Perangkap Hoax

Februari 20, 2017 Tinggalkan komentar

Fenomena hoax menjadi subur di Indonesia. Apalagi di saat penyelenggaraan demokrasi seperti saat ini, hoax menjadi, meminjam bahasa Arthur Schopenhauer, “intellectual poison” yang merajalela. Tidak ada yang menjadi “antidote” selain klarifikasi, cara ini adalah cara yang dipakai ketika informasi hoax menyebar. Hoax mungkin adalah virus, yang sulit dimatikan dan dimusnahkan. Mereka datang bergerombol, menyebar, dan membuat bencana informasi. Hal semacam ini telah terjadi di dunia ekonomi, dan sudah mulai menyebar di dunia perpolitikan Indonesia.

Hoax muncul karena adanya ketidakpastian informasi yang dimiliki oleh pengguna. Mereka umumnya tidak sabar dan tidak kritis dalam memilah informasi yang dibutuhkan. Hoax merajalela juga karena ketergesa-gesaan yang hadir di dalam dunia instan, mengolah informasi sedemikian cepat tanpa melalui proses validasi yang terjadi di dalam dunia pikiran. Ada proses yang disingkirkan ketika mengolah informasi, dan ini didukung oleh teknologi yang tanpa saring-menyaring langsung menyebarkan hoax dengan satu jari.

Ketika Enron jatuh, informasi palsu menyebar di pasar saham. Bekerja sama dengan auditor independen, Arthur Andersen, Enron menyebar kebohongan melalui celah akuntansi yang ada dan tidak diketahui ranah publik, dan kemudian diubah menjadi informasi. Tidak sedikit yang mengalami kerugian. Atau kisah mengenai Lehman Brothers, yang juga jatuh karena informasi hoax yang direngkuh demi kepentingan korporasi. Keduanya kini telah hilang dan dikenal dengan skandal, bukan lagi perusahaan atau korporasi yang terkenal.

Hoax adalah primadona untuk menjatuhkan lawan. Jika Black Campaign adalah berusaha menjatuhkan lawan melalui pernyataan-pernyataan tercela, rasis, dan berbau suku, ras, dan agama, maka hoax bertujuan untuk membohongi fakta. Kebenaran dijauhkan dari penerima informasi, dan digantikan dengan kebohongan. Tujuannya satu, yaitu membentuk di dalam pikiran setiap penerima informasi opini-opini palsu yang diharapkan akan memberikan keuntungan, yaitu kuasa terhadap pikiran. Hoax telah menjadi komoditas masa kini yang dilawan dengan “verifikasi” di media massa, atau media sosial, atau media yang diharapkan dapat menghentikan hoax menjalar. Ini adalah bentuk pengobatan terhadap hoax yang eksis.

Ada beberapa artikel yang menulis bahwa senjata utama melawan hoax adalah membaca. Namun, hoax justru hadir melalui sarana bacaan. Survey mengenai rendahnya minat membaca masyarakat tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan hoax, karena hoax muncul lewat bacaan melalui media apa saja, sehingga hoax bisa diterima sebagai informasi. Jika membaca buku adalah yang dimaksud, sebagai objek bacaan, untuk melawan hoax, maka kita harus menyimak kutipan dari Schopenhauer bahwa “Hence the numberless bad books, those rank weeds of literature which extract nourishment from the corn and choke it… They are not only useless, but they do positive harm” (oleh karena banyaknya buku-buku yang buruk, gulma-gulma literatur yang mengambil nutrisi dari jagung dan mencekiknya… Buku-buku yang buruk bukan saja tidak berguna, tapi juga positif berbahaya). Schopenhauer memperingatkan kita bahwa di pasar literatur pun, yang bagi kita dapat menjadi sumber untuk memerangi hoax, terdapat pula yang tidak benar, yang hoax pula. Schopenhauer menggambarkan hal ini pada masanya mengenai buku-buku yang buruk, yang bertujuan hanya untuk keuntungan semata ketimbang menjadi pendorong daya pikir, “Nine-tenths of the whole of our present literature aims solely at taking a few shillings out of the public’s pocket, and to accomplish this, author, publisher, and reviewer have joined forces” (Sembilan per sepuluh dari seluruh literatur kita saat ini bertujuan utama untuk mengambil uang dari kantong masyarakat, dan untuk mencapainya, penulis, penerbit, dan peninjau telah bekerja sama). Peringatan ini menjadi lampu kuning bagi kita. Hoax juga bisa hadir di dalam dunia literatur. Tanpa kedalaman pikiran dan filter yang memadai, maka bukan tidak mungkin kita pun ikut terjangkiti hoax dari apa yang kita baca, baik itu berupa buku ataupun media.

Beberapa kawan saya, yang notabene, bergelar Sarjana dan Magister, ikut terjangkiti virus hoax. Kemudahan teknologi dan turunnya budaya mengkritisi informasi yang kita dapatkan – walau demikian, ada satu keanehan, jika informasi fakta ataupun hoax yang bertentangan dengan “kultus” pikiran mereka, tidak segan mereka akan menunjuk tangan dan berkata hoax, ataupun rajin mencari kebenaran informasi tersebut – membuang proses yang paling penting, validasi. Di dalam dunia informasi, informasi yang valid adalah suatu manfaat yang berguna ketika membahas suatu perkara, strategi, ataupun perencanaan. Validitas memberikan kita kecermatan dan keakuratan sejauh mana informasi itu dapat kita percaya, paling tidak, dapat kita perlakukan. Makin valid sebuah informasi yang kita dapatkan, maka semakin minimal kesalahan yang dapat kita ambil. Termasuk kesalahan dalam menciptakan pemikiran dan polanya.

Membaca buku adalah salah satu cara untuk menangkal hoax, bukan satu-satunya, dan membaca buku juga harus diperhatikan mengenai buku apa yang kita baca. Suatu kali saya berbincang dengan seorang pemuka agama yang senang sekaligus prihatin soal orang-orang yang mulai rajin membaca buku. Senang, karena satu per satu jemaat di tempat di mana beliau melayani tertarik membaca buku dan terlibat diskusi-diskusi kecil. Beliau prihatin, ketika mereka mulai merasa diri eksklusif dan merasa tahu segalanya, padahal buku yang mereka baca pun validitasnya diragukan karena hanya berasal dari satu-dua buku semata. Mereka belum bisa memilah atau mengkritisi mana informasi hoax, bukan informasi, dan yang benar-benar informasi. Karena semuanya ditelan mentah-mentah dan dikeluarkan mentah-mentah (melalui forum diskusi).

Hal yang lain yang bisa membuat hoax berkembang melalui buku adalah subjektivitas si pembaca. Artinya, pembaca mengambil informasi yang disesuaikan dengan persepsinya. Persepsi itu hadir melalui akumulasi fakta, keberadaan lingkungan, informasi baik benar maupun salah, bahkan hoax sekalipun yang membentuk pola-pola pikir subjek dan mengarah pada persepsi dari informasi yang didapatkannya. Persepsi subjek akan selalu membawa kepada apa yang dipersepsikannya benar, dan lainnya adalah keliru ataupun tidak perlu ditanggapi.

Saya pun mendukung jika peningkatan literasi masyarakat adalah salah satu cara untuk menghadapi hoax. Namun, perlu konsisten dan bukan sekedar program belaka. Hoax bukan saja bakal hadir saat ini, tapi juga nanti. Generasi berikutnya harus sadar dan siap menghadapi hoax, bukan kita saja. Peningkatan literasi melalui kampanye budaya baca, jika hanya sekedar program dan cari panggung, atau bentuk usaha menyelamatkan industri, maka kita tidak akan mampu mengatasi hoax. Kutipan Schopenhauer menutup tulisan saya.

… (the) man who writes for fools always finds a large public; and only read for a limited and definite time exclusively the works of great minds, those who surpass other men of all times and countries, and whom the voice of fame points to as such. These alone really educate and instruct… Bad books are intellectual poison; they destroy the mind.

Kategori:What I See

Makna Sejarah

Februari 2, 2017 Tinggalkan komentar

Saya setuju terhadap pendapat filsuf Karl Popper yang menyatakan sejarah tidak ada makna. Dalam bukunya Masyarakat Terbuka dan Musuhnya, Popper mengajukan pertanyaan apakah ada makna dalam sejarah? Sekonyong-konyong hal tersebut adalah suatu tantangan besar terhadap diri kita, secara personal, yang memiliki keterikatan dengan masa lalu. Popper mengungkapkan segala resah dalam hatinya mengenai pemahaman manusia mengenai sejarah. Saya setuju dengan pendapat Popper bahwa sejarah memang tidak memiliki makna, jika, kita membuat sejarah itu sebagai suatu kultus mengenai masa depan.

Kultus mengenai masa depan? Kita, sebagai orang Indonesia, tentu tidak akan pernah lupa slogan yang diucapkan oleh Bung Karno, Jas Merah, jangan melupakan sejarah. Slogan ini menimbulkan pengaruh cukup masif, walau terbilang tidak menyeluruh, masyarakat mulai menyentuh sejarah. Dan sejarah yang paling mudah ditemukan, dan dipelajari, adalah sejarah kekuasaan politik. Satu bagian sejarah yang dikritik oleh Popper karena dianggap absolut sebagai sejarah peradaban manusia. Namun, sejarah yang demikianlah yang paling banyak diakses, diagungkan, dikenang, menjadi romantisme yang mengiang-ngiang di dalam memori kita. Inilah yang dikritik Popper, dan tentu saja saya berada di gerbong dengan Popper.

Popper tentu saja memberikan suatu alasan yang menarik, bagi saya untuk ikut ke dalam gerbongnya. Pertama adalah kekuasaan punya pengaruh terhadap kita semua. Lewat kekuasaan politik, setiap sisi hidup manusia ikut serta ke dalamnya. Setiap peradaban dibangun di atas kekuasaan dunia, dibalik tembok-tembok cemerlang dan kekuatan militer yang hebat, ada kekuasaan di dalamnya. Pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai pengemban tugas rakyat adalah sosok yang paling berkuasa di Indonesia, setiap ucapan dan tindak-tanduknya akan mempengaruhi kita secara langsung dan tidak langsung. Pengaruh, atau kata lainnya kendali, adalah karakteristik yang paling diinginkan oleh setiap manusia. Manusia mana yang setiap ucapan, tindakan, dan tingkah lakunya tidak menginginkan adanya pengaruh, terhadap lingkungan yang terkecil sekalipun, misalnya, yaitu diri sendiri. Lupakan orang lain. Kekuasaan yang kita miliki kita inginkan mempunyai pengaruh terhadap diri kita, entah aspek apa yang harus terpengaruh dalam piramida Maslow kita. Popper tidak membahas rinci mengapa kekuasaan lebih menarik dibandingkan dengan agama. Namun tindak-tanduk kekuasaan lebih tinggi ketimbang sisi religi yang dilihat sebagai alat pendukung kekuasaan. Di dalam sejarah kekuasaan, kepercayaan atau agama, lebih sering menjadi alat legitimasi terhadap kekuasaan. Misalnya kepercayaan terhadap Ra di Mesir dan titisannya, Firaun, atau di Mesopotamia yang setiap kotanya memiliki dewa-dewi kota yang saling melegitimasi kekuasaan pihak penguasa. Di India, Jepang, bahkan di Indonesia, kekuasaan identik terlegitimasi oleh kepercayaan. Kita pernah melihat arca Raja Airlangga dalam rupa Dewa Wisnu, atau kisah-kisah epos India yang digubah oleh raja-raja di Indonesia.

Pendapat Popper yang kedua adalah karena kekuasaan memiliki pengaruh terhadap banyak aspek, maka manusia cenderung memujannya. Saya memiliki banyak pengamatan terhadap yang satu ini. Ada romantisme-romantisme klasik yang muncul belakangan ini. Kita mengenal di Eropa dengan Neo-Nazi, White Supremacy di Amerika, atau mengenai Khilafah di Timur Tengah, yang belakangan menjalar ke negeri ini. Ada romantisme-romantisme akan kegemilangan suatu era, suatu masa, masa-masa kejayaan suatu kekuasaan politik. Misalnya, beberapa pihak di Indonesia merindukan sosok mantan Presiden Soeharto, atau misalnya kelompok NIIS yang berjuang untuk memunculkan kembali suatu kekhalifahan di Timur Tengah. Contoh-contoh demikian tengah menjadi demam yang belum usai. Romantisme-romantisme itu dilekatkan dengan tujuan politis, dilegitimasi oleh kepercayaan/agama, dan membentuk diskursus-diskursus yang menjadi gula bagi semut-semut yang kelaparan pengaruh dan signifikansi. Dari sana lahir praktik-praktik kekerasan, dorongan untuk mencapainya dengan cara-cara yang “semua diizinkan”. Itu terjadi sebagai bentuk pemujaan terhadap masa lalu kekuasaan yang gemilang. Tidak ada orang yang mau mengingat sebuah kejatuhan. Tidak ada manusia yang mengingikan dirinya jatuh. Dan begitu pula kekuasaan, seperti yang diinginkan, terus berlanjut, berlomba, dan berlomba sehingga menciptakan kejatuhan demi kejatuhan, yang ironisnya adalah bagian dari sejarah kekuasaan yang paling tidak diinginkan untuk diilhami, dingat, atau pun diceritakan.

Dan alasan Popper yang ketiga, adalah orang yang berkuasa ingin dipuja. Mungkin orang yang paling narsis adalah orang yang berkuasa yang ingin dipuja. Tidak ada manusia yang lebih narsis daripada mereka yang berkuasa mencari “puja-puji”. Popper berangkat dari distorsi sejarah-sejarah kekuasaan masa lalu yang erat dengan penguasa. Misalnya, Alexander Agung yang memiliki Ptolemy dan Callisthenes. Di Indonesia, Hayam Wuruk memilik Mpu Tantular dan Mpu Prapanca, sedang raja Airlangga memiliki Mpu Kanwa. Belum terhitung prasasti, proyek-proyek mercusuar dan peninggalan-peninggalan arsitektur yang didirikan atas nama kekuasaan sekaligus bukti kegemilangan suatu era. Di masa sekarang, hal-hal yang sama juga terjadi yang dengan teknologi masa kini setiap orang bisa mengaksesnya. Kita melihat buku-buku yang bersifat otobiografi, kemudian proyek-proyek pribadi yang mengatasnamakan  kelompok, lapar akan aktualisasi diri, sehingga bertindak untuk mencari perhatian. Orang-orang yang ingin dipuja adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan. Hal ini terjadi bukan pada raja-raja, presiden-presiden, atau menteri dan jenderal, tapi juga hingga kelompok politik yang paling kecil, keluarga. Ayah, ibu, dan anak adalah sosok-sosok yang memiliki kuasa di dalam lingkup tersebut. Kuasa yang dimiliki seorang ayah adalah mengarahkan keluarga, menjadi pusat dan kepala di dalam keluarga, sedang ibu adalah pengatur, seorang perdana menteri dalam lingkup sederhana, yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan. Dan anak adalah bagian di mana pujian itu datang. Seorang ayah dan ibu tidak ingin anak mereka dicaci tentu saja, sehingga seorang anak sudah harus memiliki target tertentu yang dapat membanggakan ayah dan ibunya. Anak berkuasa atas ayah ibunya lewat tindakan-tindakan yang mempengaruhi nama keluarga mereka. Ketiganya harus berkolaborasi di dalam kekuasaan dan otonomi mereka untuk mencari pujian. Ketidaksatuan kekuasaan antara ketiga pihak tentu saja mendatangkan kejatuhan.

Dengan melihat alasan-alasan yang dikemukakan Popper, dan kecenderungan orang menanggap sejarah manusia adalah sejarah kekuasaan politik, maka sejarah bisa kehilangan makna. Fungsi dari sejarah, salah satunya, adalah sebagai bagian administrasi peristiwa-peristiwa masa lalu. Sejarah adalah satu garis waktu yang bisa diukur dengan hadirnya administrasi tersebut. Tanpa itu, kita hanya akan mengandalkan keterbatasan memori kita, dan mudah terdistorsi. Dan sejarah manusia bukan saja mengenai kekuasaan, ada soal makanan, seni, pekerjaan, riwayat hidup, yang seluruhnya memiliki konektivitas terhadap satu sama lain, individu-individu yang terlewatkan oleh sejarah kekuasaan politik, bagaimana dengan sejarah filsafat atau ilmu pengetahuan? Popper menyayangkan bahwa sejarah kekuasaan politik, yang administrasi peristiwanya paling banyak dicatat, menjadi legitimasi pada masa depan. Ketika kita mempelajari sejarah sebagai destinasi hidup kita, kita sudah melegitimasi masa depan berdasarkan sejarah yang kita pelajari. Bahwa masa depan harus kita lakukan demikian karena sejarah berkata demikian. Sama seperti usaha-usaha yang telah dilakukan oleh manusia pada masa kini pasti akan memiliki dampak seperti yang diimpikan pada masa mendatang. Sejarah tidak berkata demikian. Namun sejarah merupakan pengulangan peristiwa atas ketidakmampuan kita mempelajari sejarah. Hegel, sosok yang paling dikritisi Popper dalam bukunya tersebut, mengemukakan bahwa sejarah tidak dipelajari oleh bangsa/negara. Itu terjadi pula dengan setiap individu-individu saat ini. Kita hanya mengingat sejarah, tidak mempelajarinya, belajar darinya. Yang ada malahan sebaliknya, kita memanfaatkan sejarah demi kepentingan diri sendiri, kelompok, dan golongan sehingga berujung pada kekuasaan yang salah. Hal ini yang menghilangkan makna sejarah itu. Sejarah bermakna ketika kita memakainya sebagai alat, atau semacam cara untuk menghindari peristiwa buruk yang membawa sengsara di dalam kehidupan manusia terjadi lagi. Perang, penyakit, ketoledoran, dan banyak hal yang membawa bencana adalah hal yang harus dicegah untuk terjadi kembali. Di sanalah, bagi saya, sejarah memiliki maknanya. Sejarah tidak bermakna ketika kita melihatnya sebagai legitimasi masa depan, sebaliknya, justru bermakna ketika kita melihatnya sebagai peristiwa yang harus kita hindari di masa mendatang. Bukankah seekor keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama?

Kategori:What I See

Persatuan Indonesia Adalah Syarat Hidup

Desember 23, 2016 Tinggalkan komentar

Teror merajalela! Beberapa minggu terakhir ini, kita dikejutkan dengan penangkapan teroris yang tengah mempersiapkan “konser” di beberapa tempat, menyasar rakyat yang tak berdaya dengan tujuan mencari keuntungan! Di luar negeri, khususnya di beberapa bagian belahan dunia, teror oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab telah terjadi!

Target teror belakangan ini bukan saja menyasar masyarakat, tetapi juga institusi keamanan yang disimbolkan dengan polisi. Eksistensi kepolisan di Indonesia, bahkan di setiap negara, adalah sebagai jaminan keamanan internal yang terkendali. Menjamin kebebasan tidak menjadi liar dan brutal, dan paling utama adalah mencegah chaos di dalam negara. Inilah yang coba dimainkan oleh para “pengantin” bodoh itu. Mereka baru saja menghabiskan minyak ketika mempelai datang!

Target teror yang berubah ini menujukkan adanya tujuan untuk menciptakan chaos ketimbang menyerang target-target tertentu sebagai bentuk kebencian pada institusi atau kelompok yang dimusuhi. Penyerangan dengan target masyarakat luas untuk menciptakan suatu kebencian pada kelompok tertentu, menghasut perpecahan, dan yang paling berbahaya adalah menciptakan chaos seperti yang terjadi di Timur Tengah dan sekitarnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi incaran mereka. Rekatan kebangsaan yang mulai terlihat memudar merupakan sasaran empuk menciptakan adu domba. Indonesia bukan sekedar dipisahkan oleh sentimen agama yang kuat, tapi juga sentimen suku dan ras. Belum lagi sentimen sosial ekonomi yang memisahkan kita ke dalam kelas-kelas ekonomi yang membuat para provokator mencoba menciptakan pertentangan antar kelas.

Memperkuat kesatuan Indonesia tidak akan mudah mengingat secara sejarah, negeri ini telah sering diadu domba, baik oleh sesama masyarakat maupun oleh bangsa asing. Kita tidak akan lupa bagaimana provokasi yang dilakukan Belanda di Nusantara, misalnya pada perseteruan antara Kaum Paderi dan Kaum Adat. Pada saat Indonesia telah merdeka, masyarakat pun terprovokasi oleh sesama masyarakat dalam peristiwa pembantaian anggota PKI sehingga sejarah kelam Republik tercatat.

Indonesia tidak dalam persimpangan jalan karena di masyarakat akar rumput, erat persatuan masih terasa. Masyarakat masih sulit untuk dibuat terprovokasi, namun gejala-gejala awal dalam usaha mengadu domba sudah muncul. Pemerintah sudah seharusnya bertindak memadamkan gejala-gejala awal ini agar tidak dengan cepat meluas. Mengingat arus informasi yang bersifat menipu, mendistorsi, membentuk opini palsu sudah tidak bisa dibatasi oleh batas-batas fisik. Maka, kita tidak akan pernah terkejut lagi jika ada orang, atau kelompok, atau institusi, bisa menjadi seteru ketika bersinggungan di dunia maya.

Salah satu tokoh Proklamasi, Mohammad Hatta sudah berulang-ulang berkampanye pada masanya bahwa hanya Pancasila lah yang dapat mempersatukan perbedaan kita. Di dalamnya terdapat sila yang berbunyi “Persatuan Indonesia”, yang menurut Hatta adalah syarat hidup bagi Indonesia. Lebih-lebih, sejarah kita selain ada perpecahan terdapat juga persatuan ketika kita sadar satu sama lain bahwa kita ditakdirkan untuk menjadi suatu bangsa. Bangsa yang berdiri di atas perbedaan, bukan di atas keekslusifan. Kita tidak bisa seperti bangsa-bangsa lain seperti Amerika atau Eropa yang berdiri di atas ekslusifitas White Supremacy, karena demikianlah sejarah yang terjadi atas kedaulatan mereka. Indonesia berbeda. Dunia tahu bagaimana Indonesia merdeka melalui perjuangan tiap-tiap orang yang berbeda satu sama lain. Berbeda secara suku, agama, dan ras. Hatta paling tahu akan hal itu, maka tidak heran beliau menyebutkan bahwa Persatuan Indonesia adalah syarat hidup bagi Indonesia!

Dunia tahu Indonesia adalah negara yang berdiri di atas perbedaan, di atas demokrasi, kebebasan berpendapat, dan sebagainya. Indonesia pula yang menjadi contoh bagi dunia bagaimana kita berbagi persaudaraan, lantas apa jadinya jika Indonesia yang berdiri di atas keinklusifan suku, agama, dan ras berseteru satu sama lain? Apakah layak kita membawa Pancasila sebagai kiblat persaudaraan dunia jika demikian?

Para peneror mengerti akan hal itu, mereka terus berusaha mencari sela di antara kita untuk memecah belah. Ingat, tidak ada pelaku teror yang menginginkan kepentingan bersama. Pelaku teror hanya berpikiran untuk dirinya, kelompoknya, institusinya, ideologinya, dan surganya. Mereka tidak berpikir untuk orang lain, untuk inklusifitas dan persatuan Indonesia, mereka tidak berpikir untuk rumah bagi setiap orang. Para pelaku teror tentu saja hanyalah kelompok yang egois, tak berotak, dan tak memiliki kesadaran akan orang lain yang hidup bersamanya. Mereka memberi nutrisi pada otaknya dengan dongeng, distorsi kebenaran, hanya untuk diri mereka sendiri. Manusia Indonesia berbeda, berbeda dalam segalanya. Hatta tidak sungkan menyebutkan bahwa “Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya cita-cita persahabatan persaudaraan segala bangsa, diliputi oleh suasana kebenaran, keadilan dan kebaikan, kejujuran, dan kesucian, dan keindahan yang senantiasa dipupuk oleh alamnya”. Indonesia, melalui pemerintah, sudah harus bertindak tegas, setegas-tegasnya atas upaya-upaya teror dan pemecah belah persatuan negara yang sudah dibayar oleh nyawa pahlawan-pahlawan, baik yang diingat, maupun mereka yang mati tanpa bermakam.

Persatuan Indonesia adalah senjata kita, yang dimiliki oleh rakyat Indonesia dalam melawan teror yang memecah belah persatuan yang telah dibangun selama ini. Lagi, saya mengutip pernyataan Hatta yang datang melalui salah satu tulisannya Pancasila Jalan Lurus. Menurut beliau, dasar Persatuan Indonesia menegaskan, bahwa Tanah Air kita Indonesia adalah satu dan tidak dapat dibagi-bagi. Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya keutuhan bangsa. Jika kita memahami diri kita sebagai manusia Indonesia sejati, maka menghormati perbedaan kita satu sama lain sama derajatnya dengan menghargai sejarah Indonesia, sejarah leluhur, dan tidak lari dari tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk mengelola dan menjaga kedaulatan bangsa ini. Hatta sering mengutip kalimat yang berasal dari kata-kata Rene de Clerq ketika beliau berjuang demi Indonesia Merdeka.

Hanya satu tanah yang kusebut Tanah Airku. Ia besar menurut usaha, dan usaha itu adalah usahaku.”

Kategori:What I See

Supermoon dan Hoax: Fenomena!

November 15, 2016 Tinggalkan komentar

Semalam dunia menyambut suatu fenomena alam bernama Supermoon. BBC bahkan menyebut fakta bahwa fenomena Supermoon ini hanya akan muncul 27 tahun sekali! Luar biasa panjang tentu saja fenomena ini dinanti, yang terakhir kali muncul pada 1948 atau usia Republik baru 3 tahun. Apa bedanya dengan supermoon lain yang muncul secara teratur rata-rata 6 kali setahun? Dari data BBC lagi, fenomena kali ini memang agak lain karena bulan berada pada posisi terdekat dengan Bumi. Apa artinya? 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang. NASA bahkan menyebutnya “undeniably beautiful” untuk menggambarkan fenomena puluhan tahun sekali ini.

Fakta lain, yang rupanya dicocokkan dengan fenomena ini, adalah mengenai bencana alam yang muncul seiring dengan kehadiran Supermoon. Misalnya gempa di Tohoku, Jepang pada 2011 dan gempa bumi diikuti tsunami pada 2004 di Samudera Hindia, termasuk gempa baru-baru ini di Selandia Baru yang dispekulasikan oleh media sebagai hubungan dengan adanya dengan fenomena Supermoon. Spekulasi yang berkembang ini membuat Supermoon ini bagai sebuah kotak Pandora yang bisa menyakiti siapa saja.

Namun ada fakta lain, yang selalu kita ketahui, mengenai bulan dan naturnya yang kita kesampingkan dari fenomena ini. Pertama, tentu saja adalah cahayanya. Dari mana sumber cahaya bulan pada malam hari? Apakah bulan adalah bintang? Jawaban pertanyaan pertama, kita telah mengetahuinya dengan baik. Bulan memancarkan cahaya matahari, atau sebenarnya memantulkan cahaya matahari. Ada bagian dari bulan yang terkena sinar matahari, ada juga yang tidak. Demikian pula dengan bumi. Kita melihat bulan yang bercahaya seolah bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dengan demikian, ketika bulan muncul dengan ukuran lebih besar, seolah juga, karena ini hanya menyangkut jarak pandangan saja, maka cahaya yang dipancarkan lebih terang juga akibat si pemantul berada pada jarak yang lebih dekat. Karena ukuran bulan tidaklah sebanding dengan ukuran matahari dan bumi. Pertanyaan kedua, kita harus mengetahui definisi sebuah bintang terlebih dahulu. Bintang adalah benda langit yang memancarkan cahaya. Definisi ini cukup mudah untuk dicari tentu saja. Jika kita berhenti sampai pada definisi ini, maka kita sepakat bulan adalah kelompok bintang. Karena bulan memancarkan cahaya. That’s simple. Dan saya menyetujuinya. Namun, di dalam kelompok bintang, terbagi pula dua kelompok besar di dalamnya. Pertama adalah kelompok bintang nyata. Bintang nyata adalah benda langit yang memancarkan cahaya dari dirinya sendiri. Artinya, si benda ini menghasilkan cahayanya sendiri. Definisi ini biasanya dipakai oleh para ahli untuk mendefinisikan bintang. Yang kedua, kelompok bintang semu. Bintang semu adalah benda langit yang tidak menghasilkan cahayanya sendiri tetapi memantulkan cahaya dari bintang (nyata). Kalau dari definisi ini maka kita bisa mengelompokkan bahwa Bumi bukanlah bintang nyata, karena tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Begitu pula planet-planet lain, seperti Mars, Venus, Jupiter, Merkurius, Saturnus, dan planet-planet lain yang muncul sebagai bintang di langit malam. Termasuk pula Bulan!

Kedua, Bulan tidak menerangi Bumi secara detil. Tidak seperti matahari yang menyinari Bumi, Bulan tidak menyinari sebaik matahari karena Bulan memang tidak memiliki cahaya. Sebagai pemantul, dan kondisi bulan yang tidak rata, membuat cahaya yang jatuh dipermukaan bumi tidak menyebar dengan baik. Namun, ada makhluk lain selain manusia dapat memanfaatkan cahaya bulan untuk beraktivitas. Cahaya dari pantulan bulan tidak semewah ataupun secemerlang cahaya dari matahari yang membuat orang mampu melihat keberadaan Bulan. Sayangnya, pantulan cahaya Bulan membuat langit lebih bercahaya menutupi cahaya bintang-bintang nyata yang berada dikejauhan. Kehadiran cahaya pantulan dari Bulan membuat kita tidak menyadari kehadiran bintang-bintang nyata lain yang bertebaran di langit. Belum lagi persaingan cahaya dengan cahaya buatan manusia yang akhirnya menepikan bintang-bintang nyata.

Bersinggungan dengan fenomena Supermoon ini adalah fenomena menyebarnya berita hoax, atau palsu, di kalangan sosial media. Atau dengan kata lain ranah sosial di dunia maya banyak menyebar berita palsu, jauh dari fakta, dipantulkan namun tidak detil. Hal ini menimbulkan keraguan di kalangan orang-orang di dunia nyata. Efek berita hoax di dunia maya sangat mempengaruhi dunia nyata. Makin aneh karena dunia yang sudah dilipat dengan teknologi namun sulit bagi orang-orang untuk mengklarifikasi suatu berita. Fenomena apakah yang terjadi ini? Mengapa orang-orang sulit menerima berita yang benar tetapi mau menerima berita yang hoax?

Saya teringat kata Vladimir Bartol dalam novelnya Alamut. Saat itu pimpinan kastil Alamut sedang berargumentasi dengan salah satu anak buahnya yang mempertanyakan metode mengerikan yang dipakai sebagai usaha merebut status politik. Sang pimpinan itu berkata bahwa manusia lebih senang diisi dengan khayalan dan dongeng, mereka tidak peduli dengan kebenaran dan keadilan. Itulah yang terjadi selama ini. Sulit untuk menerima ketika saya membacanya, namun itulah yang terjadi. Apakah kita sadar bahwa selama ini nutrisi literasi kita lebih banyak membahas dan berfokus mengenai sesuatu yang ada di awang-awang? Impian, mimpi, harapan, yang semuanya tidak diberikan suatu dasar untuk ke mana impian, mimpi, atau harapan disandarkan. Dan ini bercampur dengan kebudayaan teknologi yang makin maju serta menciptakan suatu gaya hidup baru bernama instan! Setiap informasi dan data yang masuk ke dalam setiap pikiran kita, entah melalui bacaan, amatan, pendengaran, atau setiap indera yang kita pakai tidak diikuti dengan proses recheck atau menguji validitas data dan setiap informasi yang kita serap karena kita hanya percaya saja bahwa itu benar. Dan itu tidak perlu diricek.

Kedua situasi tersebut menimbulkan apa yang namanya fanatisme. Fanatisme, menurut Hegel, adalah “enthusiasm for the abstract” atau gairah untuk hal-hal yang bersifat abstrak, atau suatu yang tidak berwujud, tidak jelas, tidak terdefinisi, atau kata lainnya adalah relatif, menurut saya. Fanatisme ini mewabah pada orang-orang saat ini. Melewatkan proses kritis hanya untuk suatu kepentingan yang bersifat tak jelas. Fanatisme bersifat memihak, entah itu terhadap manusia, kepercayaan, ideologi, bahkan diri sendiri. Fanatisme inilah yang membawa banyak penderitaan hingga kini. Fanatisme terhadap sesuatu yang bersifat tidak jelas, hoax, dan sulit untuk dipertanggungjawabkan. Jika kita melihat sejarah Indonesia, banyak manusia yang mati karena fanatisme. Peristiwa 1965 ataupun 1998 terjadi hanya karena fanatisme semata. Manusia menerima fanatisme karena berkaitan dengan apa yang menjadi nutrisi mereka selama ini, yaitu impian, mimpi, dan harapan yang tak berdasar, yang merupakan suatu hal yang bersifat abstrak. Abstrak hanya bisa dipuaskan dengan hal abstrak. Sulit untuk menerima kebenaran nyata.

Fenomena ini terus terjadi, bukan saja di Indonesia, tetapi juga belahan dunia lain. Media-media saling bersaing untuk memberitakan fakta dan hoax, dan hoax sendiri ikut dinikmati! Fenomena ini akan terus berlanjut seiring tiadanya koreksi terhadap nutrisi literasi kita. Kita melihat kisah-kisah sukses, melihat tampilan-tampilan iklan, melihat televisi, lalu menjual diri kita hanya untuk menjadi abstrak terhadap dunia, terjebak dalam fanatisme, dan menderita. Kita perlu koreksi terhadap apa yang kita baca, apa yang kita tonton, dan semua itu harus dibenturkan dengan kebenaran umum, sesuatu yang mutlak, bukan abstrak, untuk mendapatkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Walaupun itu proses yang sulit, dan tidak menyenangankan. Namun hal itu percuma jika kita menanggap hoax itu sebagai madu, dan kebenaran mutlak itu sebagai racun.

Sama seperti fenomena Supermoon, kita dibuai dengan keindahan kepalsuan Bulan yang menganggap dirinya sebagai bintang nyata, padahal cahayannya hanyalah sebuah pantulan dari yang nyata. Mengambil keindahan bintang nyata yang kecil, tidak terlihat oleh mata namun ada, dan bercahaya karena dirinya sendiri.

Kutipan dari Essay On Reading and Book..

platoaristotle

– It is the same in literature as in life. Wherever one goes one immediately comes upon the incorrigible mob of humanity. It exists everywhere in legions; crowding, soiling everything, like flies in summer. Hence the numberless bad books, those rank weeds of literature which extract nourishment from the corn and choke it. They monopolize the time, money, and attention which really belong to good books and their noble aims; they are written merely with a view to making money or procuring places. They are not only useless, but they do positive harm. Nine-tenths of the whole of our present literature aims solely at taking a few shillings out of the public’s pocket, and to accomplish this, author, publisher, and reviewer have joined forces. (Arthur Schopenhauer) –

 

 

Kategori:What I See

Fenomena Nota Kosong

Oktober 3, 2016 Tinggalkan komentar

download-blank-invoice-templatePada suatu hari – adalah frase yang pas untuk memulai kisah yang akan diceritakan – saya ditugaskan oleh kantor untuk membeli beberapa perlengkapan, nggak banyak, dan nilainya pun tidak material. Well, cuaca saat itu cukup cerah untuk berkeliling salah satu pusat perdagangan grosir yang cukup terkenal di kawasan Jakarta Barat. Satu tujuan saya adalah untuk menekan bujet yang telah ditentukan, namun mendapatkan barang yang cukup bernilai ekonomis. Nilai ekonomis itu apa? Bermanfaat dan dapat diandalkan dalam satu rentang waktu yang minimal. Kira-kira seperti itu tujuannya.

Dan sampailah pada saat yang berbahagia! Eh, ini bukan pembukaan UUD 1945. Saya tidak kaget dengan suasana yang tumpah bleg di jalan-jalan sekitar pusat perdagangan tersebut. Jalan dan trotoar direklamasi oleh para pengembang alias pedagang. Satpol PP pun hanya terlihat mengawasi jangan-jangan ada onar yang terjadi. Karena hari yang saya pilih adalah hari pada akhir pekan dan belum lama gajian sehingga kepadatan belanja pun tidak kira-kira.

Uang sudah saya sediakan sesuai bujet yang diminta. Barang yang saya perlu sudah saya kerucutkan sehingga fokus pencarian hanya untuk barang tersebut. Hal itu perlu dilakukan karena satu hal, saya tidak ingin buang waktu dan buang uang yang lebih besar dari apa yang diberikan. Kalo bisa ada kembalian ke kantor. Ekonomi saat ini susah, morotin kantor efeknya bisa PHK alias pengangguran terencana karena kantor tidak lagi sanggup menggaji, bukan mempekerjakan.

Lorong-lorong sempit dengan lapak-lapak jualan yang saling deketan satu sama lain. Dibagi ke dalam blok-blok untuk memudahkan lokasi lapak untuk diakses. Pusat perdagangan adalah kawasan majemuk. Di mana di sana tidak memandang suku, agama, dan ras dalam bersaing, entah itu jujur atau curang, para pedagang adalah kelompok yang mementingkan ego pribadi ketimbang kelompok. Inilah mini Indonesia semini-mininya Taman Mini. Jualan pun cukup beragam, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan sementara seperti koper untuk berwisata, pakaian bayi, dan sebagainya. Saya pun tidak kalah gencar dengan pedagang yang mencari pelanggan. Mencari apa yang saya incar itu susah-susah gampang.

So, mulailah bergerilya dengan gencar. Tiap blok saya lewati. Lapak yang menjual barang yang saya incar saya datangi, mencari informasi (nanya maksudnya), mikir, nawar, nyari saran, hingga mengatakan “liat dulu ya mba”. Tidak ketemu yang ada di dalam gedung, saya blusukan hingga ke jalan-jalan yang padat pedagang kaki tiga, walaupun saya bukan pejabat berbintang tiga, tetap saja banyak orang yang mengidolai sampe-sampe ngajak “mampir kakak, lihat dulu”. Saya hanya bisa mengatakan tidak.

Setelah satu jam lebih berkeliaran ke sana ke mari, akhirnya saya mulai mengerucutkan lagi ke barang yang saya ingin beli. Survei sana survei sini bisa bikin pengetahuan bertambah. Tinggal menyingkirkan noise maka kita mendapatkan sinyal. Lho, kok gitu? Pakai filosofi membaca, membaca pertama adalah membaca seluruhnya dan kita akan mendapatkan bentuk dari pemikiran seorang penulis, membaca kedua adalah membaca bagian-bagian penting menurut subjektifitas kita maka ketemulah sinyal yang menunjukkan arah pada gambaran yang kita inginkan. Dari survei pun saya masih meminta saran. Kita bagi ke dalam plus minus untuk mengambil satu barang. Mulai dari cost and benefit hingga desain, kualitas, pandangan orang lain, dan yang paling penting adalah sesuai nggak dengan tujuan awal kita beli barang. Selama perjalanan Indonesia merdeka, kita lebih mementingkan hal-hal yang tidak penting, mulai dari cost and benefit dari pemerintahan, kemudian desain negara, dan sebagainya, tapi kita lupa apakah hal-hal yang demikian sudah mampu membawa negara ke relnya yang semula? Lho! Kok malah nyambung ke perpolitikan!

Saya padahal cuma ingin beli tas buat hadiah anak laki-laki yang berusia 6-10 tahun. Sesederhana itu dengan bujet yang, ya bisa dibilang lebih sih. Toh ini acara setahun sekali, dan dibujetkan segitu sejak awal oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini kantor. Setelah pencocokan harga dengan pedagang yang tidak saya PHP-in, dan mengecek barangnya memang tersedia sesuai dengan yang saya butuhkan. Saatnya melakukan pembayaran. Jumlah tas yang saya butuhkan hanya sepuluh, tapi saya memutuskan mengambil 1 lusin untuk menekan bujet. Dengan kelebihannya saya putuskan jadi milik saya, jadi saya beli aja dari kantor. Alasannya kenapa? Itu barangnya bagus.

Setelah diperiksa satu per satu barangnya. Padahal cuma beli satu lusin tapi birokrasinya mirip pemerintah yang ada di luar DKI. Iya dong, saya kan ingin memastikan dengan jumlah uang yang segitu saya bisa neken bujet plus barangnya bagus. That’s it! Sesederhana itu. Itu juga yang jadi pikiran bos sama HRD di tempat saya bekerja ketika merekrut saya. Mereka berharap saya bisa memberikan hasil yang lebih daripada yang dibayarkan kepada saya alias gaji. Negara kita sulit maju karena setiap orang di tempat kerjanya hanya akan berpikir berapa banyak yang bisa tempat bekerja kita berikan ketimbang sebaliknya. Tidaklah heran jika terjadi PHK di sana dan PHK di sini karena memang perusahaan itu rugi, rugi apa? Rugi mempekerjakan yang demikian. Belum lagi melempar kesalahan sembunyi tangan. Padahal perusahaan adalah sebuah organisasi organik bukan organisasi robot. Lha! Malah curhat.

Pada akhirnya tibalah saat pembayaran. Pembayaran dilakukan tunai, bukan kredit, bukan melalui kartu kredit ataupun debit. Dibayar tunai menggunakan media penukar bernama uang kertas. Sejumlah uang kertas saya keluarkan dan saya bayar tunai. Sebagai gantinya saya meminta bukti pembayaran berupa nota. Di sini saya menemukan keanehan yang sudah familiar dan membudaya, yakni soal nota kosong. Well, nota kosong ini adalah nota yang benar-benar kosong dan siap ditulis apapun yang diinginkan penulisnya. Nota kosong ini berkebalikan dengan cek kosong. Jika cek kosong untuk menarik uang maka nota kosong untuk membebankan uang. Terutama pada perusahaan, membebankan uang berarti uang sudah keluar dan telah dianggap menjadi, apakah itu barang atau jasa, dan berhak untuk diklaim. Cek kosong adalah pemberian seseorang yang memiliki dan sebaliknya nota kosong adalah pemberian seseorang yang memiliki piutang atau hutang.

Nota kosong telah menjadi fenomena saat ini. Bentuk-bentuk “korupsi” kecil dimulai di sini. Mewabah dan menggurita. Sebaliknya cek kosong hanya berupa aji mumpung. Nota kosong diberikan seorang penjual kepada seorang, bukan pembeli tetapi yang mewakili pembeli, untuk membelanjakan sejumlah uang yang sudah dipercayakan kepada wakil atau agen tersebut agar dapat menukarkan dengan kebutuhan si pembeli yang sebenarnya. Wakil atau agen di sini kita bisa menyebutnya sebagai fenomena. Hal-hal yang menjadi fakta, yang kita bisa lihat dengan indera, kita bisa merasakan kehadirannya. Fenomena yang terjadi di dalam dunia kecil tadi adalah kita tidak bisa merasakan kehadiran sesuatu yang memiliki “power” yang lebih besar yakni pembeli dari sosok agen atau wakil yang dipercaya si pembeli. Ada jarak antara pembeli dan agen yang menciptakan fenomena ini. Kejujuran si pembeli diharapkan diikuti oleh sang agen yang nyata-nyatanya memiliki kuasa atas secarik nota kosong.

Banyak yang menggunakan nota kosong untuk mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Tidak sedikit yang berjuang untuk tetap bertahan pada integritasnya. Kita bisa melihat fenomena ini dalam frasa “lahan basah” yang menjadi satu frasa umum di kantor-kantor, organisasi-organisasi, dan dihubungkan dengan satu kegiatan, satu aktivitas, satu untuk semua, yakni aktivitas pembelian. Dari aktivitas dihubungkan ke sub-organ dari suatu organisasi yaitu divisi, departemen, bagian, dan sebagainya yang melakukan aktivitas pembelian. Aktivitas ini menjadi “lahan” untuk bagian-bagian tertentu dalam mencari rejeki. Padahal tidak semua demikian. Namun pemahaman dan pemikiran masyarakat modern yang serba curiga membuatnya demikian. Dan apanya yang basah? Orang-orang berkata adalah duit yang basah, dan memang benar. Duit alias uang memang adalah “air yang membasahi” lahan tersebut. Uang erat sifatnya dengan cairan, makanya di dalam dunia eknomi uang disebut sebagai aktiva yang paling cair alias likuid. Suatu benda padat yang dikenai dengan benda likuid akan menghasilkan yang namanya basah. Jadi lahan basah adalah sebuah bagian di perusahaan yang terkena dengan benda likuid bernama uang.

Bagian yang beli-membeli adalah agen atau wakil dari perusahaan untuk melakukan pembelian. Saya juga tadi merupakan agen atau wakil perusahaan yang diminta untuk melakukan pembelian. Walaupun nilainya kecil sih. Agen atau wakil ini yang nantinya berhak meminta nota kepada si penjual atas nama perusahaan. Di sini yang sering dijadikan tudingan korupsi kecil-kecilan karena tidak jarang si agen “mengutip” dari nilai pembelian perusahaan. Keuntungan yang seharusnya menjadi milik perusahaan diambil oleh si agen. Kehilangan keuntungan adalah kerugian sehingga dalam posisi ini perusahaan dirugikan.

Fenomena nota kosong ini telah turun temurun, seperti warisan yang tak pernah putus. Kesanggupan untuk menghentikannya sangat sulit. Fenomena ini bukan saja terjadi di kalangan bawah seperti para pedagang-pedagang di pusat perbelanjaan tapi juga merasuk hingga tiap lini di dalam lingkup organisasi. Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan bagaimana kawan saya menjual sebuah kamera yang masih bagus dengan harga yang cukup tinggi namun beberapa uangnya diambil oleh si pembeli. Ini tentu saja korupsi. Kerugiannya bisa dihitung hanya saja belum masuk ranah KPK. Bagaimana memotong rantai fenomena nota kosong ini? Sulit. Sama sekali sulit. Ada kalanya si penjual ditolak oleh si pembeli karena tidak mau memberikan nota kosong, tidak jarang pula ada penjual yang menggoda si pembeli apakah perlu nota kosong atau tidak. Akhirnya nota kosong menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara pembeli dan penjual. Kadang kala saya berpikir apakah ekonomi negara, atau lebih besar lagi, ekonomi dunia ini dibangun atas dasar tipu-menipu? Salah satu dosen saya menceritakan bagaimana krisis besar pada awal abad ke 20 atau kita kenal dengan nama Great Depression terjadi karena proses ekonomi dilandaskan pada kegiatan tipu-menipu yang menciptakan kegetiran, kerugian yang berefek domino, dan balon-balon ekonomi lain yang siap pecah untuk menambah getir. Begitu pula yang terjadi pada tahun 2008 di mana perusahaan-perusahaan raksasa bangkrut, jatuh, dan tak dapat bangkit lagi gara-gara proses tipu-menipu. Begitu pula yang akan terjadi pada pribadi-pribadi yang melandaskan keuntungan pada nota-nota kosong yang akan diisi dengan nilai manipulasi. Bukankah hidup mereka juga akan menuju kepada kemanipulasian hidup dan berujung petaka?

Kategori:What I See

Renungan Tujuh Belasan

Agustus 16, 2016 Tinggalkan komentar

Merdeka!

GSM 71tahunKata yang bukan sekedar diucapkan, diteriakkan, dengan tangan yang dikepalkan ke atas, meninju-ninju angin, dan mengucapkan “Merdeka!” Kita tidak melupakan jasa para pahlawan, mengingat-ingatnya, kisah mereka telah melegenda di dalam kepala kita. Dan emosi kita tidak tertahankan meneriakkan “Merdeka!” setelah mengingat apa yang telah mereka lakukan.

Setiap 17 Agustus, seluruh Indonesia merayakan hari terpenting di dalam sejarahnya, Hari Proklamasi Kemerdekaan. Secara de facto adalah hari lahir suatu konstitusi bangsa yaitu negara, pernyataan yang jelas terhadap pengambilalihan kuasa atas nasib suatu wilayah kepulauan dari tangan para penakluknya. Secara de facto, inilah hari dimulainya Tahun Indonesia. Kita tengah berada di dalam tahun-tahun Indonesia, selama 71 tahun kita hidup di dalamnya.

Dibanding dengan hari-hari Nasional lainnya, 17 Agustus memberikan suatu makna bebas secara menyeluruh. Bebas yang sebebas-bebasnya, lepas dari penjajahan yang begitu lama mengekang. Hari itu adalah puncak dari perjuangan, sebuah hasil yang ditunggu-tunggu, dan respon luar biasa didapatkan oleh suatu wilayah yang baru terkonstitusi setelahnya. Kita mengingat di hari-hari setelah 17 Agustus 1945, banyak yang gugur, kehilangan materi dan sebagainya. Kita mengingat mereka di hari Nasional yang lain, tentu saja. Tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka melakukannya? Sebatas mempertahankan kemerdekaan kah?

Indonesia lahir dengan catatan historis yang tanpa kekompakkan. Dijajah tidak berbarengan, dan diadu satu sama lain. Atas dasar apakah mereka yang gugur harus mati di medan laga? Jika kita mencari satu alasan historis apakah yang menyatukan kita? Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Pulau Sumatera sekitar abad ke 9 hingga 11, salah satu kerajaan maritim maju pada zamannya. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa kerajaan Sriwijaya berhasil menyatukan seluruh wilayah Sabang hingga Merauke pada masanya. Tidak ada. Kekuasaan Sriwijaya hanya terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia, sama sekali tidak memiliki dampak dari apa yang mereka perlihatkan terhadap belahan lain di Indonesia. Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara sama sekali tidak memiliki sisa-sisa peninggalan Sriwijaya, baik dari segi fisik maupun non-fisik.

Bukti historis lain yang sering dikedepankan tentang Nusantara adalah Kerajaan Majapahit, suatu kerajaan yang luar biasa maju pada zamannya. Mungkin garis sejarah Majapahit adalah paling dekat daripada bukti bahwa Indonesia, atau wilayah Sabang hingga Merauke pernah disatukan. Dengan satu catatan, persatuan tanpa kekerasan. Pramoedya pernah mengatakan bahwa sosok Soekarno adalah sosok yang hebat karena berhasil menyatukan Indonesia tanpa pertumpahan darah. Tidak ada suatu bangsa, suku, yang sukarela masuk ke dalam wilayah, atau mengakui perbedaan, mengadopsi suatu system bahasa komunikasi yang menyatukan mereka. Mungkin hanya satu bangsa yang bisa demikian, yaitu bangsa Kasdim atau Babel. Kerajaan Majapahit, baik dari bukti-bukti catatan maupun arkeolog, tidak ada bukti yang benar-benar valid menyatakan bahwa pada zamannya, wilayah dari Sabang hingga Merauke, berada – dan sukarela – di wilayah yuridiksi Majapahit. Semua catatan, hingga peninggalan-peninggalannya hanya tersebar di wilayah Jawa dan Bali. Kita hanya mampu mengambil dari peninggalan-peninggalan Majapahit adalah “Bhinekka Tunggal Ika” atau Berbeda Tetapi Satu. Dalam konteks penakluk dan yang ditaklukkan, konsep itu muncul. Mungkin itu adalah konsep “Pax Majapahit” pada saat itu, suatu konsep yang menjamin kestabilan kerajaan. Konsep yang mengikat para taklukannya untuk setia di bawah Majapahit.

Para sejarawan pasti tahu, apa akhir dari Kerajaan Majapahit. Pahit dan menghilang, walaupun karakternya ikut serta pada para penerus-penerusnya. Wilayah Nusantara pun masuk di bawah masa Islam. Pada saat Islam berkuasa, yang terjadi adalah penaklukan-penaklukan antar sesama Kerajaan Muslim. Kerajaan Demak digantikan Kerajaan Pajang, Kerajaan Ternate dan Tidore saling bersaing satu sama lain. Kerajaan Goa pun tidak kalah ekspansinya keluar pulau. Kerajaan Mataram Islam menaklukan wilayah-wilayah lain yang “tidak ingin bergabung”. Sampai pada masa ini, tidak ada satu kekuatan yang berhasil menyatukan wilayah Sabang hingga Merauke. Tidak ada.

Hingga pada masa penjajahan, setiap pahlawan-pahlawan daerah lebih tertarik melawan penjajah atas nama daerah mereka ketimbang Indonesia. Indonesia? Belum dikenal pada masa itu. Hingga pada masa Kebangkitan Nasional pada 1908, tidak ada suatu bentuk perlawanan menyeluruh, atas nama Indonesia, yang sukarela! 1908 memang titik awal, suatu pemicu persatuan, yang kemudian berlanjut dengan saling terikat satu sama lain melalui Sumpah Pemuda.

Jadi, apa alasan para pejuang yang tidak dikenal, sepanjang Sabang hingga Merauke, yang hidup tak dikenal mati tidak dikenang? Yang biografi mereka satu per satu hilang ditelan waktu dan zaman, tetapi masih tertulis pada catatan Yang Mahakuasa? Tidak ada!

Hanya ada satu waktu, satu momentum yang bisa menyatukannya! Proklamasi Kemerdekaan!

Proklamasi Kemerdekaan mengubah seluruh sikap warga, dari Sabang hingga Merauke. Mereka berjuang, dari meja diplomasi hingga medan tempur di mana darah terbuang. Pernyataan kemerdekaan, dan kebebasan, adalah satu-satunya yang mereka harapkan, yang mereka idamkan, dan apa yang dianugerahkan bagi mereka. Kemerdekaan itu tidak ingin diambil kembali, selayaknya iman mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula kepercayaan mereka terhadap masa depan Indonesia! Orang Muslim menyebutnya Jihad, Orang Kristen menyebutnya Pengorbanan, Orang Buddha dan Hindu menyebutnya Dharma. Semuanya bersatu di bawah anugerah Proklamasi Kemerdekaan. Semuanya berespon! Dari Sabang hingga ujung Indonesia menjadi medan laga. Ketika Papua diterjang penjajahan Belanda, maka kita tidak tinggal diam. Mereka maju menuju operasi Pembebasan Irian Barat. Singapura dan Malaysia tidak ingin bergabung sehingga mereka masih berdiri sebagai negara merdeka yang lain. Kemerdekaan mereka adalah pemberian, berbeda dengan kita.

Kita membangun Indonesia sebagai respon terhadap Proklamasi Kemerdekaan. Bukan atas nama penakluk dan daerah lain adalah taklukan. Sejarah Indonesia, yang dimulai tahun 1945, sudah membuktikkan bahwa hanya Proklamasi Kemerdekaan yang berhasil mempersatukan kita. Ada proses memang, yang tidak bisa kita lupakan, tetapi inilah satu-satunya alasan mengapa kita masih ada di sini, menghormati satu sama lain, sesama rekan sebangsa dan setanah air. Jika kita menanggap bahwa Indonesia adalah satu kesatuan nasib, nasib sebagai jajahan, tidak heran kalau ada satu dua wilayah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Sudah terlalu lama bukan, kita menganggap suku kita, kedaerahan kita, semua status kita lebih unggul. Kita lupa bahwa hanya Proklamasi Kemerdekaan yang bisa menyatukan kita. Bukan nasib. Nasib kita sebagai orang-per-orang tidaklah sama. Tapi kita semua terpanggil untuk merawat negeri ini, negeri anugerah yang sudah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita hanya sibuk memikirkan nasib kita, betapa egoisnya kita tidak memikirkan nasib seluruh bangsa ini.

Selamat Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 71! Merdeka!

Kategori:What I See

AC Milan: Di Persimpangan Jalan

Terlihat bahwa status kepemilikan AC Milan masih simpang siur. Siapa yang akan menjadi pemilik baru Milan? Adalah pertanyaan yang selama setahun belum terjawab. Jika Silvio Berlusconi tetap memiliki AC Milan, maka harus ada sejumlah investasi, perbaikan manajemen, dan tentu saja reformasi di dalam permainan dan komposisi pemain.ACMilan2

Menjawab pertanyaan pertama, siapakah yang akan membeli AC Milan? Bee Taechaubol adalah sosok yang tahun kemarin menjadi perbincangan. Persona yang berasal dari Thailand ini menjadi asa bagi Milan tahun lalu dengan pembicaraan pengalihan klub dari sang Godfather Berlusconi ke Mr. Bee. Toh, hingga saat ini tidak pernah ada pengalihan kepemilikan klub. Tidak pernah ada konfirmasi bahwa AC Milan telah dijual ke Mr. Bee. Rupanya, Mr. Bee tidak bisa menunjukkan “mahar” yang diminta Berlusconi sebesar 700 juta Euro untuk 70%-80% saham Milan. Namun, anehnya, Berlusconi telah berinvestasi banyak musim lalu. Pengeluaran yang mencapai 100 juta Euro adalah kali pertama, bagi saya, melihat Milan menghabiskan uang sebanyak itu.

Pertanyaan pertama belum terjawab selama musim 2015/2016, yang kemudian mengendap karena perhatian orang tertuju pada penampilan “pas-pasan” dan gagal memenuhi target. Belum musim mulai, isu ini kembali berkembang. Kali ini para pembeli dari tanah Tiongkok, yang klub-klub sepakbolanya gila-gilaan menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain bintang. Mulai dari pemilik Baidu, Robin Li, yang sudah dimentahkan isunya, hingga saat ini isu yang berkembang adalah Sonny Wu dan GSR Capital sebagai pembeli paling potensial. Sebesar 825 juta dollar dipotong hutang yang akan dibayarkan ke Berlusconi untuk mengambil alih 80% saham Milan, yang sudah jelas pergantian kendali dalam birokrasi klub. 20% sisanya akan diambil dalam jangka 2 tahun yang akan menelan dana investasi 400 juta Euro, untuk komitmen bagi klub, yang diminta Berlusconi. Sehingga, dalam waktu 3 tahun ini, AC Milan akan berganti pemilik sejak 30 tahun lalu. Menurut Berlusconi, sesaat setelah dioperasi, menyatakan dirinya telah menjual Milan pada sosok “yang memiliki koneksi kuat dengan pemerintah RRT”.

Pertanyaan kedua adalah soal investasi. Tahun lalu, pula, rencana pembangunan stadion AC Milan diangkat ke publik, secara resmi lewat situs resmi klub, dan berakhir dengan pembatalan. Maka, soal investasi bukan saja dalam bentuk pemain-pemain berkualitas, tetapi pula infrastruktur. Sudah bukan rahasia umum jika klub-klub Italia tidak memiliki stadion sendiri. Hanya Juventus, dan kemungkinan Cagliari adalah sebagian kecil klub yang memiliki stadion sebagai aset. Memiliki stadion bukan saja menambah pundi-pundi kantong klub, tetapi juga menjamin fasilitas tetap terjaga sesuai kebutuhan klub. Belum lagi “jamahan” sponsor di sudut-sudut stadion yang menjamin “kas” untuk pembiayaan perawatan stadion. Investasi lainnya adalah pada infrastruktur Milanello. Cerita tentang kesahian Milan Lab sudah menjadi mitos. Kobe Bryant datang ke Milanello pada saat kisah itu telah menjadi mitos. Kobe lalu pensiun dengan usia yang lebih awal ketimbang Paolo Maldini.

Kemudian, area lain yang harus dibenahi adalah manajemen. Selama ini AC Milan terlalu bergantung pada sosok Adriano Galliani, tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya, beliau butuh istirahat. Kemudian Barbara Berlusconi atau lebih dikenal Ms. B ini tidak memiliki dampak apa-apa pada perkembangan klub. Selain tidak memiliki pengalaman di dunia sepakbola, posisinya lebih terlihat sebagai wakil ayahnya di direksi. Perlu adanya pembaruan. Tassoti sudah pergi dari bangku cadangan untuk membantu Shevechenko di Ukraina, yang lain juga sudah harus mempertimbangkan posisi-posisi mereka karena Milan sudah tiga musim di luar habitatnya, Liga Champions!

Isu lain adalah pemain dan permainan. Faktor ini, selain level kepelatihan sejak sepeninggal Allegri, bukan barang baru. Milan senang dengan pemain gratis, dan pemain gratis senang diincar Milan. Ini adalah simbiosis mutual yang lebih menjadi parasit di dalam permainan klub. Selain itu, pemain-pemain yang didatangkan bukanlah pemain bintang tetapi pemain-pemain “kelas dua”. Mungkin pembenaran yang dibilang Gandini ada benarnya bahwa sekarang pemain dengan skil rata-rata bisa menjadi pemain mahal, karena ada klub-klub sepakbola yang “kaya mendadak” sehingga harga-harga pemain yang demikian meningkat tajam. Maka, Milan, dengan sumber daya ekonomi yang kembang kempis mulai ogah mencari pemain-pemain kelas dua. Tidak heran dengan minimnya sumber dana, opsi gratis dan pinjaman diambil AC Milan. Pemain-pemain macam Juraj Kucka, Luca Antonelli, Alex, Palleta atau Diego Lopez didatangkan dengan skema seperti itu. Pemain yang paling stabil di Milan, Jack Bonaventura, pun belum dianggap mampu membawa Milan ke level tinggi sebagaimana dahulu kala. Kedatangan Bertolacci, Bacca, dan Romagnoli membawa harapan baru sebagai tulang punggung tim walaupun belum dibarengi dengan peningkatan permainan pemain-pemain lain.

Pola permainan Milan yang masih belum lepas dari 4-3-1-2 juga menjadi asal-muasal Milan sulit berkembang. Pola yang menutut seorang trequartista. Pemain yang bisa menjadi trequartista adalah Kaka. Keisuke Honda memang seorang trequartista, tapi level permainan yang dibawanya tidak mampu menyamain Kaka. Akhirnya inkonsistensi muncul. Kedatangan Montella menjadi awal baru lagi, pola-pola lebih variatif, dan permainan dengan determinasi menjadi harapan. Montella pun akan dihadapkan dengan tantangan pada komposisi pemain-pemain medioker yang dimilikinya. Semoga mediokritas bisa dilaluinya supaya Milan bisa kembali ke habitatnya, Liga Champions!

Kategori:Olah Raga