Beranda > Umum > Melihat eksistensi Allah dalam diri kita

Melihat eksistensi Allah dalam diri kita

Keberadaan manusia berada di dalam keberadaan Allah. 1 Korintus 15:10a telah jelas mengatakan hal itu. Bahwa dengan kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku sekarang. Kalimat dari Rasul Paulus ini menunjukkan bahwa adanya keberadaan Allah, maka kasih karunia itu ada. Kasih karunia Allah berbeda dengan kasih karunia manusia. Manusia bersifat mortal atau fana, sebaliknya Allah bersifat imortal atau kekal.
Dalam ayat ini juga terkandung bahwa manusia tidak bisa menyangkal atau menolak keberadaan Allah dalam hidupnya. Allah adalah pencipta manusia sehingga manusia menggambarkan eksistensi Allah. Ciptaan lainnya menggambarkan eksistensi Allah juga, sehingga seluruh teori keberadaan alam semesta dipastikan hanya berdasarkan pendapat subjektif semata tanpa menggantungkan diri terhadap penelitian yang jauh lebih mendalam.
Dengan kita hidup dalam eksistensi Allah, berarti kita berada dalam peraturan Allah. Dan peraturan itu bukanlah mengekang kebebasan, Allah itu bebas dan manusia juga ingin bebas. Peraturan itu dibuat untuk membuat segalanya berjalan teratur dan sesuai perencanaan.
Bagaimana kita mengatakan Allah itu tidak ada, sedangkan manusia itu ada? Alam semesta yang luas itu ada? Dan bagaimana tanpa campur tangan Allah, alam semesta bisa menerapkan sistem yang sedemikian rumitnya sampai-sampai manusia tidak mampu menelusuri betapa ajaibnya karya ciptaanNya?
Pandangan-pandangan yang mengesampingkan eksistensi Allah adalah sesuatu yang absurd dan tidak berwawasan. Bagaimanakah kita mengatakan bahwa manusia terlahir dari kera? Tetapi kera dari zaman Kristus lahir sampai sekarang belum saya jumpai manusia berbentuk kera.
Mudah saja bagi seseorang untuk mengatakan Allah itu tidak ada. Dengan alasan bahwa Allah itu tidak bisa berinteraksi dengan seluruh panca indra kita? Dan apakah manusia mampu menciptakan panca indra samai baiknya dengan manusia? Apakah tidak terpikirkan ada campur tangan sesuatu yang bersifat tidak terbatas? Kita memang telah disesatkan dengan berbagai-bagai pengajaran dan perilaku sesat. Dan alasan itulah yang muncul mengapa pendapat Allah itu tidak ada muncul. Ya, karena kita memang menolak keberadaan Allah, kita lebih memikirkan bagaimana aku, bukan Dia. Bahkan Yesus sempat berkata di manakah Anak manusia dapat menaruh kepalanya? Bukti eksistensinya menolak yang memberikan eksistensi.
Dan apakah yang dapat kita lakukan saat ini. Kita perlu menyadari bahwa eksistensi Allah dalam segala aspek kehidupan kita, karena Allah telah memberikan kasih karunia itu.
Kasih karunia janganlah menjadi sesuatu yang sia-sia di tangan kita yang terus berusaha berdiri sendiri dan menunjukkan kita eksis. Biarlah lewat diri kita, menjadi alat Allah sebagai bukti eksistensinya. Sekali lagi bukan karena Allah memperalat kita, tetapi karena Dia yang adalah pencipta dan pemberi kasih karunia.

Iklan
Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: