Beranda > Umum > I Am Condemned To Be Free

I Am Condemned To Be Free

Suatu saat dalam sebuah acara pernikahan teman kantor saya, saya berdiri dan kagum melihat suatu lukisan sekelompok kuda liar yang berlari bebas di alam luas. Saya sempat sejenak berpikir betapa indah kebebasan itu untuk makhluk yang tidak berdosa. Ya! Binatang termasuk makhluk ciptaan Tuhan yang tidak berdosa sehingga mereka seakan begitu bebas hidup di dunia ini, tidak mengenal apa yang disebut bekerja dan hari esok. Mereka tidak khawatir akan kematian di hari esok seakan mereka mengetahui hari esok adalah hari esok dan kita ada hari ini untuk mengerjakan tugas hari ini.

Gambaran itulah yang coba saya kembangkan dari apa yang saya lihat. Gambaran yang menyatakan kerjakanlah yang terbaik hari ini, mungkin besok sudah tidak ada lagi. Dalam lukisan tersebut, kuda-kuda liar tersebut berlari dengan teratur, bebas dan teratur. Sang pelukis mungkin menyadari bahwa mereka senang berlari secara berkelompok. Kuda yang sendirian adalah kuda yang tersesat. Yang paling menarik adalah warna bulu dari kuda-kuda tersebut menggambarkan makna ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

Memang kadang manusia perlu belajar kepada “kecuekan” binatang akan hal-hal yang sepele, hal-hal yang bukan merupakan suatu masalah utama dalam suatu kelompok besar. Manusia perlu belajar dari semut, rajin dalam segala hal. Perilaku-perilaku alamiah dari binatang ini kadang-kadang membuat manusia terlihat bodoh dan kenapa manusia juga mempelajari binantang. Ada juga mereka yang tidak terima dengan hal tersebut membunuh binatang dengan alasan berburu.

Seorang filsuf bernama Jean Paul-Sartre asal Perancis, menyatakan “I am condemned to be free” atau saya dikutuk untuk bebas. Tapi Sartre tidak menjelaskan apa arti bebas di sini. Setiap orang memang berhak bebas, tapi untuk apakah kebebasan itu jika berujung dengan kekacauan? Jika kebebasan manusia hanya menimbulkan kekacauan, maka terkutuklah kita yang meminta-minta kebebasan. Dalam sebuah buku yang saya baca, kebebasan memiliki makna jika menimbulkan keteraturan dan kedamaian.

Sartre begitu bersemangat mengatakan bahwa dia adalah orang bebas, tapi nyatanya kebebasan dia hanya sebatas dalam diri dia. Manusia lain akan menyatakan bahwa dia orang bebas juga, dengan pengertian bebas yang berbeda dengan Sartre. Hitler bukan orang yang diperbudak dalam pandangan kebebasan, dia adalah orang bebas. Hitler bebas melakukan segala hal yang menurut dia adalah sebuah kebebasan. Bangsa Arya adalah bangsa yang unggul, maka merekalah yang berhak akan kebebasan, bukankah begitu kebebasan itu jika tidak ada pengertian nyata dan benar dari kebebasan itu.

Nietzsche berkata “What your conscience say? Become who you are. Kalimat ini adalah kalimat motivasi yang hanya membawa orang ke dalam penyesatan. Dan ini berbeda dengan gambaran lukisan yang saya lihat. Kebebasan yang memberikan keteraturan, keselarasan, walaupun dalam perbedaan kita tetap bebas, bebas untuk menuju keteraturan, bebas dalam keselarasan hidup. Hal-hal sepele yang semacam inilah yang bisa membawa penyesatan kepada manusia-manusia saat ini.

Kebebasan, apa sebenarnya kebebasan itu. Memang manusia berhak untuk bebas tapi kebebasan sejati memiliki arah yang tepat, memiliki visi ke depan untuk membawa kebaikan. Percuma sebuah kebebasan hanya membawa kemunduran dalam aspek kehidupan. Kebebasan haruslah memiliki batasan-batasan. Kebebasan tanpa batasan hanya membawa kita kepada jurang kekacauan. Satu kalimat dari sebuah buku yang tertulis demikian “Kebebasan yang berdisiplin menciptakan keteraturan, kebebasan tanpa disiplin menciptakan kekacauan”. Semoga kita dapat mengerti mengapa hukum yang benar itu penting.

Iklan
Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: