Beranda > Umum > Berpetualang ke Gunung Gede

Berpetualang ke Gunung Gede

Perjalanan ke Gunung Gede merupakan rencana sejak hari-hari kemarin sebelum 2 minggu terakhir. Dalam 2 minggu terakhir, saya dan Andry-Wury (kini telah berpacaran) sepakat dan mematangkan rencana untuk melakukan perjalanan ke Gunung Gede. Saya mengajak Pak Sugianto untuk ikut serta karena beliau senang melakukan perjalanan dan pendakian ke Gunung Gede. Jadilah kami berempat melakukan komunikasi melalui telepon (terutama dengan Pak Sugianto). Wury, melalui temannya di Montana membantu kami dalam hal administrasi untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede sekaligus menyewakan tenda untuk kami dengan harga yang murah. Setelah semuanya berhasil diurus, kami bertemu sehari (Kamis, 4/7) sebelum melakukan perjalanan ke Gede.

Untuk pertama kalinya Andry dan Wury bertemu dengan Pak Sugianto. Wury yang sejatinya adalah seorang pendaki banyak berkomentar tentang rute yang akan kita lewati. Pertama, rencana kita adalah mendaki melalui jalur Gunung Putri tapi karena kuotanya penuh dan mempertimbangkan saya dan Andry adalah pemula (dalam mendaki gunung) maka diusahakanlah jalur Cibodas. Gunung Gede adalah salah satu lokasi yang masuk dalam ruang lingkup Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sehingga ada kuota pendaki yang dibatasi setiap harinya. 3 jalur pendakian yang disediakan oleh pihak TNGGP memiliki kuotanya masing-masing. Total kuota per harinya adalah 600 pendaki, yang dibagi ke dalam 3 jalur yaitu, pertama jalur Cibodas yang kita lalui kuotanya 300. Jalur Gunung Putri kuotanya 200, dan jalur Selebintana 100. Dari pendaftaran ini kita bisa juga menentukan dari mana kita akan melakukan pendakian dan kembalinya. Misalnya, kita mendaki melalui jalur Cibodas dan turun melalui jalur Gunung Putri. Dalam pendaftaran SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) harus tertera agar saat akan kembalinya tidak akan terkendala masalah administrasi.

Gunung Gede sendiri memiliki ketinggian 2958 meter dari permukaan laut (mdpl) dan bertetangga dengan Gunung Pangrango (3019 mdpl). Kedua gunung yang masuk dalam pengelolaan TNGGP adalah kawasan konservasi. Beda antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango adalah keaktifannya. Gunung Gede adalah gunung yang aktif dan pernah meletus, sehingga membentuk kawah. Sedang Gunung Pangrango merupakan gunung yang teduh, tidak ada kawah di sana karena memang belum mengalami letusan seperti Gunung Gede. Tapi persamaannya kedua gunung tersebut menawarkan keindahan pemandangan yang tidak bisa dilupakan, baik Gunung Gede maupun Gunung Pangrango tidak memberikan pemandangan yang membosankan. Selain lokasi yang dekat dari ibu kota 2 propinsi (Jakarta dan Bandung). Kemudian, keduanya menawarkan lokasi indah untuk dinikmati sehingga tidak seperti gunung-gunung lain yang hanya bisa menikmati puncaknya saja, kedua gunung ini menawarkan sebuah taman edelweiss. Jikalau Gunung Gede memiliki Alun-Alun Suryakencana yang luas dan diapit oleh Gunung Gemuruh, maka Gunung Pangrango memiliki Lembah Kasih Mandalawangi yang tidak kalah indahnya dengan Suryakencana. Hanya saja, Mandalawangi memiliki nilai historis dari seorang Mapala bernama Soe Hok Gie. Melalui puisinya, Mandalawangi-Pangrango, Lembah Kasih Mandalawangi adalah salah satu lokasi wajib yang harus dikunjungi oleh mereka yang disebut Pecinta Alam.

 

PERJALANAN KE CIBODAS

Hari Jumat (5/7) malam, jalanan macet karena weekend tiba dan sebagian penduduk ibukota bepergian ke luar kota terutama puncak untuk menghilangkan kejenuhan. Pak Sugianto pun meminta mundur dari jam yang telah ditentukan, yaitu jam 7 malam, ke jam 8 malam karena beliau terjebak dalam kemacetan yang luar biasa parah. Di kos saya dan Andry pun kita mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa dan menaruhnya di dalam tas. Pengecekan terakhir barang-barang yang akan dibawa, istirahat sejenak (karena jam diundur), dan makan malam. Kita telah menentukan meeting point dengan Pak Sugianto di depan Jakarta Design Center (JDC) Slipi. Tempat itu merupakan semacam terminal bayangan, di mana banyak angkutan umum ngetem di sana. Sebelum jam pertemuan, sempat hujan deras. Kita sempat khawatir jika terjadi hujan, tapi sebenarnya tidak masalah karena jas hujan adalah perlengkapan wajib hanya saja tidak mengenakkan jika harus mendaki dalam keadaan hujan. Kekhawatiran itu memang perlu ada, karena di Gunung Gede merupakan kawasan dengan curah hujan yang tinggi. Hujan hanya berlangsung kira-kira 20 sampai 30 menit kemudian reda.

Di depan gedung JDC, kita naik bus trayek Grogol-Kampung Rambutan. Nomornya saya tidak ingat, tapi bus itu adalah bus Mayasari. Karena saat masuk belum begitu banyak penumpang, kita sadar bahwa bus pasti ngetem untuk beberapa waktu. Dan benar saja, bus ini ngetem kira-kira 15-20 menit. Di kursi bagian belakang, Wuri menjumpai beberapa pendaki yang juga akan menuju Terminal Kampung Rambutan. Saya dan Pak Sugianto duduk di kursi paling depan, di sebelah ada wanita cantik yang sedang memegang buku Negeri Lima Menara. Andry dan Wuri duduk di kursi baris ke 3. Malam makin larut, tapi macet makin merayap dengan mobil-mobil padat di jalan raya. Setelah bus terisi kira-kira 75% lalu berjalan menuju ke arah Semanggi. Dengan keadaan jalan raya yang padat merayap, bus yang kita naiki pun mengalami hal yang sama. Berjalan perlahan demi perlahan. Sembari menghilangkan kebosanan, Pak Sugianto dan saya bercakap-cakap sembari mengajak wanita yang duduk di samping ikut berbincang. Ternyata wanita yang terlihat cantik itu sudah bersuami, kecewa deh yang belum menikah, juga memiliki hobi berpetualangan. Dia sudah ke Rinjani pada 2010, dan ke Gunung Gede terakhir pada 2007 silam. Dia juga curhat mengenai kesibukannya dalam pekerjaan dan dalam rumah tangga yang membuatnya sulit mengatur waktu, padahal dia rindu untuk kembali berpetualang di alam sembari menghilangkan stress. Wanita tersebut, yang saya lupa tanyakan namanya, turun di halte Semanggi dan mengucapkan kata-kata penyemangat bagi saya dan Pak Sugianto. Wanita itu turun, dan bus mengangkut penumpang yang lebih banyak lagi. Barang-barang kita telah kita taruh di depan sehingga bisa terlihat. Bus pun melaju lambat di jalanan yang padat di bawah kerlap-kerlip lampu ibukota yang masih benderang.

Sial, bus yang kita naiki dengan tujuan Terminal Kampung Rambutan hanya turun di kawasan Cawang UKI. Dari sana kita terpaksa harus naik taksi ke Terminal Kampung Rambutan. Di dalam taksi sempat ngobrol mengenai pekerjaan Andry dan Wuri. Pak Sugianto yang baru kenal mereka 2 hari terlihat akrab dengan mereka. Tidak ada dinding pemisah di antara usia kita, suasana begitu cair dan hangat. Kali ini jalanan agak lancar, tapi di jalan tol masih macet. Sementara target kita untuk sampai di Cibodas adalah jam 10, sedang jam sudah menunjukkan jam 9 lewat.

Terminal Kampung Rambutan cukup sepi, wajarlah ini sudah menunjukkan jam 9 mendekati jam setengah 10. Bus-bus masih berkeliaran, lalu lalang memecah sunyi malam walaupun lampu terang benderang. Bus antar kota maupun antar propinsi silih berganti memasuki kawasan Terminal Kampung Rambutan. Kita pun masih sibuk mencari bus yang akan melalui jalur Cibodas. Sempat kebingungan awalnya, tapi tidak berapa lama kemudian kita menemukan bus yang sementara menunggu penumpang, bus yang akan ke Sukabumi akan melewati jalan menuju Cibodas. Di dalam bus itu, kita juga baru sadar bahwa Andry kehilangan handphone Motorolanya. Bukan apa-apa sih jika itu handphone yang usang, tapi usia handphone tersebut baru 2 minggu alias masih baru. Andry coba ditenangkan Wury sembari mengingat kembali handphone tersebut apakah terjatuh atau dicuri orang ketika di bus. Tidak terasa jumlah penumpang yang telah berada dalam bus bertambah dan bus siap berjalan. Ada juga orang-orang yang membawa tas-tas besar, baik mereka pedagang atau petualang yang siap mendaki Gunung Gede. Ada juga orang-orang yang baru selesai bekerja, dan akan menuju kembali ke rumah mereka yang mungkin dilalui oleh bus ini. Ketika keluar dari terminal, lebih banyak penumpang yang naik ke dalam bus sehingga bus menjadi penuh dan pengap. Hanya semburan sepoi-sepoi angin air conditioner yang mencoba menghibur di tengah pengapnya kepadatan orang-orang di dalam bus.

Bus berjalan lambat akibat macet parah. Karena waktu ini adalah akhir pekan, maka daerah wisata di kawasan Puncak adalah tempat pelampiasan warga ibukota. Tidak sedikit mobil bernomor polisi B berdesak-desakan di tengah kepadatan mobil yang ke Puncak. Menjelang Ciawi saja, bus seperti tengah berada dalam kemacetan di kawasan Kuningan, Jakarta. Saya sudah berpikir bahwa kita tiba tidak sesuai jadwal. Berharap Wuri punya rencana B. Padatnya orang-orang yang ada di dalam bus dan kepadatan lalu-lintas dari Jakarta menuju Puncak membuat saya tertidur. Dua orang yang duduk di belakang saya sibuk bercakap-cakap. Mereka seperti 2 sahabat lama yang senang berpetualang, hal tersebut terlihat dari perbincangan mereka sepanjang perjalanan yang dihabiskan dengan melihat macet di sepanjang jalan. Saya pun mengantuk dan kadang-kadang tertidur, berkali-kali mencoba menahan kantuk tapi sulit. Saya tidak tahu bagaimana dengan Andry, Wuri, dan Pak Sugianto apakah sempat mengistirahatkan diri mereka. Jam telah mendekati pukul setengah 12 malam, tapi kita juga belum sampai sedangkan bus masih berjalan lambat. Berharap nanti di Cibodas tidak ada masalah mengenai administrasi yang bisa menahan kita. Pak Sugianto yang terjaga, sigap memanggil saya sehingga saya beranjak dari kursi yang saya tempati. Andry dan Wuri masih duduk, tapi saya sudah memberikan aba-aba bahwa Cibodas sudah dekat. Dan benar saja, kita turun di tempat di mana pertama kali saya menginjakkan kaki di Cibodas. Angin malam yang dingin menyambut, serta sekelompok teman-teman yang sedang mempersiapkan diri untuk mendaki membuat Cibodas ramai pada malam hari. Kita sudah sampai, sekarang menuju Montana.

 

MONTANA, PERISTIRAHATAN PENDAKI

Kurang lebih setahun lalu, saya, Andry, dan Wuri liburan di Montana. Montana adalah rumah panggung yang menjadi tempat para pendaki yang akan naik atau yang akan kembali ke rumah mereka, singgah di sana dan beristirahat sejenak. Ada kamar mandi di sana, air bersih, kompor, dan ruang tamu dan kamar yang biasa dipakai untuk selonjoran alias beristirahat. Setelah kelelahan di perjalanan dari Jakarta ke Cibodas, rasanya tidak etis bagi tubuh kita untuk langsung melakukan perjalanan hiking. Setelah bertemu para pendaki yang sedang menunggu di depan mini market Alfamart, kita pun membeli beberapa keperluan di sana seperti air mineral dan cokelat.

Dasar angkot Indonesia, merasa diperlukan oleh para pendaki ramai-ramai meminta harga yang lumayan tinggi. Sejak harga bahan bakar kendaraan naik, tarif angkot juga naik. Setidaknya angkot dari pertigaan Cibodas ke pintu masuk di dekat Taman Cibodas berharga 3000 Rupiah tapi sopir angkot meminta 10 ribu Rupiah untuk 13 orang penumpang. Kita beruntung, bahwa ada pendaki juga yang membutuhkan angkot sehingga kita tidak perlu membayar harga yang lebih mahal. Maka bersempit-sempitanlah kita di dalam angkot yang kelebihan penumpang itu. Menariknya, suasana akrab lebih terjalin karena kita memiliki tujuan yang sama dengan kesulitan yang sama.

Gunung Pangrango, seperti biasa kokoh menjulang di dalam kegelapan malam. Lereng-lerengnya pasti diliputi kegelapan yang lebih gelap daripada jalan menuju Montana. Hujan yang ada di Jakarta tidak terlihat di sini, suasana cerah sehingga ucapan syukur kepada Yang Mahakuasa dipanjatkan. Senter membantu kita melalui jalan menuju Montana. Kala itu, kita berlibur pada saat puasa sehingga sebuah pondok yang ternyata adalah tempat jualan tidak terlihat. Kali ini pondokan tersebut yang menjual bermacam-macam minuman buka 24 jam. Tangga-tangga yang sama dilewati perlahan. Hanya terdengar suara sahut-sahutan jangkrik ketika melewati pohon-pohon tinggi di depan Montana. Wuri adalah salah satu orang yang dikenal di Montana jadi menyempatkan diri bersilahturami sebentar dengan orang-orang yang berada di rumah di dekat Montana alias tempat mengurus administrasi pendakian.

Di Montana, sandal dan sepatu berjejeran di tangga masuk. 2 orang pendaki sedang beristirahat di teras menyambut kedatangan kita. Asap rokok keluar dari teras Montana beserta suara-suara percakapan kedua pendaki tersebut. Beberapa pendaki sedang beristirahat di ruang tamu, yang kini sudah ada televisi, memanfaatkan waktu istirahat mereka sebaik mungkin. Tidak diketahui jam berapa mereka akan berangkat. Kita pun segera menaruh barang-barang di lantai yang terbuat dari papan. Wuri mencoba menghubungi Mang Dilau, orang yang mengurus administrasi kita sekaligus ketua dari Montana. Kita juga menyewa tenda dari Mang Dilau, yang menurut Wuri dititipkan di Montana. Sembari itu, saya, Andry, dan Pak Sugianto menyegarkan diri dengan dinginnya air pegunungan. Roti dan jeruk, yang dibeli Pak Sugianto, pun disantap walaupun sudah malam. Ketika tenda yang akan kita pakai sudah ditemukan, kita beristirahat secukupnya. Rasanya langsung melakukan perjalanan pada saat jam menunjukkan pukul 1 adalah hal yang gegabah, kita pun memindahkan jam perjalanan ke jam 5 subuh. Pak Sugianto ingin mengambil gambar ketika di Montana, tapi tidak kesampaian.

PERJALANAN KE KANDANG BADAK

Dingin menyapa pagi, matahari masih lelap dibalik langit di sebelah timur. Para penghuni hutan masih terlelap, hanya jangkrik yang masih terjaga. Jam 5 subuh menjadi langkah awal kita untuk memulai petualangan ke Puncak Gede. Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam hutan Cibodas, kita sepakat berdoa terlebih dahulu. Doa dipimpin oleh Wury, satu-satunya wanita dalam kelompok ini. Doa dilantunkan menurut kepercayaan kita masing-masing, tapi tetap kepada Tuhan Yang Esa kita berdoa. Selesai berdoa, sesuai pembicaraan sebelumnya urutan kita dalam berjalan adalah sebagai berikut: Pak Sugianto, sebagai tertua dan memiliki aura kepemimpinan sebagai pemimpin. Beliau bertugas menentukan jalan yang harus diambil. Di belakangnya ada Andry, sebagai bagian logistik dengan bawaan paling berat. Andry awalnya tidak membawa tas yang berat, tapi Wury. Hanya saja kondisi Wury yang masih dalam kondisi penyakit bulanan wanita maka sebagai kekasih yang baik, Andry mengambil alih tugas Wury. Wury sendiri berada di belakang Andry untuk melapis Andry jika kelelahan dalam membawa logistik. Wury sendiri bisa berdiskusi dengan Pak Sugianto dalam menentukan rute, istirahat, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan. Pak Sugianto dan Wury adalah yang berpengalaman dalam pendakian, sedang Andry dan saya baru pemula yang bermodalkan penasaran.

Saya sendiri berada di posisi favorit, belakang. Matras saya tidak bisa dikaitkan di tas, sehingga terpaksa harus dipegang. Hal itu membuat ribet karena agak susah bergerak saat berjalan. Sebelum memasuki alam terbuka, kita disambut petugas pintu masuk Taman Nasional untuk menanyakan administrasi. Wury yang bertanggungjawab akan hal ini langsung menjelaskannya kepada petugas, yang ternyata adalah temannya. Tujuan pertama adalah lokasi perkemahan Kandang Badak, 2400 mdpl (meter di atas permukaan laut). Jika kita adalah pendaki yang professional atau petualang kelas wahid, maka Kandang Badak bisa ditempuh dalam waktu 5 jam saja, bahkan bisa kurang kalau mau tawar-tawaran.

Selepas pos Montana, maka perjalanan dimulai. Matahari masih belum menampakkan rupanya, jadi suasana masih gelap. Lampu senter terus berfokus pada jalan yang kita lalui dan yang akan kita lalui. Karena Wury masih dalam keadaan yang kurang sehat akibat penyakit bulanan wanita, jadi berjalan perlahan. Udara tipis dan dingin menjadi tantangan kita. Baru sekitar 200 meter berjalan, maka kita duduk sebentar untuk menarik napas. Jalan yang terbuat dari batu-batu yang tersusun rapi adalah jalan yang sama ketika kita pada tahun lalu menuju Air Terjun Cibeureum.

Setelah istirahat tersebut, kita terus berjalan menyusuri jalan batu itu. Tidak terasa beberapa burung, yang tersembunyi di balik dedaunan pohon yang tinggi mulai berkicau. Kicauan burung jelas jauh lebih enak dan merdu ketimbang kicauan kelakson mobil di jalan-jalan perkotaan. Suasana tersebut tidak bisa kita rasakan saat berada dalam dunia keseharian kita, kira-kira Pak Sugianto menggambarkan. Segarnya udara pagi menjelang keluarnya matahari tidak bisa dibandingkan dengan tiupan air conditioner di dalam ruangan kantor. Saking segarnya, sampai-sampai saya sempat rakus untuk bernapas hahaha alias ngos-ngosan. Matahari mulai berani memunculkan sinarnya, waktu sudah menunjukkan jam setengah 6 lewat. Sinar-sinarnya yang masih lemah belum mampu menembus dedaunan pohon-pohon tinggi yang menutupi jalanan tempat kita lalui. Tapi perlahan, suara kicau burung seakan merayu sang surya agar lebih menyinari mereka.

Tidak terasa memang waktu terus berjalan, dan langkah kita masih konsisten santai sehingga tidak perlu menguras terlalu banyak tenaga. Toh kita datang untuk menikmati alam dengan sebaik-baiknya. Kesempatan yang jarang demikian harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Menghirup udara segar dari paru-paru dunia, merujuk pada istilah hutan sebagai penyedia udara segar, sangatlah menyenangkan. Sambil menikmati kicauan burung yang tidak henti-hentinya saling menyahut menjadi pemanis dalam perjalanan. Awalnya, hanya satu-dua burung saja yang saling sahut-sahutan. Tapi ketika matahari mulai meninggi dan sinarnya menembus kekakuan daun-daun yang sudah dibasahi embun pagi, makin banyak yang sahut-sahutan. Kalau main tebak asal nih, burung-burung itu seperti penduduk dalam suatu kampung di Indonesia yang tingkat kebersamaannya masih tinggi saling membangunkan satu sama lain. Mereka berkicau seakan berkata, bahwa pagi telah tiba saatnya bekerja. Kita bertemu kelompok petualang lain yang ingin mendaki ke salah satu gunung di sini, entah itu Gunung Gede atau Gunung Pangrango. Telaga Biru kita lewati dengan cuek, Pak Sugianto tidak tertarik berfoto di tempat itu.

Istirahat bungPak Sugianto, Andry, dan Wury di belakang Andry sementara beristirahat. Sinar mentari mulai masuk ke dalam hutan.

Tidak terasa, kali ini kita berjalan dengan cukup cepat. Dan tidak disadari, kita telah berada pada jembatan batu. Jembatan batu dibuat untuk mempermudah bagi para pendaki, wisatawan, atau petualang melintasi daerah tersebut yang katanya daerah rawa. Entah siapa yang merencanakan dan merancangnya, jembatan itu begitu manis pada tempatnya. Perancangnya mengetahui rupanya, titik-titik yang bakal menjadi daya tarik dari jembatan batu ini. Gunung Pangrango yang tinggi dan tegar bisa terlihat dari jembatan ini dengan jelas, asalkan cuaca berada dalam kondisi terbaiknya. Kita pun tidak melewatkan momen ini.

P1110218Wury, Pak Sugianto, dan saya dengan latar Gunung Pangrango di atas jembatan batu.

Andry dan WuryWury dan Andry dengan latar Gunung Pangrango, serta bunga-bunga kecubung putih yang menemani

.Lanjutkan PerjalananLanjutkan Perjalanan!

Setelah mengambil gambar dengan perasaan belum puas, karena rasanya masih kurang narsis di sana, kita harus melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jembatan batu, kita melewati jembatan kayu. Di sana juga bertemu para pendaki, yang mungkin baru saja turun dan kelelahan sehingga mereka membuka tenda mereka di sana. Beberapa di antaranya narsis-narsis dengan latar Geger Bentang yang berada di sisi barat dari Pangrango, atau sisi kanan dari arah kita melakukan perjalanan.

Melalui jembatan kayu, kita harus berhati-hati karena kayu tidak sekuat batu dalam menghadapi perubahan cuaca. Pelapukan bisa saja terjadi pada kayu-kayu yang terlentang membentuk jembatan tersebut. Pada beberapa titik, kita bisa melihat lubang-lubang akibat tidak kuatnya kayu. Menurut cerita Wury, jembatan ini mungkin akan segera diganti menjadi jembatan batu. Memang kelihatannya demikian, sebab kita sempat bertemu seorang bapak yang membawa rangka besi. Sempat terlintas dalam pikiran buat apa rangka besi itu di tempat rimba demikian. Perjalanan kita lanjutkan terus dengan sedikit cepat sehingga jam belum menunjukkan pukul 7 pagi, kita telah mendekati pertigaan Payangcangan. Pertigaan ini adalah jalan yang memisahkan bagi mereka yang akan pergi Air Terjun Cibeureum dan lokasi Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Kandang Badak. Kita beristirahat di tempat ini kira-kira setengah jam lamanya sebelum melanjutkan perjalanan.

PayangcanganPapan Penunjuk Arah di Pertigaan Payangcangan. Masing-masing dilengkapi dengan sisa jarak yang harus ditempuh.

Di tempat ini, kita beristirahat sejenak, meluruskan kaki untuk menghadapi perjalanan yang lebih berat dan menanjak. Bagian teringan sudah dilewati dengan cukup menyenangkan, dan melihat jalan yang kita akan hadapi ke depannya, merupakan jalan yang cukup sulit untuk dilalui. Bukan sulit dalam hal susah, tapi karena jalanan mulai menanjak dan butuh tenaga ekstra bagi kita yang belum terbiasa dalam situasi demikian. Beberapa pendaki membuka tenda di pertigaan ini. Di situ juga ada bekas rumah, tidak tahu fungsinya buat apa tapi kalau mau pikir tebak-tebakan, rumah tersebut digunakan sebagai pos terakhir dalam pendakian atau bisa saja itu rumah digunakan sebagai tempat peristirahatan para peneliti atau tempat sampel-sampel dikumpulkan jika mereka melakukan penelitian alias base camp.

IMG00649-20130706-0751Dua sejoli lagi istirahat euy. Dengan latar para pendaki dan rumah tak berpenghuni.

Perjalanan dilanjutkan setelah Pak Sugianto kembali dari “penyediriannya”. Beberapa pendaki telah beranjak lebih dahulu. Kita saling sapa dengan mereka, dan Pak Sugianto begitu ramah menyapa para pendaki lain yang sedang beristirahat. Memang, para pendaki begitu ramah satu sama lain. Kadang-kadang saya mengupamakan mereka, termasuk kita, sebagai satu koloni semut yang kalau bertemu saling tos dan menyapa. Semoga para pendaki juga adalah orang-orang yang ramah ketika mereka kembali ke rumah.

Wury adalah seorang wanita tangguh, kata Pak Sugianto. Bisa hidup dalam hutan dalam kondisi bagaimanapun. Hal ini terbukti ketika dalam perjalanan dari Payangcangan, dia “belanja” daun pakis di dalam hutan. Mencoba mencari dedaunan yang bisa disantap, dan kebetulan Pak Sugianto membawa sambal pecel yang bisa dijadikan sebagai teman dedaunan itu nanti. Dan mulailah kita berbelanja, mata Wury, Pak Sugianto, dan Andry terus mencari ke sudut-sudut hutan yang kita lewati. Pakis menjadi incaran utama, kata Wury harus pakis muda dengan jenis tertentu. Karena sudah terbiasa, maka Wury tahu membedakan mana yang bisa dimakan mana yang tidak. Pak Sugianto dan Andry pun tidak kalah semangat mencarinya. Saya juga bersemangat merekam apa yang mereka kerjakan dengan mata, kalau tidak maka bagian ini tidak akan masuk ke dalam cerita hahaha.

1 kantong plastik hitam dikeluarkan untuk menampung “barang belanjaan”. Tidak sampai sekilo pastinya, siapa yang bakal menghabiskan salad pecel pakis kalau kebanyakan. Jadi harus berani tahan diri walaupun sudah melihat pucuk pakis muda sudah bergelantungan menunggu dipanen.

IMG00651-20130706-0905Andry bersama pucuk pakis yang jadi target.

Perjalanan melalui pintu masuk Cibodas cukup landai disertai beberapa tanjakan-tanjakan yang cukup ringan, karena tidak perlu menggunakan tenaga yang berlebihan untuk menanjak. Sedang jalannya sudah tertata rapi sehingga memudahkan kita melakukan perjalanan. Dalam perjalanan, beberapa kali kita bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang jalannya lebih cepat dari kita. Kita terkejut dalam perjalanan ketika ada seorang wanita warga negara asing, dari Ceko datang melewati kita dan menyapa. Kita terkejut karena wanita itu seorang diri, dan tidak membawa banyak perlengkapan selain sebuah tas daypack. Tidak ada rombongan yang menyusul dia, mungkin dia adalah seorang peneliti yang sudah sering di tempat ini jadi tidak memerlukan pendamping.

Sebelum menyapa jalan yang melewati air panas, kita memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak. Mungkin kurang lebih 1 kilometer lagi jarak ke air panas. Istirahat dan makan mie goreng yang dibuat sendiri. Kita sejak awal telah membawa kompor gas kecil dan tabung kecil untuk memasak. Pancinya sumbangan dari kos. Wury dan Andry sibuk mempersiapkan kompor. Saya dan Pak Sugianto cukup tersenyum saja melihat mereka bekerja sama. Sementara itu para pendaki, baik yang turun maupun yang naik lalu lalang di sekitar kita. Kekeluargaan dan keramahan antara para pendaki bisa dilihat pada kasus kita beristirahat. Ketika kita kesulitan dalam mengatur kompor agar bisa menyala dengan baik, kita meminta bantuan dari 2 orang pendaki yang sementara turun. Dengan ramah ikut membantu, dan mengajarkan kepada kita bagaimana mengatur kompor agar bisa menyala. Tapi dasar kompor yang kita beli apa adanya, toh apinya tidak bisa maksimal sehingga memasak mie cukup makan waktu. Tiap kali ada rombongan pendaki lewat, kita menyapa mereka dan mengajak makan walaupun cuma sekedar basa-basi belaka. Karena tubuh membutuhkan energi, dan perut meresponnya dengan baik sehingga mie goring yang ala kadarnya terasa begitu nikmat.

P1110238

Wury sedang menyiapkan kompor untuk masak. Saya dan Andry sibuk memandangi saja hahaha.

Setelah energi telah diisi lagi dan perut berhenti merengek, kita melanjutkan perjalanan. Jalur berikutnya adalah kita harus melewati jalur air panas. Jalur tersebut tepat berada di atas aliran air panas yang berasal dari atas gunung. Jalan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja, dan di salah satu sisi terdapat tali yang bisa dipakai untuk membantu kita dalam berjalan melalui tempat itu. Tali tersebut membatasi jalan dan jurang.

IMG00670-20130706-1159

Sebelum melangkah melalui jalan air panas tersebut, kita sepakat mencabut kaos kaki yang dipakai. Pak Sugianto yang memakai sepatu, tidak mau melepasnya karena nanti akan ribet harus memasukkan dan mengeluarkan sandalnya. Karena jalannya hanya untuk satu orang, maka jalannya satu per satu. Dan harus berbagian dengan pendaki lain, jangan egois. Untuk naik saja kita harus berbagi dengan para pendaki yang naik, di tengah jalan kita akan bertemu dengan mereka yang akan turun melalui jalan yang sama. Perlu ada sikap saling mengalah di sini.

Ketika melaluinya, uap panas yang keluar cukup membuat hangat badan. Airnya tidak sepanas air mendidih untuk teh, kira-kira kalau beradu dengan kulit kita yang telah terkena suhu dingin saat perjalanan malah airnya membuat hangat. Uap-uap keluar silih berganti, kaki-kaki melangkah berhati-hati sedangkan tangan mencoba memegang tali untuk menjaga keseimbangan. Batu-batu besar yang menjadi pijakan cukup licin, sehingga menciptakan tantangan. Jarak yang harus kita lalui sekitar 50 meter untuk mencapai ujungnya. Di bawahnya, hanya terlihat uap air yang terbang. Tapi pemandangan yang ditawarkan sebenarnya sangatlah indah di jalan ini. Hanya saja tadi, kita harus berbagi dengan orang lain yang akan melalui jalan ini.

IMG00675-20130706-1205Pak Sugianto, Andry, dan Wury. Di antara Wury dan Andry ada para pendaki yang menunggu kita.

Di penghujung mudaku, eh jalan maksudnya, ada tempat peristirahatan sebelum melanjutkan perjalanan. Serta bisa untuk segar-segaran sebelum berjalan dengan membilas wajah kita yang tengah berminyak. Entah airnya dingin atau panas yang mengalir di situ. Di tempat ini juga, ada pemandangan yang indah yaitu lereng-lereng gunung. Salah satunya mungkin Geger Bentang. Tidak banyak yang foto-fotoan di situ. Kita hanya meluruskan kaki sejenak dan langsung melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah tempat perkemahan Kandang Batu.

Perjalanan ke Kandang Batu mulai lumayan berat, bagi saya. Karena jalan landainya atau kita sebut bonus sudah jarang. Napas sudah ngos-ngosan dan waktu sudah mendekati jam 12 siang. 7 jam telah berjalan. Bagi mereka yang sudah terbiasa, 7 jam adalah jarak yang bisa ditempuh hingga puncak. Toh kita tidak terlalu memberatkan target kita bahwa kita harus menuju ke Kandang Badak terlebih dahulu adalah hal yang utama. Walau langkah sudah melambat, tapi gurauan-gurauan ringan membuat suasana ceria. Seringkali kita saling salib-menyalib antara para pendaki. Ada rombongan yang telah 3 kali kita lewati, dan mereka telah melewati kita 2 kali. Sampai-sampai kita bisa bilang “eh ketemu lagi, misi lewat bang”.

 

KANDANG BADAK

Perjalanan dari Kandang Batu ke Kandang Badak sebenarnya tidak terlalu jauh lagi, mungkin sekitar 1-2 kilometer lagi tapi jalannya mulai menanjak lagi, dan kali ini jalan “bonus” tidak lagi sebanyak sebelumnya. Perjalanan kita beberapa kali terhenti untuk mengistirahatkan kaki yang sudah mulai mencapai batas maksimalnya. Sampai serasa mulai putus asa, beberapa pendaki kita tanya berapa jauh lagi Kandang Badak. “Tinggal satu tanjakan dan belokan lagi” kata seorang pendaki, yang rupanya hanya memberi semangat agar terus berjalan padahal masih begitu jauh tempatnya.

Dengan segala daya dan upaya, kita berusaha mencapai tempat peristirahatan awal yaitu Kandang Badak. Walaupun selama perjalanan ke Kandang Badak kita banyak berhenti untuk beristirahat. Istirahat kali ini untuk benar-benar memulihkan fisik dengan beristirahat. Perut siap diisi dengan energi makanan, dan tubuh dipersilahkan untuk memulihkan diri sekitar 12 jam. Kita tiba di Kandang Badak, 2400 mdpl, pada sekitar pukul 2 siang. Tempat tersebut sudah ramai dengan kehadiran para pendaki yang telah terlebih dahulu tiba. Kita awalnya agak kesulitan mencari lokasi untuk membuka tenda, tapi akhirnya ketemu juga di dekat tenda-tenda yang banyak. Lokasi tempat kita membuka tenda tergolong strategis, menurut saya. Lokasi yang kita dirikan tenda dekat dengan lokasi pengambilan air. Air yang ada di tempat ini bisa digunakan untuk minum dan membilas wajah dan peralatan-peralatan kita. Seharusnya tidak boleh ada yang bawa sabun atau odol atau barang-barang untuk tubuh yang mengandung bahan kimia karena dapat mencemari air. Karena air yang kita gunakan di Kandang Badak ini akan terus mengalir ke bawah, sebagai mata air bagi tumbuhan dan hewan-hewan di Taman Nasional ini. Jadi kalau mau bilas wajah, silahkan asalkan tanpa sabun.

Di Kandang Badak, dekat tempat pengambilan air, ada sebuah puing rumah yang sudah tua. Dari beberapa sumber memang disebutkan bahwa rumah tersebut dahulunya adalah tempat beristirahat bagi para pendaki. Hanya ketika waktu berjalan, rumah tersebut mulai dirusak oleh para pendaki yang mengaku pecinta alam. Kayunya diambil untuk membuat api unggun. Akhirnya, saat ini rumah tersebut menjadi puing. Menjadi tempat buang “ranjau” alias hajat. Padahal jika rumah itu terawat bisa menjadi tempat perlindungan di saat hujan.

Setelah berada di lokasi yang tepat untuk membuka tenda, tenda segera dirakit. Karena tidak ada yang tahu bagaimana cara membuat tenda itu berdiri sempurna, maka kita meminta bantuan beberapa rekan pendaki untuk mencari tahu bagaimana cara agar tenda ini bisa berdiri. Tapi malah Andri yang lebih dahulu menemukan caranya. Tenda yang akan kita tempati akhirnya bisa berdiri. Kemudian Wury menata bagian dalamnya dengan matras serta sleeping bag untuk persiapan. Jadilah kita punya tempat beristirahat. Setelah tenda berdiri, kita mempersiapkan alat masak kita. Makanan pertama adalah nasi. Lauknya kornet, yang akan dimasak setelah nasi, serta rendang yang dibeli Andry dari hari Jumat. Makanan penutupnya adalah pakis, yang kita telah petik, bersama sambal pecel. “Mantap” kata Pak Sugianto.

P1110271Pak Sugianto, Wury, dan Andry di tenda. Suasana tempat tenda kita.

P1110275

Sayur pakis yang sementara direbus, kornet, rendang, dan nasi. Makanan kita di Kandang Badak.

Walaupun makanannya sangatlah sederhana dan aneh, tidak ada waktu untuk bersungut-sungut. Dengan lahap kita menyantap semua makanan yang ada. Kecuali saya tidak menyentuh sayur pakis sambal pecel karena tidak cocok. Makanan ini adalah bekal kalori nanti ketika akan menuju puncak. Sambil makan kita berdiskusi mengenai jam naiknya. Dengan estimasi kecepatan para pendaki profesional, setidaknya mereka bisa menggapainya dalam waktu 2 jam. Kita kemungkinan 2x dari waktu para pendaki tersebut. Tapi ditoleransi menjadi 3 jam saja agar kita berangkat sekitar jam setengah 3 subuh nanti. Kita akan mengejar matahari terbit. Sesudah makan, Andry yang suhu badannya cukup tinggi beristirahat. Saya sempat ngobrol dengan Bang Agus, seorang pendaki yang tinggal di Depok. Sempat ngobrol-ngobrol mengenai pendakiannya. “Gunung Ciremai yang paling susah didaki, waktu itu masuk dari Pintu Linggarjati dan itu nanjak banget sampe mau merangkak” Bang Agus menceritakan pengalamannya. “Bulan depan nanti, kita (Bang Agus dan rekan-rekannya) akan ke (gunung) Kerinci, mahal di transportasi” Bang Agus menambahkan rencananya nanti. Matahari perlahan mulai beranjak ke barat, angin dingin mulai berhembus sehingga saya harus ganti pakaian hangat.

Makin malam makin ramai, suasananya ceria dengan percakapan-percakapan di beberapa tenda yang luar biasa kencangnya. Ada yang putar musik (yang sebaiknya tidak usah diputar), ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang sedang menyalakan api unggun. Sekitar jam setengah 7 malam, kita menyantap susu hangat dicampur gula merah. Menghangatkan kegelisahan tubuh yang dingin. Sekitaran jam 7 kita beristirahat untuk bangun pada pukul 2 subuh dan bersiap untuk menuju Puncak Gede pada jam 3 subuh. Andry masih hangat tubuhnya, kita bersesakkan di dalam tenda yang kecil tersebut tapi setidaknya bisa saling menghangatkan. Angin di luar tenda begitu dingin, dan kadang-kadang menembus sampai ke dalam tenda.

P1110277Suasana di samping tempat kita.

TANJAKAN SETAN DAN BAHU GUNUNG

Alarm dari handphone berbunyi dalam kesunyian Kandang Badak. Jam sudah menunjukkan pukul 2 subuh, kita harus segera bangun dan bersiap. Hanya Pak Sugianto yang terjaga dan segera menyalakan kompor untuk memasak air panas. Tidak lama setelah itu, di dalam dinginnya pagi dan kesunyian suasana perkemahan di Kandang Badak, Pak Sugianto telah membuatkan kita susu hangat ditambah dengan gula merah. Saya yang tidak terlalu suka dengan susu vanilla meminumnya dengan sukacita. Wajar, karena dinginnya udara saat itu mendorong kita meminum sesuatu yang hangat. Jika demikian, adakalanya kita membawa wedang bubuk untuk diminum saat ke tempat ini lagi.

Tubuh Andry masih hangat kata Wury, yang sudah terjaga dari tidurnya. Tidak lama kemudian Andry berdiri dan berkata bahwa dirinya hanya kelelahan saja. Karena merasa akan memberatkan membuat Andry merasa tidak enak. Sempat juga dibilang Wury nanti dia ditinggal dulu di Kandang Badak dan menunggu kita kembali dari puncak. Andry tidak mau, karena sudah sejauh ini perjalanannya dan harus berhenti saat puncak sudah jelas di depan mata sungguh sangat sia-sia. Susu buatan Pak Sugianto begitu berguna menghilangkan dingin yang menyerang. Tidak lama setelah itu, kita langsung berkemas dan waktu molor  hingga pukul setengah 4 subuh saat memulai perjalanan terakhir ke Puncak.

Dimulai dengan doa, kita melanjutkan perjalanan. Beberapa orang telah melakukannya sebelum kita. Ada yang baru saja terjaga sehingga membunyikan alarm bagi rekan-rekannya yang lain untuk segera bangun. Secara matematis ya, kalau gunung itu tingginya 2958 mdpl, dan kita memulai perjalanan dari ketinggian sekitar 2400 mdpl, maka jarak yang harus kita tempuh harusnya cuma 598 meter saja. Tapi itu kalau perhitungan matematis, secara jaraknya masih ada sekitar 2-3 kilometer dengan jalan menanjak rata-rata mendekati kemiringan 40 derajat. Seperti biasa kita memulai perjalanan dengan tidak terlalu cepat dan target adalah bisa melihat matahari terbit. Kita melupakan target untuk mencapai puncak terlebih dahulu, pokoknya target awalnya adalah untuk melihat matahari terbit.

Perjalanan dilanjutkan, dengan Pak Sugianto hanya memakai kaos oblong padahal udara cukup dingin. Menurut beliau, selama kita terus bergerak, udara dingin tidak akan terlalu berpengaruh banyak. Tapi toh saya malah merasa tidak seperti itu sehingga memakai pakaian hingga 4 lapis hahaha. Perjalanan terus dilakukan dengan kecepatan konstan, melambat saat menanjak dan cepat saat “bonus”. Pohon-pohon kokoh berdiri, dan akar-akarnya membentuk tangga-tangga unik. Beberapa kali kita dilewati oleh para pendaki yang lebih profesional, berjalan dengan cepat sehingga tidak meninggalkan jejak. Lampu-lampu senter kitalah yang menuntun sepanjang jalan. Matahari masih jauh dari penampakannya, udara dingin menjadi sahabat dan tantangan. Tiba di persimpangan jalan. Salah satu papannya bertuliskan jalan alternatif, entah apa yang membuatnya menjadi alternatif tidak kita ketahui. Akhirnya kita mengambil jalan yang satunya lagi, menurut Wury ikut saja yang jalan ada talinya. Memang di salah satu jalan terdapat tali-tali yang dibuat untuk menyeimbangkan tubuh. Dan jalan tersebut membawa kita kepada tantangan yang sangat menarik. Tanjakan Setan, begitu orang menyebutnya.

Tanjakan Setan, entah apa dipikiran mereka yang mendaki tempat ini menamakannya demikian. Tanjakan tersebut berupa tebing, yang merupakan campuran dari tanah dan batu yang mengeras (kalau tidak salah). Saya juga tidak bisa melihatnya jelas karena suasana masih gelap dan berfokus bagaimana kita melewatinya. Di situ sudah dilengkapi tali untuk berpegangan saat naik.

Pak Sugianto memanjat terlebih dahulu, diikuti Wury yang kini dalam keadaan kurang sehat. Pak Sugianto memanjat sampai ke tempat yang memiliki pijakan luas, baru Wury mengikuti jalan yang dilalui Pak Sugianto. Saya dan Andry menunggu di bawah dengan sabar. Deru angin gunung ikut menemani. Kadang-kadang saya takut dengan gemuruh anginnya, takut saya terlempar karena anginnya lumayan kencang. Angin juga membawa udara dingin, tapi semangat untuk melewati Tanjakan Setan ini lebih menghangatkan. Begitu Wury mulai memanjat, senter diarahkan ke jalan yang akan dilalui Wury baik dari Pak Sugianto di atas dan saya maupun Andry dari bawah. Begitu seterusnya hingga giliran saya.

Saya pun naik dengan matras di tangan. Setelah mendekati tempat di mana Pak Sugianto, Wury, dan Andry berada, saya disuruh berhenti karena tempat pijakan awal yang akan menjadi jalan kita lalui nanti ternyata buntu. Saya masih bergelantungan di tengah tanjakan harus berpindah mengambil jalan yang lebih menanjak. Dengan berpijak pada pijakan-pijakan yang sudah ada, akhirnya mendapati ujungnya di mana terdapat jalan untuk meneruskan perjalanan. Setelah saya sampai, maka bergantian  dari Pak Sugianto, Wury, dan Andry menaiki tanjakan edan ini. Perlu kerja sama kita karena suasana gelap dan hanya lampu senter saja yang bisa menuntun. Berbeda kalau pada suasana terang karena akan lebih baik tanpa beban di tangan. Setelah Andry tiba, maka kita beristirahat sejenak sambil bergurau mengenai tanjakan ini. Kita langsung meneruskan perjalanan yang masih lumayan jauh. Waktu memasuki jam 5 subuh dan pohon-pohon telah berubah karakternya, dari yang tinggi besar menjadi kurus-kurus dan berakar besar.

Waktu ternyata berjalan cepat, tanpa kita sadari waktu sudah menunjukkan pukul 5 subuh. Matahari tidak lama akan terbit dan itulah momen yang selalu dikejar oleh para pendaki. Momen yang bisa kita nikmati saat mencapai puncak sebuah gunung. Karena itu kita pun bergegas. Puncak yang serasa sudah dekat terasa tidak bisa dicapai. Saya sempat merasakan hal demikian akibat kecapean saat mendaki di beberapa ratus meter terakhir. Tanjakannya yang miring dan kaki sudah lelah beberapa kali harus terhenti. Kali ini kita berjalan dengan tidak teratur. Wury sejenak berada di depan mencoba mempercepat langkahnya. Kadang-kadang diikuti saya dan Andry. Pak Sugianto sedikit memperlambat langkahnya. Sinar matahari mulai terpancar keluar, burung-burung mulai berkicau. Satu per satu mereka memberi tanda kepada kita bahwa sebentar lagi matahari akan muncul. Tapi tetap, fisik yang tidak mendukung semangat hanya dapat menyebabkan kekecewaan jika terlalu berharap. Kita belum mencapai puncak ketika melihat matahari perlahan keluar dari persembunyiannya. Sayang, tidak terlalu jelas karena tertutup awan.

Pak Sugianto terlebih dahulu mencapai suatu tempat yang cukup luas untuk foto-foto dan istirahat. Andry kemudian bergegas mengejar beliau untuk bisa melihat pemandangan yang lebih indah dari tempat kita beristirahat menjelang bahu gunung. Ketika saya tiba di sana, pertama untuk istirahat tapi setelah melihat keindahan pemandangan dari bahu gunung itu saya bergegas bangun dan langsung ikut nimbrung dengan Andry dan Pak Sugianto yang sementara sesi foto-foto. Mungkin ada baiknya pakai foto-foto untuk menjelaskan suasananya.

P1110279

P1010751

P1110287

P1110291

P1010791

P1010757

Ramainya pendaki di bahu gunung membuat kita bisa berinteraksi dengan rekan-rekan yang lain. Seperti ketika pagi itu, Pak Sugianto terlibat perbincangan dengan seorang bapak yang lebih muda dari beliau. Awalnya kita hanya meminta bantuan salah seorang dari mereka untuk mengambil foto kita berempat dengan latar Puncak Gede. Akhirnya malah kita foto bersama dengan mereka. Kalau dilihat dari kain yang mereka bawa, mereka berasal dari Amer Sports Adventure Club dari region Asia Tenggara. Melalui percakapan dengan bapak tersebut, yang rupanya pemimpin rombongan, kita mengetahui bahwa mereka sedang menguji produk jaket pendakian. Jaket yang mereka pakai tergolong mahal karena menggunakan mata uang dollar. Ada salah satu jaket yang harganya mencapai $600, gila harganya. Mungkin bagi kalangan orang-orang berada, nilai segitu tidak berarti.

P1010761Pak Sugianto, saya, Wury dan Andry dengan latar Puncak Gede. Kita belum melakukan perjalanan ke Puncak Gede karena masih capek dan masih menikmati indahnya pemandangan.

P1010763

Dengan rekan-rekan dari Amer Sports Adventure Club.

Setelah foto-foto yang seakan tidak bakal selesai. Angin masih bertiup lembut tapi agak dingin sehingga saya belum berani melepas jaket yang menghangatkan badan saya. Karena masih jauh, mungkin kira-kira ada 1 km lagi menuju puncak dengan jalan terus menanjak namun tidak seberat sebelumnya. Kita memutuskan untuk beristirahat. Saya langsung menarik matras dan berjemur sambil tiduran di bawah mentari pagi yang menghangatkan tubuh, yang lama-kelamaan panas juga karena matahari berangsur-angsur naik. Saya berjemur, kemudian Wury, lalu Andry dan menyisakan Pak Sugianto yang kali ini menjadi koki. Pak Sugianto menanak nasi yang dicampur langsung dengan kornet. Saat itu kita bertiga masih dalam keadaan terlelap di bawah hangatnya mentari pagi sebelum bangun akibat kepanasan.

P1110309Masih capek! Zzzz!

Pak Sugianto menanak nasi dengan asiknya, dan kita bertiga masih berseliweran di atas materas dengan posisi terlentang (kecuali Wury) sampai dikagetkan dengan suara “Nasi uduk, gorengan”. Penjual yang mencari nafkah di Puncak Gede telah sampai rupanya. Memang pada akhir pekan, ketika pendaki ramai mengunjungi tempat ini banyak penjual yang menjajakan makanan dan minuman. Dari beberapa blog yang saya baca mengenai pendakian ke Gunung Gede, yang baru pertama kali juga kaget dengan kehadiran penjual nasi uduk, gorengan, kopi, dsb. Wury juga sempat cerita hal ini ketika jalan-jalan ke Montana tahun lalu. Harga yang ditawarkan memang luar biasa mahalnya. Segelas kopi saja diberi harga 5 ribu Rupiah (bukan dollar ya), nasi uduk 8 ribu, pop mie 10 ribu (kalo beli 2 jadi 15 ribu). Pak Sugianto menahan diri dengan makanan yang ada, saya demikian walaupun membeli gorengan buat nambah lauk. Wury membeli nasi uduk karena tidak suka kornet. Kita makan dengan santai, karena tidak dikejar waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kita menargetkan setelah istirahat ini perjalanan dilanjutkan. Puncak Gede sudah terlihat tapi dasar kaki sudah malas berjalan, harus dimotivasi dengan semangat bahwa kita belum mencapai puncak, artinya sia-sia kalau kita berhenti di sini. Lagian keindahan alun-alun Suryakencana belum dinikmati.

 

Puncak Gede dan Alun-Alun Suryakencana

Leganya perut bisa terisi makanan, istirahat sudah lebih dari cukup. Sayup-sayup burung bernyanyi sudah mulai berkurang frekuensinya karena matahari sudah mulai galak. Beberapa tenda yang berdiri di bahu gunung masih ramai dengan suara-suara gembira. Kita sudah merapikan peralatan kita, termasuk membungkus sampah-sampah yang berkeliaran di tempat kita beristirahat. Perjalanan sudah lumayan dekat, dan pemandangan yang ditawarkan akan jauh lebih menarik daripada bahu gunung.

Perjalanan dilakukan dengan cepat, walaupun beberapa kali berhenti untuk foto-foto.

P1010809Wury, Andry, dan Pak Sugianto.

Gunung Gede rupanya sudah ditakdirkan untuk menjadi tempat wisata alam. Ini dilihat dengan tersedianya pegangan dari kawat sepanjang perjalanan ke Puncak Gede dari tempat kita istirahat tadi. Dan pegangan kawat itu membentang jauh sepanjang Puncak Gede. Belum tahu ujung akhirnya di mana, tapi ujung mulainya ya tempat kita istirahat tadi. Sepanjang perjalanan pemandangan yang bisa kita lihat begitu banyak, didukung oleh cuaca cerah pemberian Yang Mahakuasa. Selain Gunung Pangrango yang kokoh berdiri, ada juga Gunung Salak yang terkenal dengan 2 puncaknya. Kadang kita membuat lelucon mengenai Gunung Salak, bahwa salak terbesar di dunia ya Gunung Salak. Di Gunung Salak juga tempat terjadinya tragedi Sukhoi.

Perjalanan terus dilanjutkan. Dan bukan cuma sekali-dua kali berhenti karena kagum dengan pemandangannya, dan saking kagumnya satu tempat bisa 2 hingga 3 kali foto-foto. Toh kita tidak dikejar waktu, selama perjalanan kita selalu berusaha menikmati perjalanan yang ada. Wury juga bilang cuaca cerah seperti ini sebenarnya hal yang langka. Padahal hari Jumat malam, hujan melanda wilayah ini.

P1010815

P1110324

Pemandangan dengan awan-awan putih menggumpal di bawah sana seakan kita berasa berada di negeri di atas awan. Ada yang naik, ada juga yang turun. Mereka yang telah berada di puncak mulai turun satu per satu. Rata-rata sih mereka naik dari jalur Gunung Putri dan turun melalui jalur Cibodas, kebalikan dari kita. Karena jalannya kadang-kadang berpasir, jadi harus hati-hati dan pengangan pada kawat yang sudah dipasang untuk menjaga keseimbangan dan menjadi bantuan kalau sudah capek.

Setelah melalui perjalanan yang menyenangkan dan lamanya bukan main, akhirnya kita sampai juga di Puncak Gede.

P1110331Pak Sugianto dengan latar Alun-Alun Suryakencana dan lereng Gunung Gemuruh

P1010835Wury dengan latar Gunung Pangrango

P1010827Andry dengan latar Gunung Pangrango.

P1010844

That’s me! Lagi di negeri di atas awan.

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa di Puncak Gede banyak penjual yang beredar menawarkan jualannya. Wury dan Andry ngopi di sana, dan duduk di suatu batu besar. Saya hanya beli air mineral, dan Pak Sugianto jalan-jalan mencari gambar-gambar menarik dari Puncak Gede.

Menuju ke Alun-alun Suryakencana melewati jalan yang lebih mudah, karena bukan lagi tanjakan tapi turunan. Mungkin 1 kilometer jaraknya. Kalau jalan menurun, kaki yang sudah capek dengan tanjakan merasa lega. Kaki-kaki kita berjalan lebih cepat, dan bertemu pendaki-pendaki yang sedang menuju puncak dari Suryakencana. Ada juga pendaki-pendaki yang merasakan efek yang sama dengan kita saat melalui tanjakan menuju puncak, “masih jauh ya?” kata seorang cewe cakep (sayang gak kenalan). Ya dijawab aja “udah deket kok”. Hal itu dimaksudkan supaya menambah motivasi mereka, kata Wury (lagi).

Jalan ke Suryakencana dari puncak sangat mengenakkan. Turun terus dan turun, melewati batu-batu besar, akar-akar pohon yang saling mengikat dengan akar-akar pohon yang lain. Istirahat pun bisa dihitung dengan jari, kurang dari 10 kali kita beristirahat itu pun karena cuma mempersilahkan yang akan naik lewat dulu, atau mereka yang turun saking cepetnya duluan turun.

Di tengah jalan, dua orang pendaki pria ternyata mengenali kita. Ketika kita sedang beristirahat, mereka datang menyapa menanyakan kabar handphone Andry yang hilang. Kita mendadak kaget dengan hal itu. Ternyata kedua orang itu adalah orang yang satu bis dengan kita, hanya saja mereka turun di Cipanas karena melalui jalur Gunung Putri. Di bis, dua orang itu duduk di belakang saya yang sepanjang jalan berbincang terus. Akhirnya mereka pun pergi, dan berkata “sampai jumpa lagi”. Kita pun melanjutkan perjalanan.

P1110346

Sesampainya di Suryakencana, yang dilihat adalah hamparan padang luas. Lembah yang diapit oleh 2 gunung dengan ketinggian yang hampir sama. Di depan tempat kita beristirahat, berdiri kokoh Gunung Gemuruh (2928 mdpl). Dan di belakang kita berdiri kokoh dan mempesona Gunung Gede (2958 mdpl).  Pak Sugianto bilang seandainya kita mendirikan tenda di sini, dan menginap di sini bisa-bisa kita kedinginan karena angin dari 2 gunung tersebut bertemu di Suryakencana. Tapi banyak orang yang tendaan di sini, mereka tidak mau melewatkan embun yang turun pada bunga-bunga edelweiss yang sebagian sedang mekar sempurna. Bunga edelweiss adalah primadona dari Suryakencana (begitu juga pada Mandalawangi di Pangrango).

Saking kampungannya saya dengan bunga edelweiss, saya pun tidak sadar kalau di dekat tempat saya istirahat ada juga bunga mungil berwarna putih cantik tersebut. Bunga yang dikenal sebagai bunga abadi memang sangat unik karena hanya tumbuh pada ketinggian tertentu saja (di atas 1500 mdpl). Karena dilarang oleh pihak Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango, jadi keinginan memetik bunga edelweiss untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan pun harus dipendam dalam-dalam. Tapi toh tidak masalah, selama edelweiss tersebut bisa dikunjungi dan keberadaannya terpelihara berkat kesadaran kita dalam memelihara kelangsungan bunga cantik ini.

Selain bertemu dengan pendaki, kita ketemu dengan seorang anak kecil (tidak tahu umurnya berapa, karena bisa saja bentuk fisik menipu fakta usia). Dia datang seorang diri ke Suryakencana hanya untuk melakukan ziarah, ritual bagi mereka yang Muslim menjelang puasa. Ada juga rombongan keluarga yang datang berziarah ke sini, membawa balita pula. Ada juga penjual-penjual yang menjajakan jualannya. Kita di sini hanya beristirahat menikmati keindahan Suryakencana dengan pemandangan Gunung Gemuruh di depan kita sambil mengumpulkan energi untuk melakukan perjalanan kembali ke Jakarta. Jam menunjukkan pukul 12 kurang saat itu.

 

P1010861Gunung Gemuruh dari tempat kita beristirahat.

 Alun-alun Suryakencana ini selain lembah yang terdiri atas rumput-rumput lembut dan bunga-bunga edelweiss yang cantik, terdapat juga sampah-sampah berserakan. Menjadi tempat favorit untuk menginap bagi kebanyakan pendaki, membuat mereka lupa diri akan lingkungan. Sampah-sampah plastik bergerombol di beberapa tempat. Tidak bisa dipungkiri itu adalah tindakan sengaja bukan karena kelalaian. Kadang-kadang saya bertanya kepada diri, apakah kita yang katanya mencintai alam memang benar-benar mencintai alam? Sampah bekas makanan, snack, air mineral adalah hal yang biasa dilihat di sini. Padahal sudah diingatkan oleh peraturan buat para pendaki mengenai hal ini. Belum lagi rokok, beberapa kali saya menjumpai pendaki yang merokok seenaknya. Padahal ceritanya di sini, kita mau mencari kesegaran dan kesejukan bukan polusi yang itu-itu saja seperti asap rokok. Lagian tumbuhan pada siang dan malam hari tidak mengambil karbon monoksida (asap yang dikeluarkan rokok), melainkan karbon dioksida pada hari terang dan oksigen pada hari malam. Malah ketika berjumpa dengan mereka yang menyebut diri sebagai pecinta alam tapi merokok, apakah pantas mereka menyebut diri demikian lantangnya? Pecinta alam? Mungkin perlu introspeksi diri. Tapi saya bersyukur banyak juga mereka yang sadar mengenai sampah dan rokok. Ada yang membawa begitu banyak botol bekas pendaki lain disatukan dengan sampah mereka untuk dibawa turun. Salut untuk teman-teman yang berbuat demikian tanpa mengharapkan pujian.

Ketika kita mulai merasakan sudah saatnya kita kembali ke Jakarta, artinya kita akan melalui satu perjalanan lagi. Melewati padang indah ini menuju pintu keluar yang melewati kawasan Gunung Putri. Selama perjalanan melewati Suryakencana yang luasnya minta ampun, kita melihat rekan-rekan lain yang sedang menikmati indahnya edelweiss yang mekar dengan berfoto-foto, langit pun terlihat cerah mendukung. Kadang-kadang angin dari arah Gunung Gemuruh mendorong awan melintas di atas kita. Sepanjang perjalanan, kita beberapa kali berhenti untuk mengambil foto.

DSC_1164Saya, Andry, dan Pak Sugianto. Wury kameramen.

P1010905

P1010906

P1010909Pak Sugianto dan Andry di salah satu tempat di Suryakencana dengan edelweiss yang cantik. Ada sampah-sampah plastik berserakan juga di sana.

P1010919

Wury dan Andry di salah satu tempat di Suryakencana yang banyak edelweiss.

Kita melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta melalui jalur Gunung Putri. Setelah melalui jalan yang menurun dan kadang-kadang harus loncat-loncat karena jalinan akar pohon membentuk tangga-tangga tak beraturan, atau kadang-kadang harus melewati jalan di antara pepohonan yang berdekatan. Ada yang naik dan yang turun melewati jalur ini. Setibanya di daerah yang cukup sejuk, di kaki gunung, pemandangan perkebunannya juga indah. Kita melapor di Pos GPO (Gede Pangrango Operation) untuk menyelesaikan masalah administrasi. Setelah itu makan bakso sebelum akhirnya kembali ke Jakarta menggunakan bus. Sialnya macet parah sepanjang perjalanan sampai di Ciawi, baru kemudian lancar. Kantuk mewarnai perjalanan, jadi sadar ketika tiba di Jakarta saat jam sudah menunjukkan hampir 12 tengah malam. Perjalanan ke Gunung Gede sangat menyenangkan, berharga, dan layak untuk dicoba lagi. Tidak kapok rasanya mencoba melihat alam dari lebih dekat, tidak cocok rasanya menaklukkan gunung, tapi berpetualang jauh lebih menyenangkan. Mungkin akan kembali lagi ke Gunung Gede dan Suryakencananya, dan berharap bisa menjejakkan kaki di Puncak Pangrango dan Mandalawanginya yang bersejarah.

Kenang-kenangan

 

 

 

 

 

Kategori:Umum
  1. Februari 14, 2014 pukul 7:44 pm

    Masya Allah indahnya tanah pasundan, engkau telah menciptakan alam ini begitu indah, semoga keindahan in i mempertebal keimanan bagi kita semua yang melihatnya amiin. Namun yg paling penting kita harus memelihara kebersihan tempat tersebut, sampah berupa pelastik akan menimbulkan petaka yang besar terhadap gunung tersebut dikemudian hari.

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: