Beranda > Umum > Adil Itu Adalah …

Adil Itu Adalah …

Koran Kompas pada hari Rabu, 29 Februari 2012 tertulis headline menarik. Headline itu tertulis “Adil itu adalah …” Kalimat itu adalah kalimat yang ditanyakan oleh institusi Mahkamah Agung dalam sebuah pameran yang diikuti institusi-institusi pemerintah yang berhubungan dengan penegakan hukum. Orang-orang bisa menuliskan di spanduk yang disediakan untuk memberi pengertian sebuah kata adil.
Aku pun tertarik menulis suatu kalimat tentang adil menurut pengertianku. Aku berpikir bahwa adil adalah suatu hala yang tidak akan pernah ada di dunia ini menurut subjektifitas manusia.
Adil merupakan persepsi orang berdasarkan perbandingan. Mereka mencoba membandingkan suatu standard yang diterapkan dalam kejadian-kejadian yang terjadi. Adil adalah perasaan untuk menyatakan Ya terhadap kebenaran dan Tidak terhadap hal-hal yang bersifat anti-kebenaran. Tuhan Yesus dalam suatu perumpamaan-Nya menyatakan keadilan menurut Dia dan menurut standard Dia. Pekerja yang tiba paling awal mendapatkan upah yang sama dengan pekerja yang tiba paling terakhir. Itulah keadilan menurut Yesus. Menurut manusia itu adalah sesuatu yang tidak adil, tetapi tidak menurut Yesus. Jadi adil merupakan sebuah persepsi penilaian suatu subjek dalam menilai suatu kejadian.
Apakah adil itu? Seperti yang aku jelaskan sebelumnya bahwa setiap orang memiliki definisi adil itu berbeda satu sama lain. Adil menurut saya berbeda dengan adil menurut anda atau orang lain. Ada yang berkata bahwa dunia ini tidak adil, tapi bisa saja menurut saya dunia ini adil. Sulit menciptakan definisi adil jika melihat secara subjektif, orang per orang atau kelompok per kelompok.
Adil juga adalah alasan di mana negeri-negeri bergejolak. Orang-orang menuntut yang namanya adil diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam kehidupan bermasyarakat.
Di Indonesia, orang-orang pun berteriak agar pemerintah bertindak adil. Perbedaan persepsi soal adil ini malah membawa konflik. Konflik datang akibat suatu pribadi maupun kelompok berbeda persepsi dalam menentukan kebenaran.
Adil adalah menentukan apa yang benar dan apa yang salah berdasarkan fakta yang dilandasi oleh suatu hukum yang memiliki esensi kebenaran di dalamnya. Hukum yang memiliki esensi kebenaran tidak hanya mampu menghukum satu kesalahan yang terjadi saat ini, tetapi juga dampak-dampak yang terjadi akibat kesalahan ini yang mungkin berakibat fatal di masa datang.
Pertanyaan muncul ketika kita diminta apakah yang menjadi dasar benar dan salah itu. Maka diperlukan usaha untuk bermusyawarah setiap tokoh bangsa duduk bersama dalam satu meja, bermusyawarah sampai mendapatkan kata mufakat untuk menentukan apa yang benar dan salah.
Pihak-pihak di sini yang terlibat dalam musyawarah harus terlibat dan memiliki kata sepakat dalam menjalankannya. Sepakat dalam perkataan, penulisan, dan perbuatan. Hal ini merupakan hal yang sulit dijalankan karena manusia memiliki kelemahan, tetapi bukan hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Adil bukanlah barang instan yang pada saat dikeluarkan langsung memberikan hasil dan dampak pada kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Indonesia membutuhkan kekonsistenan dalam menjalankannya serta menerapkannya. Konsisten dalam segala aspek kehidupan. Tidak boleh ada celah untuk ketidakadilan. Kita harus sadar dan terus mengejar kesempurnaan, tidak boleh pernah berpuas diri dan terus berevaluasi. Begitu juga terhadap adil itu sendiri. Apakah adil yang kita jalankan telah sesuai dengan adil menurut hukum yang kita buat? Semua butuh proses dan kekonsistenan. Adil itu adalah proses dari sebuah kekonsistenan dalam penerapan sebuah arti kebenaran.

Iklan
Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: