Beranda > What I See > Curahan hati pejalan kaki

Curahan hati pejalan kaki

Telah setahun lebih aku tinggal di ibukota. Aku tinggal di sebuah tempat kos yang aman walaupun tidak terlalu nyaman. Setidaknya aku masih bisa tidur nyenyak dan pergi tanpa khawatir dari sini. Aku berasal dari kelompok pejalan kaki yang mulai terancam kebebasannya. Daerah di mana aku bisa leluasa dan bebas menikmati kaki ku bergerak telah diserobot pihak-pihak tak bertanggung jawab dari kelompok lain. Aku pun mulai tidak leluasa beraktivitas di daerahku. Kelompok kaki lima setiap waktu menjajah tempatku berjalan. Trotoar yang menjadi tempatku berada dengan bebas dan nyaman mulai dipadati dengan penjajah-penjajah korban imperialisme sebuah kekaisaran yang bernama pemerintah. Mereka adalah kelompok-kelompok kaki lima yang terasing, nomaden, dan tak memiliki tempat tinggal yang tetap. Mereka mengambil tempat kami berkaktivitas. Aku mulai merasa tidak ada keadilan di ibukota ini. Di sebagian tempat, kami bahkan harus terusir dari daerah kami. Kami menantang bahaya yang seringkali datang dari kelompok pengendara mobil. Kami harus berjalan di jalan raya yang notabene merupakan arena perebutan 2 kelompok besar yaitu pengendara mobil dan pengendara motor. Kami tidak dipedulikan oleh kekaisaran pemerintah. Bahkan di beberapa tempat tidak ada anggaran untuk membangun wilayah bagi kami kelompok pejalan kaki. Hanya di beberapa tempat saja kami merasakan kebebasan berjalan kaki. Kami adalah kelompok paling lemah di antara semua kelompok. Bahkan kami menggantungkan harapan kami terhadap kelompok pengendara mobil angkot dan kelompok tukang ojek. Atau mungkin ada sahabat-sahabat kami yang dengan rela memberi tumpangan pada kami. Kami belum bisa mandiri jika menghadapi perjalanan jauh. Saat macet, nasib kami lebih parah. Ancaman pengendara motor yang melakukan aksi-aksi melewati trotoar kami cukup meresahkan. Bahkan kami seringkali harus mendapatkan raungan klakson yang tajam. Penderitaan kami lebih bertambah saat hujan tiba. Saat mereka mulai terjebak dalam permasalahan macet, pengendara motorlah yang mulai menggunakan daerah kami sebagai alternatif jalan. Bagi aku, pengendara-pengendara ini hanyalah seperti sekelompok manusia purba yang hidup dalam hukum rimba dan tidak mengerti norma-norma dalam berlalu-lintas. Apakah ini menjadi perhatian pihak kekaisaran pemerintah? Mereka hanya sibuk membangun kekaisaran mereka sendiri yang dianggap sebagai politik. Mungkin ini hanyalah sebagian dari curahan hatiku sebagai kelompok pejalan kaki yang butuh kebebasan berjalan! Dan kami adalah kelompok dengan pelanggaran paling sedikit!

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: