku-perilakunya. Masih berbicara tentang Jayabaya, kami melihat satu peta Indonesia yang sangat besar ditemani 2 peta Indonesia yang berukuran lebih kecil. Saya sadari kenapa negara ini sangat sulit untuk diatur, karena negara ini memiliki banyak pulau dan kepulauan yang unik-unik. Saya baru kali ini memang pergi ke museum sekelas museum Nasional RI ini.

Menuju lantai 2, saya menemukan apa yang saya cari! Patung Prajnaparamita, patung yang ada di museum ini merupakan yang paling sempurna dari patung-patung Prjanaparamita yang ada. Patung Prajnaparamita berada di dalam kaca namun keindahannya tetap mengagumkan. Di patung itu saya berdiri cukup lama. Berbicara dengan Andri kemungkinan patung Prajnaparamita adalah Ken Dedes atau Gayatri. Kami berbicara tentang patung ini cukup lama karena patung ini memang sangat cantik dan indah.

Patung Prajnaparamita merupakan perlambangan kecantikan wanita Jawa yang dilambangkan dengan Ken Dedes. Dan cerita itu turun temurun dari generasi ke generasi. Dari cerita yang saya pelajari, memang sosok Ken Dedes terkenal sangat cantik pada masa itu. Dia diculik untuk diperistri Tunggul Ametung, seorang pemimpin di daerah itu tapi bukan raja di masa akhir kerajaan Kediri. Menurut cerita yang saya baca tentang Ken Dedes, Tunggul Ametung telah dikutuk oleh ayah dari Ken Dedes yang seorang pendeta. Maka saat Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, kutukan itu tetap ada sampai pada saat Ranggawuni naik menjadi raja Singasari dengan membunuh Toh Jaya, raja ke 3 dari Singasari yang merupakan anak dari Ken Arok dan istrinya yang lain Ken Umang. Sedang Ranggawuni merupakan anak Anusapati yang dibunuh oleh Toh Jaya. Anusapati merupakan anak dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes, yang pada saat Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, Ken Dedes dalam keadaan hamil.

Wuih! Saya malah keenakan bercerita tentang sejarah kerajaan Singasari. Tapi kalau kalian ingin melihat keindahan dari patung Prajnaparamita datanglah ke Museum Nasional RI atau Museum Gajah, maka kalian akan mengetahuinya. Foto-foto arca milik saya tersebut mungkin tidak terlalu jelas karena hanya memakai kamera handphone.

Patung Prajnaparamita alias Ken Dedes namun masih dalam perdebatan oleh para arkeolog.

Berkunjung ke museum untuk membangkitkan semangat cinta tanah air. Sama seperti kata Soe Hok Gie:

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kita naik gunung.

Berkunjung ke Museum Nasional RI akan mendekatkan kita dengan sejarah bangsa kita. Berkunjunglah ke museum-museum yang menceritakan sejarah bangsa Indonesia, terlibatlah dalam diskusi, mungkin dengan hal ini Indonesia bisa maju.

Iklan
Kategori:Museum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: