Beranda > What I See > Kisah Koresh yang Agung (Cyrus The Great)

Kisah Koresh yang Agung (Cyrus The Great)

Cyrus the GreatAda kisah yang menarik dalam Alkitab, yang tidak sengaja ditemukan pada saat-saat iseng. Dari sejak kecil, kita mengetahui bahwa Allah mengurapi orang-orang yang diutusnya, baik itu hamba maupun penguasa. Dan utusan-utusan Allah tersebut memiliki misinya masing-masing, baik utusan itu sebagai nabi atau panglima perang atau raja. Dalam suatu perikop Alkitab yang tidak sengaja saya temukan saat iseng membuka Alkitab, terdapat judul “Allah Memakai Koresh sebagai Alat-Nya” dalam Yesaya 45:1-8. Dan cerita pun berlanjut makin seru. Entah mengapa saya tertarik membaca perikop tersebut dan mulai memasuki ranah keingintahuan saya yang paling dalam. Melalui rasa keingintahuan itu, saya pun mulai membuka-buka internet melalui handphone yang saya miliki. Cara yang paling sederhana untuk orang-orang seperti saya yang masih awam dalam pengetahuan adalah melalui Google (bukan untuk promosi) atau mesin pencari lainnya. Saat memasukkan kata Koresh ke dalam google, maka muncul tautan yang mengarah ke situs Wikipedia. Koresh adalah sebuah nama Ibrani yang merujuk pada nama Cyrus (umumnya ditujukan kepada Cyrus The Great). Koresh juga bisa berarti matahari dalam bahasa Persia Kuno. Kemudian ada juga penggunaan Koresh lainnya yang muncul di situ tapi saya abaikan karena saya lebih tertarik dengan Cyrus The Great.

Nah, menurut salah satu mentor tidak langsung saya bahwa kita harus melihat Alkitab terlebih dahulu sebagai sumber, baru kepada sejarah secara keseluruhan. Dan itu sebenarnya hal yang sulit jika kita tidak tersadarkan akan kejadian-kejadian sejarah yang telah terjadi karena apa yang tertulis dalam Yesaya 45:1-8, yang bukanlah sebuah narasi melainkan bagai puisi yang berisi teka-teki akan nubuatan tentang Koresh. Dan teka-teki bisa terjawab dalam sejarah Koresh itu sendiri. Saya sebagai penulis awam hanya mencoba memuaskan keingintahuan saya dalam bentuk tulisan sebelum itu hilang dan tidak berbekas. Mari kita melihat kisah Koresh atau Cyrus II The Great dalam Alkitab melalui sejarah.

Saya hanya memiliki 1 sumber sejarah yang telah dirangkum dalam 1 bab dalam 1 buku berjudul Sejarah Dunia Kuno yang ditulis oleh Susan Wise Bauer. Serta Alkitab yang menjadi sumber pertama dalam memancing keingintahuan saya. Koresh lahir pada saat Nebukadnezar berkuasa di Babel. Kakek Koresh adalah seorang raja bernama Astyages dan Cyrus I (Koresh I). Raja Astyages adalah raja orang Midia sedang raja Koresh I adalah raja orang Persia. Menurut kisah sebelumnya, Raja Astyages berkuasa atas Persia sehingga Koresh I di sini hanyalah sebagai vassal atau raja yang takluk berada dalam sebuah kekuasaan. Koresh I meninggal dan tahta pun diberikan kepada putranya Kambises yang nantinya akan menjadi ayah dari Koresh II. Sedang raja Astyages menikah dengan seorang wanita keturunan Lydia bernama Aryenis dan melahirkan seorang putri bernama Mandane, yang nantinya akan menjadi ibu dari Koresh II. Dari sinilah raja Koresh II atau Cyrus The Great akan digelari raja orang Media dan Persia.

Nubuatan Allah bahwa Koresh II akan menjadi penguasa telah muncul dalam mimpi raja Astyages, dan muncul dua kali dalam mimpi Astyages. Mimpi pertama terjadi ketika Koresh belum lahir. Menurut Herodotus, mimpi Astyages adalah dia buang air kecil begitu banyak sehingga tidak hanya memenuhi kota, tetapi membanjiri seluruh Asia. Menurut orang-orang bijak yang dimintai pendapat oleh Astyages meramalkan bahwa seorang anak dari Mandane akan menjadi dewasa dan mengambil alih kerajaan. Ada sebuah fakta bagi Astyages bahwa dia tidak memiliki seorang putra sehingga cucunya ketika dewasa kelak akan menjadi pewarisnya. Hanya saja, Astyages rupanya tidak rela melihat mahkota kerajaan lewat begitu saja dari kakek kepada cucunya.

Astyages kemudian memilihkan suami untuk Mandane dengan begitu hati-hati. Wajarlah, karena anak satu-satunya dan perempuan lagi. Astyages tidak memilih salah satu dari bangsawan Midia yang ada di Ekbatana (ibukota Midia). Pilihan jatuh kepada raja Kambises, raja orang Persia taklukan Astyages. Jadi dia mengirimkan Mandane ke Anshan, ibukota orang Persia, untuk menikahi Kambises. Kambises telah bersumpah setia kepada Midia dan bukanlah seorang yang ambisius.

Mandane hamil dan Astyages bermimpi untuk kedua kalinya. Mimpi kedua Astyages tentang pohon anggur tumbuh dari putrinya dan melingkari sekitar wilayahnya. Orang-orang bijaksananya memberitahukan bahwa putra Mandane tidak hanya akan meneruskan tahtanya, tetapi akan menggantikannya memerintah. Astyages rupanya orang yang paranoid akan kehilangan kekuasaan, jadi dia memutuskan untuk membunuh putra Kambises dan Mandane. Mandane pun diundang ke Ekbatana, dan tinggal dalam kemewahan istana sambil menunggu kelahiran bayinya. Kambises hanya bisa rela menerima undangan tersebut dan Mandane tidak dapat menolaknya.

Mandane melahirkan seorang putra, dan diberi nama Koresh atau Cyrus dalam bahasa Persia Kuno mengikuti nama ayah dari suaminya. Astyages yang ingin membunuhnya tetapi juga ingin menghindari rasa bersalah karena membunuh cucunya menyuruh sepupu yang juga perwira utamanya bernama Harpagus untuk melenyapkan Koresh. Harpagus sendiri ternyata tidak ingin berbuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya suatu saat nanti. Harpagus menyerahkan bayi Koresh kepada seorang penggembala Astyages untuk dibunuh. Tangan Tuhan bekerja pada saat tersebut. Ketika si penggembala menerima bayi Koresh, dia tidak membunuhnya tetapi memberikan kepada isterinya yang mungkin sementara berduka atas bayinya yang mati saat melahirkan. Koresh tumbuh di gubug si penggembala. Dan mungkin ini sedikit menyiratkan bahwa Tuhan mengangkat Koresh sebagai gembala-Nya pada Yesaya 44:28. Jadi menurut perkiraan, Koresh pasti melewatkan 10 tahun hidupnya di lingkungan tempat tinggalnya sebagai seorang penggembala kecil yang mengikuti ke mana ayah tirinya pergi.

Menurut Susan, cerita dari Herodotus ini merupakan pengulangan suatu resiko biasa yang juga memperlihatkan penunjukan seorang raja secara ketuhanan. Seorang bayi, secara ajaib dipelihara, tumbuh menjadi seorang pemimpin besar, berkat pemeliharaan Tuhan yang jelas terpampang sejak awal kehidupannya.

Koresh ditemukan oleh kakeknya, Astyages, pada saat dia berumur 10 tahun di sebuah lapangan umum di mana dia sedang memimpin anak-anak laki-laki lain dari desa itu. Tidak disebutkan bagaimana cara Astyages mengetahui bahwa anak tersebut adalah bayi putrinya yang ingin dibunuhnya. Astyages mengirimkan Koresh kembali kepada orangtuanya di Anshan sebagai jalan terbaik. Astyages kemudian menghukum Harpagus atas kejadian tidak matinya Koresh dengan membunuh anak sepupunya tersebut. Anak Harpagus sendiri dibunuh dan dipanggang untuk menjadi sajian utama pada saat Harpagus diundang menghadiri pesta di istana. Harpagus adalah seorang yang bisa menguasai diri dan mulai merencanakan balas dendam dalam jangka panjang.

Koresh tumbuh dewasa di Anshan, di lingkungan ayahnya di Persia. Astyages pun sedang berjaga-jaga jangan sampai ada kekuatan militer di Persia ataupun dari Harpagus yang ingin menyerangnya suatu saat nanti. Jadi Astyages menempatkan penjaga di sepanjang jalan dari Anshan ke Ekbatana.

Pada tahun 559 SM, raja Kambises I meninggal dan Koresh muda menjadi penguasa atas Persia. Koresh belum melupakan kejahatan kakeknya, Astyages terhadap dirinya (melalui cerita-cerita Mandane, ibunya). Orang-orang di Persia telah berada di belakang Koresh jika dia memilih untuk memberontak melawan dominasi Midia. Koresh perlahan mulai meyakinkan suku bangsa lain untuk melawan Midia dengan slogan “Bebaskan dirimu dari perbudakan…setidaknya kamu sederajat dengan bangsa Midia dalam segalanya, termasuk peperangan!” Di dalam lingkungan istana Astyages sendiri, Harpagus mulai merencanakan balas dendam atas kelakuan sepupunya terhadap anaknya. Menurut Herodotus, Harpagus sudah menemui satu per satu orang penting Midia dan meyakinkan betapa pentingnya Koresh sebagai pemimpin dan membawa pemerintahan Astyages kepada akhir.

Ketika semua siap, Koresh dan bangsa Persia mulai bergerak menuju Ekbatana. Pengawas yang ditempatkan Astyages menaikkan tanda bahaya. Raja Midia tua itu tampaknya merasa takut sehingga orang-orang bijaksana yang menafsirkan mimpinya dulu dihukum mati di luar Ekbatana. Harpagus ditunjuk oleh Astyages untuk  memimpin pasukan Midia melawan Koresh, yang kemudian berpindah pihak. Astyages kemudian kalah dan dijadikan tahanan. Sebuah kejadian yang luar biasa menurut saya adalah ketika Koresh lebih memilih menawan kakeknya ketimbang membunuhnya. Membunuh lawan yang kalah sebenarnya adalah hal yang lazim pada masa itu. Astyages kemudian meninggal dalam tahanan yang nyaman menurut ukuran pada masa itu.

Koresh pun telah menjadi raja atas orang Midia dan Persia. Dia belum berniat menaklukkan Babilonia pada saat itu, yang menurut Koresh sendiri bahwa waktunya belum tepat. Sesudah kematian Astyages, Koresh langsung membubarkan perjanjian damai antara bangsa Lydia dan Midia. Koresh kemudian mulai bergerak ke arah kediaman kakek-pamannya Croesus (ingat, nenek dari Koresh adalah seorang Lydia). Peperangan tak terhindarkan di sungai Halys dan berakhir imbang. Croesus mundur dan bermaksud meminta bantuan Babilonia. Koresh tidak memberinya kesempatan kepada Croesus dan terus menakan ke pertahanan Lydia sehingga terpojok di depan Sardis sendiri. Dalam 14 hari, Sardis jatuh dan Croesus ditahan.

Koresh adalah seorang dermawan yang suatu saat akan memberikan keuntungan baginya. Salah seorang penulis bernama Xenophon bercerita dalam tulisannya tentang Koresh. Koresh mengombinasikan pengekangan, keadilan, kepandaian, dan kebaikan jiwa membantunya mendirikan sebuah kekaisaran yang paling besar di dunia. Dia dipatuhi rakyatnya secara sukarela padahal dia menguasai banyak kota, banyak rakyat, dan banyak bangsa. Bahkan oleh rakyat yang jaraknya beberapa bulan dari Koresh sukarela mematuhi perintahnya. Menurut Susan, dari semua keadilan dan kebajikan jiwa Koresh, dia melebihi segala raja terutama dalam menciptakan teror. “Dia dapat menyampaikan rasa takut kepada dirinya kepada banyak orang di dunia sehingga dia mengintimidasi semuanya” kata Xenophon.

Melalui kedermawanannya, Koresh meyakinkan rakyat di dalam kekaisarannya dengan menjadi Mata dan Telinga Raja alias mata-mata kekaisaran. Sehingga menciptakan, seolah-olah, hadirnya raja di dalam suatu wilayah. Bangsa Midia, Lydia, dan provinsi-provinsi di Asyur Utara (yang ditaklukkan oleh kakeknya) adalah bagian dari kekuasaan Koresh. Kemudian raja memberi tugas kepada Harpagus untuk menaklukkan kota-kota Ionia sepanjang pantai, dan dia sendiri pulang untuk melakukan operasi militer kembali di sebelah timur Midia. Tapi, Babilonia adalah kekuatan yang paling berkuasa saat itu. Selain Babilonia ada kerajaan orang-orang Scythia dan Mesir. Jadi, pada masa itu ada 4 kekuatan besar di wilayah Mesopotamia dan sekitarnya yaitu: Persia (dan Midia), Babilonia (Nebukadnezar telah mati), Mesir, dan bangsa Scythia.

Koresh pada tahun 540 melihat kesempatan untuk menyerang Babilonia mulai mengirimkan pasukan penyerang untuk mengadakan perang-perang kecil dengan orang Babilonia sepanjang perbatasan sebelah timur. Penyerangan tersebut rupanya menjadi serius sehingga raja Babel saat itu, Nabonidus kembali ke Babel dari persiapan perjalanan militernya ke utara.

Ketika Nabonidus tiba, Koresh sedang merencanakan serangan langsung ke Babilonia. Dan pertarungan tak terelakkan di Opis, setelah pasukan Babel menyeberangi sungai Tigris. Orang Babilonia kalah dan dipukul mundur ke kota. Karena merasa tidak cukup mampu untuk memenangi pertempuran melawan Persia saat itu, mereka membarikade diri di dalam kota. Persediaan makanan di dalam kota Babel, menurut Xenophon, cukup untuk hidup selama 20 tahun. Koresh sadar bahwa butuh waktu yang sangat panjang untuk membuat orang-orang Babilonia kelaparan.

Koresh membuat strategi lain dengan memanfaatkan alam yang berada di wilayah Babilon. Menurut Xenophon, sungai Tigris  yang mengalir di tengah-tengah Babilonia lebih dalam daripada ketinggian 2 orang. Kota juga tidak akan mudah dibuat banjir karena penguatan Nebukadnezar. Koresh mempunyai strategi lain, dia menggali parit-parit sepanjang sungai Tigris, di hulu sungai dari kota, dan sepanjang suatu malam dia dan orang-orangnya membuka parit tersebut secara bersamaan. Mengalihkan arus utamanya jauh ke berbagai arah sehingga ketinggian sungai Tigris yang mengalir di tengah kota menurun segera. Hal tersebut memungkinkan pasukan Persia untuk bergerak melalui lumpur di dasar sungai, di bawah tembok-tembok kota. Unit penyerang inti memanjat keluar dari dasar sungai di dalam kota pada malam hari. Dan menurut kitab Daniel, saat itu Belsyazar (dia dan Nabonidus adalah wali bersama Babel) sedang berpesta di dalam istana dengan ratusan bangsawan dan sudah sama sekali tidak menyadari bahwa pasukan Persia sudah datang menyerang. Nabodinus yang masih hidup berada di tempat lain di dalam kota, dia ditangkap dan dijadikan tahanan sedang Belsyazar dibunuh. Gerbang-gerbang dibuka dari dalam dan orang-orang Persia masuk ke dalam Babel. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 539 SM.

Beralih ke sumber Alkitab. Pada Yesaya 41:1-7, Tuhan akan membangkitkan seorang pembebas bagi bangsa Israel yang ditawan di Babilonia berasal dari timur (ayat 2) dan itu ditujukan kepada Koresh. Koresh pula orang yang mengatakan tentang pendirian kembali Bait Suci dan melalui perantaraan Ezra dan Nehemia Bait Suci itu berdiri. Hal itu telah ditetapkan oleh Tuhan dalam Yesaya 44:28 bahwa melalui perkataan Koresh-lah Yerusalem akan dibangun kembali, dan Bait Suci Salomo akan berdiri untuk kedua kalinya. Dalam Yesaya 45:1-8, penggenapan nubuatan atas Koresh terjadi ketika dia berkuasa. Koresh juga sama sekali tidak mengenal Tuhan yang menggerakkannya. Di dalam perikop tersebut sangatlah jelas terpampang dalam sejarah Koresh atau Cyrus II The Great. Dengan tuntunan Tuhan, dia mengalahkan semua musuh-musuhnya dan menjadi pembebas bagi bangsa Israel dari penawanan. Dan melalui mulut Koresh (Ezra 1:2-4 dan 2 Tawarikh 36:23) maka nubuatan dalam Yesaya 45:6-7 terpenuhi. Kata Koresh dalam Ezra maupun 2 Tawarikh demikian “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Tuhan, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!”. Perkataan Koresh tersebut disebarkan secara lisan dan tulisan ke seluruh negeri Persia dan jajahannya. Dan ingat, bahwa Koresh dipatuhi rakyatnya dengan sukarela dan setiap kata-katanya didengar oleh rakyatnya. Yesaya 45:5-6 terpenuhi melalui perkataan Koresh tersebut, bahwa “supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini”.

Koresh membangun sebuah ibukota baru bernama Pasargadae. Dalam kekaisarannya, orang-orang yang dikalahkan berhasil untuk meneruskan kehidupannya sehari-hari tanpa banyak gangguan. Hal yang baru dalam kekaisaran Koresh terletak pada kemampuannya untuk menganggapnya, bukan sebagai bangsa Persia di mana rakyatnya harus berbuat lebih bersifat Persia, tetapi lebih sebagai jaringan bangsa di bawah peraturan Persia. Berbeda dengan orang-orang Assiria, dia tidak berusaha menghancurkan kesetiaan atau identitas bangsa (bangsa Assiria adalah bangsa yang menawan orang-orang Israel Utara dan menghancurkan identitas mereka). Sebaliknya Koresh melihat dirinya sebagai pendamping yang penuh kebajikan untuk identitas tersebut (Susan Wise Bauer).

Kisah Koresh hanyalah satu dari sekian banyak kisah sejarah di dalam misi penyataan Allah kepada dunia ini. Kejayaan Koresh adalah bukti betapa Allah hadir dalam dunia, walaupun Koresh tidak mengenal Allah tersebut (berulang kali ditegaskan dalam Yesaya 45:1-8 “sekalipun engkau tidak mengenal Aku”). Dari awal kisah lahirnya Koresh, Allah telah turut serta. Dan bahwa dia harus hidup dan berada dalam gubug gembala selama 10 tahun, Allah terus menyertainya dalam menjalankan misi penyataan Allah di dalam dunia. Dan Allah menepati janjinya terhadap Koresh sehingga dia begitu berkuasa dan jaya pada masanya.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: